
Suthan masih terkejut mendengar penjelasn Jesika bahwa dia bekerja di cafe Simponi, cafe yang selalu disinggahi Suthan sebelum pulang kerumah. Cafe tempat dia untuk menenangkan pikirannya setelah pulang bekerja karena dia tidak mau sampai kerumah dalam keadaan lelah dan banyak pikiran. Dia sadar kondisi istrinya saat ini belum stabil sejak keguguran itu yang membuat tidak ada tempat lagi buat Suthan curhat berbagi kesedihan saat ini.
Suthan melakukan ini setiap hari karena dia tidak mau emosi didepan istrinya. Apalagi dia sangat stres melihat kondisi istrinya. Dia tahu bahwa istrinya pura - pura bahagia didepannya. Dia sering melihat mata istrinya sembab mungkin menangis seharian.
Tetapi Suthan sudah tidak tau mau berbuat apalagi, diajak piknik sering sekali ditolak Jasmine dengan berbagai alasan. Makanya Suthan menenangkan pikirannya di cafe.
Tiba- tiba Suthan sadar dari lamunannya. Mendengar istrinya berbicara dengan gadis ini.
"Tidak masalah bekerja dimanapun asalkan itu masih halal, saya yakin kamu adalah wanita yang kuat, mampu bertahan hidup dikota ini, bekerja sambil kuliah dan mengontrak rumah. Saya salut mendengarnya, kamu masih muda tetapi kuat menjalani kehidupan yang keras ini." Jawab Jasmine sesaat setelah Jesika menjelaskan pekerjaannya, dan harus kuliah juga membayar uang kontrakan rumah, ditambah lagi biaya hidupnya sehari - hari untuk makan dan lain - lain.
"Sekali lagi jangan sungkan menghubungi kami kalau ada perlu apa - apa, dan nomor telepon saya simpan saja kalau enggan berbicara kepada suami saya. Dia memang agak sedikit kaku orangnya." Jasmine memberikan nomor ponselnya kepada Jesika dan menyimpan nomor ponsel Jesika juga di hand phone nya.
"Maaf Jesika kita tidak bisa berlama - lama karena Mas Suthan harus kembali lagi kekantor, jadi kita pamit pulang ya." Jasmine pamitan kepada Jesika.
"Iya mbak, maaf gak sempat buat minuman buat orang mbak." Jesika minta maaf karena sedari tadi tamunya belum disuguhi minuman.
"oohhh...gak apa - apa kita juga baru selesai makan. Juga gak mau merepotkan Jesika apalagi dalam kondisi tangan masih sakit." Jawab Jasmine sambil berdiri hendak pamitan pulang.
"Kita pamit pulang dulu ya" Kata Jasmine sebelum berlalu keluar dari rumah Jesika dan Suthan juga ikutan berdiri.
Jesika mengantarkan mereka sampai kedepan pintu dan melambaikan tangan kepada Jasmine sebelum mobilnya menghilang. Jesika kembali menutup pintu rumah dan berjalan menuju kamar. Dia melihat sepintas kearah bingkisan parsel buah yang dibawa Jasmine tadi dan tersenyum kecut.
__ADS_1
Ternyata pria dingin itu sudah memiliki istri. Istrinya juga sangat cantik, tetapi kenapa dia tidak terlihat bahagia. Kenapa setiap hari singgah kecafe dan melamun. Tadi juga dia tidak mengatakan apa - apa.
Malah istrinya yang terus mengomong dari mulai mereka datang sampe pulang. Padahal aku sangat senang mendengar suaranya yang menurut aku sangat seksi.
Walau dia punya istri aku tetap mengaguminya, aku rasa dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Aku akan terus mencari informasi kenapa kamu seperti itu. Pikir Jesika dalam lamunannya.
*
*
Sementara didalam mobil Jasmine mengatakan kepada suaminya kalau dia kasihan melihat Jesika.
"Sayang menurut Jasmine kalau Jesika itu adalah gadis yang mandiri, dia hidup dikota besar ini mungkin tidak mudah, dia harus bekerja sambil kuliah dan ditambah membiaya hidupnya sehari - hari, pasti itu sangat sulit." Jasmine membuka pembicaraan dengan suaminya sesaat mereka meninggalkan rumah Jesika.
"Menurut Jasmine nanti setelah gadis itu sembuh kita berikan saja uang sebagai ucapan maaf, hitung - hitung untuk menggantikan gajinya karena tidak bekerja beberapa hari kedepan. Jasmine rasa gadis itu akan membutuhkannya. Bagaimana menurut Mas Suthan?" Tanya Jasmine kepada suaminya yang sedari tadi fokus menyetir mobil.
lalu Suthan membalas pertanyaan istrinya dengan anggukan kepala yang menandakan dia bersedia dengan perkataan istrinya.
Jasmine melihat kearah suaminya dan tersenyum karena permintaannya disetujui oleh Suthan walau dengan anggukan kepala.
Setelah beberapa menit mereka sampai juga kerumah. Suthan menurunkan istrinya sebelum pergi lagi ke kantor. Tidak lupa Jasmine mencium punggung tangan suaminya dan dibalas ciuman dikening Jasmine oleh Suthan.
__ADS_1
"Mas langsung berangkat ke kantor ya sayang, gak masuk lagi ke rumah." Ucap Suthan kepada Jasmine.
"Ia sayang lanjut aja biar gak kelamaan nyampe ke kantor." Jawab Jasmine dan melambaikan tangannya kepada Suthan.
Jasmine masuk kedalam rumah, lalu menuju ke kamar untuk beristirhat. Sedangkan Suthan dalam beberpa menit sudah sampai di kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sesaat setelah Suthan sampai di ruangannya, suara hand phonenya berdering. Suthan melihat nama Jesika yang muncul dilayar hand phonenya.
"Hallo" Jawab Suthan setelah mengangkat teleponnya.
"Hallo Pak" Sambut Jesika dari seberang sana.
"Ada apa, apakah kamu butuh sesuatu, atau harus ke rumah sakit?" Tanya Suthan penasaran karena baru beberapa saat pulang dari rumah Jesika.
"Saya hanya mau bilang kalau besok sore Bapak temani saya ya ke rumah sakit untuk kontrol tangan juga untuk memeriksa apakah luka kepala saya sudah sembuh supaya perban dan gips nya bisa dibuka. Maaf Pak agak merepotkan Bapak karena saya tidak punya keluarga di kota ini. Dan teman satu kontrakan saya juga besok bekerja." Jawab Jesika sedikit berbohong karena dia tau kalau besok Nuri dapat jatah libur bekerja. Jesika ingin terus dekat dengan Suthan. Dia agak kesal tadi karena Suthan tidak ada mengobrol atau menanyakan sesuatu kepadanya ketika berkunjung tadi dengan istrinya. Sepertinya sudah tumbuh benih - benih cinta dihati Jesika, apalagi tadi dia kesal karena mengetahui Suthan mempunyai istri. Istrinya juga sangat cantik dan lembut, juga tampak soleha dengan menggunakan hijab. Dan tutur kata istri Suthan juga sangat santun. Jasmine memang sempurna sebagai seorang wanita tapi belum tentu sempurna sebagai seorang istri pikir Jesika, gimana Jesika tidak berpikir seperti itu karena Suthan sering menyendiri dan melamun seperti hidupnya kurang bahagia.
"Baiklah besok saya akan menjemput kamu dan kita ke rumah sakit. Apakah kamu butuh yang lain?" Tanya Suthan kepada Jesika.
"Tidak ada lagi Pak, tapi jangan lupa datang besok ya, biar Bapak tidak lupa besok siang Jesi telepon Bapak lagi ya. Selamat siang Pak, maaf sudah mengganggu waktu Bapak. " Sambung Jesika dari seberang dengan perasaan lega dan menutup teleponnya dengan perasaan lega. Lega karena telah mendengar suara seseorang yang telah mengusik pikirannya beberpa minggu ini.
Salah sendiri kenapa tadi tidak berbicara apa pun kepadaku, padahal aku sangat menyukai suaranya. Sebenaranya besok Nuri libur tapi aku terpaksa berbohong supaya kita sering bertemu. Dengan begitu cepat atau lambat aku akan mengetahui dibalik kegalauan hatimu. Pikir Jesika dalam hati tentang Suthan.
__ADS_1
Bersambung