
Seperti biasa hari ini pulang kerja Suthan mampir dulu di cafe untuk sekedar minum kopi dan merokok beberapa batang untuk menenangkan pikiran nya, karena sampai di rumah cepat - cepat sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi kedamain di rasakan Suthan di rumah semenjak istri nya keguguran beberapa bulan yang lalu.
Pelayan datang menghampiri meja Suthan membawa buku menu. Pelayan yang sudah beberapa minggu ini yang melayani Suthan.
"Menu nya seperti biasa pak?" sapa pelayan itu karena Suthan hampir tiap hari mampir dan memesan cuma segelas kopi espresso.
"Ia secangkir espresso" jawab Suthan singkat.
Suthan memang tipe pria yang tidak begitu mudah akrab dan dekat kepada orang lain, apalagi kalau itu seorang wanita.
"Baik lah, di tunggu sebentar ya pak" jawab pelayan tersebut.
Dalam waktu singkat pelayan sudah datang kembali dan membawa secangkir kopi buat Suthan.
"Ini kopi nya, silahkan di nikmati pak" ucap pelayan kepada Suthan yang tengah duduk menghisap rokok.
"Terima kasih" jawab Suthan tanpa menoleh kepada pelayan wanita itu.
Pelayan tersebut bertanya kepada dirinya sendiri.
"Hampir setiap hari pria ini mampir ke cafe ini hanya sekedar minum kopi dan menghisap rokok, apa dia tidak punya istri yang menyediakan kopi buat nya, sehingga harus mampir dulu sepulang kerja kemari, aku lihat dia pasti pulang kerja di lihat dari pakaian nya, masih mengenakan pakaian kantor." ucap Jesika pelan sambil berlalu dari meja Suthan.
Teman satu kerjaan Jesika menyapa nya setiba di dekat pintu dapur cafe.
"Kenapa ngomong sendiri Jesi?" tanya Nuri yang heran melihat Jesika mendumel sendiri sehabis mengantarkan pesanan pelanggan mereka.
__ADS_1
"Aku heran aja melihat pria disana yang duduk di meja tujuh belas itu, hampir setiap hari dia kemari hanya untuk pesan kopi, di lihat dari tampangnya seperti nya dia sudah punya istri, karena aku lihat dia sudah tidak muda lagi, seperti nya usia memasuki tiga puluh lima tahunan gitu. Tapi kenapa seperti nya dia kesepian ya? aku sering melihat tatapan mata nya kosong, seakan - akan dia punya banyak masalah." jawab Jesika panjang lebar kepada Nuri teman sekerjaan juga teman satu kontrakan nya.
Mereka mengontrak bareng supaya lebih hemat, karena Jesika dan Nuri sama - sama dari luar kota yang mencari peruntungan hidup merantau ke kota ini.
"cie...cie...kamu berarti memperhatikan nya ya, awas loh nanti jadi suka" ledek Nuri.
"Apa - apaan sih, mana mungki secara usia kami jauh beda, dia sudah seperti om - om buat aku" jawab Jesika kesal.
"Biar sudah om - om kalau tampan dan tajir apa salah nya" kembali Nuri meledek sahabat nya itu.
"Sudah jangan pikir yang macam - macam, ayuk kembali bekerja nanti kita kena tegur sama si bos" jawab Jesika supaya teman nya tidak meledek nya lagi.
Mereka kembali melakukan pekerjaan nya, Nuri memang berada di bagian dapur membantu koki memasak pesanan pelanggan, sementara Jesika di tempatkan di bagian waitress karena wajah nya yang cantik juga postur tubuh nya yang tinggi semampai, di dukung karena keramahan nya yang banyak menarik pelanggan.
Benar yang di katakan Nuri teman nya tadi kalau pria itu tampan walau usia nya sudah matang, menambah pesona kedewasaan yang akan memikat hati banyak wanita.
"Pasti yang jadi pasangan nya sangat beruntung" gumam Jesika dalam hati mengagumi Suthan.
Jesika sering memperhatikan Suthan akhir - akhir ini, karena pria itu tampan dan sering termenung, walau dia sering termenung tidak mengurangi ketampanan nya di mata Jesika.
Makanya setiap Suthan masuk ke cafe itu, Jesika buru - buru menghampiri nya, karena Jesika yang ingin melayani nya.
Tanpa Jesika sadari dia telah mengagumi pria dingin tersebut. Walau setiap dia bertanya mau pesan apa, Suthan menjawab tanpa menoleh kepada diri nya, tetapi itu yang membuat nya semakin penasaran.
Mendengar suara Suthan yang berat dan besar makin menambah nilai plus buat Jesika, dia menganggab suara nya laki - laki banget. Semakin membuat Jesika terpesona.
__ADS_1
Dengan berbagai cara Jesika memberi banyak pertanyaan, hanya berharap mendengar pria itu berbicara, dan menoleh kepada diri nya.
Jesika sangat berharap bisa berkenalan dan menanyakan siapa namanya, tapi sebagai waitress dia tidak mau merusak pekerjaan nya, takut pelanggan nya tidak senang dan marah. Bisa - bisa dia kena pecet atas komplenan dari pelanggan kepada menejer nya.
Padahal banyak pelanggan yang usil atau yang genit menanyakan nomor hand phone Jesika, tetapi dia tidak pernah memberikan nya. Kalau nama pasti mereka para pelanggan bisa tau lah dari nametag yang di pakai Jesika.
Jesika sangat tertarik kepada Suthan walau usia mereka terpaut jauh menurut Jesika, karena saat ini Jesika baru berusia dua puluh satu tahun.
Tapi ntah kenapa karisma dan ketampanan Suthan memikat hatinya. Sebenar nya Jesika bukan gadis murahan, sampe sekarang aja dia belum punya pacar, sejak putus dari pacar nya nya waktu masih SMU tiga tahun yang lalu.
Pacar nya memutuskan nya karena Jesika tidak langsung kuliah pada saat tamat SMU, sementara pacar nya harus meneruskan kuliah di luar kota, tepat nya di Universitas Sumatra Utara, di kota Medan.
Jesika bukan tidak mau menyambung kuliah, tetapi ekonomi keluarga nya yang pas - pasan yang membuat dia tidak bisa melanjut kan pendidikan nya.
Makanya dia juga merantau dari kampung nya ke kota ini untuk mencari pekerjaan. Walau pelayan cafe tetapi Jesika tetap bersyukur bisa punya kerjaan, dan pada pagi hari Jesika kulaih komputer, dan sudah satu bulan dia wisuda diploma tiga.
Jesika tidak langsung mengambil S1 karena takut tidak sanggub dengan biaya nya. Sekarang Jesika masih mengumpulkan uang untuk menyambung mengambil S1, tetapi dia berpikir rehat dulu selama enam bulan sekalian untuk mengumpulkan uang buat kulaih nya nanti.
Seperti dugaan Jesika, dalam sejam Suthan pasti bergerak pulang, Jesika dengan sigap menghampiri nya dan memberikan bill kepada Suthan. Jesika melakukan nya karena itu kebiasaan Suthan setiap hari, jadi Jesika sudah hafal dengan gerak - gerik Suthan.
Tanpa harus di panggil lagi Jesika sudah datang ke meja Suthan dan memberikan bill, Suthan mengeluarkan uang nya dan memberikan nya kepada Jesika. Dalam waktu singkat Jesika mengembalikan uang sisa pembayaran Suthan.
Seperti biasa Suthan langsung bergegas pulang.
"Terima kasih atas kunjungan nya pak" ucap Jesika dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Suthan dengan melihat nya sekilas.
__ADS_1