Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 10 "Baku Hantam"


__ADS_3

Brak!!


Suara keras itu membuat kedua sejoli yang tengah memanas ditengah kobaran api gairah yang membara itu tersentak.


Tautan keduanya kini terpaksa harus terlepas, segera Nessa turun dari atas pangkuan Barnes, gadis dengan wajah yang memerah itu menempatkan pantatnya di kursi penumpang dengan tangan yang merapikan rambut yang sempat berantakan.


Keduanya mengatur nafas masing-masing, mata Barnes melirik kearah luar dan ternyata hanya seekor kucing yang tak sengaja melompat keatas tumpukan galvalum bekas yang ada di sisi kanan vila.


"Astaga kucing ternyata!" gumam Barnes dengan mengusap wajahnya.


Mendengar helaan nafas Barnes membuat Nessa menoleh kearah laki-laki yang ada di sampingnya itu, Barnes yang merasa diperhatikan balik memandang Nessa, kembali kedua netra itu bertemu.


Terpaku dengan kekaguman masing-masing, perlahan Barnes mendekatkan kembali wajahnya, "Stop! Anterin gue pulang!" ucap Nessa.


Barnes menarik salah satu ujung bibirnya, "Ok!"


Kini keduanya meninggalkan Vila milik keluarga Rifki, tak lupa Barnes mengirimkan pesan singkat kepada teman-temannya.


...("sB&sB")...


Malam hari...


Barnes terdiam dengan membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah, bayangan otaknya melanglang buana menuju adegan gilanya dengan gadis yang berhasil mengobrak-abrik suasana hatinya.


Lengkungan senyum tengah menghiasi wajah tampan itu, bahkan saking hanyutnya ia didalam bayangannya ia sampai tak menyadari kehadiran Helen dan Cakra di sampingnya.


"Anak kita kenapa Dad?" tanya Helen dengan mengelus pelan pundak Cakra.


"Entahlah, nggak ada yang konslet kan dengan otak geniusnya?" bernada khawatir pertanyaan Cakra, tapi justru Helen menepuk pundak suaminya dengan sedikit tenaga.


"Aduh! Kom ditepuk sih?" keluh Cakra dengan mengelus pundaknya.


"Ya habisnya kamu ada-ada aja deh, masa anak sendiri dibilang otaknya konslet!" gerutu Helen tak terima.


"Ya kan mana tau dia begitu, kamu tau sendiri kan Yank, kalau Barnes nggak suka belajar tapi nilainya tetap di atas rata-rata?! Bukannya itu beban berat untuk otak?"


"Lah, kamu sendiri dulu gimana?" tanya Helen yang malah membalikkan fakta.


"Beda lagi lah... "

__ADS_1


"Mom, Dad? Kalian ngapain!" tanya Bryna yang kebetulan baru pulang dari galery buku.


"Eh Bryna sudah pulang sayang?" tanya Helen yang segera merangkul putri sulungnya itu.


"Bryna tanya, kalian ngapain? Bryna ucap ucap salam kalian nggak jawab-jawab loh, sampe Aldi pamit pulang kalian nggak tau, kan?" gerutu Bryna.


"Eh ada Aldi?"


"Nggak, dia udah pulang!" sahut Bryna yang segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju anak tangga, dia urungkan untuk menanyakan perihal kegiatan kedua orang tuanya.


"Eh Mom, Dad? Ada apa?" Barnes yang baru menyadari kehadiran kedua orang tuanya kini segera bangun dari posisi tidurnya.


"Are you ok Son?" tanya Cakra dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Hah? Maksud Daddy?" bingung Barnes dengan pertanyaan yang Cakra lontarkan.


"Kamu tu udah hampir satu jam tiduran di sini, senyam senyum kek orang nggak waras tau nggak?!" cetus Helen yang langsung to the point.


"Hehe... masa udah satu jam sih?" cengengesan Barnes dengan menatap arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Helen dan Cakra hanya menggeleng kepala, keduanya heran dengan kelakuan anak bungsunya.


Tak lupa ia memberikan kecup hangat kepada Helen dan juga Cakra. Setelahnya Barnes segera masuk kedalam kamarnya, ia memutuskan untuk melarungi alam mimpinya sekarang juga.


...("sB&sB")...


Terdengar kegaduhan di gudang belakang sekolah, terlihat di sana seorang siswi kelas sepuluh tengah dipojokan oleh siswi kelas sebelas.


"Lo ya! Masih kecil udah berani godain kakak kelas, apa-apaan lo dandan kaya gini? Lo mau godain Barnes?! Hah?!" suara penuh penekanan itu terlontar dari mulut siswi kelas sebelas yang mencengkeram kerah seragam milik siswi kelas sepuluh.


"E... enggak kak Nes, ma...maaf." ucap gadis dengan namtag Windi di dada kanannya.


"Heleh! Gue belum tuli ya! Gue denger sendiri lo sengaja dandan begini terus nungguin Barnes lewat toilet deket parkiran sana, kan?!" gadis garang yang tak lain adalah Nessa itu semakin naik pitam kala melihat tampang sok polos dari Windi.


"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di antara cewek-cewek yang berkerumun melihat Nessa yang tengah dilanda amarah.


Tak ada satupun siswi yang berkerumun itu berani berucap, akhirnya gerombolan laki-laki itu menerobos kerumunan.


"Astaga Nessa!" teriak Barnes yang baru saja berhasil menerobos kerumunan.

__ADS_1


Nessa masih kekeuh mencengkram kerah baju Windi, "Kak Barnes, to... long in aku." ucap Windi terbata.


Barnes berjalan mendekati Nessa, ia memegang lengan Nessa, "Nes lepasin dia! Bukannya semua masalah bisa dibicarain baik-baik ya?" ucap Barnes, tapi bukan jawaban kata-kata yang Barnes dapatkan, Nessa dengan kasar menepis tangan Barnes yang bertengger di lengannya.


"Jangan ajarin gue!" geram Nessa, kemudian ia kembali menjambak rambut Windi, "Heh jawab, nih mumpung orangnya ada di depan mata! Lo suka sama Barnes?! Sengaja dandan kaya gini buat godain dia?!" dengan menggebu-gebu Nessa bertanya dengan inti pertanyaan yang sama.


"Nes, STOP!" Barnes mencengkeram lengan Nessa hingga Windi dapat terlepas dari cengkeraman Nessa.


"Lo belain dia?!" melotot Nessa bertanya kepada Barnes.


"Gue bukan belain, gue cu..."


"Halah alasan lo! Bilang aja lo juga suka sama cewek-cewek yang begitu!" sela Nessa dengan menepis lengan Barnes.


"Bukan gitu Nes! Lo kenapa sih?" tanya Barnes.


"Iya, kak Nessa aneh, nggak seperti biasa, lagian kenapa harus marah-marah coba? Toh kak Barnes bukan milik kak Nessa, kan?" timpal Windi dengan bersembunyi dibalik punggung kekar milik Barnes.


Merasa tertohok, Nessa kembali berniat menyerang Windi yang sangat ketakutan itu, namun tiba-tiba sebuah tangan kekar menahannya.


Menyatu kening Nessa saat mengetahui lagi-lagi Barnes membela gadis kelas sepuluh itu, "Oh jadi begini? Lo nantangin gue Barnes?!" gumamnya dengan tatapan nyalang.


"Maaf, bukan..."


Bugh!!!


Satu bogem mendarat di wajah tampan Barnes, "Yak!!!" teriak para cewek yang menyaksikan.


Terhuyung Barnes dengan mengusap ujung bibirnya, "Bangun lo!" tantang Nessa dengan meraih kerah baju Barnes.


"Kak Nessa stop, jangan pukul kak Barnes!" gadis kelas sepuluh bernama Windi tadi menahan lengan kanan Nessa yang siap meluncurkan bogem lagi.


"Cih, seneng dong lo ada yang bela in?" bisik Nessa didepan wajah Barnes, namun kemudian Nessa melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju Barnes, kini gadis itu dengan cepat juga dengan penuh amarah yang kian membuncah beralih mendorong tubuh Windi, Brugh...


Windi terjatuh, namun ketika Nessa hendak menyerang kembali sepasang tangan kekar menahan kedua tangannya.


"Stop! Hentikan Ness! Lo kaya anak kecil tau nggak?!" bisik Barnes, yang malah membuat Nessa semakin naik pitam.


Tak mau takluk oleh Barnes, Nessa menginjak kaki Barnes hingga Barnes melepaskan dirinya, baru dari situ Nessa berbalik menghadap Barnes dan menyerang dengan pukulan demi pukulan, tapi dengan gesit pula Barnes menangkis nya, hingga__

__ADS_1


"Kalian berdua!" suara melengking itu mampu menghentikan kegiatan asik Barnes dan Nessa...


__ADS_2