Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 48 "Malam Pengantin"


__ADS_3

Ferdi masih terdiam di sofa singelnya, di samping jendela apartemen milik mertuanya, tak sedikitpun senyum ia lukiskan, kini putri semata wayangnya sudah dipinang oleh putra dari mantan kekasihnya.


Ikhlas memang sudah ikhlas, anggap saja itu bayaran untuk dirinya yang dulu pernah mengkhianati Helen Valencia, dengan memberikan kebahagiaan kepada putra putri mereka.


Tepukan lembut di pundak membuat Ferdi menoleh kebelakang, dimana Safira sang istri tercinta berdiri menatapnya.


"Kenapa murung? Anak kita bahagia, tidak kah kau lihat raut bahagianya tadi?" tanya Safira.


Ferdi menghela napas, ia menarik pengan sang istri dan dituntunnya agar duduk di pangkuannya, "Sini duduk!"


Dengan perlakuan lembut Ferdi Safira bisa apa? Ia memang mudah luluh oleh kelembutan sang suami, juga mudah marah jika suaminya keras kepala dan susah di kasih pengertian.


Safira mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami, "Ada apa? Kau tidak bahagia?"


"Bukan, aku hanya mengkhawatirkan putri kita," ucapnya


"Khawatir tentang apa? Barnes anak yang baik, dan lagi dia sangat tulus kepada Nessa,"


"Bukan itu, aku lupa berpesan kepada Barnes untuk hati-hati saat akan melakukannya," ungkap Ferdi.


"Astaghfirullah! Kau ini! Bukan kah akan mempermalukan dirinya jika kau berpesan seperti itu?" menggerutu Safira dengan wajah merah malunya.


"Bukan membuatnya malu, sungguh aku takut putri kita kesakitan..."


"Lalu kau tidak takut saat dulu aku merasa sakit?" merubah ekspresi sedikit sadis Safira saat ini.


"Memangnya kau merasa sakit?"


"Kau pikir?"


"Ku pikir kamu menikmatinya," memerah wajah Safira, ia menunduk malu.


"Sudahlah, makan malam sudah siap, ayo makan!" berdiri dari duduknya, Safira segera berjalan meninggalkan Ferdi.


^^^Di Vila...^^^


Ceklek!!


Pintu kamar mandi terbuka, Nessa berjalan dengan menggunakan handuk yang membelit tubuhnya.


Barnes tercengang melihat keindahan makhluk ciptaan Tuhan itu, rambut basahnya yang tergerai indah menjuntai sampai ke pinggang, kulit putih mulus tanpa noda, handuk kecil yang menutup dada sampai ke pangkal paha menambah kesan seksi gadis bergelar istri itu.

__ADS_1


"Ekhem... Bar... em... Sayang, baju ku jatuh di dalam sana, dan basah terkena air jadi..." malu-malu Nessa berucap, bahkan matanya tak berani menatap wajah tampan sang suami.


Barnes segera beranjak dari ranjang, ia berjalan mendekati istrinya, diraihnya lengan mulus Nessa, kemudian diciumnya punggung tangan yang masih berbau wangi segarnya sabun mandi.


Meremang permukaan kulit Nessa merasakan kecupan mendalam yang Barnes labuh kan di atas punggung tangan Nessa.


Perlahan Barnes mengangkat pandangannya, bersamaan dengan Nessa yang juga menatap wajah tampannya.


Bertemu kedua netra itu, terlihat Barnes mulai memangkas jarak, terpejam netra indah Nessa, bersiap gadis bergelar istri itu untuk menerima perlakuan suaminya, walau berdebar rasa hati, tapi ini ibadah baginya bersama sang suami.


Terdengar di indera pendengaran Nessa, lirih Barnes membacakan do'a, sebelum akhirnya ia mengecup kening Nessa, lalu kemudian ia memiringkan wajahnya dan mengecup benda kenyal berwarna merah merekah.


Menerima kecupan dari sang suami, Nessa sedikit mendongakkan wajahnya, mengetahui istrinya menerima kecupan darinya, Barnes mulai memperdalam ciumannya.


Lembut tanpa tuntutan, benda tak bertulang itu dengan lembutnya menerobos masuk dan mengobrak-abrik isi dalam mulut Nessa.


Membelai, membelit yang semua pelan kini semakin berutal dan menuntut, bahkan sebelah tangan Barnes menahan tengkuk Nessa, dan tangan yang lainnya menyelipkan rambut panjang istrinya kebelakang telinga kanan Nessa.


Dari telinga istrinya, jemari Barnes perlahan meraba turun ke leher jenjang Nessa.


Nessa yang hanyut dengan permainan panas suami tampannya, tanpa sadar mencengkeram erat kerah kemeja putih yang masih Barnes kenakan.


Masih saling memagut, tapi tangan Nessa mulai melepas kemeja putih yang melekat pada tubuh Barnes, diraba otot-otot kekarnya oleh jemari lentik sang istri membuat hasrat Barnes kian membara. Ditariknya handuk kecil yang menutupi aset berharga itu, tapi tangan Nessa menahan kain putih berbulu itu saat hendak merosot kelantai.


Barnes melepas pagutan manis yang sedari tadi ia lakukan, "Kenapa?" tanyanya.


"Malu," sahut Nessa dengan mengalihkan pandangannya, tersenyum Barnes melihat istrinya yang malu-malu.


Kembali Barnes mengecup leher Nessa, "Ah..." desah halus terdengar dari bibir manis milik Nessa, tangan yang semula mencengkeram handuk, kini berusaha mendorong dada Barnes. Namun kedua tangan Barnes perlahan menuntun lengan ramping Nessa agar melingkar di lehernya.


Berhasil Barnes membuat Nessa memeluk lehernya, berhasil pula kain putih berbulu halus itu merosot sampai kelantai.


Leluasa jemari Barnes membelai juga meraba kehalusan permukaan kulit putih nan mulus milik istrinya.


Kembali Barnes memagut bibir merah yang seolah candu baginya itu, sementara sebelah tangan Barnes meremas pinggang Nessa, tangan yang lain berusaha melepas kepala gesper.


Masih dengan pagutan manisnya, Barnes menuntun langkah Nessa untuk dibawanya menuju ranjang yang berukuran King Size.


^^^Di kediaman Valeno... ^^^


Terlihat Zidan dan satu temannya yang bernama Wahyu berdiri di depan pintu utama ruangan pemilik pesantren yang mereka tempati.

__ADS_1


"Ayah yakin akan mengirim mereka pakaian? Mereka tidak pulang malam ini?" terdengar suara Helen dari dalam ruangan.


"Iya, biar mereka sekalian bulan madu, bukan kah Barnes akan segera kuliah di Britania Raya?" Valeno bertanya.


Helen hanya menganggukkan kepala, "Biar malam ini menjadi malam pengantin untuk mereka, jika di sini takutnya akan mengganggu santri yang lain," jelas Valeno kemudian ia berjalan keluar.


"Zidan! Tolong kalian berdua antar ini ke vila ya! Nanti ada kamar kosong di sana, kalian tempati saja, tolong keperluan Barnes dan istrinya kalian urus!" titah Valeno.


"Siap Abah!" shautnya.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, Zidan dan Wahyu segera meluncur menuju vila milik Valeno.


Tidak jauh dari pondok hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan.


Setibanya di vila, dengan segera Zidan dan Wahyu mengangkut barang-barang keperluan tuan muda yang juga teman satu pondoknya.


"Permisi, mbak, kamarnya Gus dimana ya?" tanya Zidan kepada seorang wanita paruh baya yang mengurus vila.


"Mari mas saya antar kan!" ajaknya dengan sopan, setelah berjalan melewati beberapa ruangan dan juga taman in door, mereka tiba di depan pintu yang berukuran begitu besar.


"Ini kamar pengantinnya," ucap wanita paruh baya yang segera undur diri.


Baru saja Zidan akan mengetuk pintu yang ada didepannya, tapi...


"Ekhem... Bar... em... Sayang, baju ku jatuh di dalam sana, dan basah terkena air jadi..." terdengar samar suara perempuan dari dalam ruangan itu.


Terhenti tangan Zidan, ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu.


"Kenapa Dan?" tanya Wahyu yang heran, kenapa Zidan malah terdiam ditempatnya.


"Kita terlambat Yu,"


"Sudahkah mereka mulai? Ini kan baru jam..."


"Ah..." lagi-lagi suara perempuan terdengar samar dari balik pintu besar itu.


Zidan dan Wahyu saling pandang, "Gimana Dan?" tanya Wahyu bingung.


Zidan hanya menggeleng, entah mengapa menjadi canggung situasi kedua pemuda itu...


Mohon dukungan dan like nya juga komentar nya 🥰🥰🥰 terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2