
Bel pulang sekolah menggema diarea sekolah, tak lama kemudian para siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
Sore ini dengan semburat oranye sang mentari yang lumayan menghangat, tak sepanas tengah hari sore ini cuaca sangat cocok digunakan untuk bersantai.
Barnes sengaja menunggu Nessa di parkiran, Barnes melambaikan tangannya ketika pujaan hatinya itu sudah terlihat.
"Lo belum pulang?" tanya Nessa dengan berjalan mendekati remaja tampan yang sudah satu bulan ini menjadi pacarnya.
"Pulang bareng yuk, gue masih kangen." ucap Barnes dengan sedikit berbisik, dan itu berhasil membuat pipi Nessa bersemu merah.
Gadis cantik itu mengangguk, "Ayok!" tak menunggu lama mereka segera melaju, kuda besi yang ditumpangi Nessa dan Barnes mulai keluar dari gerbang sekolah.
"Bar, itu kayak Tasya bukan sih?" tanya Nessa yang melihat gadis mirip kapten team basketnya tengah duduk bersama seorang laki-laki berseragam SMA di cafe seberang sekolah.
"Dah biarin aja, bukan urusan kita! Cukup bulan lalu aja kita liat dia main begituan!" sahut Barnes dengan menarik pedal gasnya.
"Emangnya kenapa? Lo takut pengen ya?" goda Nessa dengan wajah cengengesan.
Masih terus fokus berkendara, Barnes sedikit melirik gadis yang ada dibelakang punggungnya, "Ntar kalo gue pengen, lo yang rugi!" cetus Barnes, seketika mulut Nessa terkatup.
Sepertinya gadis itu salah kata dalam menggoda pacarnya, tak peka dengan perasaan Nessa, Barnes terus saja melajukan kuda besinya hingga keduanya kini sampai di depan kediaman keluarga Nessa.
Seperti biasa Safira selalu menyambut hangat kedua remaja SMA itu, Barnes juga semakin dekan dan akrab dengan Safira tapi belum pernah sekalipun ia bertemu dengan ayah Nessa.
Langit sudah tak lagi secerah siang tadi, udara pun kini mulai mendingin, tapi masih tertolong dengan sinar jingga yang sedikit menghangatkan suasana.
Barnes masih duduk ditepi kolam, bersama dengan Nessa tentunya, tubuh basah keduanya menandakan kedua remaja itu baru saja keluar dari dalam kolam renang.
Senyum manis terpatri di wajah ayu Nessa, dan itu lah yang membuat Barnes lagi-lagi terpatri untuk menatap kekasih hatinya.
"Ini udah sore loh, lo nggak pulang Bar?" tanya Nessa.
"Ceritanya ngusir nih?" Barnes balik bertanya.
"Yeee... gitu doang baper lo?! Enggaklah! Cuma gue ngingetin doang, ini udah sore lo nggak pulang?"
"Nggak, gue mau ketemu sama bokap lo!" Barnes berucap dengan menatap langit dengan semburat warna jingga yang begitu cantik nan menakjubkan.
"Hah? Serius lo?" terbelalak kedua netra Nessa mendengar jawaban dari kekasihnya.
"Serius lah, emang kenapa sih?" tanya Barnes kini atensi nya beralih kepada Nessa yang terlihat gusar.
"Aduh, mending jangan dulu deh!" larang gadis itu dengan menggeser duduknya mendekati Barnes, tangan dengan jemari lentik Nessa menggenggam lengan Barnes yang kekar berotot.
__ADS_1
"Lo kenapa sih?" tanya Barnes, ia melirik tangan Nessa yang bertengger di lengan atasnya. Kemudian netra tajam Barnes beralih menatap wajah cantik yang masih berhiaskan bulir-bulir air kolam.
"Gue belum pernah cerita soal lo sih, sama ayah." lirih Nessa.
Terlihat ekspresi Barnes meredup, ada sedikit gurat kecewa di wajah tampan itu, "Oh jadi lo masih nyembunyiin hubungan kita dari bokap lo?"
Nessa paham betul dengan perubahan, ekspresi, nada bicara, lebih-lebih Barnes tak lagi menatap dirinya saat berbicara.
"Yank, bukan gitu, ayah nggak suka sama cowok berandal." jelas Nessa dengan suara yang kian melirih, khususnya di kata Berandal Nessa hanya sedikit berbisik.
"Lo nyesel pacaran sama gue?" tanya Barnes.
Terbelalak kedua mata Nessa, menganga mulut gadis itu sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari dalamnya, "Kok lo tanyanya gitu sih?!" nada tinggi yang Nessa gunakan.
"Ya kali aja lo nyesel pacaran sama berandal kek gue!" cetus Barnes.
"Bukannya kalo gue nyesel udah gue tinggal ya lo dari kemarin-kemarin?!" tanya gadis itu dengan alis yang mengerut.
"Gue nggak main-main ya Bar soal perasaan, tapi kalo urusan ayah, maaf gue belum siap kalo sampe kita di pisahkan." imbuh Nessa.
"Kok jadi lo yang sewot sih?" tanya Barnes yang tidak terima jika kekasihnya merajuk.
"Ya habis lo gitu sih?!" gerutu Nessa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Gue minta maaf, gue takut lo nyesel jadian sama gue." ucap Barnes dengan sedikit berbisik.
Nessa mengalungkan kedua tangannya di leher pacar tampannya itu, "Gue nggak pernah nyesel pacaran sama lo, gue ngerasa istimewa setiap kali kita bersama, dan rasa didalam dada ini semakin hari semakin tumbuh asal lo tau." sahut Nessa dengan sedikit memiringkan wajahnya.
Tersenyum Barnes, kemudian perlahan ia memangkas jarak diantara keduanya, pertemuan antara kedua benda kenyal nan manis itu kini telah terjadi.
Tak terasa pagutan demi pagutan lembut itu kini semakin menuntut dan BYURRR...
Kembali keduanya tercebur kedalam kolam, bukan nya melepaskan, Nessa malah melingkarkan kedua kakinya di pinggang Barnes, Barnes sigap, ia menopang pantat Nessa dengan kedua tangan kekarnya.
"Setelah hari ini gue bakal tambah sibuk, jadwal cerdas-cermat minggu depan." bisik Barnes saat ia melepas pagutan bibirnya.
Nessa hanya menatapnya dengan tatapan sayu, "Boleh nggak gue minta..."
"No! Gue nggak mau!" sahut Nessa dengan menurunkan kedua kakinya dari pinggang Barnes.
"Kok nggak mau sih? Orang gue minta lo jangan rewel, kalo kita belum bisa ketemu jangan marah!" jelas Barnes dengan mengerutkan keningnya.
"Hah? Oh kira in!" merasa kikuk Nessa, ternyata dugaannya salah.
__ADS_1
"Hayo! Ngeres ni pasti otak lo!" ucap Barnes dengan mencolek pipi gadis cantik itu.
"Iiiiihhh apaan sih! Ya habis siapa suruh dia mengeras!" ucap Nessa dengan keluar dari dalam kolam.
"Enak aja dia mengeras! Dia berdiri juga gara-gara lo tau!"
"Hah? Iya kah?"
"Iya lah, lo pikir gue nggak normal? Gue normal, masih bisa respon!" cetus Barnes dengan menyugar rambutnya kebelakang.
"Hehe... Sorry..." Nyengir Nessa dengan mengacungkan dua jarinya.
Pertemuan sore ini adalah pertemuan terakhir sebelum Olimpiade cerdas-cermat yang di ikuti Barnes dan teamnya berlangsung.
Karena setelah sore hari yang indah ini, Barnes semakin sibuk dengan belajarnya, karena ia punya tanggung jawab untuk mensetarakan kemampuan otak Bryna dan Aldy, sedangkan Nessa, gadis itu juga sibuk dengan team basketnya yang akan maju kr tingkat nasional.
Jarum jam tak henti-hentinya berputar dari detik bertambah menjadi menit, sekian menit berlalu menjadi jam bahkan dua puluh empat jam kini genap menjadi satu hari.
Terus berlalu tanpa mau menunggu, bahkan tak terasa satu minggu telah berlalu. Saat ini Barnes bersama dengan Bryna dan Aldy tengah berdiri di samping mobil yang akan mengantarkan mereka menuju lokasi lomba.
"Sudah siap semuanya?" tanya Miss Fitria memastikan kesiapan para peserta didiknya.
"Siap Miss!" sahut ketiganya serempak.
Dari kejauhan Barnes melihat Nessa berjalan menghampiri mereka, "Miss ijin sebentar!" tanpa menunggu persetujuan dari Fitria Barnes sudah lebih dulu berlari meninggalkan rombongan.
Ditemuinya kekasih yang hampir satu minggu ini tak dapat ditemuinya, sialnya wajah Nessa semakin cantik saja.
Barnes jadi tidak rela berjauhan dengan gadis pujaannya itu, "Semancay!" ucap Nessa dengan nyengir imutnya.
Barnes mengerutkan kedua alisnya tak mengerti dengan ucapan pacarnya, "Maksud lo apaan sih?"
"Semangat Cayang!" sahut Nessa dengan mencubit pipi Barnes kanan dan kiri.
"Gue bakal semangat kalo lo kasih kiss dulu sih di sini!" goda Barnes dengan menepuk bibirnya dengan jari telunjuk.
Nessa terlihat berdiam diri, matanya melirik ke kanan dan kiri, kemudian Cup!!!
"Asli, bakal semangat gue ini, gue janji bakal bawa pulang piala juara satu!" ucap Barnes, kemudian dengan semangat yang penuh remaja tampan itu meninggalkan Nessa.
Barnes beserta rombongannya sudah berangkat, Nessa bergeming, ia tak kunjung meninggalkan tempatnya berdiri, sampai seseorang memanggil dirinya.
"Ness bisa kita bicara?...
__ADS_1