Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 47 "Tiba-tiba Sah"


__ADS_3

"Sah?"


"Saaaaaaaaaahhhh!!!"


Suara serentak yang memang tidak banyak orang itu cukup membuyarkan lamunan Nessa, percaya tak percaya gadis cantik itu kini sudah bergelar istri.


"Yang benar saja? Gue udah nikah?" batinnya seraya menoleh kearah kanan dan di sana terlihat senyum manis Barnes yang baru saja mengucap ijab qobul untuknya.


Pikiran masih setengah percaya tak percaya, tapi tangan kanan mereka ini sudah saling terkait, bahkan reflek Nessa menuruti ucapan lembut sang bunda yang menyuruhnya untuk mencium punggung tangan Barnes yang kini sudah sah menjadi imam di dalam keluarga barunya.


Pelan Nessa perlahan menunduk dan mengecup lembut punggung tangan Barnes, begitu juga Barnes, ia asik menyaksikan gadis yang dulunya barbar kini berperilaku lembut, bahkan hanya untuk mengecup punggung tangannya Nessa cukup pelan dan terlihat khidmat.


Benda kenyal nan basah itu terasa lembut menempel pada permukaan kulit punggung tangan milik Barnes.


"Ah rasanya lembut sekali, sudah berapa lama aku tidak merasakan kelembutan itu?" batin Barnes yang seketika otak mesumnya travelling menuju adegan dewasanya.


Apalagi kini Nessa dengan pelan telah mengangkat kepalanya, pandangan keduanya bertemu karena memang sedari tadi Barnes enggan melepaskan pandangan matanya dari sang gadis cantik yang kini sudah menjadi istri sahnya.


Terdiam cukup lama keduanya, bahkan tatapan rindu kembali mengisi masing-masing kalbu, seperti tak percaya keduanya akan sampai pada tahap ini.


Jika diingat saja Ferdi begitu menentang hubungan keduanya, namun jika sudah tangan yang Kuasa yang menyatukan, memangnya mereka bisa apa kecuali menerima dengan lapang dada?


Kedua tangan Nessa masih terkait dengan tangan kanan Barnes, sedangkan tangan kiri Barnes meraih dagu Nessa.


Perlahan tapi pasti jakun Barnes terlihat naik turun oleh netra Nessa yang menundukkan pandang ketika suaminya memangkas jarak diantara keduanya.


Terbawa suasana Barnes memiringkan kepalanya, dan kini hembusan napas manis dari sang istri sudah menerpa kulit wajahnya, namun...


Plak!!!


Punggung Barnes di tepuk oleh Valeno yang duduk dibelakangnya, "Cukup cium keningnya saja! Urusan yang lain kalian simpan malam nanti! Jangan di sini! Kasihan yang masih jomblowan dan jomblowati!" cetus laki-laki tua itu yang malah mengundang tawa.


Sedangkan Barnes terlihat mengulum senyum, baru saja dirinya dikuasai oleh nafsu semata.


Segera ia melabuhkan ciuman di kening Nessa, tidak lama, karena ia sadar dimana dirinya berada.

__ADS_1


Nessa tertunduk senyum, gadis itu sudah dapat menebak bahwa suaminya sempat lupa diri, "Ternyata dia masih sama, masih Barnes ku yang dulu," batinnya dengan sedikit melirik suami tampannya.


"Ada apa?" tanya Barnes yang sadar bahwa istrinya tengah mencuri pandang kepada wajah tampannya itu.


Bersemu merah jambu pipi Nessa, gadis itu menggeleng pelan sambil berkata, "Tidak," lirihnya.


Setelah acara ijab qobul yang berjalan lancar, kini Barnes memboyong istri cantiknya untuk ikut pulang bersamanya.


Di dalam mobil yang mereka kendarai, sengaja Barnes menyetirnya sendiri, hanya mereka berdua didalamnya.


Terlihat fokus Barnes menatap jalanan di depannya, "Kenapa? Begitu tampannya suami mu ini sampai kau tak henti-hentinya menatap ku?" goda Barnes, ia menyadari jika Nessa terus saja menatap wajahnya.


"Ish percaya diri sekali!" kilahnya sambil mengalihkan pandangan ke depan, namun saat itu yang ia dapati bukan lontaran jawaban dari Barnes melainkan hamparan pantai berpasir putih yang tak jauh di depan mobilnya sana.


"Bar?"


"Hem?" tangan Barnes menghentikan kijang besi yang sedari tadi membawa kedua raga itu melaju.


"Lo nggak salah jalan, kan?" sedikit takut Nessa, lihat saja langit sudah berwarna jingga pertanda bahwa tugas sang mentari akan segera purna untuk satu hari ini.


Itu tandanya akan segera tergantikan oleh rembulan malam dan juga pasukan bintang.


"Bar?" sekali lagi Nessa memanggil nama suaminya, dan kali ini ia mendapat respon dari Barnes, suami tampannya itu menghadap kearahnya.


"Bisa nggak panggilnya jangan pakai gue, lo lagi? Bisa nggak kata Bat di ganti yang lain, beb mungkin? Atau lebih lembut nya lagi hubby, baby, sayang," ucapnya dengan menatap lekat Nessa.


"Tapi..."


"Ssshhh... Aku mau mendengarnya, sekarang," lembut Barnes berucap setelah menutup mulut Nessa dengan jari telunjuknya.


Perlahan jari telunjuk Barnes turun, dagu lah tempat tangan Barnes berlabuh, dan Nessa yang mendapat kesempatan berucap mulai membuka mulutnya, "Sayang..."


Tidak ada lanjutan untaian kata, karena kini Barnes kembali menutup bibir merah merona itu, namun kali ini Barnes menutupnya dengan melabuhkan ciuman hangat.


Ciuman penuh hasrat dan kerinduan yang mendalam, tak lain dengan Nessa, ia pun tak kuasa menolak karena pada dasarnya ia pun sangat menantikan momen melepas rindu ini.

__ADS_1


Semakin dalam Barnes dalam mengobrak-abrik isi didalam mulut Nessa menggunakan benda tak bertulang miliknya.


Tangan Barnes yang semula di dagu kini sudah berpindah di tengkuk Nessa, menahan kepalanya agar tidak menghindar, sedangkan Nessa dengan segala hasratnya yang kian membara mengalungkan tangannya di leher kokoh milik suami tampannya.


Mulai meremas, meraba, tangan kanan Barnes di area paha yang kemudian naik menuju dada, sedangkan Nessa yang terbawa alur hasrat panasnya mulai menurunkan raba tangannya menuju kepala gesper yang masih terkait di bawah pusar Barnes.


"Tunggu!" lirih Barnes yang tiba-tiba melepas ciuman panasnya, mengerut kecewa kening Nessa.


"Maaf," merasa sedikit lancang, Nessa menundukkan kepala, kembali Barnes meraih pipi sang istri.


Seolah paham apa isi hati Nessa, Barnes kembali berbisik, "Akankah kita melakukannya di sini?"


Nessa mengangkat pandangan, senyum malu terlihat di wajah ayu gadis yang bergelar istri itu.


"Kita Cari vila di sekitar sini, aku tidak mau merusak pengalaman pertama kita di tempat yang tidak nyaman, juga aku takut kau akan sedikit kesakitan," lirih Barnes dengan kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Kesakitan? Bukankah di film-film dewasa mereka terlihat begitu menikmatinya?" tanya Nessa heran.


"Karena yang kau lihat bukan yang pertama," sahut Barnes, mencoba memahami Nessa mengangguk pelan.


"Kau yakin kau tidak takut?" sekali lagi Barnes menanyakan.


Menggeleng yakin Nessa, "Tidak,"


Tersenyum Barnes dengan mengelus pipi istri cantiknya, kemudian ia kembali fokus pada jalanan demi mendapat tempat penginapan yang nyaman.


Setibanya di salah satu vila milik Valeno Santoso, Barnes memarkirkan mobilnya dan kembali menggandeng sang istri untuk memasuki ruang pribadi miliknya.


Tak sesiap dan semenggebu seperti saat di dalam mobil tadi, kini Nessa malah diliputi rasa malu.


Ia duduk di tepi ranjang, saat Barnes meninggalkan dirinya kedalam kamar mandi, "Sayang?"


Bisik Barnes dengan melingkarkan lengan berototnya yang masih terbalut kemeja putih yang hanya ia singkap sampai ke siku saja.


Sedikit menoleh Nessa kala Barnes menancapkan dagunya di pundak kanannya.

__ADS_1


Barnes tau Nessa merasa gugup, bahkan debaran jantungnya dapat ia rasakan, "Ambil wudhu gih, kita sholat dulu," bisik Barnes.


Patuh Nessa segera berdiri dan memasuki kamar mandi, sedikit lega dirinya kala Barnes tidak langsung memaksa dirinya yang entah mengapa tiba-tiba merasa sangat gugup dan canggung...


__ADS_2