
Di dalam gedung yang menjulang tinggi, seseorang dengan jas hitam rapi-nya berjalan setengah berlari melewati lorong-lorong bangunan besar itu.
Memasuki lift khusus, pria itu menekan nomor lantai tujuannya, ya... tujuannya adalah ruang CEO utama perusahaan besar itu.
TOK... TOK... TOK...
Pintu terketuk oleh tangan yang setengah mengepal, sopan santun itu terus dilakukan kala mereka memasuki ruangan atasan mereka.
"Masuk!" terdengar sahutan dari balik pintu coklat kayu jati itu membuat pria berjas hitam itu memegang handel pintu dan segera membuka daun pintu yang sedari tadi di ketuknya.
"Ada apa?" tanya CEO utama yang tak lain adalah Ferdi, duduk di atas kursi kebanggaannya, pria paruh baya itu menyilang-kan kakinya.
"Maaf Bos, saya mendapat berita baru tentang nona Muda," laporan itu membuat Ferdi lebih antusias ketimbang waktu sebelumnya.
Malam hari di dalam kediaman keluarga Nessa...
Safira duduk di sisi ranjang, didalam kamar Nessa gadis itu bermanja dengan ibundanya, tidur di atas pangkuan sang bunda memanglah nyaman bagi anak perempuan.
Seolah semua masalah akan terbang entah kemana jika sudah bersama bunda tersayang.
Akui saja momen-momen seperti itu pasti banyak dirindukan saat para gadis sudah bergelar istri, apa lagi sudah menjadi ibu.
__ADS_1
"Bunda," lirih Nessa dengan bangun dari posisi tidurnya.
"Hem?" sahut Safira.
"Ayah belum pulang?" tanya Nessa kala ekor matanya melirik jam dinding yabg sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Mungkin ada meeting dadakan," sahut Safira santai, memang begitu pekerjaan suaminya jika pulang larut pasti ada pekerjaan yang belum ia selesaikan.
TIN... TIN... TIN...
Samar terdengar suara klakson dari arah halaman depan.
Kedua perempuan itu segera beranjak dari ranjang nyaman yang sering menjadi saksi curahan hati Nessa.
Raut semangat Nessa tak terbalas senyum oleh sang ayah, nyatanya Ferdi memasang tampang garangnya malam ini.
"Ayah sudah memilihkan pondok pesantren yang pas buat kamu!" itulah kata-kata pertama yang tercetus kala Ferdi memasuki hunian besar itu.
Bergeming Nessa, gadis remaja itu masih dilanda rasa bingung, "Bunda bantu rapikan semua baju-baju Nessa, dia sudah terlalu ngelonjak sama orang tua, dikasih hati minta jantung!" cecar Ferdi.
Di samping Nessa yang bergeming sedikitpun tak bergerak dengan mata yang berkaca-kaca, Safira mengejar suaminya yang kini berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Mas! Tunggu! Apa-apaan ini?" tanya Safira dengan menggenggam lengan suaminya.
"Apa yang apa-apaan? Tidak ada apa-apa,as hanya mau anak kita ngerti agama saja," sahut Ferdi, tapi tetap Safira membaca raut kebohongan di dalam manik tajam suaminya.
"Mas, jangan bohong!"
Menghela napas Ferdi sebelum akhirnya menatap sang istri tercinta.
"Mas kecewa sama Nessa, dia membohongi Mas, dan apa Mas tidak memberikan kesempatan kepada anak gadis kita itu? Sudah, Mas sudah memberikan kesempatan untuk dia berteman dengan siapa saja termasuk anak berandalan itu!" jelas Ferdi panjang lebar.
"Tapi ternyata ada laporan dari orang-orang yang mengawasi anak kita, kalau mereka ternyata lebih dari teman!" Imbuhnya.
"Tapi Mas..."
"Cukup! Mas tidak mau anak kita sampai salah jalan atau hanya akan menjadi mainan bagi laki-laki tak bermoral itu!" Safira terdiam setelah suaminya mengatakan kata sarkas teruntuk Barnes yang di anggapnya berandal.
Dua hari di kediaman eyang kakung-nya, Barnes sudah sangat merasa bosan, dari ia yang dipaksa untuk mengikuti kegiatan para santri, juga dia yang tidak mendapatkan signal.
Ponsel secanggih apa pun tak berguna ditempat itu, hingga akhirnya kunjungan singkat yang Barnes rasakan lama itu berakhir.
Kini keluarga kecil Cakra itu kembali ke kota, tak memerlukan waktu lama kini Jet pribadi milik Cakra itu sudah mendarat di halaman khusus pendaratan yang ada di samping rumah mewah itu.
__ADS_1
Tak sabar menunggu hari esok, Barnes malam ini tidur lebih awal, berencana besok pagi ingin segera bertemu dengan sang pujaan hati...