
"Hah? Barnes? Kalian..." terkejut Tasya melihat kedua remaja berbeda gender yang saat ini mendekati dirinya.
Nessa menoleh kearah Barnes yang berdiri dibelakangnya, "Bar?" gumamnya, tapi pemuda tampan itu hanya menganggukkan kepalanya.
Kembali terdiam Nessa, dengan tatapan mata yang beralih menatap Tasya, "Sorry Sya, gue dan Barnes..."
"Jangan bilang kalian pacaran!" sela Tasya dengan berdiri dan menunjuk Nessa, tatapan mata nyalang Tasya tujukan kepada Nessa.
"Emangnya kenapa? Yang jalanin hubungan kita, bukan lo!" ternganga Tasya mendengar jawaban dari Barnes.
"Sorry Sya..."
"Stop Nes, lo nggak perlu minta maaf sama dia!" sela Barnes, saat Nessa berniat untuk minta maaf karena tempo hari pernah menyanggupi untuk tidak pacaran.
"Kita tau sendiri bagaimana dia berhubungan dengan laki-laki." imbuh Barnes dengan menarik lengan Nessa untuk diajaknya keluar dari gudang.
"Tapi gue punya alasan sendiri, Bar gue butuh bantuan lo!" rengek Tasya dengan menahan lengan Barnes. Kasar Barnes dengan cewek lain, ia tepis tangan Tasya yang menyentuh pergelangan tangannya.
"Bantuan?" tanya Nessa yang luluh, bagaimanapun Tasya sering berjuang bersama dirinya ditengah lapangan basket.
"Iya Nes, jadi..." belum selesai Tasya berucap bel tanda masuk sudah menggema. Ketiganya sedikit tersentak, "Udah bel, kita masuk dulu!" ucap Barnes yang segera keluar dari dalam gudang, langkahnya di ikuti oleh kedua gadis.
Karena kondisi hati yang sedang membaik, Barnes mengantarkan Nessa sampai ke depan pintu kelasnya.
"Ih ngapain ngikut terus?" tanya gadis dengan tas punggung yang melekat di punggungnya.
Barnes sedikit membungkukkan tubuhnya, "Takut kalo ayang baru gue, dilirik orang." tepat di depan wajah Nessa Barnes berbisik dengan mengedipkan salah satu matanya.
Membelalak kedua mata Nessa, tapi Barnes justru tergelak kecil mendapati ekspresi Nessa yang seperti orang syok.
"Bukannya kebalik ya?" ucap Nessa dengan bersedekap dada.
"Maksud lo?" Barnes tak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan sang pujaan hati.
"Liat aja tu mata cewek-cewek, mereka pada ngelirik lo dari tadi." Nessa menunjuk kearah siswi-siswi SMA yang ada tak jauh dari mereka, Barnes mengikuti arah jari telunjuk Nessa, kemudian beralih menatap wajah yang sudah berhasil meluluh lantahkan tameng hatinya.
"Tapi gue sukanya sama lo!" ucap Barnes.
__ADS_1
"Dasar gombal!" sahut Nessa dengan memukul manja dada keras Barnes. Setelahnya Nessa masuk kedalam kelasnya sedangkan Barnes juga berjalan menuju kelasnya, senyum bahagia terus saja mengembang di wajah tampannya.
Sejak hari pengakuan Nessa tentang perasaannya, gadis itu lebih sering bersama Barnes, kemana-mana mereka bersama, seperti siang ini.
Nessa berjalan di lorong sekolah, langkah kakinya tertuju kearah ruangan dimana banyak buku-buku bersemayam.
Ya... Perpustakaan tujuan gadis cantik itu, tapi baru saja langkah kakinya sampai diambang pintu perpustakaan, gadis itu dikejutkan oleh seorang laki-laki, siapa lagi kalau bukan Barnes?
"Hay?" sapa remaja tampan dengan senyum ala iklan Pepsodent nya, Barnes berdiri dengan tangan yang bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di dinding perpustakaan, tepatnya di samping kusen pintu.
"Astaga! Barnes..." mengerut kedua kening Nessa hampir menautkan kedua alisnya.
"Kok ekspresi lo gitu sih? Ketemu pacar bukannya seneng, ini malah kek marah." cemberut Barnes dengan membenarkan posisi berdirinya.
"Lagian lo ngapain di sini?" Nessa bertanya dengan berjalan meninggalkan Barnes yang ternyata masih mengekor dibelakangnya.
"Gue..."
"Ingat ya Bar! Walaupun kita pacaran, bukan berarti setiap waktu kita harus bareng-bareng!" sela Nessa dengan berbalik menghadap kearah Barnes, dan menunjuk wajah Barnes dengan jari telunjuknya.
"Padahal gue kebetulan liat lo masuk ke sini, dan lo lupa kalau hari ini tanggal yang sama dengan tanggal jadian kita?" gerutu Barnes dengan tatapan yang meredup.
"Tapikan baru bulan kemarin Sayang, yang namanya ngerayain hari jadi itu kalau udah satu tahun lamanya, di tanggal dan bulan yang sama!" jelas Nessa dengan menghadap kearah rak buku.
"Oh, jadi nggak perlu nih kita ngerayain tiap minggu, tiap bulan gitu?" tanya Barnes dengan memiringkan kepalanya demi melihat wajah sang kekasih walau hanya tampak samping saja.
"Hem..." sahut Nessa dengan meraih salah satu buku novel yang ada di rak.
"Ok deh kalau gitu gue balik!" cetus Barnes yang segera berbalik bandan hendak meninggalkan Nessa.
"Eh tunggu!" cegah Nessa menahan lengan Barnes.
"Lo ke sini cuma kebetulan liat gue, tapi kok lo udah di dalem sih?" tanya Nessa penasaran.
"Gue kesini sama Bryna, gue di ajak ikutan lomba cerdas cermat, tapi gue males ih." cetus Barnes yang semangatnya kian meredup.
"Kok males sih? Kan enak lo bisa jadi kebanggaan sekolah kalo menang, dan gue yakin sih kalo lo bakal menang, nggak belajar aja otaknya encer apa lagi belajar..."
__ADS_1
"Bisa jadi profesor kali gue ya?" sela Barnes dengan tawa tengilnya, remaja tampan itu balik menatap Nessa.
"Ish dasar si raja PD!" cetus Nessa yang merasa sedikit menyesal telah memuji pacar tampannya yang memang percaya dirinya setengah mati.
"Tapi lo suka, kan?" goda Barnes dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Bar? Lo di sini?" terdengar suara gadis lain dari belakang punggung Barnes.
Sontak kedua remaja yang tengah bercanda itu menatap kearah sumber suara.
"Eh Na, Hai?" sapa Nessa dengan senyum kikuknya.
"Oh, Hai." sama seperti Barnes, tampang Bryna juga datar, tapi lebih terlihat sedikit ramah, karena disapa orang asing mau segera membalas.
"Na, kenalin ini Nessa, dia..."
"Ish apaan sih?!" Nessa mencubit pinggang Barnes.
"Kok dicubit sih?" tertawa geli Barnes karena cubitan Nessa tidak menyakiti, tapi terasa menggelitik.
Bryna melihat kembarannya berbeda dari biasanya, ia melihat Barnes mau menunjukkan senyum dan tawa dengan orang lain selain keluarganya.
"Ya udah sana, lo belajar, ntar kalo lo menang gue ada sesuatu buat lo!" ucap Nessa dengan sedikit mendongakkan kepalanya.
Barnes yang menunduk menatap Nessa mengangkat kedua alisnya, "Sesuatu? Lo mau kasih gue sesuatu? Apaan, gue penasaran tau!" tanya Barnes dengan mengulum senyum.
"Ish rahasia dong! Udah sana lo belajar, gue nggak mau jadi biang kegagalan lo!" cetus Nessa.
"Lo bukan biang kegagalan Barnes kok Nes, lo malah seperti pelangi yang ada di dalam hati kembaran gue, makasih lo udah bisa cair in gunung es yang nyasar ini." cetus Bryna dan lagi masih dengan wajah datarnya.
Tersipu Nessa mendapatkan pujian dari kembaran kekasihnya, "Ah lo bisa aja Na." ucap Nessa dengan malu-malu.
"Ih pipinya merah, punya kema-luan juga lo?!" kritik Barnes dengan mentoel pipi Nessa.
"Malu Bar, nggak pake 'KE'!" melotot Nessa menyahuti ucapan pacarnya.
"Udah-udah sono lo buruan belajar, soalnya kalau lo sampai gagal gue nggak jadi kasih sesuatu buat lo!" ancam Nessa yang membuat Barnes segera menurutinya.
__ADS_1
Nessa asik dengan novel pilihannya, sedangkan Barnes sibuk dengan team cerdas cermat, keduanya hanya terhalang rak buku yang tingginya 2m, sesekali Barnes mencuri pandang kearah sela-sela tumpukan buku di mana Nessa terlihat sedikit dari sana.
Lagi-lagi ucapan Nessa tentang kejutan yang akan diberikan kepada dirinya kembali terngiang dan itulah yang menjadikan Barnes semakin semangat dalam belajar...