Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 38 "Tempat Baru"


__ADS_3

Perjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih delapan jam itu membuat Nessa terserang rasa kantuk yang sangat berat. Sehingga waktu panjang itu tak terasa panjang, saat terbuka kedua mata gadis remaja itu, kini raganya sudah berada di provinsi yang berbeda.


"Hooaaaammm!!" menguap serta mengusap-usap kedua mata, Nessa mulai terbangun dari tidurnya.


"Sudah bangun sayang?" tanya Safira yang duduk di kursi penumpang bagian depan.


"Hem," sahut Nessa singkat, gadis itu masih tak rela untuk meninggalkan hingar bingar kota Jakarta.


Seperti paham dengan lingkungan asing, Nessa yang tertidur segera bangun ketika merasakan deru mesin mobil milik ayahnya tak lagi berbunyi.


"Kita sudah sampai?" tanya gadis cantik itu dengan menegakkan posisi duduknya.


"Sudah sayang, ayo turun, aki sama nini pasti sudah menunggu kita," sahut Safira masih dengan nada lembutnya.


Mengangguk pasrah Nessa, setelahnya gadis itu turun dari mobil, pemandangan baru yang membuat gadis itu menyapukan pandangan ke sepanjang mata memandang.

__ADS_1


Hijab panjang, sarung, peci, itulah yang dapat dilihat oleh mata telanjang milik Nessa. Ketiganya segera berjalan menuju bangunan khusus yang tidak sembarang orang dapat memasukinya.


"Assalamu'alaikum Abah?" Ferdi mengucapkan salam ketika mereka tiba di depan pintu.


"Waalaikumsalam," sahut suara seorang pemuda dengan sedikit berlari dari arah dalam, membungkuk sedikit kala ia sudah di depan Ferdi.


"Abah mana?" tanya Ferdi.


"Maaf, Abah sedang ada urusan diluar, tapi tadi beliau berpesan untuk menyiapkan temat untuk istirahat, mari!" sopan pemuda berkulit putih berpakaian sopan itu berkata.


Mau tak mau Ferdi dan keluarga mengikuti langkah kaki pemuda yang belum mereka kenal namanya. Setibanya di kamar yang di sediakan mereka beristirahat sembari menunggu pemilik pesantren yang tak lain adalah kakek Nessa.


Tak lain dengan Nessa, hanya berbeda hari saja Barnes dan Bryna juga sudah meninggalkan hingar bingar kota Jakarta, mereka kini sudah tiba di kota dekat pesisir selatan Jawa Tengah.


Berwajah muram Barnes mengayunkan langkah kakinya menuju kamar yang sudah di sediakan, mau tak mau ia menjalani kehidupan seperti santri yang lainnya.

__ADS_1


Tak lain dengan Bryna, gadis itu pun juga bernasib sama, penampilan Bryna berbeda dengan hijab panjangnya.


Helen dan Cakra sedikit lega karena kedua putra dan putrinya mau menurut untuk pindah belajar ilmu keagamaan.


Bryna duduk termenung dengan pikiran yang melayang menuju satu hati sebelum ia pergi dari sekolah kebangaanny.


"Gue suka sama lo," kata itu terus berputar+putar di dalam otaknya, suara serak, wajah tampan yang bersembunyi dibalik kacamata itu juga masih melayang-layang di dalam benaknya.


"Gimana bisa fokus coba? Kalo bayangan lo aja masih ganggu gue?!" gerutu Bryna dengan menata baju dan perlengkapannya.


Memang di sediakan kamar khusus bagi kedua cucu Valeno Santoso ini, tapi tidak di sediakan pelayan khusus seperti saat mereka berada di rumahnya, tujuannya agar kedua remaja itu hidup mandiri dan tidak manja.


Kegiatan sama seperti santri yang lain, mengaji, mengikuti kelas, dan juga masih melanjutkan sekolah menengah atas.


Sampai keduanya lulus dengan akhlak yang berbudi pekerti baik juga berbekal ilmu agama yang tinggi.

__ADS_1


Semua tercapai kala kedua remaja itu selalu menuruti apapun perintah kedua orang tuanya.


Bahkan Barnes menjadi pemuda yang berbeda dari masa lalunya, kehalusan, dan kesabaran menjadi ciri khas remaja tampan itu saat ini, tentunya dengan wajah tampan yang lengkap dengan peci hitam juga lengkap dengan sarung hitam.


__ADS_2