
Setelah saling sapa satu sama lain, keluarga besar dari Barnes duduk di kursi yang tersedia, kebetulan, Barnes dan Nessa duduk berseberangan.
Keduanya saling melempar pandangan, Nessa dengan pandangan protes nya sedangkan Barnes dengan senyum bahagianya.
Nessa tertunduk sibuk dengan cemilan kentang goreng yang berbumbu kecap dan saus di hadapannya, melihat itu Barnes yakin bahwa ia sudah membuat kecewa hati gadis pujaannya.
Namun tak berlangsung lama gadis cantik itu menunduk, kini Nessa kembali mengangkat pandangannya dan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan.
Melihat gelagat sang kekasih, perhatian Barnes kembali tercuri, dan ternyata ada tulisan di telapak tangan gadis itu.
[Kenapa terlambat?]
Terbaca oleh netra sipit Barnes goresan kecap manis yang terdapat pada telapak tangan Nessa.
Tersenyum Barnes, benar dugaannya bahwa sang gadis tengah mempermasalahkan waktu kedatangannya.
"Ayah? Apakah pemuda ini yang akan Ayah jodohkan dengan putriku?" menceletuk Ferdi, sejenak ia lupakan masa lalu yang mana ia pernah mengkhianati ibu dari pemuda yang akan dijodohkan dengannya.
Masih terdiam Barnes dan keluarga, bagaimana pun mereka memang terlambat dan kondisi Barnes terlihat sedikit kacau, bahkan peci hitamnya tak lagi melekat di atas kepalanya.
Mana yang katanya ia santri yang baik? Bahkan peci hitam yang sering para santri kenakan saja tidak ia pakai.
"Apakah kau keberatan?" tanya Akhiyar dengan nada yang sedikit tak bersahabat, hingga membuat semua netra teralih kepadanya.
"Bukan keberatan Ayah, maaf, tapi putrimu, istriku ini percaya penuh kepadamu, bahwa semua pilihan mu terbaik untuk keluarga kita,"
"Lalu? Menurutmu ini tidak baik? Hanya kau melihat tampilannya yang kebetulan amburadul ini? Kau tidak pernah melihat kesehariannya dan kau berani protes?!" Akhiyar sedikit menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
"Dulu! Dulu saya pernah melarangnya untuk mendekati cucu kesayanganmu ini! Karena dia..."
"Berandal sekolah? Suka tawuran? Bahkan masuk di berita tawuran antar sekolah? Bahkan rajanya bolos sekolah, iya?" tertebak sudah rentetan alasan yang membuat Ferdi ingin membatalkan perjodohan ini.
"Kau pikir aku tidak tau? Kau pikir aku tidak pernah menyelidiki latar belakangnya? Bahkan kau yang hampir menduda saja aku tau!" sedikit naik pitam Akhiyar, namun segera Nessa menepuk pundak sang kakek.
"Sudah Aki, Ayah memang tidak menyukai Barnes sejak awal," lembut Nessa bertutur kata.
Kini Akhiyar menghela napasnya panjang, berusaha menenangkan pikirannya juga mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Abah Valen, mohon di jelaskan kenapa kalian bisa terlambat dan juga, nak Barnes, kenapa kau terlihat sedikit kacau, bahkan lengan kemeja mu masih kau lipat," sopan Akhiyar meminta penjelasan.
"Baiklah, sekali lagi, saya sekeluarga mohon maaf, jika keterlambatan ini yang memicu perdebatan kalian, jadi kami tidak berencana untuk terlambat, bahkan rencana kita sampai di sini sebelum kalian datang," jelas Valeno, dengan tidak enak hati laki-laki yang sudah beruban itu menceritakan rentetan kejadian selama mereka dalam perjalanan ke resto.
Flash Back ON...
Mobil kijang inova berwarna hitam yang baru saja keluar dari area pondok pesantren terlihat penuh dengan penumpangnya yang tak lain dan tidak bukan adalah keluarga besar Valeno.
Hanya minus Bryna saja keluarga besar itu, dan kali ini Cakra sendirilah yang mengemudikan mobil inova hitam itu, demi kenyamanan istri, mertua dan juga anaknya.
Berdebar hati Barnes kala ia kembali teringat akan bertemu dengan sang pujaan beserta keluarga besarnya, bahkan tatapan Ferdi dua tahun silam masih saja melekat di dalam otaknya.
Terbayang betapa bencinya ayah dari gadis pujaannya itu kepada dirinya, tapi kecemasan itu hilang kala Helen membelai punggungnya, ia pun jadi merasa tenang kala melihat sekelilingnya, lihat saja apa yang perlu ia takutkan, keluarga besarnya kini mendukungnya.
Tunggu!
Kenapa ini malah seperti persiapan akan berperang? Ya... benar ini persiapan akan berperang untuk mendapatkan restu dari calon mertuanya.
Sedang asik dengan pergolakan batinnya, juga menghilangkan rasa cemasnya, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti...
"Sepertinya bannya kempes," cetus Cakra dengan perlahan membuka pintu mobil, tentunya mobil sudah ia berhentikan di tepi jalan.
"Astaghfirullah, ya sudah kita ganti dulu, toh masih ada cadangan di belakang," ucap Barnes yang segera turun dan berjalan menuju pintu belakang mobil, yang mana di sana ada ban cadangan yang siap pakai.
Baru saja Barnes memegang handel pintu mobil tiba-tiba sebuah clurit melingkar di lehernya.
"Serahkan harta benda kalian, atau pemuda ini akan kami tebas sekarang juga!" ucap salah seorang bermasker yang menahan celurit di leher Barnes.
Ketegangan tiba-tiba menyelimuti suasana tepi jalanan yang terlihat sepi itu, "Oh, jadi kalian yang sengaja menaruh paku di jalan, supaya kita berhenti sesuai dengan perhitungan kalian?" tanya Cakra dengan santainya.
"Heh, memang pandai perhitungan mu!" sahut preman yang lainnya.
"Cepat serahkan hatra benda kalian!" teriak preman yang masih berdiri dibelakang Barnes.
Barnes mengangkat lengan kanan nya, terlihat di sana waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Sudah terlambat!" gumamnya yang kemudian tanpa pikir panjang langsung mencengkram lengan preman yang masih memegang celurit dengan tangan kiri.
__ADS_1
Dijauhkannya dengan cepat celurit itu dari lehernya, bersamaan dengan itu gerak cepat siku Barnes menyerang wajah preman yang kebetulan mengenai batang hidung si preman hingga ia meringis kesakitan.
Terlepas sejenak, preman yang lain maju hendak menyerang Barnes, niat nya dua lawan satu, bahkan Barnes sudah melipat lengan panjang kemejanya, tapi tanpa di sangka Cakra maju membantu putra tampannya.
Dan terjadilah pergulatan satu lawan satu, hingga tak disadari oleh Barnes preman yang membawa celurit tadi sudah bersiap untuk menyerangnya dari belakang.
Tangan terayun cepat dengan celurit yang di genggamnya, "BARNES!!! AWAS!!!" teriak Helen.
Mendengar peringatan dari sang Ibu Barnes menoleh dan Crak!!
"Aaaaaaa!!!" teriak Helen, darah mengucur dari luka yang terkena goresan celurit, bahkan celurit masih menancap di tangan mengepal yang hendak menyerang Barnes.
"Aaaaaaaa!!! Tanganku!!!" teriak preman yang terluka, sejenak semua berhenti dari kegiatannya dan terfokus oleh luka parah yang diderita si preman.
Tanpa mau menunggu lebih lama lagi Valeno mencabut kunci mobil yang masih tertancap di mobilnya, dan segera mengajak semua keluarganya untuk masuk kedalam mobil kijang milik si preman.
"Ayo cepat!" teriak Valeno yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Peci ku!" teriak Barnes kala mobil sudah melaju, dari dalam mobil dapat dilihatnya peci hitamnya tergeletak diatas jalan aspal di mana tempat ia berkelahi tadi.
"Sudah nanti kita beli lagi, yang penting kita bertemu dengan keluarga calon istri mu dulu," Valeno sang kakek berusaha menenangkan cucu tampannya.
"Iya Eyang," lesu Barnes kala ia harus merelakan peci kesayangannya.
Flash Back OFF...
Panjang lebar Valeno bercerita, hingga Safira yakin pemuda di depannya ini benar-benar Barnes yang dulu sering mengantar pulang putri cantiknya.
"Jadi, ini benar Barnes nya Bunda?" tanya Safira.
"Iya, Bunda," sahut Barnes dengan senyum nya, sopan dan lembut Barnes di mata Safira, namun entah apa yang membuat Ferdi tak menyukai pemuda yang kini sudah berhijrah itu.
"Oh ya ampun, tunggu apa lagi? Sahkan saja?! Jika jodoh memang tidak akan kemana, percayalah!" cetus Safira.
Senyum kebahagiaan pun melingkupi pertemuan dua keluarga itu, tentunya Ferdi masih menekuk wajahnya.
Tapi mau bagaimanapun, ia tak mau menolak terlalu berlebihan...
__ADS_1