Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 11 "Hukuman"


__ADS_3

Di dalam ruang BK...


Kedua remaja berbeda gender tapi seumuran itu kini tengah di sidang dalam ruang BK (Bimbingan Konseling), sesekali lirikan tajam tak bersahabat Nessa lempar kearah Barnes, tapi tidak dengan Barnes, laki-laki itu terlihat santai saja.


"Kenapa kalian berantem? Kaya anak TK saja!" cetus bu Vera selaku guru BK yang terkenal dengan ketegasannya dalam menangani anak-anak istimewa seperti Barnes dan kawan-kawannya.


*Istimewa maksudnya, nakal nggak ketulungan ya guys.


Masih sama-sama terdiam kedua remaja itu, Brak!


Meja di gebrak bu Vera hingga membuat Nessa dan Barnes tersentak bersamaan, "Baku hantam saja kalian berani, kenapa jawab pertanyaan saya kalian tidak ada nyali?!" kembali Vera bertanya.


"Maaf Bu, ini salah saya." ucap Barnes yang menjawab terlebih dahulu, dan itu sukses membuat Nessa melongo.


Heran gadis itu, sudah jelas kalau Nessa yang lebih dulu menyerangnya, tapi kenapa Barnes malah berbohong?


"Oh jadi kamu Bar? Nah kalau ada pengakuan begini kan enak saya kasih hukumannya." cetus Vero dengan menulis sesuatu didalam bukunya.


"Hah? Hukuman?" Mendadak Nessa bersuara.


"Iya Ness, hukuman, kamu pikir membuat kegaduhan di lingkungan sekolah tidak mendapatkan sangsi?" Vera menyahuti tanpa menatap Nessa, guru BK itu masih sibuk dengan alat tulisnya.


"Eh... Bukan begitu Bu, em... Maksud saya, kegaduhan tadi saya yang mulai, Barnes hanya salah satu korban." jelas Nessa setelah mengumpulkan keberaniannya.


Kali ini Vera berhasil tercuri atensinya, mata tajam guru cantik itu menatap kearah Nessa, bersibobrok kedua tatapan tajam antara guru dan siswa.


"Eh bu Vera jangan percaya, Nessa bohong kok, kegaduhan tadi sumbernya itu saya." ucap Barnes dan kali ini Verna melempar tatapan tajam kearah Barnes.


"Eh lo apaan sih Bar! Orang jelas-jelas gue yang hajar lo duluan kok!" cetus Nessa.


"Tapi yang jadi inti dari permasalahannya gue, kan?!" ngotot Barnes menghadap kearah Nessa yang duduk di sampingnya, kedua remaja SMA itu malah berdebat didepan Vera selaki guru BK yang terkenal dengan ketegasannya.


BRAK!!


"Diam!" ucap Vera setelah menggebrak meja kerjanya untuk yang kedua kalinya.


Sontak kedua remaja kelas sebelas itu terdiam dengan menundukkan kepala, "Kalian ini, yang satu ok, atlet basket, terus kenapa harus terlibat perkelahian receh?!" Vera berucap dengan menatap Nessa.


"Dan kamu Barnes, poin merah akibat dari bolos mu itu sudah banyak, mau kamu saya keluarkan dari sekolah?!" imbuh Vera dengan mata yang semakin menajam.

__ADS_1


"Diam lagi kalian?" tanya Vera.


"Maaf Bu, tadi katanya disuruh diam." sahut Nessa yang membuat Vera menepuk keningnya.


"Ya sudah, sepulang sekolah nanti, setelah jam pelajaran terakhir kalian bersihkan toilet!" tegas Vera dengan menatap Barnes dan Nessa secara bergantian.


"What the..." teriak kedua remaja itu dengan bersamaan tapi terhenti karena tatapan Vera seketika melenyapkan lanjutan ucapan kedua remaja itu.


"Sudah kalian kembali ke kelas! Lagi pula ini sudah masuk jam kedua!" tegas Vera yang mau tak mau di angguki oleh Nessa dan Barnes, tak lupa kedua siswa dan siswi itu menjabat tangan guru BK super killer itu dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan yang dihindari banyak siswa itu.


Keluar dari ruangan Bimbingan Konseling, baru saja kedua kaki Nessa dan Barnes melangkah dari ambang pintu ruangan Vera, keduanya kini sama-sama menatap satu sama lain, kedua netra yang tak sengaja bertemu itu, menciptakan suasana jengkel yang tak seperti biasa, "APA?!" teriak keduanya.


"Hey! Cepat kalian kembali ke kelas! Berdebat nya nanti saja!" timpal Vera dengan nada tingginya dari dalam ruangan.


Kedua remaja itu menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya dengan kasar, lalu detik berikutnya keduanya saling membuang muka dan berjalan kearah berlawanan. Perpisahan pagi itu menyisakan rasa dongkol didalam hati kedua remaja itu.


Di lain tempat...


Gedung-gedung perkantoran menjulang tinggi di tengah kota metropolitan yang penuh dengan kebisingan juga hiruk-pikuk kendaraan beserta penumpangnya.


Didalam salah satu gedung perkantoran tepatnya di dalam ruang pribadi CEO utama Electra Group.


Di atas kursi kebesarannya, Ferdi selaku pimpinan perusahaan Furniture milik keluarga besar Safira, yang kini dipercayakan kepadanya.


Laki-laki paruh baya dengan jambang tipis itu kini tengah duduk di atas kursi kebesarannya, men-scroll layar gawai canggihnya demi mencari inspirasi.


Alih-alih inspirasi yang dia dapatkan, kini Ferdi malah mendapatkan berita tentang kenakalan anak SMA masa kini.


Tawuran beberapa hari yang lalu itu langsung trending topik karena SMA Nusa Bangsa mundur alias menyerah karena Bos mereka kalah.


"Ck... Anak-anak jaman sekarang, sekolah bawaannya senjata, nggak habis pikir!" gerutu Ferdi dengan melihat berita didalam benda pipih nan canggih itu.


"Biasalah Bos itu palingan anak-anak yang kurang perhatian dari orang tua mereka." cetus Zidan yang tak lain adalah asisten Ferdi.


"Haish... anak-anak nggak bermutu, nggak mikir apa mereka, kalau orang tua sibuk itu demi masa depan mereka?!" gerutu Ferdi yang semakin bermood buruk saja.


TOK... TOK... TOK...


Pintu ruangan Ferdi terdengar diketuk oleh seseorang dari luar sana, sejenak Ferdi menatap ke arah pintu, "Masuk!" serunya.

__ADS_1


Tak lama kemudian masuklah seorang sekretaris yang membawa map tebal, mereka segera beralih dari berita tawuran menjadi pembahasan seputar meeting pekerjaan.


Kembali ke Sekolah...


Bel tanda pulang telah berkumandang, kini semua siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing, bergerak cepat menuju parkiran kemudian menuju arah pulang.


Tapi tidak dengan Nessa dan Barnes, kedua remaja itu masih berdiri didepan toilet pertama yang akan ia bersihkan.


Masih bertampang jutek Nessa mulai membersihkan lantai toilet sedangkan Barnes membantu membersihkan toilet di sebelah, karena ingin menghemat waktu kedua nya berbagi tugas.


Setelah tiga jam lamanya mereka membersihkan toilet di seluruh sekolah, akhirnya selesai juga hukuman dari guru BK itu.


Napas terengah-engah menandakan keduanya lelah dengan kegiatan yang memakan waktu cukup lama itu.


Siluet jingga di ufuk barat menandakan bahwa sang surya sudah akan purna dari tugasnya hari ini, dan akan segera terganti oleh indahnya yang purnama yang bersinar.


Di depan toilet Barnes melepas beberapa kancing seragam putihnya karena merasa lelah dan panas.


"Pulang yok!" ajak Barnes, tapi Nessa masih menatap lurus dengan raut wajah yang ditekuk.


"Dah sono! Duluan aja lo!" terkejut Barnes dengan sahutan yang masih tak bersahabat itu.


"Lo masih marah sama gue?" tanya Barnes dengan menoleh ke arah Nessa yang ada di sampingnya.


"Lo pikir aja sendiri!" ketus Nessa dengan melangkahkan kakinya menjauhi Barnes, tapi lengan kekar Barnes segera meraih tangan mulus Nessa.


"Gue salah apa coba? Masa iya baru sehari kita jadian kita langsung putus?" tanya Barnes dengan menggenggam erat lengan Nessa, berbalik Nessa masih dengan tatapan tajamnya.


"Putus?! Enak banget lo bilang putus, setelah lo curi my first kiss, terus lo ninggalin gue gitu aja, buaya emang lo! Sama aja kaya yang lain!" cecar Nessa dengan emosi yang kembali meluap.


"First kiss?...


Nyampe sini gimana nih? udah pada kenal belum sama dua remaja ini, sini author bisikin tipis-tipis visualnya...


Barnes Frankins



Nessa Ferdina

__ADS_1



Itu sih dari aku tapi reader tetap bebas menggunakan imaginasi yang lain kok 🥰🥰🥰


__ADS_2