
Jika kedua laki-laki yang sudah tumbuh uban di kepala itu sedang asik memperbincangkan juga merencanakan perjodohan yang mereka siapkan jauh-jauh hari, berbeda dengan dua remaja yang kini masih saling berdiam diri.
Bertukar pandangan, bersibobrok tatapan, hanya itu yang mereka lakukan, saling bertegur sapa pun tak berani keduanya, seakan rasa malu menyelimuti kedua remaja itu.
"Oh ini nak Nessa?" buyar sudah lamunan dan kecamuk pikiran yang ada di dalam otak kedua remaja itu kala suara Valeno menyebut nama Nessa.
Tersenyum dengan menundukkan sedikit kepala, gadis itu sejenak merespon pertanyaan Valeno.
Binar mata pemuda yang ada di samping Valeno yang tak lain adalah Barnes memancarkan kebahagiaannya.
Sungguh bagaimana tidak bahagia jika sang kekasih hati yang telah lama hilang kini sudah kembali, tapi dengan tampilan berbeda.
"Nah ini Barnes," seolah mengenalkan cucu tampannya, Valeno menepuk pundak cucu kesayangannya.
Terangkat kedua netra Nessa untuk memandang pemuda yang baru saja di sebutkan namanya.
"Aki?" setelahnya, Nessa menatap sang kakek dengan penuh tanda tanya di dalam benaknya.
Tersenyum Akhiyar dengan mengelus pucuk kepala gadis di sampingnya itu.
"Apa maksudnya ini?" kembali Nessa bertanya, dari suara pertanyaan yang Nessa lontarkan, berbeda kala suara merdu itu merasuk kedalam gendang telinga Barnes.
Suara yang sudah lama di rindunya, suara yang sudah lama menghilang, suara yang ingin di dengarkan olehnya.
"Eyang? Apakah gadis seperti ini?" kali ini suara Barnes menghentikan perdebatan kecil yang Nessa lakukan di hadapannya.
menekuk kedua alis Nessa yang terbingkai hijab hitamnya.
"Apa maksud mu seperti ini?" tanyanya yang malah mengundang senyum tipis di ujung bibir Barnes.
"Bukankah Eyang akan mencarikan bidadari yang lemah, lembut untuk ku?" bukan menjawab protes dari Nessa, kini Barnes malah bertanya kepada Valeno.
Melotot kedua netra bulat Nessa kala mendengar pertanyaan kedua dari bibir pemuda tampan yang jujur saja namanya masih terselip di balik pilar hatinya.
Bersedekap dada gadis itu mengerucut bibir, membuang pandangan seolah tak mau lagi masuk kedalam pembahasan.
Mana yang katanya berubah?
__ADS_1
Ucapan Barnes masih sepedas dulu, bahkan kata-kata tak bersahabat itu sering pemuda itu lontarkan kepada teman-teman, tapi kenapa sekarang pada dirinya?
Sudah beralihkah posisinya di dalam hati Barnes?
Bahkan dengan konyolnya ia masih menyimpan pemuda itu di dalam lubuk hatinya.
"Nessa permisi!" pamitnya seraya berdiri, "Iya Eyang, Aki, Barnes terima perjodohan ini," untaian kata itu membuat Nessa menghentikan langkahnya.
Sedikit menoleh tapi setelahnya gadis itu melanjutkan langkah kakinya menuju toilet terdekat.
"Kenapa kau membuatnya marah? Kau pikir dirimu sebaik apa? Dia itu sudah banyak berubah, kau tau dirimu dulu bahkan seorang berandal sekolahan," sedikit menceramah Valeno gemas dengan drama yang Barnes berikan.
"Hehehe... maaf Eyang, Aki, sebenarnya kita sudah saling mengenal, hanya Barnes ingin melihat sejauh apa dia berubah? Jangan-jangan ia banyak berubah sehingga Barnes yang menjadi tidak layak untuknya," jelas Barnes dengan sopan.
"Dasar bocah gemblung!" tanpa ampun Valeno menoyor kepala cucu tampannya, sedang Akhiyar hanya tertawa melihatnya.
Barnes mengulas senyum dan beranjak dari kursinya, "Mau kemana?" tanya Valeno.
"Mau ke toilet sebentar," pamitnya dengan menunjuk kearah tulisan toilet yang tak jauh dari tempat dimana mereka duduk.
"Ngapain?" sekali lagi Valeno bertanya, namun kali ini lebih seperti mencurigai Barnes.
"Ya kali kamu mau nyusulin Nessa," cetus Valeno kemudian menyeruput teh hangat yang masih sedikit mengepulkan asap halusnya.
"Astaghfirullah Eyang, kalo ngomong suka bener!" cetus Barnes yange langsung mendapat lirikan tajam dari sang kakek.
"Hehe... Enggak lah Eyang, kalo pun kita bertemu atau berpapasan di toilet, itu sudah Qodarullah," dengan masih memasang tampang cengengesan Barnes berlalu begitu saja.
"Itu bukan ketetapan Allah tapi rencana yang kau rancang cah bagus, hahaha..." tawa renyah kedua kakek-kakek itu terdengar kala Akhiyar mengakhiri ucapannya.
"Bar!" teriak Valeno, kemudian ia mengangkat kepalan tangan yang ia tujukan kepada cucu tampannya ketika pemuda tampan itu menoleh.
"Sabar Bah, hehehe..." lagi-lagi Akhiyar tertawa.
"Kau tau sendiri bagaimana latar belakang Barnes, aku takut nanti dia khilaf," cetus Valeno mengungkapkan ketakutannya.
"Saya yakin, cucu-cucu kita sudah berubah, mereka sudah besar," cetus Akhiyar dengan santainya.
__ADS_1
Di sisi lain...
Nessa yang sedari tadi menahan senyum kini telah mengembangkan senyum tulusnya, bahkan saking bahagianya mata gadis itu sampai berkaca-kaca.
Tersenyum lebar, bahkan menahan tawa agar tidak lepas dan di dengar oleh insan lain yang ada di sekitar sana.
Di dalam toilet Nessa membungkam mulutnya, walau senyum indah yang menampakkan barisan gigi rapi menghiasi wajahnya, bahkan saking bahagianya pundak gadis itu ikut bergetar karena tawa yang tertahan.
Setelah puas dengan kebahagiaan yang dia simpan sendiri itu, Nessa keluar dari dalam toilet yang sedari tadi di kuncinya.
Tak lupa gadis itu menghampiri cermin lebar yang tersedia di sana, menatap pantulan dirinya di dalam cermin tiba-tiba saja senyumnya kembali mengembang.
Sedikit menggigit bibir bawahnya, Nessa melirik ke kanan dan ke kiri, "Aman," gumamnya, kemudian ia kembali menatap cermin.
"Uwaaaa!!! Gue seneng bangeeeeettt!!! Astaghfirullah... jantung oh jantung, kau masih aman kah ditempatmu?" bermonolog didepan cermin Nessa sambil memegangi kedua pipinya.
"Setelah sekian lama, Ya Allah, kalo jodoh memang nggak kemana, kalo kemana-mana jadikanlah dia jodoh!" meracau tak karuan gadis cantik dengan hijab hitam yang berdiri di depan cermin.
"Astaghfirullah, apa boleh aku merasa bahagia yang seperti ini? Apakah ini tidak berlebihan?" kali ini Nessa beralih memegang dada sebelah kirinya, dimana di dalamnya ada jantung yang berdetak tak karuan.
"Boleh, Allah mengijinkan dirimu untuk bahagia, pertemuan kita ini tanpa rencana kita, tanpa sepengetahuan kita, semua ini tak lepas dari Qodarullah," suara yang tak asing di indera pendengaran Nessa membuat jantung gadis itu semakin berdetak lebih kencang.
Perlahan tapi pasti, netra bulat itu terangkat dan memandang cermin di depannya yang mana di sana ada wajah tampan yang tepat berdiri dibelakangnya.
Bertemu kedua netra itu melalui bantuan kaca, segera Nessa kembali menundukkan wajahnya, menutup sebagian wajahnya dengan hijabnya.
"Astaghfirullah, apa yang kau lakukan di toilet cewek?" berusaha tenang, pertanyaan itu yang Nessa lontarkan.
Terlihat dari ekor mata Nessa kalau Barnes menarik sedikit ujung bibirnya, dan sumpah demi apa, itu terlihat sangat manis dan berdamage, "Oh ya Allah, lindungi jantung dan hatiku, buatlah mereka bekerja seperti biasanya," batinnya masih dengan menutup sebagian wajahnya dengan hijabnya yang menjuntai.
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya saja aku tadi mendengar suara teriakan seorang gadis," sahut Barnes dengan entengnya.
Mendengar jawaban dari Barnes, Nessam semakin dibuat malu saja, dilihatnya punggung Barnes mulai berjalan meninggalkan toilet wanita.
"Tunggu! Bar!" teriak Nessa yang menghadap kearah Barnes, yang dipanggil sontak berbalik menatap gadis yang memanggilnya.
Barnes hanya mengangkat salah satu alisnya, menandakan dirinya menuntut kelanjutan penggilan barusan.
__ADS_1
"Lo tau kalo kakek-kakek kita itu sudah merencanakan ini jauh-jauh hari...