
Ting!!
Dering ponsel yang menandakan jika ada pesan masuk membuat pemuda yang terlelap di balkon tepatnya di atas kursi malas terbuka sipit netra tajamnya.
Segera Barnes meraih gawai canggih yang tadi ia letakkan di atas meja bundar yang tak jauh dari kursi malasnya.
📥 [Bar, besok gue udah nggak sekolah di SMA Nusa Bangsa]
Ternyata pesan singkat dari sang pujaan tersayang yang sudah ditunggu-tunggu datangnya.
Mengerut halus kening Barnes kala ia membaca pesan singkat itu, loading otak pria tampan itu, wajar saja ia baru bangun dari samudera impiannya dan mendapatkan pesan yang cukup membuat nya berpikir keras.
Sepuluh menit sudah Barnes terdiam dengan menatap layar ponselnya, masih mencari maksud dari ungkapan pesan yang di dapatnya.
Karena jawaban tak terdapat di dalam otak geniusnya, remaja tampan itu memilih untuk bertanya langsung.
📤 [Maksud lo?]
📥[Gue tadi udah ngurus surat pindah sekolah, dan kemungkinan gue bakal pindah di Jawa Timur, karena nenek ada di sana] Nessa
📤[Gila! Jauh bener! Niat banget ya bokap lo misahin kita!] Barnes
📥 [Sorry ya kalo selama ini gue nyusahin lo?] Nessa
📤[No! Jangan bilang putus lagi! Apa nggak bisa kita LDR an?] Barnes
Lama ia menunggu pesan balasan dari kekasihnya.
Bolak-balik ditatap nya layar ponsel yang tak kunjung memberikan notifikasi pesan masuk.
__ADS_1
📤[Nes please! Gue janji gue bakal perjuangin lo! Ntar kalo gue udah lulus gue bakal jemput lo, terus kita hidup bersama ok!]
Barnes mengirim kan pesan tambahan karena ia tak kunjung mendapatkan persetujuan dari sang kekasih.
📤[Nes? Lo tidur? ]
Hening tak ada jawaban.
📤[Sayang?]
Sama sekali tak ada tanda pesan dibuka.
📤[Baby?]
Pantang menyerah Barnes terus mengirimkan pesan.
📤[Honey?]
Ada tanda centang biru di layar ponselnya, sedikit rasa bahagia, tapi tulisan mengetik tak kunjung membuahkan hasil, pesan masuk tak kunjung datang.
Kini malah terlihat tulisan terakhir dilihat pukul 00.05WIB.
"Aaarrrrgghhhh!!!" teriak frustasi Barnes dengan menjambak rambutnya, "Apa maksudnya ini?" dengan langkah malas Barnes berjalan masuk kedalam kamarnya.
Gusar Barnes tak bisa menenangkan dirinya, bahkan sesekali ia masih menatap layar ponselnya.
Pertama info online hilang sekarang foto profil Nessa pun hilang, curiga Barnes ia segera melayangkan panggilan kepada pacar cantiknya itu.
Lama menunggu, kecewa yang hadir tanpa malu, bukan suara Nessa yang muncul melainkan suara anggun si operator yang mengabarkan bahwa nomor yang dihubungi tak dapat dihubungi.
__ADS_1
Dongkol rasa hati Barnes, tapi sebisa mungkin ia tak menghancurkan barang yang ada di sekitarnya, memilih tidur adalah pilihan yang terbaik kala galau melanda.
Di kediaman Nessa,
Gadis cantik yang biasa berekspresi ceria itu kini tengah merenung, terdiam di sudut ranjangnya, pasalnya setelah ponsel yang biasa ia gunakan direbut paksa oleh sang ayah.
Pikirnya melayang, pesan terakhir yang Barnes berikan, apakah benar ia akan memperjuangkan cinta mereka?
Tapi tak ada salahnya jika dicoba, tapi jika takdir mengatakan lain bagaimana?
Bimbang hati gadis itu, sampai ia terlelap dalam tidurnya.
Pagi hari ditempat yang berbeda dua remaja tak menyambut kecerahan sinar sang surya dengan wajah ceria nya.
Kendati di tempat yang tak sama, Barnes galau di meja makannya, sedangkan Nessa kini sudah berada di dalam mobil pribadi milik ayahnya, juga ekspresi galau yang menghiasi wajahnya, perjalanan jauh siap menyambut harinya.
Nessa tidak dapat membantah keputusan sang ayah, sedang Barnes tak mau jika membuat Nessa menjadi durhaka.
Di tengah-tengah lamunannya, Barnes di kejutkan dengan sosok rapi sang Daddy yang siap mengantarkan dirinya ke sekolah.
"Daddy mau apa?" tanya Barnes bingung.
"Mengantar anak-anak Daddy ke sekolah." sahut Cakra dengan entengnya.
"Buat apa?"
"Sekalian mengurus surat pindah kalian, eyang kakung sama eyang putri sudah marah-marah semalam lewat telfon!" timpal Helen dengan membereskan meja makan.
"What?!" teriak Barnes dan Bryna bersamaan.
__ADS_1
"Why? Ada yang salah come on Boy, come on girl, ilmu agama itu penting!" jelas Cakra.
Kedua remaja itu mendengus kesal walau akhirnya berkata, "Terserah Daddy saja!...