
"Gimana?" pertanyaan Barnes membuat Zidan berpikir berulang kali, padahal itu hanya ancaman receh yang dibuat oleh Barnes.
Memangnya salah apa Zidan sampai yang melakukan kesalahan Barnes tapi dirinya yang terkena getahnya?
Tapi ya begitulah perangainya Zidan, ia termasuk orang yang banyak berpikir.
"Benar juga, kan aku yang memberikan ide untuk dia ketemuan, nanti kalo sampai terjadi apa-apa, gimana? Kalo sampai di usut aku dong dalang di balik pemikiran Barnes?" terjadi pergolakan batin didalam hati dan otak Zidan, hingga akhirnya...
"Baiklah-baiklah!" tersenyum Barnes kala ia mendengar kata pasrah yang mendekati keputusasaan dari teman pondoknya itu.
"Kau mau? Menemani ku berkencan?" tanya Barnes memastikan.
"Iya, iya mau!" kesal Zidan yang segera pergi untuk bersiap.
...("sB&sB")...
^^^Malioboro City Apartemen.^^^
Masih di kota dekat pesisir selatan pulau jawa, ya Daerah Istimewa Yogyakarta lah tempat singgah sementara Nessa dan kakeknya sebelum mereka kembali ke Jawa Timur.
Di depan televisi yang tengah menyala Nessa dan keluarganya masih berkumpul, Ferdi dan Safira memang belum ada rencana untuk kembali ke Jakarta, rencana nya mereka akan membawa serta putri tercintanya untuk pulang bersama.
"Mereka baru rencana akan menikah, kan? Belum sekarang, kan?" Ferdi menyeletuk seolah perjodohan putrinya sangat mengganggu kesingkronan otak kanan dan kirinya.
"Hem? Ya kalo kamu mau buru-buru menikahkan anakmu, ya sekarang pun Aki siap untuk mempersiapkan semuanya," cetus Akhiyar dengan bersandar pada punggung sofa yang empuk.
"Tidak-tidak! Bukan begitu..."
TOK... TOK... TOK...
Belum selesai Ferdi menyampaikan alasannya, suara ketukan pintu lebih dulu mengganggu ketenangan rumah nya.
Sontak semua mata tertuju pada daun pintu yang masih tertutup rapat itu.
Sejenak mata anggota keluarga itu saling bersitatap satu sama lain, sampai akhirnya Nessa beranjak dari duduknya, "Biar Nessa lihat,"
Mengangguk setuju semuanya dengan menyaksikan Nessa berjalan mendekati pintu utama apartemen milik kakeknya.
CEKLEK!!
Terbuka daun pintu yang semula tertutup rapat, "Assalamu'alaikum?"
Suara serak khas laki-laki sejati terdengar dari sosok pemuda tampan berpeci hitam, "Wa'alaikumussalam,"
Menunduk Nessa menyahuti salam yang terucap dari bibir merah segar yang tidak terpapar nikotin.
"Siapa Nes?" teriak Akhiyar yang merasa Nessa terlalu lama berdiri di ambang pintu tanpa menyuruh tamu itu masuk kedalam hunian indah nan aesthetic itu.
"Em..." sedikit ragu Nessa untuk menjawab pertanyaan dari sang kakek, "Assalamu'alaikum Aki, ini Barnes!" teriak Barnes dengan suara lantangnya. Senyum tipis terlukis di wajah cantik Nessa yang masih setia menundukkan wajahnya.
"Loh, kenapa tidak masuk?" terlihat Akhiyar berjalan tergopoh-gopoh keluar dari ruang tengah dan menuju pintu utama apartemen nya.
"Cucu Aki yang cantik ini tidak mempersilahkan Barnes untuk masuk," cetus pemuda tampan itu yang seketika membuat Nessa mengangkat pandangannya, bahkan ia menatap Barnes dengan kedua bola mata yang membulat pertanda protes.
"Oh ya ampun, Nessa memang akhir-akhir ini suka lemot, sudah-sudah ayo masuk!" ajak pria paruh baya yang sudah beruban banyak itu.
Barnes mengangguk sopan dan berjalan melewati ambang pintu dimana Nessa berdiri mematung memandangi dirinya tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
"Maaf Ning, permisi," ucap pemuda liannya yang melewati Nessa setelah Barnes melewati dirinya.
Tersentak Nessa mendengar suara lain, sontak ia menyingkir dari ambang pintu, setelah dua pemuda yang bertamu kedalam hunian milik kakeknya itu mulai tenggelam dibalik tembok pembatas ruangan, Nessa segera menyusul mereka.
Dilihatnya Barnes dengan sopan menyapa kedua orang tuanya, walaupun ekspresi Ferdi masih saja kaku.
"Ness, bikinkan minum!" titah Akhiyar kepada cucu kesayangannya, "Iya, Aki," tak mau membantah Nessa hany mengiyakan, dan dengan cepat gadis cantik itu berjalan menuju dapur.
Tak lama Nessa bergelut dengan air panas dan juga cangkir keramik, Safira datang dan menyenggol siku Nessa menggunakan ujung sikunya.
"Cieeee yang di apelin, malu-malu kucing," goda nya dengan mencolek-colek pipi Nessa.
"Ih Bunda apaan sih!" jutek gadis itu menoleh kearah sang bunda sambil berusaha untuk fokus menuangkan gula kedalam cangkir terakhir.
"Uluh-uluh, gitu doang pipinya merah, awas ntar gulanya keliru garam, walau sama-sama putih mereka beda rasa loh," lagi-lagi Safira menggoda anak gadisnya sambil mengingatkan, karena toples gula dan garam bersandingan, namun Nessa tak menanggapinya, ia hanya melanjutkan menuang teh panas yang baru saja di sedunya.
Bahkan setelah teh hangat itu sudah siap, Nessa membawanya keluar tanpa bertanya kepada Safira, mungkin hati nya sedikit jengkel atau masih merasa malu, entahlah perasaan itu hanya Nessa yang tau.
"Silahkan-silahkan, silahkan diminum, Nessa jago bikin teh manis loh, takaran gulanya paling pas," Akhiyar memuji teh manis buatan Nessa sembari membuka tutup cangkir kemudian menyeruput teh hangat itu dan di ikuti oleh yang lainnya.
Akhiyar terlihat menghela seolah dia puas dengan buatan sang cucu, Ferdi terlihat bangga anak gadisnya pandai menyajikan teh manis, Zidan terlihat menganggukkan kepala dengan menatap cangkir teh yang masih terlihat mengepul, pertanda memang pas dan nikmat rasa teh manis itu.
Tapi...
Barnes terlihat memejamkan mata cukup lama setelah ia menyesap teh hangatnya.
"Manis, kan? Apa aku bilang, Nessa memang jago," sekali lagi Akhiyar menyanjung cucunya.
"Manis apanya? Ini lebih seperti sayur bayang tanpa ampas sedikit pun, asin!" batin Barnes.
Semua menganggukkan kepala kecuali Barnes, ia masih setia memejamkan mata dengan sedikit mengernyitkan dahinya, bahkan alis tebalnya sedikit menekuk.
"Hah?" membuka mata Barnes kala Safira bertanya kepada dirinya.
"Tidak, Bunda, Teh nya..." Berhenti sejenak Barnes, kemudian tatapannya beralih menatap Nessa yang tersenyum tipis dengan menaikkan salah satu alisnya. Sepertinya ia menunggu tanggapan dari calon suaminya tentang teh buatannya.
"Sangat pas, manis seperti yang membuatnya," ucap Barnes dengan menatap Nessa, setelahnya ia kembali menyeruput teh hangat itu dengan mata tajam yang masih menatap Nessa.
"Ekhem..." salah tingkah Nessa berdehem dengan mengelus tengkuknya yang tertutup jilbab.
Tidak berani gadis itu bersitatap dengan netra tajam milik calon suaminya, sedangkan si pemilik mata sipit nan tajam masih setia menusukkan tatapan tajamnya.
"ekh-ekhem... Maaf, Bunda permisi dulu ya, tadi goreng pisang di belakang," alasan Safira yang sengaja meninggalkan ruang tengah itu.
Akhiyar yang bingung langsung menatap putrinya, namun Safira yang paham segera memberi kode kepada sang ayah agar segera memberikan ruang dan waktu untuk muda mudi itu.
"Ah iya, Aki ada koran baru tadi, Aki tinggal sebentar," segera berdiri dari duduknya Akhiyar sambil bergumam, "Ku taruh dimana tadi ya tumpukan kertas itu?"
Ferdi yang melihat istri dan mertuanya meninggalkan ruang tengah merasa bimbang, akan kah ia bertahan di sana atau pergi?
Inginnya menemani sang putri agar tidak terlalu banyak kontak mata dengan Barnes, tapi ia canggung juga saat harus duduk diam-diaman saja, akhirnya tanpa sepatah kata Ferdi berdiri...
"Ayah?" panggil Nessa. Berhenti Ferdi tanpa menoleh.
"Mau kemana?" sambung Nessa kala sang ayah berhenti dan terlihat menunggu pertanyaan darinya.
"Em...Ayah ada urusan!" ketusnya yang segera melanjutkan langkah kakinya.
__ADS_1
Kini tinggallah tiga remaja yang tengah duduk di atas sofa ruang tengah.
"Kau tidak punya alasan untuk pergi meninggalkan kami?" cetus Barnes dengan melirik kearah Zidan.
"Hah? Em..." bingung Zidan sampai berkali-kali mengusap dahinya yang tidak berkeringat.
"Sudahlah biarkan saja dahimu! Jangan kau usap lagi, sudah sangat licin itu!" cetus Barnes lagi.
"Gus jangan gitu lah! Malu aku!" bisik Zidan.
"Kau hanya malu tapi masih dapat minum manis, kan?" tanya Barnes yang membuat Zidan bingung.
"Maksud mu?"
"Calon istri ku ini memperlakukan ku dengan sangat sepesial, kau tau, di saat semua merasakan manisnya teh hangat, aku merasakan rasa yang berbeda," cetus Barnes dengan melirik Nessa, semakin gugup saja gadis yang di pandangnya itu.
"Hah? Beda gimana Gus?" tanya Zidan.
"Ya beda, aku sampai penasaran, sebenarnya apa bumbu yang di masukkan kedalamnya," kembali Barnes menatap Nessa yang masih berdiam diri, merasa tidak diajak bicara Nessa pun berdiri dari duduknya mungkin niat hati ingin meninggalkan ruangan itu.
"Mau kemana?" tanya Barnes yang membuat Nessa tidak jadi melangkahkan kakinya.
"Em... Mau..."
"Aku ini tamu, dan aku ini calon suami mu!" Barnes berdiri dengan membawa cangkir yang berisi teh sepesial katanya.
Nessa yang bingung hanya mampu berdiri kala pemuda tampan yang sebentar lagi akan meminangnya itu berjalan mendekati dirinya.
Trrrriiiinggggg!!
Trrrriiiiinggggg!!
Trrrriiiingggggg!!
Dering ponsel Zidan memecahkan suasana yang tadinya hening, seketika fokus teralihkan.
"Maaf, Abah ku telfon!" ucap Zidan sebelum ia berlari menjauh dari ruang tengah.
Kembali Barnes menatap Nessa, "Kau berikan bumbu apa kedalam teh ini? Jangan-jangan kau akan menaruh racun kedalam teh ku setelah kita menikah nanti?"
"Astaghfirullah Bar! Lo ngomong apa sih?!" bingung Nessa dengan ucapan Barnes yang menurutnya berbelit-belit.
"Kau rasakan sendiri!" Barnes menyodorkan cangkirnya, bingung Nessa tak segera meraihnya.
"Apa mau aku minumkan? lewat gelas? atau mau lewat bibir?" entah mengapa di depan Nessa sifat asli Barnes selalu saja muncul, tak lain dengan Nessa, mungkin keduanya sudah tau satu sama lain.
"Ya ampun ini lakik ngapain coba! Nggak jelas!" cetus Nessa yang berbalik hendak meninggalkan Barnes, namun dengan cepat Barnes menarik lengan Nessa hingga gadis itu tanpa sengaja menabrak Barnes dan...
PYAS!!!
Air teh yang ada di dalam cangkir tumpah membasahi wajah Nessa dan dada Barnes, "Duh kok ini airnya asin sih?" terlihat bingung Nessa kala ia merasakan air teh yang membasahi bibirnya.
Masih berdiri di tempat, Barnes masih stay mencengkeram lengan Nessa, sedangkan gadis itu masih asik masuk kedalam belahan dada bidang milik Barnes yang terasa keras berotot, jauh dari dua tahun yang lalu.
"Nyaman ya di situ?" tanya Barnes, Nessa yang merasa malu segera menoleh keatas dimana wajah Barnes terlihat.
Begitu dekat jarak keduanya kini, "Maaf," bisik Nessa, "Apa?" Barnes sedikit menundukkan kepalanya berniat mendengar bisikan Nessa.
__ADS_1
Tapi karena begitu dekatnya, fokus Barnes menjadi hancur dan beralih kepada bibir pink natural milik calon istrinya itu.
"Astaghfirullah Gus! Sadar! Dia belum halal Gus!" teriak Zidan yang tiba-tiba sudah berada di sana...