Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 24 "Deal Kita Balikan"


__ADS_3

Perhatian dan kelembutan Barnes sungguh sukses meluluh lantahkan tembok besar yang mengepung hati Nessa sejak ia mengucap kata putus.


Perlahan Barnes mengurai peluk hangatnya, "Hati-hati lain kali, apa masih sakit?" tanyanya.


Nessa hanya menggeleng pelan, segera ia mengalihkan pandangannya, pipinya memerah menahan malu yang begitu mendalam, "Duh kok bisa sih gue ceroboh? Kan jadi malu, ini kaca ngapain juga nabrak-nabrak!" batinnya dengan menunduk.


Barnes kembali fokus dengan kemudi yang sekarang tengah digenggamnya. Pedal gas ia injak perlahan demi membawa sang pujaan melaju lancar di jalanan hitam tengah kota.


Sesekali netra tajam Barnes melirik kearah gadis cantik yang duduk diam di kursi penumpang yang ada di sampingnya.


Tak ada pertanyaan ataupun kata-kata yang keluar dari mulut keduanya, hanya tukar pandang yang terkadang sering memunculkan semu merah muda di pipi, bahkan tak jarang lengkungan manis menghiasi bibir keduanya.


Ditengah keramaian hingar bingar pesta anak muda...


Rifki menjatuhkan pantatnya tepat di atas permukaan sofa lembut tepat ketika seorang gadis mendekati dirinya.


"Rifki!" panggilnya hingga membuat sang empu menoleh, "Hem?" sahut Rifki dengan melirik gadis yang bernama Gita dengan ekor matanya.


"Barnes mana?" tanyanya.


"Pulang!" ketusnya, menganga dengan mata yang melebar Gita mendengar jawaban dari teman sekelasnya itu.


"Biasa aja matanya!" cetus Rifki sekilas menatap ekspresi Gita.


Mendengus kesal Gita sedikit menghentak kakinya, gadis itu tanpa pamit segera pergi meninggalkan keramaian pesta.


Lengan ramping dengan jemari lentik Gita melambai pada taksi yang melintas dijalanan dimana ia berdiri.


Di sisi lain,


"Stop Bar!" setelah keheningan selama dalam perjalanan akhirnya Nessa menghentikan Barnes dengan memegang lengan kekar laki-laki di sampingnya.


"Why?" tanya Barnes dengan menatap sekilas kearah gadis yang ada di sampingnya itu. Kemudian Barnes menepikan mobilnya di pinggiran jalan.


"Kita mau kemana?" tanya Nessa pada akhirnya, tersenyum tipis Barnes menatap lembut sang pujaan.


"Ke KUA mau?" tanyanya disertai dengan nyengir jail.

__ADS_1


"Ish... Serius!" sahut Nessa dengan memukul lengan berbentuk angka delapan yang tertutup kemeja.


"Aduh, jangan dipukul dong, di cium aja kan lebih enak." goda Barnes dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ya kali gue cium lengan lo!" sahut Nessa masih dengan nada ketus.


"Oh, jadi maunya dimana?" tanya Barnes dengan memajukan wajahnya hingga jarak anatar wajah keduanya kini sangatlah dekat.


Tergagu Nessa, gadis itu terdiam dengan netra yang mengedip pelan beberapa kali.


Sialnya Nessa menatap wajah Barnes yang entah mengapa semakin terlihat tampan dan penuh pesona saja.


Semakin mendekat Barnes menunjuk pipi nya, "Di sini?"


"Di sini?" ucapnya lagi dengan menunjuk keningnya.


"Atau..." menggantung kalimatnya membuat jantung Nessa semakin berdebar. Sengaja Barnes mencubit kecil dagu Nessa.


"Kau mau yang ini?" Barnes menunjuk bibir merah naturalnya.


Mengedip pelan Nessa bak terhipnotis oleh pesona makhluk tampan di depannya.


Dengan buaian-buaian lembut yang Barnes berikan, keduanya pun lupa dimana mobil yang mereka tumpangi berada.


Hingga__


TOK... TOK... TOK!!!


Kaca mobil tiba-tiba diketuk oleh seseorang dari luar, tersentak keduanya sama-sama melepas kecup mesranya.


Mengatur napas yang baru saja menderu-dera, Barnes sedikit menurunkan kaca mobilnya, sedangkan Nessa sibuk menyembunyikan wajahnya karena malu, malu karena lagi-lagi ia terbuai dengan perlakuan manis Barnes, juga malu karena tiba-tiba ada yang memergoki keduanya.


Padahal toh belum jelas orang diluar itu melihat kegiatan mereka atau tidak.


"Ada apa ya Mas?" sopan Barnes bertanya kepada mas-mas yang wajahnya sepertinya tak asing.


"Saya yang bertugas patroli di sini Mas, Mas nya sama..." sedikit mencuri pandang kearah gadis di samping Barnes laki-laki asing itu menyambung pertanyaannya, "Sama pacarnya ya? Kalian mau mesum ya?!" tudingnya, yang membuat Barnes sedikit tertohok.

__ADS_1


Jujur saja kegiatannya barusan pasti akan kebablasan jika mas-mas ini tidak mengetuk kaca jendela mobilnya.


"Hah? Dia, di... dia tunangan saya Mas, maaf tadi perutnya sakit dan saya terpaksa berhenti istirahat sebentar di sini." berusaha mencari alasan Barnes rela berbohong.


"Oh ya sudah Mas, saya permisi."


Obrolan keduanya sudah berhenti, kini laki-laki asing itu sudah menjauh dari posisi mobil Barnes.


Segera Barnes menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju rumah Nessa untuk mengantarkan gadis cantik itu untuk pulang.


Saling cekikikan keduanya kala mengingat kejadian yang konyol barusan.


"Ya makanya jangan asal main cium dong! Tau tempat lah minimal!" cetus Nessa, yang hanya mendapat lirikan kecil dari Barnes.


"Kalo nggak di mobil mungkin udah raib lo!" cetus Barnes yang langsung mendapat tepukan keras otot lengannya.


Berhenti mobil yang mereka tumpangi tepat di depan rumah mewah milik keluarga Nessa, Ini pembukaan, mungkin ini saatnya Barnes meminta kejelasan tentang hubungan kosongnya.


"Setelah yang tadi, udah gue simpulkan, lo masih suka kan sama gue?" meminta kejelasan hubungan, Barnes bertanya dengan menghadap kearah Nessa.


"Em'em..." Nessa mengangguk pelan.


"Berati..."


"Deal kita balikan." sela Nessa sebelum akhirnya Barnes menarik tubuh Nessa kedalam pelukannya.


"Thanks udah mau nerima gue kembali, gue nggak yakin gue bisa tanpa lo, jujur sepi selalu melanda relung hati gue saat setelah lo menjauh." bisik Barnes dengan memeluk erat Nessa.


"Dih sejak kapan lo jadi sok-sok melow gini?" goda Nessa yang masih didalam pelukan lelaki tampan itu.


Barnes melepas peluk hangatnya dan,,


"Melow lo bilang? Gue kayak gini gegara lo tau nggak?!" terdengar seperti gertakkan tapi wajah Barnes tak segarang saat menggertak.


Nessa membelai rahang tegas laki-laki tampan itu, "Maaf udah bikin lo jadi susah, sedih dan sepi." lirih Nessa.


Kembali Barnes memeluk gadis pujaannya, "NESSA!!" teriak suara bariton dari arah depan kap mobil, sontak Nessa melerai pelukannya dan segera ia turun dari mobil Barnes.

__ADS_1


Bukannya segera pergi dari tempat kejadiannya, Barnes malah mengekor dibelakang Nessa.


"Siapa kamu?!...


__ADS_2