
Di dalam toilet...
Dua remaja berbeda gender itu masih terus cek cok membenarkan pendapat masing-masing.
"Kalo Nessa nggak gue undang ke acara ini, terus kapan gue bisa deketin tu cewek?" geram Rifki pada akhirnya.
"Buru-buru banget sih?! Gue aja belum ada waktu buat deketin Barnes!" sahut Tasya.
Awalnya bekerjasama tapi kini malah bertengkar dengan sangat dasyatnya, "Serah lo! Gue capek kerja sama, sama cewek modelan egois kek lo!" geram Rifki dengan menunjuk wajah Tasya.
Belum sempat Tasya berucap, Rifki sudah lebih dulu meninggalkan toilet.
Brak!!!
Dibanting keras daun pintu tak berdosa itu oleh Rifki, tak sengaja sepasang mata Rifki melihat sosok yang tak asing berjalan menjauh dari depan toilet.
"Barnes?" gumamnya, segera langkah panjang Rifki ayunkan demi mengejar sang sobat yang tak jarang menghadang siapa saja yang hendak menyerang dirinya.
"Bego! Bego! Bego! Gue harusnya sejak awal nggak boleh kepincut sama cinta-cintaan!" gumam Rifki dengan langkah kaki yang terus mengejar sosok yang dia kira Barnes.
"Gimana kalo sampe pertemanan gue ancur cuma gegara perasaan? Harusnya emang dari awal gue nggak tertarik dengan tawaran Tasya!" Langkah panjang itu kini tertuju pada gedung tinggi yang ada di halaman belakang rumah besar milik keluarga Rifki.
Kini rasa penasaran Rifki telah terbayarkan saat kedua matanya mendapati sepasang remaja yang tengah berpeluk mesra.
Rasa bersalah semakin menyelimuti hati remaja tampan itu, "Gue nggak seharusnya misahin mereka yang emang udah sama-sama suka." gumam Rifki.
Keberanian Rifki kumpulkan demi mendekati Barnes dan Nessa, mendengar derap langkah kaki, Nessa dan Barnes yang hanyut dalam kehangatan yang nyaman itu menoleh secara bersamaan.
"Rifki?" mengerut kening Barnes, peluk erat ia urai perlahan.
"Bar gue tau kalian..."
"Nggak perlu basa-basi Rif! Gue kasihan ya sama Barnes yang udah punya teman pengkhianat kaya elo!" sela Nessa dengan menunjuk wajah Rifki.
"Nes, sorry, gue bisa jelasin semuanya!" memohon Rifki menyatukan kedua telapak tangannya.
Sejenak ketiganya terdiam, Barnes mengusap surai hitam milik sang kekasih, "Kita dengarkan dulu! Gue tau kok Rifki orangnya gimana." lirih Barnes.
Sedikit terpaksa, tapi Nessa menuruti keinginan laki-laki tampang yang telah membuat dirinya nyaman.
"Ok kita duduk di sana!" ajak Rifki, ketiganya kini duduk di kursi malas yang tersedia di roof top.
"Sorry, semua berawal dari sini...
__ADS_1
Flas Back...
Didalam cafetaria bergaya ala tongkrongan anak muda, seorang gadis dengan rambut yang tergerai indah sebahu tengah menikmati es lemon tea bersama dengan seorang pemuda tampan yang asik menyesap putung rokok yang menyala.
Kepulan demi kepulan asap mengudara menyelimuti keduanya, sedikitpun tak terganggu keduanya terus membicarakan urusan mereka.
"Jadi maksud lo?" tanya pemuda tampan yang tak lain adalah Rifki.
"Lo kan tau gimana rasanya kalo orang yang deketin kita nggak tulus sama sekali, lo nggak mau kan kalo Nessa sampai tersakiti? Ya...lo bisa lah bikin Barnes dan Nessa putus, bermodalkan..."
"Bermodalkan sejarah awal keduanya ketemu?" Rifki menyela ucapan gadis cantik dihadapannya yang tak lain adalah Tasya, si kapten team basket andalan SMA Nusa Bangsa.
Tasya menarik salah satu ujung bibirnya dengan sebelah alis yang ia naikkan, "That's right!" sahutnya.
Terlihat Rifki sejenak menghela napasnya kasar, kemudian kembali ia menyesap putung rokoknya dan mengepulkan asap tebal itu dengan kasar.
"Kenapa? Lo nggak berani?" tanya Tasya saat ia melihat perubahan ekspresi wajah lawan bicaranya.
"Bukannya gitu Sya, Barnes itu temen gue, masa ia gue tega sama temen gue sendiri, demi cewek yang belum tentu bisa jadi pacar gue." mendengar itu Tasya mendengus kesal.
"Halah masalah hati doang, asal lo sering deketin dan kasih perhatian aja pasti lama-lama juga nempel!" ketus Tasya berucap dengan alis yang hampir bertaut.
"Tunggu-tunggu! Lo kenapa sih sebegitu terobsesinya sama Barnes?" tanya Rifki sedikit curiga.
"Arsen?" gumam Rifki, sedangkan Tasya hanya mengangguk.
"Kak Arsen kelas XII?" sekali lagi Rifki bertanya dan sekali lagi Tasya mengiyakan.
"Gila lo! Kok bisa lo berhubungan dengan orang macam kak Arsen?" seketika tatapan mata Rifki menyapu keseluruh ruangan dimana tempat mereka berbincang.
Saat dirasa aman, "Udah diapain aja lo sama dia?" bisik Rifki dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Tasya.
Tasya hanya menghela napas juga mengalihkan pandangannya, dan saat itu Rifki melihat tanda merah yang ada di leher Tasya tepatnya dibawah telinga gadis itu.
"Ini gila sih! Lo..."
"Udah, ini urusan gue, yang penting lo bisa bantu putusin hubungan mereka berdua!" sela Tasya, sedangkan Rifki kembali ke tempat duduknya. Bimbang dilema kini telah masuk memenuhi hati remaja tampan itu.
Flashback off...
"Sorry gue juga yang cerita sama Nessa awal mula kedekatan kalian, tapi gue nggak bohong soal itu Nes, awalnya emang Barnes cuma mau cium lo doang! Iya kan Bar?" jelas Rifki setelah menceritakan rentetan awal rencananya.
"Jadi bener Bar? Lo cuma mau cium gue buat hilangin kutukan konyol yang kalian mainkan?" sedikit memerah mata bening Nessa kala ia menyaksikan Barnes terdiam tak kunjung menjawab.
__ADS_1
"Jawab Bar! Gue butuh kepastian dari lo!" Nessa yang duduk di pangkuan Barnes beringsut menatap wajah tampan yang kini tak berani sedikitpun menatap dirinya.
"Jujur deh! Gue kecewa sama kalian berdua!" Nessa berdiri dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan dua laki-laki yang telah berhasil menggores luka didalam hatinya.
Yang satunya suka tapi ingin mendapatkan dirinya dengan cara licik, sedang yang satunya berhasil membuat dirinya nyaman, bahkan menumbuhkan cinta tapi semua bulshit, tak ada kata tulus dari semuanya.
Begitulah isi dalam pikiran Nessa.
"Kenapa lo diem?" tanya Rifki.
"Lah kalo kebenarannya udah lo ungkap, gue bisa apa?" sahut Barnes.
"Bego! Kejar dia! Gue tau sekarang lo beneran suka sama Nessa!" geram Rifki, ia sampai mencengkram kerah kemeja yang di pakai Barnes malam itu.
"Gua nggak bisa jauh dari lo Bar! Lo temen gue, makanya gue relain perasaan gue! Tapi gue nggak mau ya kalo sampe Nessa kenapa-kenapa!" ancam Rifki.
Sementara Rifki ngoceh bak burung Beo yang kelaparan, Barnes masih terdiam ditempatnya.
Plak!!!
Tersentak Barnes mendapat tepukan yang begitu keras di pundaknya, "Kejar dia! Jelaskan padanya bagaimana sebenarnya perasaan lo sama dia!"
Barnes mengangguk, mulai langkah panjang ia ayunkan demi mengejar sang gadis pujaan, didalam ruangan yang masih terlihat ramai Barnes celingukan mencari sosok cantik yang membuat hatinya terpatri.
Sampai ia tak sengaja menatap pintu utama rumah besar itu, di sana sosok Nessa terlihat tengah berjalan meninggalkan keramaian hunian mewah itu.
"Nessa!" teriak Barnes, segera ia berlari menerobos keramaian.
Nessa terus berjalan walau sayup-sayup ia dengar suara laki-laki tengah memanggilnya, siapa lagi memangnya kalau bukan Barnes?
"Emang dia pikir gue mainan?! Bego banget sih, kutukan konyol dipercaya! Pantesan aja dia tiap ketemu main nyosor aja!" gerutu Nessa dengan kaki yang terus melangkah, sampai__
Tap...
Lengan ramping itu dicekal oleh seseorang hingga berhasil menghentikan langkah kaki jenjang pebasket cantik itu.
"Nes! Please dengerin gue!" suara Barnes berhasil merasuk kedalam indera pendengaran Nessa.
Masih terdiam Nessa, menatap Barnes pun ia enggan, "Gue... ekhm, Aku tak bisa tanpa mu! Kamu tau, hari-hari kemarin terasa sangat berat saat kau acuh, saat kau tak menganggap ku! Please jangan tinggalin aku!"
Dengan bahasa yang berubah aku dan kamu Barnes berusaha mengambil hati sang gadis pujaan.
"Ini bagian permainan yang mana lagi?...
__ADS_1