
POV Nessa Ferdina...
Seketika aku terpaku dengan pesona juga ketampanan laki-laki yang masih mengenakkan seragam team cheerleader, yang kini ada dihadapanku.
Lihat saja mata tajamnya, dan juga hidung bangirnya yang pas sekali dengan model bibir seksinya.
Astaga, mikir apa aku ini?!
Bisa-bisanya aku berpikir dia seksi, "Barnes?" gumam ku menyerukan namanya.
Tapi saat itu juga ia memberikan isyarat kepadaku agar aku diam.
"Nes! Lo di dalem?!" kita sama-sama mendengar seseorang memanggil nama ku, tapi baru saja aku akan membuka mulut, bersiap meluncurkan suara emas ku untuk mengatakan kalau aku ada di dalam, dan saat itu juga tiba-tiba Barnes membekap mulutku, dia memojokkan tubuhku di dinding toilet.
Dag-dig-dug hati ku kala kedua pasang mata kita bersitatap, oh Tuhan bolehkah ada rasa aneh tumbuh didalam hati ku?
Nyaman sekali rasanya berdekatan dengan Barnes, entah dia mengatakan apa, sudah tak lagi dapat ku cerna, karena otak ini sudah penuh akan pesona ketampanannya.
Perlahan bekapan tangan Barnes mengendur dan ia mulai melepaskan ku, tapi itu hanya pikirku, laki-laki bermata tajam itu kini malah mendekatkan wajahnya.
Oh ya ampun jantungku sungguh semakin cepat saja ritme detakannya, bagaimana ini?
Kenapa aku tiba-tiba tidak bisa berbuat apa-apa, entah mengapa ketampanan Barnes seolah menghipnotis pergerakkan ku hingga__
Cup!!!
Hanya mata saja yang dapat membelalak, jujur aku syok dengan perbuatan Barnes yang sungguh diluar dugaan ini.
Ini gila, ini sungguh gila, tapi tunggu!!
Kenapa ada rasa kecewa pas dia menjauh?
Kenapa aku ini?
Apakah sekarang aku sudah berubah menjadi remaja mesyum?
Oh Astaga, jangan sampai!
Tunggu, aku merasakan seperti ada yang hilang, "Bar, lo..."
"Thanks ya permen nya, ini manis."
POV Nessa Off...
"Thanks ya permen nya, ini manis." ucap Barnes dengan mengusap ujung bibir Nessa dengan ibu jarinya.
Bergeming Nessa mendapati perlakuan absurd dari laki-laki di hadapannya, tanpa ia sadari Barnes sudah meninggalkan dirinya.
Brak!!!
"Nes?! Lo baik-baik aja?!" tanya Asvi yang saat itu sudah berada didepan wajah Nessa.
"Astaga!! Hilang!" tersadar Nessa dari lamunannya.
"Apanya yang hilang?" Asvi ikut bingung dengan kondisi temannya yang tampak linglung.
__ADS_1
"Permen gue ilang." sahut Nessa.
Asvi menepuk keningnya, "Astagah! Gue kira apaan, di mobil masih banyak! Yok ah balik ke mobil!" Asvi segera menarik lengan Nessa, kedua gadis itu kekuar dari dalam toilet dan berjalan menuju mobil rombongan.
Baru saja kaki Nessa hendak melangkah masuk kedalam mobil, netra bulat gadis itu tak sengaja melihat kearah kanan dan di sana ada Barnes yang sudah stay di dalam mobilnya.
Satu Wink dari mata nakal Barnes membuat Nessa sedikit tersentak dan segera ia mengalihkan pandangannya, segera pula gadis itu masuk kedalam mobil, sebelum jantungnya berdisco ria.
Didalam mobil jeep...
Keempat pria itu sudah menanggalkan rambut palsunya, juga sudah berganti celana abu-abu.
"Gila lo Bar! Untung kita nggak ketahuan!" cetus Rifki.
"Tapi seru, kan? Jarang-jarang kita bolos malah mencari tantangan, hahaha..." sahut Barnes dengan mengemudikan mobilnya.
"Jadi kita kemana?" tanya Jody.
"Yang jelas jangan langsung pulang, kita party di vila bokap gue gimana?" ide gila muncul di otak Rifki.
"Ntar gue pesen minumannya!" imbuhnya.
"Jangan yang 0,00% ya pesen nya!" cetus Aldo.
"Tenang aja." sahut Rifki, dan Barnes hanya menarik salah satu ujung bibirnya.
Mobil jeep hitam itu segera melaju menuju vila milik keluarga Rifki.
Barnes yang terlihat fokus dengan jalanan dihadapannya itu sebenarnya tengah dilanda rasa aneh didalam hatinya.
Ya... permen kiss warna merah yang dia curi dari dalam mulut Nessa, masih saja ia bolak-balik dengan lidah didalam mulutnya.
"Oh jadi begitu rasanya bibir cewek," batin Barnes.
Masih terus terngiang perbuatan nekatnya barusan, "Gimana kalau Nessa marah?" batinnya yang tiba-tiba khawatir dengan gadis yang baru saja dia curi ciumannya.
Otak dan hati Barnes terus bergulat dengan bayang-bayang kenekatannya, hingga tak terasa mereka sudah tiba di sebuah bangunan mewah yang letaknya cukup di kelilingi pohon-pohon hijau.
"Ini milik bokap lo Rif?" tanya Barnes setelah ia keluar dari dalam mobil.
"Iya, jadi gue tiap akhir pekan pasti ke sini buat nengokin ni bangunan kosong." sahutnya.
"Lah bokap lo emang pergi kemana?" lagi-lagi Barnes penasaran dengan sobat tawurannya itu.
"Dia sibuk di luar... " sejenak Rifki terdiam.
"Dah lah yok masuk!" ajaknya kemudian.
Tanpa penolakan ketiga teman Rifki termasuk Barnes segera mengayunkan kakinya untuk memasuki bangunan mewah yang masih cukup terawat ini.
Keempat remaja itu kini duduk bersantai di sofa yang ada di ruang tengah, "Enaknya ngapain ya?" Jody berucap dengan mengelus dagunya.
"Kita nonton aja gimana?" usulan Aldo dengan menggoncang gawai canggih yang ada di tangannya.
"Gue udah bisa nebak nih apa yang ada di dalam otak-otak lo pada!" sindir Barnes, yang sedikitpun tidak berminat.
__ADS_1
"Hieleh kaya yang nggak penasaran aja lo Bar! Nonton doang apa salahnya coba, gue yang udah cobain aja biasa aja." cetus Aldo.
"Gila lo Do! Sama Feli?" pertanyaan Jody yang mencetuskan tetapi dibarengi dengan keantusiasan yang lainnya.
"Ya iya lah, orang dia yang nawarin, mubazir dong kalau ditolak, gratis ini, hahaha..." tanpa beban Aldo menceritakan pengalaman nya.
"Gila lo pada!" ucap Barnes dengan menggelengkan kepalanya.
Di tengah-tengah keasikan mereka dalam mendengar cerita Aldo, tiba-tiba__
Ting-Tong...
Terdengar bell pintu berbunyi, "Siapa Rif?" tanya Barnes.
"Palingan pesenan kita datang." sahut Rifki dengan beranjak dari sofa empuknya, dan berjalan menuju pintu utama.
Tak lama kemudian Rifki kembali dengan kantong kresek nya, lalu ia keluarkan botol-botol yang berisi minuman keras keatas meja yang ada di ruang tengah itu.
"Sebanyak ini yang mau minum siapa coba?!" cetus Barnes dengan melihat banyaknya botol minuman yang Rifki keluarkan dari dalam plastik.
"Bukannya lo kuat minum ya?" Rifki menatap Barnes dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Kuat sih kuat, tapi kalo gue ntar teler yang bawa mobil siapa? Gue sih nggak yakin kalau kalian masih sadar kalo udah beginian." cecar Barnes.
"Dah lo tenang aja!" Aldo berucap dengan menelfon seseorang.
Mendengus kesal Barnes dan dua temannya yang lain saat mendengar Aldo malah menghubungi pacarnya.
Tanpa menunggu Aldo yang tengah telfonan dengan pacarnya, Barnes bersama Rifki dan Jody memulai ritual minumnya, tak lupa Rifki menyiapkan gelas heels untuk mereka minum. Tak lama kemudian Aldo kembali bergabung.
1 botol, 2 botol 3 botol dan sampai berserakan botol-botol kosong, putung rokok dengan salah satu ujung yang menyala tersemat di sela-sela jari para remaja itu.
Sedang asik menikmati kegilaan yang menghilangkan sebagian kewarasan, tiba-tiba__
Ting-Tong...
Dengan mata sayu yang sedikit memerah keempat remaja dengan tingkat kesadaran yang minim itu saling tatap satu sama lain.
"Tamu?" gumam Barnes dengan mata yang menyipit.
"Siapa?" tanya Rifki si tuan rumah.
"Bentar gue lihat dulu!" cetus Aldo dengan berdiri, kemudian dengan sedikit sempoyongan laki-laki itu berjalan mendekati pintu utama.
Ceklek...
Pintu terbuka, dan masuklah Feli dengan pakaian mininya langsung bergelayut manja ditubuh Aldo.
Barnes menunduk dengan memijit pelan keningnya yang mulai berdenyut, sampai seorang gadis mendekatinya__
"Barnes?"
Mendengar namanya dipanggil Barnes menyugar rambutnya dan menoleh ke arah sumber suara.
Kesadaran yang sudah tinggal 5% itu membuat Barnes menatap gadis itu dengan sedikit menyipitkan matanya...
__ADS_1
"Hay Ness...