
Setelah pertemuan yang di lakukan beberapa hari yang lalu, kini penuh seminggu sudah Nessa dan Barnes tidak bertemu.
Lamu hijau yang telah dinyalakan membuat hati kedua remaja itu kian membendung rasa rindu yang begitu membelenggu kalbu.
Duduk bersandar Barnes pada kursi taman samping masjid, lamunan kerinduannya sudah memasuki tingkat kehaluan dewa mungkin bisa dikata, buktinya saja saat seorang pemuda yang sama rapi penampilannya dengan dirinya duduk tepat di sampingnya, sedikitpun Barnes tak menyadarinya.
"Astaghfirullah, segitu dahsyatnya hipnotis cinta ini, sampai-sampai mengubah manusia yang biasanya ramah dan banyak bicara menjadi sosok yang pendiam dan banyak melamun," gumamnya sengaja membuyarkan lamunan antah berantah Barnes.
Tersenyum tipis dengan memejamkan matanya, Barnes kemudian melirik kearah samping kanannya, dimana terdapat sosok yang selama ini menjadi teman curhatnya di dalam pondok pesantren itu.
"Assalamu'alaikum, Zidan?" ucap Barnes dengan senyum yang entah mengapa malah membuat pemuda tampan yang bernama Zidan itu sedikit merinding.
"Wa... Wa'alaikumussalam..." tetap menjawab salam dari Barnes, namun tak dapat di pungkiri, Zidan sedikit bergidik ngeri melihat temannya ini.
"Nah gitu dong, dulu saja kau yang mengajarkan kepadaku kalau datang harusnya salam dulu," cetus Barnes.
Sedikit mengulas senyum Zidan dengan mengusap tengkuknya, ya memang dia yang salah, datang-datang langsung nyerocos tak karuan, ia akui kesalahannya itu dengan wajah kikuk nya.
"Ada apa kau datang kemari?" tanya Barnes yang kembali menatap langit biru yang begitu cerahnya pagi itu.
__ADS_1
"Aku khawatir, sejak pertemuan mu dengan jodoh mu itu, kau jarang berkumpul dengan yang lain, kau seolah menyendiri, asik dengan duniamu sendiri, bahkan aku saja kau jauhi," curahan hati seorang Zidan dimulai, Barnes meliriknya dengan senyuman.
"Kau bukan sedang cosplay jadi ABG yang sedang cemburu, kan?" goda Barnes dengan ekspresi yang menurut Zidan itu sangat menjengkelkan, bagaimana tidak? Ia dengan segala kekhawatirannya memikirkan kondisi sang teman, tapi dengan entengnya Barnes malah berkata seolah dirinya ABG kemarin sore yang apa-apa marah, sedikit-sedikit marah, ini-itu salah.
"Cemburu Ndasmu! Tok pikir aku belok?! Rupo kek awakmu di cemburoni!" kata kasar itu sampai keluar dari mulut santri tampan yang duduk di samping Barnes. Cemburu pala mu! Kau pikir aku belok?! Rupa seperti mu dicemburuin!
Sedikit banyak Barnes paham lontaran kata kasar itu, karena seringnya ia berinteraksi dengan pemuda tampan asal jawa itu, juga ia paham dengan nada yang digunakannya, bukan lagi nada ramah seperti biasanya.
Bahkan raut cemberut dengan alis yang mengkerut melengkapi aura kemarahannya.
"Haha... dahlah jangan marah-marah, ok aku minta maaf," cetus Barnes yang tak mau berlama-lama mengalihkan pikirannya dari sosok cantik yang sedari seminggi terakhir ini mengisi hati dan pikirannya.
"Emangnya seperti apa jodoh mu itu Gus?" kali ini Zidan penasaran dengan jodoh temannya, bukan maksud apa-apa, ia hanya heran saja, wanita seperti apa yang bisa mengubah seorang Barnes?
"Aku Barnes bukan Agus!" cetus Barnes dengan cengengesan.
"Haish! Kau taulah maksud ku!" cetus Zidan.
"Iya, tapi aku ini bukan anak Kiyai! Aku anak pengusaha! Mungkin lebih pantas kau penggil tuan muda!" candanya dengan seringainya.
__ADS_1
"Hadeh, baiklah tuan muda Barnes! Sekarang jawab pertanyaan ku barusan!" tertawa puas Barnes kala berhasil menggoda teman baiknya itu.
"Dia..." Barnes terdiam sejenak, tak sampai hati ia mendeskripsikan sang kekasih di depan temannya.
"Yang jelas, ada rindu di dalam sini," imbuhnya yang membuat Zidan menyeletuk.
"Ya sudah, kau temui saja, apa susahnya?!" sedikit emosi, Zidan beranjak dari kursi taman itu.
"Temui?! Tapi bukankah tidak boleh berduaan sebelum halal?" tanya Barnes dengan menatap Zidan yang sudah berdiri.
Terlihat Zidan menghela napas panjang, "Lalu kau pikir, boleh memikirkan lawan jenis yang bukan mahram kita?!"
"Hehe... Maksud aku, kau temani aku untuk bertemu dengan calon istri ku itu," pinta Barnes dengan senyum tanpa dosanya.
"Heh, kau pikir aku mau menjadi obat nyamuk?!" sergah Zidan dengan bibir yang nyinyir.
"Berarti kalo kamu nggak, ya udah ntar kalo kita tercatat pasangan yang mendekati zinah, kau yang salah karena menolak untuk menemani!" ancaman Barnes berhasil membuat Zidan berpikir sekali lagi.
"Gimana?...
__ADS_1