
"Lo pikir aja sendiri!" ketus Nessa dengan melangkahkan kakinya menjauhi Barnes, tapi lengan kekar Barnes segera meraih tangan mulus Nessa.
"Gue salah apa coba? Masa iya baru sehari kita jadian kita langsung putus?" tanya Barnes dengan menggenggam erat lengan Nessa, berbalik Nessa masih dengan tatapan tajamnya.
"Putus?! Enak banget lo bilang putus, setelah lo curi my first kiss, terus lo ninggalin gue gitu aja, buaya emang lo! Sama aja kaya yang lain!" cecar Nessa dengan emosi yang kembali meluap.
"First kiss? Sama, itu juga yang pertama buat gue, lo tau sendiri kan, kalau gue nggak ada pernah respon cewek kecuali lo." jelas Barnes .
"Terus kenapa tadi lo belain cewek lain? Terus abis itu kenapa juga lo bohong kalau lo biang permasalahan, jangan bilang..."
"Gue nggak bohong!" sela Barnes.
"Gue nggak mau lo kena masalah, gue nggak mau sampe lo ketangkep BK, tapi ternyata gue gagal..." sambungnya.
"Gue nggak bohong karena gue tadi sempet denger kalo inti permasalahan yang bikin lo berantem sama adik kelas itu, gue. Iya kan?" imbuh Barnes lagi.
Nessa masih terdiam, ia mengalihkan pandangan matanya, tak mau melihat wajah tampan yang kini tepat berada di hadapannya.
"Jawab Nes, gue kan yang bikin lo se emosi pagi tadi?" tanya Barnes dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Nessa dengan segala keberaniannya balik menatap Barnes, "Iya! Lo yang sok cool, sok keren, sok ganteng, yang bikin mereka tergila-gila..."
"Tapi gue nggak ada maksud buat godain mereka loh." sela Barnes, Nessa hanya menghela napas juga memutar bola matanya malas setelah mendengarnya.
"Terus kenapa lo tadi nggak ngakuin kalo kita udah pacaran?" kini Barnes balik bertanya dengan tatapan serius.
"Gu... Gue... Gue..." tergagap Nessa dengan pandangan yang meliar kemana-mana saat mendengar pertanyaan Barnes.
"Oh iya, gue lupa, kan yang bilang suka cuma gue, gue ke PD an kali ya sampe nganggep kita pacaran." ucap Barnes dengan melepas cengkeramannya di lengan Nessa.
Dengan hati yang tergores tajamnya harapan palsu, Barnes berjalan meninggalkan Nessa yang masih terpaku.
Bergeming Nessa dengan ucapan Barnes barusan, "Gue harus gimana dong? Kalo gue terima, team basket gimana? Sedangkan nilai akademik gue aja ketolong sama prestasi basket." gumam Nessa.
Barnes yang baru tiba di parkiran kembali menatap kebelakang, "Gue keterlaluan nggak sih? Kok gue ninggalin cewek? Udah sore lagi." gumamnya dengan menatap langit senja yang berwarna jingga.
Tanpa pikir panjang Barnes kembali ketempat Nessa, gadis itu masih berdiri ditempatnya dengan segala kegalauan yang mengusik hati dan pikirannya.
"Udah ayok pulang!" ajak Barnes dengan menarik pergelangan tangan Nessa.
__ADS_1
Tak ada penolakan juga tak ada ocehan konyol seperti biasa, hening keduanya melaju dibawah naungan langit senja berwarna jingga ini.
Setibanya didepan rumah Nessa, gadis itu turun dari atas motor besar milik Barnes, "Bar thanks ya! Soal tadi..."
"Nes! Temannya di ajak masuk sayang! Ajak makan dulu!" terdengar suara Safira dari dalam rumah mewah itu.
"Mau masuk dulu?" Nessa menawarkan dengan kecanggungan yang ada.
"Sorry gue langsung aja! Salam buat Bunda!" setelah itu Barnes menarik gas motornya meninggalkan hunian mewah milik keluarga Nessa.
Termangu Nessa melihat punggung sang pengendara motor besar yang baru saja mengantarkan dirinya sampai ke depan rumahnya.
"Loh, Nes? Barusan kaya suara Barnes ya?" Safira membuyarkan lamunan kesedihan yang membelenggu kalbu si gadis pebasket itu.
"Eh... Bunda," tak langsung menjawab pertanyaan Safira, Nessa lebih dulu menjabat tangan ibu biologisnya tak lupa ia juga mengecup punggung tangan orang tua yang masih terlihat cantik itu.
"Bunda tanya, tadi Barnes yang nganterin kamu?" sekali lagi Safira bertanya.
"Eh... I... Iya Bun..." tergagap Nessa menyahutinya.
"Terus? Mana anaknya?" celingukan Safira mencari sosok tampan yang dianggapnya anak yang sopan.
Safira menelisik raut wajah putrinya, "Kamu ada masalah sama dia? Kalian berantem?" tanya Safira, Nessa sedikit gelagapan ketika pertanyaan sang Ibunda pas tepat sasaran.
"Kenapa diam?" sekali lagi Safira bertanya dengan sedikit memiringkan wajahnya demi melihat mimik raut wajah sang putri tercinta.
"Em... itu..."
TIN... TIN... TIN...
Belum sampai Nessa menjawab pertanyaan dari sang Bunda, sebuah mobil lebih dulu mencuri atensi keduanya. Pintu mobil terbuka dan keluarlah Ferdi dari dalamnya.
"Ada apa ini? Kenapa berdiri di sini? Kalian menyambut Ayah?" wajah yang terlihat penat itu kini sedikit berseri melihat senyum dari kedua perempuan yang menunggunya di depan pintu rumahnya. Keluarga kecil itu segera masuk kedalam rumah.
Di sisi lain...
Barnes memarkirkan motornya di depan markas yang terlihat sudah ramai dengan anggota genk nya.
"Ada apa ini?" tanya Barnes dengan melepas helmnya.
__ADS_1
"Lo kemana aja sih?! Si Andre diculik!" teriak Rifki dengan tatapan nyalangnya.
"Andre?" masih loading otak Barnes, karena baru saja ia dipusingkan oleh masalahnya bersama Nessa, kini datang lagi masalah komplotannya yang hilang satu.
"Iya Andre!" sahut Jody dengan menyesap putung rokok yang ada di sela jarinya.
Terdiam sejenak Barnes, kemudian ia mengotak atik gawainya, dengan kecanggihan alat itu juga berbekal otak geniusnya, Barnes melacak keberadaan Andre.
"Kita berangkat sekarang!" ucap Barnes, tanpa memikirkan jalan tikus yang akan mereka lewati, komplotan dari SMA Nusa Bangsa itu mengikuti kemana motor Barnes melaju.
Setibanya di gudang tua, mereka mengatur rencana, awalnya hanya Barnes yang muncul dan memancing agar Dion si ketua dari genk lawan keluar.
Dengan hati-hati Barnes menyelinap melalui pintu samping, sedangkan Rifki melalu pintu belakang bersama dengan setengah dari anggota genknya lalu sisanya mengepung pintu depan.
Begitulah mereka melancarkan aksinya dengan sangat hati-hati.
Malam hari dikediaman Nessa...
Gadis terlihat asik dengan tumpukan buku-buku tebalnya di atas meja belajar, tapi bukan serius kepada buku melainkan Nessa malah terlihat tengah dilanda rasa dilema, "Gue harus gimana ya?" gumam Nessa dengan mengetuk keningnya dengan menggunakan pulpen yang ada di tangan kanannya.
"Nes?" Safira melongok kan kepalanya dari pintu yang sedikit terbuka.
"Iya Bun?"
"Boleh Bunda masuk?"
"Hem masuk aja." cetus Nessa dengan menutup buku yang terbuka di atas meja belajarnya.
"Kamu ada masalah?" tanya Safira, mulai dari sanalah Nessa menceritakan bagaimana kondisi kesingkronan hati dan pikirannya.
"Jadi gimana perasaan Nessa sekarang?" tanya Safira.
"Nessa bingung Bun, di satu sisi Nessa nyaman sama Barnes, kaya kita itu klop aja gitu, tapi di sisi lain team basket gimana? Juga ada ayah yang pasti menentang hubungan Nessa dengan Barnes." terdengar lesu dan lirih Nessa berucap, kini keduanya dudu di sisi ranjang dengan posisi paha Safira yang digunakan Nessa untuk bantal.
Safira dengan lembut mengusap surai hitam milik Nessa.
"Ya sudah kalau begitu lupakan saja Barnes, toh dua pihak itu tidak mendukungmu." mendengar pendapat dari Safira membuat Nessa semakin dilema saja.
"Nessa nggak yakin Bun...
__ADS_1