
Rencana bolos Barnes dan ketiga temannya berjalan lancar, kini keempat remaja itu bahkan sudah berhasil melompati pagar pembatas sekolah.
"Mau kemana sih kita?" tanya Jody yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Kita nonton pertandingan basket." sahut Barnes yang seketika membuat langkah ketiga temannya berhenti.
"Ada apa?" tanya Barnes yang melihat ketiga temannya tidak melanjutkan langkah kakinya.
"Lo gila?! Kita keluar dari sekolah, kita bolos Cok! Dan lo ngajakin kita ke acara pertandingan basket? Di sana pasti ada guru-guru yang lain juga! Lo mikir nggak sih Bar?!" kini Rifki meledak-ledak.
"Santai dong bro! Gue udah siapin ini kok!" setelah berucap dengan santainya, Barnes mengeluarkan kunci mobilnya.
"Lo bawa mobil?" tanya Aldo yang melongo, karena memang tak biasanya Barnes mau membawa mobil.
"Ok deh terserah lo aja yang jelas gue nggak mau balik kedalam kelas!" sahut Rifki.
Senyum semirik Barnes tampilkan, Keempat remaja tampan itu berjalan menuju pinggiran jalan, dan di sana sudah ada satu mobil jeep hitam yang terparkir rapi.
Melongo Aldo, Jody dan Rifki di buatnya, mereka memang sudah berteman sejak kelas 10 tapi belum sekali pun mereka mengetahui keluarga Barnes yang sebenarnya.
"Gila lo Bar, ini mobil lo?" tanya Rifki yang lebih awal mendekati mobil jeep hitam itu.
"Mobilnya pak satpam! Ya iyalah mobil gue, lo pikir mobil siapa lagi?!" cetus Barnes dengan berjalan menuju pintu mobil yang lainnya.
"Wah tau begini kalau berangkat tawuran bisa bawa mobil lo aja Bar, ke angkut kita semua!" cetus Jody.
"Iya, terus kalau di kejar lawan pake motor, bisa ancur mobil gue!" celetuk Barnes dengan menyalakan mesin mobilnya.
"Hehe... iya juga sih," tertawa kikuk Jody dengan menggaruk tengkuknya, setelah semuanya duduk di atas kursi masing-masing, Barnes segera menginjak pedal gasnya, dengan kecepatan sedang mobil yang berisi remaja SMA itu melaju di atas permukaan jalanan hitam.
"Lo yakin kita mau ke acara basket? Pakai seragam sekolah begini?" tanya Rifki yang duduk tepat di samping Barnes.
"Tenang aja, kita mampir di toko olahraga bentaran doang!" sahut Barnes, sebelum ia benar-benar berhenti didepan sebuah toko.
"Yuk turun!" ajak Barnes yang sudah turun lebih dulu dari pada ketiga temannya yang masih melongo melihat toko apa yang akan mereka masuki.
"Firasat gue buruk deh Do, lo yakin Barnes otaknya lagi nggak miring?" tanya Jody.
"Gue juga nggak yakin, dah lah kita turun aja dulu!" ajak Rifki, sedangkan Aldo yang sering menemani Feli berbelanja pakaian dalam wanita, ia sudah pasti tau apa saja isi didalam ruangan berdinding kaca itu.
Empat pemuda tampan itu kini sudah tiba didalam toko, "Mbak, mbak!"
__ADS_1
Seorang pramuniaga dengan senyum manisnya menoleh kearah keempat remaja yang masih mengenakan seragam SMA, setelah Barnes memanggilnya tentunya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita dengan name tag bertuliskan Lina di dada kanannya.
"Ekhem... kita mau cari seragam buat team Cheerleader, tapi nggak mau yang pasaran, kalau bisa sih yang beda dengan yang lain." mendengar penuturan dari Barnes membuat ketiga teman yang lainnya bingung, tapi mereka tetap stay cool, masih berusaha untuk memendam rasa penasarannya.
"Lo mau beliin seragam buat team Cheers sekolah kita? Asli otak lo ngeres bener Bar! Ini mah isinya bikini and lingerie Cok! Bukan toko olahraga!" celetuk Aldo.
"Lo pikir olahraga apa?" tanya Barnes yang membuat ketiga temannya menepuk keningnya masing-masing.
Di lokasi pertandingan...
Nessa bersama satu team yang terdiri dari 5 orang team inti dan 5 orang lagi cadangan.
Mereka baru saja melakukan pemanasan, Tasya yang sudah menyimpan uneg-uneg terhadap Nessa segera ia tarik lengan gadis yang biasa bisa ia handal kan ditengah lapangan itu.
"Aduh, apaan sih Sya?" teriak Nessa yang hampir terjatuh karena dengan tiba-tiba lengannya ditarik oleh Tasya.
"Lo ada hubungan apa sama Barnes?" to the point pertanyaan Tasya tidak sedikit pun menggunakan basa-basi.
"Hah? Maksud lo?"
"Udah deh nggak usah belaga bego! Lo suka kan sama Barnes?!" hardik Tasya.
"Halah! Sejak kemarin, gue liat lo deket sama Barnes..."
"Astaga, gegara itu doang? Ya dia mau temenan sama gue." sela Nessa
"Temen? Lo yakin?" masih tersimpan kecurigaan didalam iris hitam milik Tasya.
"Yakin lah!" mantap Nessa menjawab.
"Awas aja kalau sampai lo pacaran dibelakang gue! Gue nggak mau ya kalau sampai team ini rusak hanya karena lo punya pacar!" gertak Tasya sebelum ia meninggalkan Nessa yang masih terdiam di sis lapangan.
"Kok gue jadi deg-degan gini sih? Nggak mungkin gue takut, kan? Toh gue nggak ada pacar-pacaran sama siapapun ngapain takut coba!" segera Nessa menepis rasa tidak nyaman yang menyelimuti hatinya.
"Team Cheers sudah siap?" tanya Andre selaku pelatih team Basket.
Semua anggota team basket saling pandang satu sama lain, "Gimana?"
"Nggak tau."
"Gita ada kan?"
__ADS_1
"Dia bilang nggak mau suport kalau ada Nessa."
"Loh kok gue dibawa-bawa?!" sahut Nessa saat mendengar nama nya di sebut oleh salah satu team basket yang bernama Leni.
"Ya lo kan kemaren deket sama Barnes, makanya Gita nggak mau, tau sendirikan lo kalau Gita suka sama Barnes." cetus Leni.
"Tapi gue..."
"Sudah-sudah! Ada atau pun tidak team Cheers, kita harus tetap menang!" cetus Andre yang menengahi perdebatan para atletnya.
"Ok girls! Kita tos dulu!" ajak Andre dengan mengulurkan tangannya, segera para atlet basket mengikuti pergerakan Andre.
Semua tangan kanan Andre dan para atlet sudah tertumpuk menjadi satu, "NUSA BANGSA!" teriak Andre...
"JAYA DAN JUARA!!" sahut semua atlet basket dengan serempak. Setelahnya para atlet membagi tugas masing-masing, kemudian mulai memasuki area lapangan.
Prrrrrriiiiiiiiittttt...
Pluit ditiup oleh wasit, menandakan bahwa permainan segera dimulai, bersiap kedua team saling berlawanan.
Bola oranye melambung tinggi, setelah memantul, para atlet berebut untuk meraihnya.
Tak perduli ada suporter atau tidak, team dari SMA Nusa Bangsa tetap main dengan sportif.
Seperti biasa Tasya men dribble bola oranye dan saat ada kesempatan ia mengoper bola oranye itu kepada__
"Ness tangkap!" teriak Tasya dengan melempar bola oranye itu.
HAP!!!
Tepat sasaran, Nessa melompat dan berhasil menangkap bola oranye itu, berlari kecil dengan bola yang terus memantul di lantai, Nessa juga berusaha untuk menghindari team lawan yang berusaha menghadangnya.
"Nu-sa Bang-sa!!" terdengar samar suara teriakan ditelinga Nessa teriakan suporter yang mendukung teamnya.
Saat kesempatan didepan mata, Nessa segera melompat serta melemparkan bola kedalam ring basket dan___
Whut...
Plung...
"Whoooooo!!! I love you Nessa, Nusa Bangsa berjaya!" terdengar ramai sekali sorak sorai itu hingga membuat team dari Nusa Bangsa melongo.
"Give me N, give me E, give me double S, and give me A, Neeeeeeeesssaaaaaaaaq!!!" suara sorak-sorak itu membuat team basket Nusa Bangsa menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
"Loh itu team Cheerleader?...