
Dibawah hamparan teriknya sinar sang mentari pagi menjelang siang ini, seorang gadis dengan jilbabnya yang menjulur hampir menutup sampai kebawah pinggangnya lengkap dengan gamis panjang yang berwarna hitam, tengah berjalan mengikuti seorang laki-laki paruh baya yang selalu ia sebut sebagai aki.
"Kita mau kemana Aki?" suara merdu nan halus terdengar kala hamparan pasir pantai terlihat di depan mata.
"Mau ke sana, kita ketemu teman Aki sebentar sambil makan, cantiknya Aki belum sarapan, kan?" dengan senyum hangatnya laki-laki tua yang sering di panggil Abah Akhiyar atau kakek dari Nessa itu menunjuk ke arah cafe yang tak jauh dari pinggiran pasir putih.
Tersenyum Nessa kepada kakeknya, gadis itu mengedar pandangan kearah mana jemari keriput itu menunjuk.
Dheg!!!
"Masya'Allah... mimpikah? Atau hanya mirip?" tertegun Nessa kala ia mendapati sosok tampan yang saat ini tengah menatap dirinya pula.
"Nduk! Dijaga pandangan nya!" dengan lembut kakek tua yang lengkap dengan sorban putih yang melekat pada punggung itu menegur cucu cantiknya.
"Astaghfirullah..." malu bukan kepalang saat kelakuannya kepergok oleh kakeknya, Nessa segera menundukkan pandangannya.
Sudah dua tahun Nessa belajar agama, bahkan sudah mulai paham jika memikirkan lawan jenis yang bukan mahram itu sudah hampir mendekati zinah, dengan begitu ia berusaha untuk tidak mengingat laki-laki yang dulunya pernah singgah dihatinya.
Demi menuju Ridho-Nya Nessa ikhlas melepaskan pemuda tampan yang banyak merubah dan memberikan warna di dalam harinya.
Tapi kenapa perjuangan dua tahun ini seakan sia-sia hanya karena ia melihat pemuda lain yang hampir mirip dan menyerupai sang mantan yang tak boleh ia sebut sebagai mantan.
__ADS_1
Entahlah dimana posisi nama Barnes? Jika masih pacar, Nessa sudah berhijrah, bahkan tau jika pacaran itu mendekati zinah.
Jika mantan terindah, Jujur saja gadis itu paling membenci jika ada yang menyebutkan Barnes itu mantan kekasihnya.
"Ayo Nes, jalan, Aki sudah lapar," sekali lagi Akhiyar membuyarkan lamunan Nessa.
"Eh iya," kikuk dan memerah wajah Nessa, tapi walau begitu Nessa terus mengekor dibelakang Akhiyar, sang kakek.
Merapal do'a Nessa lakukan, sungguh ia tak siap jika harus bertemu dengan wajah yang sama, walau belum tentu orangnya pun sama.
Tapi melalui rupa yang dapat terlihat oleh mata, itu saja sudah menuntun otak untuk kembali mengingat memori indah saat bersamanya.
Namun do'a Nessa kali ini tidak terkabul, mungkin ia lupa mengucap kata AAMIIN dengan memanjangkan alif dan mim nya, sehingga sang Kuasa tak mengabulkan do'a yang terbatin di dalam hatinya.
"Assalamu'alaikum Abah Valen?" sapa Akhiyar dengan basa-basinya.
"Wa'alaikumussalam," bersamaan kedua lelaki yang duduk itu menyahuti, Valeno berdiri dan segera merangkul pundak sang sahabat karib, sedangkan pemuda yang ada di samping hanya mengulas senyum sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Melihat kelakuan yang berbanding terbalik hampir 360° itu Nessa sedikit ragu dengan keyakinan di dalam hatinya.
"Tidak mungkin Barnes sesantun itu, berati bukan dia," batin Nessa dengan ekor mata yang mencuri pandangan kearah pemuda yang kini sudah kembali duduk ketika kedua kakek-kakek itu juga sudah menempatkan pantatnya di kursi masing-masing.
__ADS_1
Saling bertegur sapa layaknya kawan yang sudah lama tak berjumpa kedua kakek-kakek bersorban itu.
Berbeda dengan Valeno dan Akhiyar yang bersenda gurau kedua remaja berbeda gender itu hanya saling menunduk bahkan sesekali keduanya mencuri pandangan dan saat kedua mata bertemu dengan segera mereka mengalihkan pandangannya secara terburu-buru.
Tak lama pelayan cafe itu datang dengan makanan halal yang di pesan oleh Nessa dan Akhiyar, semua sibuk dengan hidangan masing-masing, tapi tidak dengan Nessa, jujur ia masih merasakan pergolakan batin yang teramat sangat menyesakkan.
Nessa meraih jus avocado kesukaannya, kemudian perlahan ia menyeruput minuman manis berwarna hijau itu.
"Bagaimana dengan rencana perjodohan kita? Mereka sama-sama remaja yang berhijrah..."
Uhuk!!!
Mendengar ungkapan sang kakek, Nessa yang minum tiba-tiba tersedak.
"Hati-hati Cah ayu, kok bisa keseleg!" meraih tissue Akhiyar memberikan lembaran tissue itu kepada cucu cantiknya.
"Maaf, terimakasih Aki," Nessa segera mengelap tumpahan jus avocado yang mengenai sebagian hijabnya.
Tanpa rencana netra sipit nan tajam itu menatap wajah ayu yang sedang sibuk mengelap tumpahan jus.
"Apa kau sudah melupakan ku? Bahkan di tempat yang sangat dekat ini kau tak sedikitpun menyapaku," batin pemuda yang duduk di samping Valeno.
__ADS_1
Maaf lama nggak up date, semoga kalian masih setia 🥰🥰🥰