
Helen yang baru saja keluar dari kamar, wanita yang sudah tidak muda lagi itu menenteng tas jinjing bermerek milik-nya.
Berjalan dengan elegan, dan berhenti dengan kejutan, bagaimana tidak terkejut, jika melihat dua laki-laki kesayangannya tengah terlihat berdebat didalam kediamannya yang selama ini harmonis dan baik-baik saja.
"Ada apa ini?" tanya ibu dua anak itu kala melihat raut ketegangan yang ada di dalam ruang keluarganya.
Cakra menoleh kearah istrinya, "Tidak ada apa-apa, ayo kita bersiap-siap!" ajak Cakra yang segera meninggalkan ruang keluarga.
Sepeninggalnya Cakra, Barnes tertunduk lesu, ia berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua, di iringi oleh langkah kaki Bryna, "Lo kenapa sih?" tanya Bryna.
"Daddy masa iya setega itu sih mau jeblosin gue ke penjara," cetusnya dengan raut kecewa.
"Mungkin bisa jadi akhirnya lo di pindah di Britania Raya sana, atau nggak di New York sama kakek dan Nenek," cetus Bryna.
"What?! No, no, no, no! Nggak-nggak! Gue nggak mau pergi dari sini, gue udah nyaman sama ayang Nessa," cetus Barnes yang membuat Bryna lagi-lagi memutar malas bola matanya sambil berbisik__
"Lebay!" itulah kata terakhir sebelum akhirnya Bryna masuk kedalam bilik kamarnya.
Sedikit tercengang dengan kata terakhir, Barnes mengerut tipis alisnya, "Kok lebay sih?" gumamnya kemudian masuk kedalam kamarnya.
Di sekolah...
Kegiatan Pramuka sore hari ini sudah selesai, Nessa masih dengan peluh yang menetes di keningnya duduk beristirahat di samping gerbang utama sekolah.
Menunggu jemputan itulah yang dilakukan gadis itu, dengan hati yang dongkol sesekali Nessa menatap gawai canggih pemberian ayahnya.
"Ck! Kok nggak ada kabar sih?! Jemputan juga nggak dateng-dateng, pada kenapa coba?! Sebenarnya hari apa sih ini?! Ck!" berdecak kesal Nessa kembali menyimpan benda canggih itu ke dalam saku bajunya.
"Sendirian aja Nes?!" terdengar suara seorang gadis yang tak asing ditelinga Nessa.
Menoleh gadis itu terbelalak dibuatnya, bagaimana tidak? Ia mendapati Tasya sang kapten basket tengah berdiri bersama dengan Rifki.
Tak luput dari pandangan Nessa, lengan Tasya melingkar erat bergelayut manja di lengan kekar pemuda tampan yang sempat mengejar cinta Nessa.
Bukan baper bukan apa, hanya saja Nessa teringat akan perbuatan yang Tasya lakukan bulan lalu di gudang.
"Di tanya kok bengong sih?" tanya Tasya.
__ADS_1
"Hah, eh gimana?" tergagap Nessa menyahuti kapten team basketnya itu.
"Tumben lo sendirian, si ayang mana?" tanya Tasya yang sudah paham jika Nessa dan Barnes kembali dekat.
"Ssshhhhtttt..." Nessa berdesis dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Lo jangan keras-keras dong ngomongnya!" kepanikan Nessa malah membuat Tasya semakin penasaran.
"Kenapa? Bukannya Barnes cukup tampan otaknya juga pinter, lo malu punya pacar kaya Barnes?" tanya Rifki yang sepertinya melihat gelagat aneh didalam diri Nessa.
Mendengus kesal Nessa, gadis itu menghembus napas kasar sebelum akhirnya berucap.
"Gue dalam pengawasan bokap! Jadi jangan sampai ada yang tau kalo gue pacaran!" bisiknya.
"Oh... Sorry," sahut Tasya dan Rifki dengan bersamaan.
"Jadi kelian masuk di genre, cinta tak direstui?" kambil Tasya menceletuk dengan tawa mengejek nya.
"Haish... ya gitu deh." sahut Nessa malas.
"Lo anggep kita apa? Ya anggap aja begitu," sahut Tasya yang pasti sudah menebak apa yang ada di dalam otak Nessa.
"Terus kak Arsen?" pertanyaan Nessa bukan tak beralasan, gadis itu tentu saja masih mengingat kejadian bulan lalu.
"Ceritanya panjang," sahut Tasya dengan senyum getirnya.
Bersamaan dengan itu mobil jemputan Nessa sudah tiba, mereka akhirnya mengakhiri perbincangan itu.
^^^Yogyakarta, Indonesia.^^^
Menggunakan jet pribadi, Cakra dan keluarga mengunjungi kediaman orang tua Helen yang sekarang, sejak Helen dibawa Cakra ke luar negeri beberapa tahun silam, Kedua orang tua Helen pindah ke kota yang dekat dengan pesisir selatan itu.
Mendirikan pondok pesantren yang dimodali oleh Helen, dan sekarang sudah berkembang pesat.
Bertampang murung Barnes turun dari kendaraan pribadi itu, Bryna berjalan di belakang bersama sang ayah, sedangkan Helen lebih dulu menyatroni kedua orang tuanya yang mulai menua.
Terlihat lingkungan yang di isi oleh remaja-remaja berpakaian santun, Cakra mengembangkan senyum tipisnya, bukti kalau ayah dua anak itu menyukai remaja-remaja nurut dan sopan.
__ADS_1
"Daddy kenapa?" tanya Bryna yang berjalan di samping Cakra.
"Kehidupan di sini tidak buruk, akhlak dan etika mereka pasti terdidik dengan baik," Bryna hanya mengangguk pertanda ia paham dengan yang ayahnya ucapkan.
Setibanya mereka di depan bangunan joglo yang terlihat megah, di sana Helen berdiri dengan dua orang tua yang sudah sedikit mengeriput kulitnya, tapi bersih dan berseri wajahnya.
"Assalamu'alaikum?" salam Cakra ucap kala ia mendekati kedua mertuanya, tak lupa juga mereka berjabat tangan dengan sopan.
Saling sapa dan melepas rindu sejenak mereka lakukan perbincangan pendek di depan pintu.
"Ayo masuk, kalian pasti capek." ajak bu Rosma yang tak lain adalah ibu dari Helen dan nenek dari Bryna dan Barnes.
"Iya eyang," sahut Bryna dan Barnes bersamaan.
Di ruang tengah bangunan joglo nan megah itu keluarga besar itu berkumpul. Obrolan ringan mereka lakukan demi mengusir penat dan bosan.
"Ini Barnes dan Bryna sudah kelas berapa?" tanya pak Valeno yang tak lain adalah ayah dari Helen, juga kakek dari Barnes dan Bryna.
"Kelas XI eyang," Bryna menyahuti.
"Loh kalian ini gimana anak sudah sampai SMA kok tidak di masukkan di pondok ini? Masa iya terkenalnya punya pondok pesantren tapi keturunannya malah suka dugem kan ya nggak singkron." ngomel banyak Valeno kala tidak sependapat dengan kenyataan pendidikan Barnes dan Bryna.
"Tapi eyang, kita nggak dugem kok," jelas Bryna.
"Nggak dugem, tapi pelajaran tentang keagamaan nol besar, apa kalian nggak malu?" menggeleng kepala pelan Valeno Santoso, obrolan ringan itu berakhir sebuah percekcokan yang hakiki.
"Maaf eyang, masa depan kami penting dan jika Barnes masuk pondok, siapa yang akan melanjutkan mengurus perusahaan Daddy?" celetuk Barnes yang memang tidak begitu suka berada di tempat itu.
"Tapi nak, Pendidikan Agama itu penting!" bu Rosma dengan kelembutannya berucap.
Mendengus kesal Barnes kala mendapatkan ceramah banyak-banyak, bahkan Helen dan Cakra merasa salah juga dalam mendidik anak-anaknya.
Kini mereka berempat berada di dalam kamar yang sama, "Dad, Mom? Kapan kita pulang?" tanya Barnes yang sudah tidak tahan dengan suasana di sana, bagaimana bisa Barnes tahan? Jika Nessa tak ada kabar karena sedari tadi ponselnya tak ada signal.
Daerah macam apa ini kenapa signal hp saja tidak mau mampir?
Frustasi rasanya ingin segera berlari pergi dari tempat itu saja, jaman sekarang tidak ada signal itu sangat membosankan bagi remaja seperti Barnes...
__ADS_1