
Safira yang sibuk dengan perkakas dapur mendengar suara teriakan dari ruang tengah segera berlari menuju sumber suara.
Begitu juga Akhiyar yang sibuk mencari koran terbarunya di ruang baca, segera ia kembali menuju ruang tengah.
Tidak seharusnya mereka meninggalkan remaja yang masih belum halal itu, berjalan cepat Safira maupun Akhiyar kearah ruang tengah.
Ternganga, terperangah kala kedua orang tua itu tiba di ruang tengah, bagaimana tidak terkejut, dua remaja yang mana salah satunya adalah keturunan dari keluarga mereka tengah berpeluk mesra bersama dengan laki-laki yang bukan mahram nya.
Memang keduanya akan segera menikah, tapi masih menunggu waktu, dan juga bukan berarti boleh pegang sana pegang sini, toh calon itu masih calon, belum milik sah.
Zidan yang sadar akan suaranya yang begitu menggelegar segera menutup mulutnya kala kedua netranya mendapati kakek dan juga ibunda dari Nessa.
"Shut-shut, Gus! Itu ada orang tuanya!" Zidan berbisik agar Barnes segera melepaskan gadis yang ada di dalam dekapannya.
Baiklah jika Barnes tidak menganggap Zidan, tapi ini ada orang tua, bahkan pemilik dari pesantren ternama di pulau jawa bagian timur tengah menyaksikan adegan itu secara live.
Jika saja hanya Zidan yang melihat pasti pemuda itu hanya akan menegurnya pelan, tapi ini sudah menyangkut orang tua, akan jadi apa Barnes nantinya?
__ADS_1
Yang katanya hijrah, yang katanya tobat, yang katanya halus, sopan, lemah lembut dan sebagainya.
Bagaimana bisa menantu idaman macam deskripsi di atas berani memeluk gadis yang belum sah di mata negara maupun agama?
Berkecimpung pikiran Zidan saat ini, namun terlihat Barnes masih memeluk Nessa saat kepala berpeci nya menoleh kearah Akhiyar dan Safira berdiri.
"Kalian?!" sungguh raut wajah lelaki tua beruban banyak itu berubah drastis, dari yang semula ramah, halus dan bersahaja, kini berubah menjadi muram durja.
Seolah ingin membantai pemuda tampan yang kini masih berdiri di samping cucu kesayangannya.
Tapi tetap ia urungkan kemurkaan yang pasti akan merusak dan menyesatkan, menghela napas panjang yang bisa Akhiyar lakukan, sedang Safira menepuk pelan punggung sang ayah.
"TIDAK BISA!!" ya... Ferdi datang akhiran, dan saat itu Barnes sudah melepaskan tubuh Nessa, kini pemuda tampan itu terlihat mengelap wajah Nessa menggunakan tissue yang ia ambil di atas meja.
"Kau tidak kasihan apa sama mereka? Bagaimana jika sampai syahwat menguasai diri mereka? Mau jadi apa keluarga kita?!" sekali lagi di dalam keluarga itu terjadi bentrok pendapat.
Dan lagi, sudah pasti Ferdi kalah jika harus adu mulut bersama sang istri, juga ada Akhiyar yang satu pendapat dengan Safira.
__ADS_1
"Terserah kalian saja lah!" kata itu lah yang terdengar sebelum Ferdi berjalan meninggalkan ruang tengah.
"Terserah kau bilang! Lalu siapa yang akan menjadi wali anak gadis mu?!" teriak Akhiyar sebelum Ferdi menghilang di balik pintu kamar.
"Kau mau ku anggap mati saja dan biar di gantikan untuk wali nya?!" sambung kakek tua itu dengan amarah yang masih berusaha ditahannya.
Dengan setengah hati juga berat hati, Ferdi kembali ke tengah-tengah kerumunan keluarganya.
"Zidan! Tolong kau hubungi Abah Valeno, biar aku yang menyiapkan persiapannya di sini, jangan lupa bilang kepadanya untuk membawa penghulu! Biar sah sekalian di mata negara!" cetus Akhiyar, Zidan sejenak melirik kearah Barnes, seolah ia meminta pendapat tapi ternyata Barnes sedikitpun tak menatapnya, cucu dari pemilik pesantren yang ia tempati itu malah sibuk mengurus wajah calon istri nya yang basah karena air teh.
Di sisi lain...
Cakra dan Helen baru saja turun dari mobil mewah nya, mereka berjalan gontai menuju ruangan si pemilik pesantren dekat pesisir selatan itu.
"Apa?! Sekarang?! Memangnya apa yang di lakukan Barnes? Kenapa perubahan jadwalnya sangat mendadak?!" belum sampai Cakra dan Helen mengucapkan salam, mereka lebih dulu di kejutkan oleh suara Valeno yang bernada tinggi bahkan nama Barnes di sebut-sebut, di sana.
"Ada apa Ayah?" tanya Helen yang menepuk pundak sang ayah tercinta.
__ADS_1
"Barnes... Barnes... dia akan di nikahkan sekarang," jelas Valeno dengan terbata-bata.
"Hah!! Apa?!...