Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 26 "Sepakat"


__ADS_3

Bergeming Nessa menatap pintu kaca yang perlahan mulai terbuka lebar, dan masuklah sosok hitam yang kini sudah terlihat tampan karena sudah tersorot sinar lampu kamar Nessa.


Mengernyit Nessa menatap sosok tampan itu, "Barnes?" ucapnya dengan berbisik.


"Hai?" sahut Barnes dengan nyengir pepsodent yang menunjukkan baris gigi rapinya yang putih.


Gadis itu segera menghampiri sosok tampan itu, "Lo ngapain di sini?" tanyanya dengan nada berbisik.


Barnes menatap wajah cantik sang pujaan hati, "Gue takut lo kenapa-kenapa." sahutnya.


"Terus mobil lo masih di depan? Ntar kalo ayah liat gimana?" khawatir sudah barang pasti dirasakan oleh Nessa, apa lagi ancaman Ferdi barusan tidaklah main-main.


"Mobil tadi udah gue pindah kok terus pas gue balik ke sini, gue liat lo bengong di balkon." ucap Barnes dengan mengelus pipi pacarnya.


"Oh," hanya kata pendek itu yang keluar dari bibir Nessa.


"Lo baik-baik aja? Apa ini sakit? Sorry gue gagal lagi buat ngelindungin lo." sesalnya dengan mengelus pipi Nessa yang tampak memerah tapi hanya sebelah.


"I'ts no problem, gue baik-baik aja kok, lo jangan lupa dia ayah gue, nggak mungkin dia sampe bunuh gue, kan?" senyum tipis terlihat menghiasi wajah tegar Nessa, namun kerut halus terlihat menghiasi kening Barnes.


"Jangan ngomong gitu lah!" ketus Barnes berucap.


"Sorry," nyengir pepsodent Nessa berucap dengan mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


"Lo kena marah gara-gara gue..."


"Ssshhh..." Nessa berdesis dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir merah Barnes.

__ADS_1


"Jangan ngomong gitu, gue juga mau sama lo karena gue mau, kalo gue nggak mau bukannya gue udah kabur dari tadi ya?"


Barnes tersenyum mendapati kekasihnya itu tak menyerah dengan perasaan mereka, bahkan setelah ancaman yang Ferdi ucapkan.


"Tapi kita harus sepakat untuk lebih hati-hati," imbuh Nessa.


"Hati-hati?" mengerut kening Barnes.


"Iya, kita harus terlihat berteman biasa, juga tampilan lo bisa di rapi in dikit nggak? Soalnya ayah paling nggak suka sama remaja nakal." jelas Nessa dengan nada yang lirih.


"Tapi hubungan kita ma..."


"Iya, kita nggak putus, cuma bisa nggak kalo kita sembunyikan dulu hubungan ini dari ayah gue?" sela Nessa dengan menggenggam lengan Barnes.


"Backstreet?" tanya Barnes dengan mengerutkan keningnya.


"Lo yakin kita bisa Backstreet? Lo yakin?" sepertinya Barnes sedikit meragu dengan ide yang dicetuskan Nessa.


"Terus kalo nggak yakin, lo mau kita putus? Atau malah gue yang bakal dikeluarkan dari sekolah dan pindah ke sekolah lain?" akhirnya Nessa membeberkan ancaman dari sang ayah.


"Pindah?" terkejut bukan main Barnes kala Nessa selesai mengucapkan ancaman dari ayahnya.


"He'em, asal lo tau, ayah kalo udah ambil keputusan dia nggak main-main." jelas Nessa.


"Ok gue setuju." sahut Barnes, ia menyetujui permintaan Nessa karena tak mau lagi putus dengan sang pujaan hati.


Mengingat hari-hari kemarin yang mereka putus saja membuat Barnes tak sanggup lagi membayangkan bagaimana jika mereka akan putus lagi dan mungkin kali ini sangat susah untuk mendapatkan Nessa kembali karena ayahnya sudah jelas menentang hubungan keduanya.

__ADS_1


...("sB&sB")...


Pagi yang cerah sudah disambut dengan kicauan burung yang bernyanyi dengan suara merdunya.


Sinar mentari tak segan menyorotkan sinar hangatnya pada seisi dunia dan alam semesta, bahkan sinar hangat yang bersahabat itu tak segan untuk perlahan melenyapkan embun sejuk yang bertengger pada dedaunan hijau.


Secerah itu pagi hari ini, tapi tidak dengan kondisi hati pemuda tampan yang kini sudah rapi dengan seragam coklat milonya, ya hari jum'at biasa anak SMA mengenakkan seragam pramuka.


"Bar? Are you ok Son?" tanya Cakra yang pagi itu ada di rumah dan ikut serta ritual sarapan pagi di sana.


"Yes, Dad." lesu jawaban dari Barnes membuat Helen dan Bryna sontak menoleh dan menatap remaja tampan itu, demi memastikan bagaimana keadaan dan raut wajah Barnes.


"Baby?" halus Helen berucap ia mengelus kepala putra tampannya.


"Mom, stop! Barnes udah gede, janganlah dibelai-belai begitu!" merengek Barnes dengan menepis pelan lengan ibunya.


"Tapi menurut Mommy, kamu tetap number one! " mengacak pelan pucuk kepala Barnes, Helen lakukan demi bercanda dengan sang putra.


Sarapan pagi itu mereka lakukan bersama setiap kali Cakra pulang dari dinasnya, mereka selalu menyempatkan waktu untuk sekedar berkumpul bersama.


Do sekolah...


Seperti yang direncanakannya semalam, Nessa pagi ini sengaja untuk tidak merecoki Barnes, bahkan sekedar menyapa saat bertemu saja Nessa tak lakukan.


Hingga saat gadis itu beru selesai bermain basket, Nessa berjalan menuju ruang ganti, dan__


"Aaahemph... emmm..." sepasang tangan laki-laki meraup wajah Nessa, dari wangi parfum yang menguar, Nessa dapat mengenalinya.

__ADS_1


"Barnes? inikah?...


__ADS_2