Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 19 "Gengsi & Cemburu"


__ADS_3

Pagi yang cerah telah menunjukkan birunya langit dengan hiasan awan putih bersih yang terlihat tanpa noda, angin pagi yang sejuk perlahan menghembus embun pagi yang masih setia menempel pada dedaunan hijau, membuatnya mengering dengan bantuan sinar hangat sang mentari.


Walau pagi si embun akan beranjak pergi tapi pagi berikutnya ia akan hadir kembali dan akan terus seperti itu.


Seperti halnya cinta yang masih bertahan didalam hati, jikapun dipisahkan secara paksa, mata, telinga dan otak akan bersama-sama memutar kembali memory yang tersimpan rapi di dalam hati, dari sana lah kemudian akan berakhir kepada tindakan yang membuktikan.


Di lorong sekolah...


Barnes berjalan beriringan dengan kembarannya, pagi ini Barnes tidak membawa kuda besi kesayangannya, sengaja ia berangkat membawa mobil, dan mengajak serta Bryna dan Aldy sekalian.


Pandangan para siswa dan siswi sedikit heran dengan Barnes yang tak biasa, bisik-bisik terdengar samar, ternyata putusnya hubungan seumur jagung Barnes dan Nessa cepat sekali menyebar, toh baru saja kemarin Nessa mengucapkannya, hari ini sudah gempar saja seisi sekolah.


"Nggak nyangka ya, Nessa sebodoh itu putusin Barnes yang hampir mendekati perfect." gumam salah satu siswi.


Barnes terus saja berjalan, jujur mendengar ocehan tak berbobot itu membuat hati Barnes sedikit teriris.


"Bukan Nessa yang bodoh ya, dia itu mikir masa ia dia mau pacaran sama berandalan begitu Nessa kan karir atlet nya bagus, sayang dong kalo nggak cari pacar yang sepadan." terdengar lagi kasak kusuk yang kali ini membuat Barnes menghentikan langkah kakinya.


Tapi dengan sigap Bryna dan Aldy segera mengingatkan, "Sabar, ini ujian." ucap Aldy dengan menepuk pelan punggung Barnes.


"Woy Bar!" teriak Rifki dari jarak yang cukup jauh.


Melihat teman tongkrongannya melambaikan tangan, Barnes menatap Bryna dan Aldy secara bergantian, "Na, gue duluan ya! Al gue nitip Bryna!"


"Tapi Bar..." belum sempat Bryna menyelesaikan ucapannya, Barnes sudah lebih dulu berlari kearah Rifki.

__ADS_1


"Dah lah By, kita ke kelas yuk, Barnes udah gede kali." ucap Aldy.


"Gue takut kalo dia balik kek dulu lagi." khawatir Bryna dengan kembarannya.


"Gimana kalo kita temuin Nessa?"


"Ide bagus." setuju Bryna mengacungkan jempolnya dilengkapi dengan senyum yang menawan.


"Astaga By, jangan senyum gitu napa? Bikin jantung gue nggak aman aja senyuman lo!" batin Aldy dengan mengalihkan pandangannya, sedangkan Bryna melanjutkan langkahnya menuju kelas yang segera di ikuti Aldy dibelakangnya.


Nessa yang baru saja memasuki gerbang utama sekolahnya, berjalan lurus melewati lorong kelas, berniat gadis itu ingin segera masuk kedalam ruang kelasnya.


Tapi__


Menoleh ke arah sumber suara Nessa mendapati Bryna dan Aldy yang berjalan menghampiri dirinya.


"Eh, Na, ada apa?" tanya Nessa dengan sedikit rasa canggung.


"Lo berantem ya sama Barnes?" tanya Bryna to the point, jangan lupa ekspresi datar masih terlihat di sana, menjadikan Nessa semakin merasa canggung.


"Hah? Apa sih? E... Engga kok kita cuma..."


"Lo belajar acting dimana sih? Jelek banget acting lo!" sela Bryna yang membuat Nessa sedikit menciut.


"Sorry, gue kemarin emang sempet mutusin Barnes, tapi gue hari ini mau lurusin permasalahannya." jelas Nessa.

__ADS_1


"Lo bukan plin plan kan?" tanya Bryna dengan tatapan penuh selidik.


"Bukannya gitu Na, gue mau dengerin langsung penjelasan dari Barnes." jelas Nessa.


Bryna dan Aldy bersamaan menganggukkan kepala, "Ok kita dukung lo! Lagi pula kalian serasi kok!" cetus Aldy yang sedari tadi terdiam dan tiba-tiba nyambung. Sedikit semangat muncul dihati Nessa kala kembaran sang pujaan hati memberikan dukungannya.


Didepan laboratorium biologi...


Seperti biasa anak-anak nakal SMA Nusa Bangsa itu tengah berkumpul di sana, siapa lagi kalau bukan Barnes, Rifki, Jody, dan Aldo, ke empat bujang SMA itu tengah bersenda gurau, seperti sudah sangat merindukan Barnes.


"Gue seneng deh akhirnya lo balik lagi sama kita, gue kira lo udah nggak mau ngumpul sama kita lagi." cetus Rifki dengan menepuk punggung Barnes.


Barnes hanya tersenyum tipis, kembali seperti biasa pemuda tampan itu memasang raut wajah dingin bin bengis nya.


Di tengah-tengah gurauan mereka terlihat Nessa berjalan menuju kearah mereka, tatapan Barnes dan Nessa sempat bertemu sejenak tapi dengan senyum miring nya Barnes sengaja mengalihkan pandangan terlebih dahulu.


"Kok dia nggak liat gue sih? Apa jangan-jangan dia udah berhasil move on? Duh gimana dong gue harus ngomongnya? Ntar kalo gue malah di kata plin plan gimana?" batin Nessa yang terus bergulat antara hati dan pikirannya.


Nessa menunduk, sedikit napas kasar ia hembuskan sebelum kaki jenjangnya melangkah masuk kedalam kelas.


Kembali lagi Barnes menatap depan kelas Nessa, tapi gadis yang dicarinya sudah tidak ada di sana.


"Kok dia nggak nyamperin sih? Emang yakin putus beneran?" batin Barnes dengan mencuri pandang kearah depan kelas Nessa.


"Kok Barnes keliatan kek gelisah? Apa bener Nessa udah mutusin sobat gue ini? Kok liat ekspresi Barnes gue jadi ngerasa bersalah gini ya?" batin Rifki yang diam-diam mengamati perubahan raut wajah Barnes...

__ADS_1


__ADS_2