
Waktu bergulir seperti air sungai yang mengalir, tak ada kata berhenti walau baterai jam dinding habis daya, sang surya tetap bergulir ketempatnya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan bahkan bulan tanpa mau menanti lagi sudah bertambah menjadi dua belas dan genap sudah satu tahun.
Tahun-tahun berlalu dengan genapnya dua belas bulan di dalamnya, rindu yang membelenggu tetap mengisi setiap jam, menit, dan detik yang sudah pasti berlalu.
Kemana remaja tampan yang dulu berdiri paling depan saat tawuran?
Kemana perginya si Barnes Frankins yang brutal dan suka menghajar siapa saja yang mengusiknya?
Kemana pula tatapan tajam dengan wajah bengis yang selalu jadi pujaan para gadis?
Hilang...
Sudah hilang, semua berganti dengan Barnes yang lengkap dengan peci dan sarungnya, tak lupa kemeja panjang berwarna navy melekat pada tubuh indahnya.
Siapa yang berani merubah segalanya?
Kenapa sedrastis itu perubahan si brutal yang teramat bengis?
Hanya tangan Tuhan sang pencipta semesta lah yang mampu melakukan segalanya, berkat waktu yang berlalu perubahan Barnes tak lepas dari bimbingan orang-orang eyang kakungnya.
__ADS_1
Fajar menyingsing, semburat sinar oranye dari ufuk timur mulai menampakkan keindahannya.
Di teras depan masjid si tampan yang masih lengkap dengan peci hitam dan juga kemeja navy yang lengkap dengan sarung hitamnya tengah duduk bersandar pada dinding masjid.
Raga indah, tampan nan rupawan itu tenang namun pikiran masih melayang pada kejadian dua tahun silam.
Ya... Dimana untuk pertama kalinya hati Barnes terbuka dan dengan paksa harus tertutup kembali.
Senyum tipis terulas di sana, sepertinya ada setitik rindu yang membuatnya terpaksa harus terulas tanpa ada apa-apa.
"Bagaimana kabarnya sekarang? Dan di mana dia?" gumamnya dengan menatap keindahan langit yang terdefinisi keindahan alam.
Brak!!
"Daddy?" mengerut halus kening Barnes kala netra sipitnya melihat sang ayah yang baru saja keluar dari dalam kijang besi mewah itu.
Segera pemuda tampan itu bergegas mendekati sang ayah yang baru saja turun dari mobilnya.
Setelah mengucap salam dan menjabat tangan serta mencium punggung tangan orang tuanya dengan hikmat, Barnes terdiam sejenak.
"Daddy mau jemput Bryna?" tanyanya dengan menilik manik hitam milik Cakra.
__ADS_1
"Iya, lagi pula dia harus melanjutkan studi-nya di Britania Raya," sahut Cakra dengan merangkul pundak putra tampannya.
Keduanya berjalan beriringan dengan sebelah tangan Cakra yang melekat pada pundak putra tampannya.
"Kamu masih betah di sini?" tanya Cakra yang memang mengkhawatirkan kondisi mental sang jagoannya.
"Hem, di sini tidak buruk, Barnes suka mempelajari kitab yang tidak sembarangan orang bisa membacanya itu," cetus Barnes dengan sorot mata yang berbinar.
"Syukurlah kalau begitu," obrolan demi obrolan keduanya lakukan hingga__
"Loh, Eyang kung, mau kemana?" tanya Barnes seantusias itu ketika melihat Valeno Santoso sudah rapi dengan jas hitamnya tak lupa sorban putih melekat pada punggungnya.
"Ada teman Eyang yang mau ketemu..."
"Barnes ikut!" sela Barnes sebelum Valeno menjelaskan semuanya.
"Baiklah," setelah persetujuan itu, Barnes lepas dari rangkulan sang ayah dan berpindah mengekor dibelakang laki-laki tua pemilik pesantren di pesisir pantai selatan.
Tiba di sebuah resto dekat pantai, kedua laki-laki berbeda generasi itu tengah bersantai sambil menunggu pesanannya.
Tuk... Tuk... Tuk...
__ADS_1
Derap langkah kaki membuat Barnes sontak menoleh kearah sumber suara, mengerut tipis kening pemuda tampan itu.
Mata tajamnya terus memancarkan kerinduan yang mendalam, "Nessa?...