
Sejak Nessa memberikan semangat juga dukungan kepada Barnes untuk mengikuti lomba cerdas-cermat, remaja tampan itu lebih sering berada di dalam perpustakaan dari pada didepan laboratorium biologi.
"Barnes berubah ya sekarang?" cetus Rifki.
"Iya, dia kerasukan apaan coba bisa sering keluar masuk perpustakaan gitu? Udah seminggu dia nggak nongkrong bareng sama kita." jawaban Jody membuat Rifki menjadi meragu dengan Barnes yang biasanya menjadi otak dalam penyerangan-penyerangan saat tawuran.
"Nah tu dia lewat," gumam Aldo yang melihat Barnes bersama dengan Bryna juga Aldy.
"Bar! Sini lo!" panggil Rifki dengan melambaikan tangannya, sejenak Barnes berhenti, niat hati ingin ia menghampiri teman-temannya yang duduk di depan laboratorium biologi.
"Bar ayo jalan!" ajak Bryna tanpa menghiraukan panggilan dari Rifki.
"Sorry gue masih ada perlu!" teriak Barnes dengan menunjuk ruang perpustakaan yang tak jauh dari laboratorium biologi. Sebelahnya Barnes berlalu bersama dengan Bryna dan juga Aldy.
Mendengus kesal Rifki kala mendapati Barnes mengabaikan dirinya, "Shial!" umpatnya dengan meninju udara kosong dihadapannya.
Tak lama dari berlalunya Barnes, seorang gadis dengan bola basket di tangannya melintas di samping para cowok-cowok nakal itu.
"Nes?" panggil Rifki, sontak Nessa menoleh dan menghentikan langkah kakinya.
"Lo mau latihan basket?" tanya Rifki.
Nyengir Nessa sebelum menjawab, "Mau masak-masakan!" sahutnya.
"Iyalah gue mau latihan basket, tau sendiri gue udah bawa bola begini, masih nanya!" imbuh Nessa dengan ketus.
"Eh, Nes!" panggil Rifki lagi ketika Nessa hendak melangkah pergi, dan lagi terpaksa gadis itu harus berhenti demi menanggapi teman-temannya Barnes.
"Apa lagi?"
"Lo pacaran sama Barnes?" tanya Rifki.
"Iya, emang kenapa? Lingkup pertemanan kalian nggak melarang pacaran, kan? Nggak mungkin dong, tu Aldo sama Feli aja nempel terus kek perangko!" tutur Nessa menunjukkan pembelaan sebelum adanya larangan yang akan merusak hubungan.
"Nggak bukan gitu," sahut Rifki, sedikit ia melirik ke arah pintu perpustakaan, "Lo nggak didampingin pacar lo?" tanya Rifki lagi.
"Nggak, dia sibuk kok." sahut Nessa enteng.
"Cih sibuk apaan?" pertanyaan dengan nada mencibir itu membuat Nessa sedikit mengerutkan alisnya.
"Maksud lo apaan coba?" tatapan tak suka Nessa tujukan kepada Rifki.
"Dulu pas belum jadian aja dia rela bolos demi nonton lo tanding, lah sekarang udah resmi pacaran lo ditinggalin, kan? Kayak yang habis manis sepah dibuang nggak sih?" mendengar penuturan dari Rifki, Nessa memutar bola matanya malas.
"Lo pikir gue nggak tau dia sibuk kemana? Dia sibuk ikut persiapan lomba cerdas-cermat tau!" pembelaan Nessa menjadi akhir dari perbincangan keduanya. Karena setelahnya Nessa segera melangkahkan kakinya menuju lapangan basket. Sedangkan Rifki masih sibuk dengan pergolakan pikirnya yang tidak suka jika temannya menjauh dari dirinya.
__ADS_1
Di dalam perpustakaan...
Setiap soal yang Barnes terima pasti terjawab dengan lancar, toh otak Barnes tidak main-main, otak genius Cakra pun menurun kepada remaja SMA ini.
"Sudah selesai?" tanya guru dengan name tag Fitria yang mengampu ketiga siswa pintar itu.
"Sudah!" sahut Barnes ketika Bryna dan Aldy masih sibuk mencari jawaban.
"Belum!" sahut Bryna dan Aldy bersamaan setelah mendengar Barnes menjawab.
"Loh, kalian ini satu team, kenapa yang satu selesai yang lain belum? Yang kompak dong!" cetus Miss Fitria dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Maaf Miss, Barnes nggak mau bekerja sama." cetus Aldy.
"Barnes!" panggil Fitria dengan tatapan menginterogasi.
"Apa?" sahutnya datar.
"Mereka berdua ini satu team dengan mu, jika mereka belum paham maka coba kamu jelaskan, biar mereka juga bisa cepat seperti mu!" mendengar usulan dari Miss Fitria Barnes sedikit menghela nafas, sepertinya ia malas jika harus mengajari, bukan pelit, tqpi yang jadi masalah adalah batas kesabaran Barnes sangatlah tipis.
Dengan kesabaran yang minim itu, Barnes akhirnya menjelaskan setiap soal yang Bryna dan Aldy kurang menguasainya.
Benar saja, tak jarang Barnes menggebrak meja perpustakaan demi melampiaskan emosinya.
Bahkan penjaga perpus berulang kali menegurnya dan berulang kali pula Barnes mengulanginya lagi.
"Kalian gimana sih?! Gini doang masih belibet! Ah capek gue jelasin!" Barnes sedikit merajuk bahkan raut garangnya kembali terpampang di sana.
"Ada apa ini?" tanya Fitria yang duduk tak jauh dari ketiga siswa pilihan itu.
Terdiam semuanya termasuk Barnes, "Barnes bisa lebih sabar tidak? Kalian ini harus belajar berunding, bicarakan setiap masalah dengan kepala dingin." cetus Fitria yang tak suka anak didiknya bermarah-marah ria.
Tak lama dari Fitria berucap, bel tanda istirahat selesai berbunyi, "Nah udah bel, kan?! Gue jadi gagal ketemuan sama ayang gue!" gerutu Barnes.
Remaja dengan wajah tampan yang ditekuk itu melangkah keluar dari perpustakaan lebih dulu dibandingkan Bryna dan Aldy.
"Lo gimana By?" tanya Aldy, ya Aldy lebih suka memanggil Bryna dengan sebutan By(Bee) entah apa alasannya laki-laki itu tidak pernah menjelaskan.
"Gue udah lebih paham sih ketimbang sebelumnya, lo gimana? Maaf in kembaran gue ya?" Bryna meminta maaf atas kelakuan Barnes, tapi ya begitulah Bryna, walau banyak bicara tapi tampang masih datar dan lurus seperti jalan tol yang jarang ada tanjakan ataupun turunannya.
"Santai aja kali, toh kita udah biasa liat Barnes begitu, tapi btw tadi dia lebih milih kita ketimbang bersama dengan teman-teman urakan nya itu ya?" tanya Aldy.
"Iya sih, tau tu anak, karena Nessa menjanjikan mau kasih dia kejutan diakhir perlombaan nanti kali." sahut Bryna dengan mengemasi buku-bukunya.
"Ya apapun alasannya gue ikut seneng sih, karena secara tidak langsung Barnes bisa keluar dari lingkaran negatif teman-temannya yang nggak jelas itu." jelas Aldy dengan membenarkan kacamata minus yang bertengger di hidung bangirnya.
__ADS_1
Di sisi lain...
Barnes berjalan sedikit tergesa menuju lapangan basket, tapi setibanya di sana ia tak mendapati siapapun.
"Ow Sh*it!! Sialand!! Gara-gara belajar gue jadi nggak bisa ketemu Nessa!" umpat Barnes dengan menendang udara kosong di hadapannya.
"Bar?" panggil seorang gadis yang baru saja keluar dari ruang ganti yang ada di samping lapangan basket.
"Eh Sya? Ada apa?" tanya Barnes kepada gadis yang memanggilnya yang tak lain adalah Tasya.
"Soal masalah gue bulan lalu, lo jangan bilang siapa-siapa ya!" memohon dengan wajah memelas Tasya mengatupkan kedua telapak tangannya didepan dada.
"Masalah?" Barnes sedikit bingung, jujur saja itu tidaklah penting baginya dan bisa saja otak genius Barnes sudah otomatis menghapus kenangan tidak berbobot itu.
"Yang di gudang!" jelas Tasya.
"Di gudang? Kalian ngapain di gudang?" tiba-tiba suara Rifki terdengar, sontak Barnes menoleh ke sumber suara, Rifki dari arah belakang Barnes berjalan mendekati Tasya dan Barnes.
"Gue tanya di gudang kalian ngapain? Jangan bilang kalian main belakang ya! Gue nggak akan biarin lo sakitin hati Nessa Bar!" ketus Rifki memberikan ancaman.
"Menyakiti Nessa? Apa hubungan lo? Gue sama Nessa yang jalanin ini hubungan, kenapa lo yang sewot?!" Barnes menangkap signal negatif, ia mengira Rifki telah diam-diam membela Nessa, dan itu membuat api cemburu tersulut begitu saja.
"Karena hubungan lo dan Nessa sekarang itu, karena ide konyol dari gue! Gue yakin lo nggak serius kan, jadian sama Nessa?!" tuding Rifki yang membuat Barnes membelalak, tapi berbeda dengan Tasya, gadis itu terlihat mengulum senyum mendengar berita itu.
Tegang suasana, Barnes tak kunjung menjawab tudingan dari Rifki yang memang ada sedikit benarnya.
Baru saja Barnes membuka mulut hendak menjawab, tiba-tiba__
"Bar? Lo jemput gue di sini?" Nessa dengan tampang cerianya baru saja keluar dari ruang ganti, gadis itu segera bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya.
Hening semua terdiam, "Loh ada Rifki juga?" Nessa berucap dengan menatap sekilas teman Barnes.
"Iya, ya udah yuk kita masuk kelas, udah bel dari tadi!" ucap Barnes.
"Emang lo udah selesai belajarnya?" tanya Nessa, Barnes hanya mengangguk dengan senyum yang ia paksakan, pikirannya hanya ingin segera membawa Nessa jauh-jauh dari Rifki, ia takut jika sampai temannya itu membongkar sejarah kedekatan mereka, keduanya kini berjalan meninggalkan Tasya dan Rifki yang masih ditempat.
Bergeming Tasya dan Rifki, sejenak kedua netra mereka bertemu, Tasya berjalan hendak meninggalkan Rifki, "Tunggu Sya!" Rifki dengan cekatan meraih pergelangan tangan Tasya.
"Apaan sih?!" ketus gadis itu.
"Yang barusan lo omongin sama Barnes, gue perlu tau! Kalian ngapain di gudang?!" Rifki mulai menginterogasi Tasya.
"Ntar pulang sekolah kita ketemu di cafe seberang sekolah, gue ada ide." senyum miring Tasya tampilkan.
"Lo jangan coba main-main ya sama gue?!" peringatan Rifki dengan mencengkeram lengan Tasya.
__ADS_1
"Gue tau lo suka kan, sama Nessa!" tudingan itu membuat Rifki sedikit gelagapan.
"Dah yang penting lo ntar datang! Gue ada ide!" imbuhnya dengan melepas cengkeraman tangan Rifki...