Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 35 "Gundah"


__ADS_3

Keputusan orang tua memang susah untuk di bantah, ada satu sisi yang mana kita tidak mau mengecewakan perasaan orang yang sudah berjasa mengurus dan membesarkan kita dengan sepenuh hati dan tenaga.


Dan sisi lain adalah soal moral dalam keagamaan, bukan kah akan menjadi anak durhaka jika sampai kita melawan kehendak orang tua kita, orang yang senantiasa ada setiap kita jatuh dan tersungkur karena beban kehidupan.


Sudah satu hari ini Nessa terus saja menghindari Barnes, barusaha membuat agar remaja tampan yang sudah berhasil mencuri hatinya itu sukses membenci dirinya dan tidak lagi mencari-cari dirinya.


"Jika kamu masih berhubungan dengan berandal SMA itu, Ayah tidak akan segan-segan untuk menghancurkan masa depannya, melaporkan nya ke pihak yang berwajib! Ayah ada bukti vidio dia dan komplotannya terlibat tawuran beberapa bulan terakhir."


Terngiang selalu ancaman yang Ferdi katakan, maka mau tak mau Nessa memutuskan hubungannya dengan si pujaan tampan, jujur saja pasti sulit untuk Nessa melupakan kenangan-kenangan manis yang mereka lalui, ya walau baru dua bulan lebih keduanya saling mengenal, tapi Barnes terlalu pandai dalam urusan berperilaku manis di depan Nessa.


Greb!!!


Seseorang memeluk Nessa dari belakang, ya gadis itu tengah berdiri di samping gerbang sekolah seperti biasa Nessa menunggu jemputan nya.


Menguar aroma maskulin kedalam indera penciuman Nessa, dan gadis itu sudah sangat hafal dengan bebauan itu.


"Bar, please... Stop it! Jangan gila, kita udah nggak ada hubungan apa-apa!" Nessa berucap dengan tangan yang berusaha melepaskan peluk erat itu.

__ADS_1


"Bentar aja! Dan ingat, kata putus lo tidak berlaku bagi gue, karena gue yang nembak lo..."


"Ya dan harus lo yang memutuskan kemana dan bagaimana hubungan kita selanjutnya." sela Nessa dengan memutar bola matanya malas.


"Itu lo hafal," bisik Barnes.


"Gue antar pulang mau?" di situlah Nessa semakin menyukai pemuda tampan yang ada di hadapannya, tak pernah Barnes memaksakan keinginannya, ya, walau terkenal dengan kebrutalan nya, Barnes tetap bertanya setiap hal yang menyangkut tentang Nessa.


Baru saja luluh gadis cantik itu mengangguk, tapi__


TIN... TIN...TIN...


Terlihat wajah penuh amarah Ferdi dari kaca mobil yang mulai bergerak menurun.


"Nessa! Masuk!" titahnya dengan membuka pintu mobil.


"Gue duluan," bisik Nessa, entah mengapa ada rasa tak tega jika ia tak berpamitan dengan si tampan yang masih berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Hanya anggukkan kepala yang Barnes lakukan, jangan lupa di sudut bibirnya ada senyum kecil yang membuat Nessa enggan untuk berpaling, sampai ___


BRAK!


Pintu mobil ditarik dengan kasar ketika Nessa sudah duduk di kursinya, siapa lagi memang pelakunya kalau bukan Ferdi?


Menghela napas berat Barnes menyaksikan mobil yang ditumpangi Nessa berlalu begitu saja, tanpa permisi ataupun bunyi TIN sebagai tanda sapaan.


Siang yang benderang berganti dengan gelapnya malam, semilir angin panas berganti dengan hawa dingin yang mampu membuat tubuh kian menggigil.


Tapi walau begitu dingin angin malam ini, sepertinya tidak berlaku bagi lelaki tampan yang duduk asik di atas balkon.


Galau gundah gulana yang pemuda tampan itu rasakan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi sang kekasih.


📤 [Ness lo udah tidur?]


Begitulah pesan yang terkirim, karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.00WIB

__ADS_1


Lama Barnes menunggu balasan dari pesan yang di kirimnya, tiga puluh menit sudah berlalu, sampai tak terasa netra tajam itu menyipit dan tak sengaja pemuda tampan itu larut kedalam alam bawah sadarnya.


Melarungi bahtera mimpi yang sang Pencipta kirimkan untuknya...


__ADS_2