
Barnes berhenti setelah kaki-kaki panjangnya melewati ambang pintu ruang kelasnya, Aldy segera menyamakan langkah kakinya dengan kembaran Bryna.
"Bryna marah barusan?" tanya Aldy membuka obrolan saat kedua kaki mereka mulai melangkah menuju lapangan upacara.
"Lo bego apa nggak peka sih?" Barnes mengernyit dengan menatap Aldy sedang langkah kaki tetap mengayun menuju tempat tujuan.
Aldy tak menjawab, ia ingin pertanyaan diberi jawaban bukan malah balik ditanya, pemuda berkacamata itu malah balik menatap Barnes dengan tatapan tak paham.
"Lo pikir dong! Bryna suka sama lo, kalian baru aja marahan dan lo ngobrol asik sama Tina, sakit nggak hati tu cewek?" gemas Barnes berucap dengan segala ekspresi yang ia keluarkan.
"Tapi gue sama Tina cuma..."
"Cuma ngobrol! Iya? Tapi lo nggak tau aja betapa sensitif nya perasaan cewek, apalagi kalo dia lagi marah, kita ngedipin mata aja salah, lah lo malah berinteraksi sama cewek lain, mikir dong otak lo mikir!" cetus Barnes.
Terdiam seribu bahasa Aldy mencerna setiap ucapan yang Barnes ungkapkan, sedang lawan bicaranya sudah masuk kedalam barisan calon peserta persami.
Terlihat Bryna fokus dengan buku yang ada ditangannya, Aldy yang melihat Bryna sibuk tak berani untuk sedikitpun mengusik gadis itu.
Berbeda dengan Barnes dan Nessa yang kini tengah berdiri di tengah-tengah barisan para murid yang mendaftar kegiatan persami.
Kedua remaja itu sesekali saling mencuri pandang, walaupun barisan keduanya terpisah dan terhalang dua baris.
Senyum manis terulas di wajah cantik Nessa, dan itu salah satu yang membuat Barnes terus memperhatikan gadis pujaannya.
"Perhatian!" terdengar intruksi dari arah depan, semua siswa yang berbaris mendadak terdiam, hening seketika.
"Ssttt... Sstttt... Bar-Barnes!" terdengar bisikan dari arah belakang dan itu membuat Barnes sedikit menoleh kebelakang.
Terbelalak seketika kedua mata Barnes kala ia mendapati siapa yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Lo ngapain di sini?" bisik Barnes terkejut.
"Gue? Lo yang ngapain di sini?!" tak kalah terkejut pemuda tampan yang tak lain adalah Rifki itu juga bertanya dengan nada berbisik.
"Jangan bilang lo sama Tasya ikut jadi anak pramuka juga?!" sedikit memancarkan raut wajah tak suka Barnes kala ia mengucapkan pertanyaannya.
"Loh, ini kan hak asasi, kenapa lo boleh gue enggak?" tak terima Rifki sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Yang dibelakang! Bisa dengarkan saya dulu!" terdengar suara sang pembina dengan suara lantangnya. Terpaksa Barnes dan Rifki saling diam kembali.
Bryna sibuk mengurus data peserta, kali ini persami melibatkan beberapa anggota OSIS yang aktif.
"Na, datanya udah selesai belum?" tanya seorang pemuda tinggi putih tampan dengan suara seraknya bertanya kepada Bryna.
"Udah Cel, ini tinggal di print doang," sahut Bryna dengan masih menatap layar laptopnya.
"Siap!" sekilas Bryna menatap Celo dengan mengacungkan jempolnya, sebelum pria itu pergi meninggalkan ruangan dimana Bryna disibukkan dengan laptop dan printer-nya.
"Eh, elo Al, kebetulan lo ada di sini, gue mau ngurus di bagian jurnal, lo bantuin Bryna ya!" titah Celo, wajar saja ia sering menyuruh karena memang dia-lah ketua OSIS di SMA Nusa Bangsa tercinta itu.
"Siap!" Aldy hanya mampu menyanggupi tanpa berani menolak, setelahnya Celo menepuk pelan pundak Aldy kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan lain.
Aldy dengan hati yang sedikit berdebar melangkah mendekati Bryna yang sibuk di depan laptop.
"Na, gue mau ngomong..."
"Eh elo Al, ini tolong lo rapi-in kertas-kertas dibelakang, ntar kita lanjut bikin ID Card-nya," datar seperti biasa Bryna berucap, mungkin lebih tepatnya gadis itu bersikap profesional.
Karena Bryna seperti tidak marah dan sudah bersikap biasa saja, maka Aldy pun juga berusaha untuk bersikap biasa saja, ia menuruti semua perintah yang Bryna ucapkan.
__ADS_1
Di lapangan upacara terlihat sekumpulan siswa tengah berjemur dibawah teriknya sianr mentari sore hari, berlatih baris berbaris mereka lakukan, dan juga lari keliling area sekolah.
Saat ini Barnes dan Nessa tengah berlari bersamaan, Barnes sengaja berlari dibelakang sang pujaan demi bisa mengiringi langkah kaki gadis cantik itu.
"Nes!" panggil Barnes kala ia melihat ada sesuatu yang mengganggu pemandangan.
"Apa?" Nessa terus berlari, tapi bibir menyempatkan untuk menyahuti.
"Lo tadi duduk di air ya?" tanya Barnes.
"Heh, enggak! Lo kok liatin pantat gue! Capek-capek gini lo masih mesum aja ya!" tuding Nessa dengan berhenti dan menatap Barnes dengan raut tak suka.
"Gue beneran, itu di rok lo kayak ada basah-basah deh." sekali lagi Barnes mengingatkan.
"Masa sih?" gumam Nessa, ia pun memegang pantatnya dengan sebelah tangannya, kemudian___
"Hah??" menganga gadis itu melihat telapak tangannya penuh dengan warna merah.
Melihat raut wajah Nessa yang sepertinya syok, Barnes dengan segera mendekat dan bertanya.
"Ada apa?" tanyanya.
Nessa menarik kerah baju Barnes, "Gue dateng bulan," bisik Nessa tepat di samping telinga Barnes.
Melotot Barnes mendengarnya, celingukan pemuda tampan itu demi memastikan keadaan sekitar, saat dikiranya aman, Barnes menarik lengan Nessa untuk diajaknya kedalam toilet.
"Lo bebersih dulu, di dalem, gue jaga diluar ok!" Nessa mengangguk patuh kala Barnes mengatur dirinya, hingga__
"Bar! Pembalutnya gue nggak bawa, bisa tolong belikan??
__ADS_1