Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 9 "Jadian"


__ADS_3

Terlihat para team basket dari SMA Nusa Bangsa turun dari mobil, mereka saling melambaikan tangan untuk mengucap kata perpisahan sementara.


Nessa kini berjalan menuju pintu keluar, berniat untuk menunggu jemputan dari pak Sopir, tapi bukannya pak sopir yang datang ia malah bertemu dengan Feli yang baru saja keluar dari area sekolah juga.


"Eh baru pulang lo?" tanya Feli dengan menepuk punggung Nessa.


"Iya nih," sahut Nessa santai.


"Bareng gue aja yuk!"


"Yakin nggak ngerepotin?" tanya Nessa berbasa-basi, sebenarnya kaki gadis itu sudah mulai lelah juga, menunggu pak sopir yang tak kunjung datang.


"Udah ayok!" Feli menarik lengan Nessa agar gadis itu segera mengikuti langkah kakinya.


"Lah lo nggak bawa motor?" tanya Nessa bingung kala dirinya diajak memasuki sebuah mobil Grab yang kebetulan sudah berhenti di depan mereka berdua.


"Hehe... emang sejak kapan gue sekolah bawa motor?" sahut Feli dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi penumpang.


"Tau keluar duit begini mending tadi lo aja yang bareng sama gue!" gerutu Nessa.


"Dah lo diem aja temenin gue ke suatu tempat!" ucap Feli yang kemudian menepuk pundak pak sopir yang ada di kursi kemudi.


"Sesuai aplikasi ya pak!" ucap Feli.


"Siap mbak!"


Tak banyak bicara mereka dalam perjalanan, hingga rasa kantuk menyerang kedua netra bening milik Nessa, terpejam akibat rasa lelah yang dirasakannya. Tak terasa deru mesin mobil yang semula mendayu seperti lagu nina bobok tiba-tiba terdiam hingga membuat Nessa terganggu dalam mimpi yang baru saja dilarunginya.


"Udah nyampe?" tanya Nessa yang melihat kearah luar jendela mobil.


"Udah, ayok turun!" ajak Feli. Keduanya berjalan beriringan memasuki sebuah halaman yang luas dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang.


"Loh itu kek mobil... " gumam Nessa saat dirinya melihat mobil jeep hitam yang terparkir di sana.


"Jangan kebanyakan bengong udah ayok!" ucap Feli dengan menarik lengan Nessa yang sempat berhenti di samping mobil jeep hitam.


POV Barnes Frankins...


Aku akui, kalau aku Barnes memang seorang yang kuat minum, tapi kali ini minuman yang dipesan oleh Rifki membuat ku merasakan pusing yang sangat mengganggu kesingkronan otak.


Memang tidak perlu dipertanyakan sih soalnya aku sendiri meminum dua botol lebih, dan kadar alkoholnya memang sangat tinggi.


Sampai-sampai ada tamu yang datang pun aku sudah tidak lagi perduli, pikirku palingan cuma pacarnya Aldo yang datang, karena tadi sebelum kita minum-minum, dia sempat menelfon pacarnya itu.


Namun tak disangka, saat aku asik memijit keningku yang terasa semakin berdenyut tiba-tiba suara seorang gadis menyerukan nama ku__


"Barnes?"


Seperti pucuk di cinta ulam pun tiba, suara yang seolah ku harapkan kedatangannya kini terdengar jelas memanggil nama ku.


Ku singkirkan rambut poniku keatas menggunakan jemari yang tadi memijit kening pening ku.


Mata yang sudah hampir memburam pandangannya kini sedikit ku picing kan demi memperjelas pengelihatan.


"Hay Ness?" kata itu lah yang meluncur kala melihat sosok gadis cantik yang semakin membuat ku tertarik.


Hanya itu yang teringat sebelum semua pandanganku menggelap.


POV Barnes Off...

__ADS_1


"Hay Ness?" Barnes menyapa Nessa yang berdiri di hadapannya, gadis itu masih mengenakkan seragam basketnya, senyum konyol terlihat di wajah Barnes dengan mata yang menyipit.


Perlahan laki-laki yang dipengaruhi oleh minuman beralkohol itu berdiri dan hendak meraih pundak Nessa, namun__


Brugh...


Barnes ambruk tepat kearah tubuh Nessa, dengan cekatan Nessa menopang tubuh tinggi besar itu.


"Eh... eh... eh... Jangan pingsan dong! Lo berat!" keluah Nessa dengan menahan tubuh Barnes.


Dilihatnya semua temannya sudah terkapar tak berdaya dengan ocehan tidak jelasnya, Nessa hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Segera Nessa memapah Barnes agar ia duduk kembali di atas sofa, Brugh... dihempaskan nya tubuh tinggi besar itu dipermukaan sofa yang nyaman, Nessa segera berlari menuju dapur yang ada didalam vila itu, ia membuka lemari es didalam lemari es, kosong tidak ada apa-apa, gagal sudah ia dalam rencana memasak sup penghilang pengar.


Alhasil Nessa berlari kearah wastafel, tak lama kemudian ia kembali dengan satu gayung air dingin ditangannya.


Nessa duduk di samping Barnes, berniat untuk mengelap wajah Barnes agar pemuda tampan itu segera sadar dari pingsannya, tapi siapa sangka tangan Barnes malah bergerak dan__


Byurrr...


Air dalam gayung mengguyur Nessa dan Barnes secara bersamaan, tersiram air dingin di bagian wajahnya membuat Barnes terkejut dan__


"Hua!! Banjir ya?! Hujan! Hujan!" teriaknya.


"Barnes!" dengan mengeraskan rahangnya Nessa yang ikut basah kuyup, tengah menahan emosinya.


Barnes segera menoleh kearah Nessa yang duduk disampingnya.


"Astaga Nessa? Lo basah? Lo kehujanan?" tanya Barnes dengan sesekali memegangi kepalanya yang mungkin masih sedikit terpengaruh alkohol.


"Enak aja kehujanan! Ini semua gara-gara lo tau nggak! Tanggung jawab lo!" cemberut Nessa dengan mengacungkan gayung kearah wajah Barnes.


"Serah lo aja deh!" kadung badmood Nessa semakin mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah, bentar gue ambilin dulu ya!"


"Ikut!"


"Hah?!"


"Gue takut, mereka ngoceh nggak jelas!" cetus Nessa dengan menunjuk kearah Rifki dan Jody yang sama-sama tergeletak dilantai, tentu saja kesadaran mereka sudah melewati batas limit.


"Ya udah ayok!" Barnes menggandeng lengan Nessa, sedangkan gadis itu sedikit mengulum senyum, dengan langkah kaki mengikuti langkah kaki Barnes berjalan.


Setibanya di mobil...


Barnes menunggu Nessa diluar mobil sedangkan gadis itu mengganti pakaiannya didalam mobil.


"Bar! Lo yakin gue pakai pakaian begini?" tanya Nessa dengan baju seksi yang melekat pada tubuhnya.


"Nggak papa lah gue aja mu..." terpaku Barnes sampai-sampai ia tak dapat melanjutkan kata-katanya.


Ya... Barnes muat karena dadanya rata sedangkan saat ini pakaian itu malah terlihat seperti lingerie seksi saat melekat ditubuh Nessa.


Lihat saja lekuk pinggang yang menyerupai gitar Spanyol, dan belahan rendah yang menyembulkan sedikit belahan dada yang putih mulus itu.


"Bar! Gimana?" tanya Nessa yang kini sudah berdiri di hadapan Barnes.


"Lo cantik," sahut Barnes dengan menarik pinggang Nessa hingga membuat gadis itu tersentak dan menabrak dada bidang Barnes.

__ADS_1


Terlihat oleh Nessa jakun Barnes naik turun seolah ia kesusahan untuk sekedar menelan salivanya.


"Ba... Bar lo mau apa?" tergagap Nessa kala wajah tampan Barnes semakin mendekat kearahnya, Barnes sedikitpun tak menjawab ia hanya fokus kepada bibir pink milik Nessa dan__


Tap...


Nessa menutup mulut Barnes dengan sebelah tangannya, "Stop ya?! Lo pikir gue cewek apaan?! Yang tanpa hubungan bisa lo cium kapan saja?! Nggak Bar, nggak akan lagi!"


Nessa melepaskan diri dari lengan Barnes yang melingkar di pinggangnya, tapi baru dua langkah gadis itu melangkah meninggalkan Barnes, remaja tampan itu sudah kembali memeluk tubuh Nessa dari belakang.


"Perlu banget ya jadian dulu baru ciuman?" tanya Barnes dengan mengecup pundak Nessa, kemudian beralih pada ceruk leher yang terekspos itu.


"Bar Stop!!"


"Udahlah nikmatin aja! Lagi pula belum tentu lo percayakan kalo gue bilang suka sama lo!"


Bagai tersambar petir Nessa sore itu, terkejut sudah pasti, "Lo suka sama gue?"


Nessa berbalik menatap pria tampan yang masih setia melingkarkan tangannya dipinggang Nessa.


Senyum tipis Barnes tampilkan, ia menggunakan sebelah tangannya untuk membelai wajah cantik milik Nessa, "Gue suka sama lo, " tatapan sayu menghiasi setiap kata yang terucap.


"Lo mabok nggak mung..." belum selesai Nessa berucap Barnes sudah lebih dulu menyambar bibir pink Nessa, awalnya Nessa berontak, "Lo nggak suka?" tanya Barnes.


"Bukan begitu, tapi..."


"Berati lo juga suka sama gue, kan?" kepercayaan diri tingkat dewa yang Cakra turunkan tetap mengalir didalam darah Barnes.


Tanpa aba-aba Barnes kembali mencium Nessa, tapi gadis itu masih saja menolak, "Kenapa?" tanya Barnes dengan mengerutkan kedua alisnya


"Lo mabok!" sahut Nessa.


"Enggak!"


"Lo mabok!'


"Enggak!"


"Udah gue bilang lo mabok!"


"Gue bilang nggak!"


Perdebatan itu terjadi cukup lama hingga, "Ok, gue buktiin kalau gue nggak mabok!" cetus Barnes dengan menarik lengan Nessa untuk dibawanya masuk kedalam mobil.


Barnes terlihat tengah menyalakan mesin mobil, "Lo jangan gila Bar!"


"Gue buktiin kalau gue nggak mabok!"


"Ok ok gue percaya!" Nessa menahan lengan Barnes yang masih stay di kunci mobil yang sudah terpasang.


Jarak Nessa yang begitu dekat membuat Barnes dapat menghirup aroma wangi gadis itu, "Lo percaya?" tanya Barnes dengan menatap wajah Nessa.


Dengan kedekatan yang hanya berkisar 10cm itu membuat jantung Nessa berdebar begitu hebat nya hingga ia tak menyadari jika dirinya sudah masuk kedalam perangkap pesona Barnes.


"Lo denger, gue suka sama lo." Bisik Barnes sekali lagi ia mengutarakan perasaannya, perlahan kembali Barnes menautkan kedua benda kenyal yang terasa manis itu.


Kali ini Nessa tidak menolak, bahkan Barnes mengangkat tubuh gadis itu hingga kini Nessa berpindah duduk di atas pangkuan Barnes.


Terkadang keduanya saling memiringkan kepala agar dapat memperdalam ciumannya, hanyut dalam gelora asmara yang baru saja tumbuh tangan nakal Barnes meraba lekuk indah yang ada di atas pangkuannya itu, hingga__

__ADS_1


Brak!!!


__ADS_2