
Semangat pagi seperti cerahnya sang mentari yang tak sedikitpun terhalangi untuk menyinari si bumi tercinta ini.
Embun sejuk yang kian beranjak dari permukaan dedaunan yang dihinggapinya tak pernah merajuk dengan mentari dan angin yang setiap hari tak segan untuk menyingkirkan nya.
Secerah itu juga raut wajah tampan nan rupawan si Barnes Frankins, remaja tampan itu keluar dari mobil setelah ia memarkirkan kijang besi kesayangannya itu di parkiran yang tersedia diarea sekolah.
Berjalan dengan penuh semangat, sengaja remaja tampan itu melewati lorong-lorong yang menuju depan laboratorium biologi, tapu langkah kakinya terhenti sebelum ia mencapai emperan laboratorium biologi.
Ya... Ruang kelas XI IPS 3 lah tempat tujuan langkah kakinya berayun, bersandar di ambang pintu kelas itu Barnes menyapukan pandangannya ke seluruh ruang kelas IPS 3.
Ada wajah ayu yang tertunduk lesu di pojok belakang kelas, netra tajam si tampan nan rupawan terpatri di sana.
Senyum manis terpancar di wajah Barnes, segera ia mengayunkan kaki panjangnya untuk mendekati sang pujaan hati, siapa lagi memangnya kalau bukan Nessa?
Ya... hanya gadis itu yang dapat merubah suasana mendung hati Barnes menjadi cerah tanpa awan.
"Hai?" sapa-nya dengan senyum pepsodent, wajah tampan itu sedikit miring demi melihat wajah cantik yang seolah menghindari tatapan matanya.
"Nes? Lo sakit?" sedikit Barnes mencubit dagu Nessa dan ditariknya agar wajah cantik itu mendongak menatapnya.
Bukan tatapan rindu yang Barnes dapatkan, tapi netra berkaca-kaca yang remaja tampan itu dapatkan.
__ADS_1
"Hey-hey-hey... what happen Baby? Lo sakit? Lo nggak enak badan? Atau lo marah sama gue gegara dua hari nggak ada kabar?" pertanyaan beruntun itu keluar begitu saja dari mulut Barnes.
"Sorry, gue juga nggak tau kalo hari itu gue di ajak ke Jogja, Daddy pulang cepat dan Mommy pengen ke rumah eyang, juga di sana nggak ada signal, makanya..."
"Kita putus!" lirih tapi menusuk, begitulah kata yang menyela penjelasan Barnes.
"Lagi?" mengernyit Barnes mendapat p
No! Lo nggak boleh gitu dong! Hey sejak kapan lo se posesif ini Nes, gue pergi sama keluarga, bukan maen keluyuran yang nggak jelas!" Barnes masih berusaha menjelaskan.
TEK! TEK! TEK!
Suara ketukan spidol terdengar, membuat Barnes menoleh kearah sumber suara, dan ternyata Miss Fitria sudah memasuki ruang kelas Ness.
"Barnes! Ini bukan ruang kelas kamu, kan?" tanya Fitria dengan membenarkan kacamata di atas hidung bangirnya.
"Maaf Miss, tadi ada yang ketinggalan." sahutnya dengan menggaruk tengkuk.
"Apaan yang ketinggalan? Ayang lo ketinggalan?" seru salah datu murid yang duduk tak jauh dari Nessa.
"Lo kali yang nyasar gegara terlalu buchin itu!" timpal murid lain.
__ADS_1
"Huuuuuuuu!!!" sorak seluruh siswa dan siswi yang ada di dalam kelas itu.
"Ssshhhhttt!!! Keep silent please!" teriak Miss Fitria dengan suara lantangnya, hingga membuat semua siswa maupun siswi yang tadinya riuh mendadak diam.
"Barnes! Kembali ke kelas!" titah guru cantik itu.
"Iya Miss," sahut Barnes, ia berjalan keluar dari kelas Nessa, namun sebelum ia benar-benar menghilang dari ambang pintu, remaja tampan itu menengok kearah sang kekasih, yang terlihat sengaja membuang pandangan.
Berat hati Barnes, kenapa harus lagi-lagi Nessa minta untuk mengakhiri hubungan keduanya.
Setibanya di kelas, Barnes lagi-lagi dikejutkan oleh berita yang Bryna utarakan.
"Lo kemana aja sih?" pertanyaan dengan tampang datar terlontar.
"Biasa, ngapel," sahut Barnes enteng.
"Daddy telfon, katanya eyang kakung maksa buat kamu agar pindah ke pondok pesantren yang kita kemarin kesana," jelas Bryna.
"What?!" berteriak Barnes tak sengaja ia bersuara lantang di tengah-tengah keheningan ulangan pagi itu.
"Yang belakang, ada masalah?" tanya guru yang sedang duduk di depan kelas.
__ADS_1
Sungguh hari ini adalah hari yang sangat kacau bagi Barnes, nyatanya berita buruk terus saja menghampiri dirinya padahal hari masih terlalu pagi untuk memanas.
Tapi bagaimanapun itu keputusan yang sulit untuk Barnes sangkal dan tolak...