Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 42 "Pro dan Kontra"


__ADS_3

Barnes menggeleng pelan, "Kan sudah aku bilang, kalo ini Qodarullah, kita yang berikhtiar selama dua tahun, setia walau tanpa kabar sedikitpun, tapi kalau kehendak-Nya kita akan bertemu ya kita bertemu, kalau kita berjodoh, ayah mu yang menentang sekali pun akan kalah dengan para orang tua itu," jelas Barnes dengan memangkas jarak di antara keduanya.


Berdetak jantung Nessa kala jarak di antara mereka semakin menipis, bahkan untuk menghirup udara bebas saja terasa sesak di dada.


"Lo... Lo mau apa?" tergagap Nessa kala Barnes mendekatkan tangannya kearah dagu gadis cantik itu.


"Ini noda jus yang tadi masih belum bersih," ucap Barnes dengan menarik kain hitam yang tepat berada di bawah dagu Nessa.


Tertegun Nessa dengan mata yang mengedip pelan, sungguh otaknya berpikir tentang adegan yang tidak pantas untuk dia pikirkan, bahkan setelah Barnes melangkahkan kaki meninggalkan toilet wanita, Nessa masih termangu sendiri.


"Astaghfirullah, gue mikir apa coba?!" menggeleng kepala Nessa berusaha keluar dari dalam lamunan otaknya.


...("Sb&Sb")...


Di kota tepatnya di dalam hunian mewah yang terdapat banyak pengawal dan juga pelayan, seorang laki-laki paruh baya tengah mengeras rahang, ponsel canggih masih di genggamnya.


Bahkan kehadiran wanita cantik nan anggun di sampingnya saja tak ia hiraukan, "Yah?" sapa wanita cantik itu dengan menepuk pundak laki-laki berjas hitam itu.


Menoleh kearah sumber suara, barulah ia menyadari kehadiran sang istri yang mungkin sejak sedari tadi memperhatikan kelakuan absurd nya.


"Ada apa? Memangnya siapa yang telfon barusan?" tanya wanita cantik yang tak lain adalah Safira.


"Abah telfon..." menunduk juga meredup ekspresi kala Ferdi menjawab pertanyaan dari sang istri.


"Abah? Ada apa? Apa putri kita membuat masalah? Apa Nessa baik-baik saja?" mencecar suami tampannya, Safira dibuat khawatir dengan berita yang tak menentu.


"Maaf, Abah menjodohkan putri kita, tapi..."


"Bagus dong! Pilihan Abah pasti bukan yang kaleng-kaleng," sela Safira dengan bertepuk tangan.


Ferdi yang melihatnya pun hanya dapat memijit keningnya, "Jangan di ambil pusing, Abah menjodohkan putri kita tidak mungkin dengan anak berandal, pasti anak tampan dari pondok juga," cetus Safira menenangkan suaminya.


Ferdi menatap sang istri, "Tapi dia putri ku..."

__ADS_1


"Lalu kenapa? Dia di Ayah ku, dan tentu akan memberikan yang terbaik untuk cucunya, kenapa tidak dicoba saja dulu, kau selalu mementingkan egomu saja, apa kau lupa, anak kita hampir kehilangan semangatnya dua tahun yang lalu?" terdiam Ferdi mendengar istri kesayangannya menjadi banyak bicara seperti saat ini.


"Terserah!" cetus nya kemudian beranjak dari tempatnya, meninggalkan Safira dengan rasa kecewa yang diembannya seorang diri.


Di sisi lain...


Dimeja makan yang di atasnya tertata rapi dengan berbagai macam hidangan, namun tak banyak yang menikmatinya, ya hanya Cakra dan Helen saja, karena Barnes masih di pondok pesantren sedangkan Bryna baru saja terbang ke New York menyusul aunty Alinda tersayangnya.


Denting garpu, sendok yang beradu dengan piring keramik mengisi keheningan ruang makan itu.


Tak ada sedikitpun suara manusia kala keduanya tengah memulai ritual makan malamnya, sampai...


Krrrrrriiiiiinnngggg!!!


Krrrrrriiiiinnnggggg!!!


Dering telepon rumah membuyarkan keheningan hakiki tersebut.


Bersamaan keduanya berdiri dari kursi, "Biar aku saja," ucap Helen yang menghentikan gerakan Cakra, laki-laki dua anak itu kembali meletakkan pantatnya di atas permukaan kursi.


"Siapa Yank yang telfon?" tanya Cakra setelah ia menenggak satu gelas air putih yang menyegarkan.


"Ayah..." sahut Helen lirih, seperti ada rasa tak semangat di dalam nada bicaranya.


Tatapan Cakra terfokus kearah wajah cantik sang istri, dimana nada lirih tadi lah yang memicu ke fokusan Cakra.


"Kenapa? Masih membahas soal perjodohan?" santai nada yang Cakra gunakan, berbeda dengan ekspresi khawatir yang Helen guratkan.


"Coba nurut saja, lagi pula ayah mu tidak akan meilihkan jodoh yang buruk untuk putra kita, siapa tau dia seorang hafidzoh," celetuk Cakra, berniat agar suasana hati Helen berubah, namun tidak begitu__


"Tadinya ku pikir begitu, dan saat aku mengkhawatirkan masa lalu anak kita, ayah mulai berkata kalau gadis yang ia pilih masa lalu nya tak jauh beda dengan anak kita, berati dulu dia gadis urakan juga dong?!" menghela napas Cakra kala ia mendengar protes sang istri.


"Lalu kau mau menantu yang seperti apa? Hem?" terdiam membisu Helen, setelah dipikirkan lagi memang lebih baik seorang pendosa yang berhijrah dari pada seorang alim yang mempunyai sifat sombong, satu poin itu membuat Helen memikirkan untuk sedikit menurut dengan keputusan sang ayah.

__ADS_1


"Kita ikuti dulu alurnya..."


"Tapi anak kita belum kerja Yank, dia kan masih harus kuliah!" sekali lagi pendidikan dan pekerjaan dibutuhkan untuk menopang kehidupan kedepannya.


"Kau lupa siapa suami mu?" Cakra memiringkan wajahnya agar Helen dapat melihat ekspresi seriusnya.


"Tentu saja tidak! Tapi apa Barnes akan terus hidup dengan bayang-bayang orang tuanya?"


"Bukan begitu sayang, Barnes kita lahir kan untuk mewarisi kedudukan ku, jika dia bekerja di perusahaan lain, siapa yang akan meneruskan perusahaan yang susah payah dibangun ini?" sedikit tegas Cakra membuka pikiran istrinya.


Namun bukan begitu maksud Helen, ibu dua anak itu hanya khawatir, entah apa yang membuat benaknya tidak bisa tenang, yang jelas setiap kali membahas tentang perjodohan putranya, Helen selalu menentang.


"Kita coba saja dulu, ya!" bujukan Cakra akhirnya membuahkan hasil anggukan kepala.


...("Sb&Sb")...


Hari pertemuan dua keluarga pun berlangsung, keluarga besar Valeno Santoso bersama dengan keluarga besar Ahmad Akhiyar sudah berkumpul.


Selalu resto pesisir pantai selatan lah tempat favorit mereka setiap kali bertemu, jangan pikir jauh dari Jawa Timur Akhiyar membawa Nessa, mereka memilih untuk tinggal di penginapan selama menunggu hari H.


Akhiyar bersama Nessa dan kedua orang tua gadis itu yakni Ferdi dan Safira sudah duduk menikmati hidangan yang tersedia.


"Aki yakin sudah menghubungi Eyang Valen?" tanya Nessa, sedikit gelisah gadis itu kala menilik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Yang benar saja, mereka sudah menunggu selama hampir satu jam di resto tempat janjian mereka, tapi batang hidung Barnes dan keluarganya sedikitpun tak terlihat.


"Sabar sayang, mungkin sebentar lagi," Akhirnya berusaha menenangkan cucunya. Tapi ini sudah lima puluh lima menit mereka duduk di sana.


"Aki punya nomor telfon Eyang?" sekali lagi Nessa bertanya, dan itu membuat Akhiyar tersenyum, tapi tidak dengan Ferdi.


Ayah biologis dari Nessa itu malah seolah mencibir pilihan sang ayah mertua, "Sepertinya mereka tidak serius," cetus nya yang membuat Safira mencubit pinggangnya.


"Maaf kami terlambat, tadi ada sedikit kendala," terdengar suara Valeno yang membuat Akhiyar dan keluarga menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


Membulat sempurna netra Ferdi kala ia melihat sosok yang berdiri di samping laki-laki tua yang baru saja berucap.


"Tidak mungkin!!...


__ADS_2