Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 17 "Putus"


__ADS_3

Barnes dengan hati yang dipenuhi kebun bunga-bunga yang bermekaran terus saja wajah tampan itu menampilkan senyum manis yang tak kunjung memudar.


Mungkin benar kata orang, jika suasana hati, akan lebih mempengaruhi kegiatan sehari-hari.


Bahkan Aldy dan Bryna yang bertanya seputar soal mata pelajaran dijawab dengan nada yang lembut oleh Barnes, "Untung tadi Nessa muncul," bisik Aldy di samping Bryna.


"Ssshhhttt, nikmatin aja udah." bisik Bryna di tengah-tengah acara lomba berlangsung.


"Asli, otak kembaran lo emang tok cer!" kembali Aldy berbisik.


"Ish, maksud lo gue bego?" sedikit sensitif Bryna melirik sadis kearah Aldy.


"Bukan begitu By, lo tetep keren kok!" Aldy mengacungkan jempolnya dengan sebelah mata yang mengedip.


"Ish, mulai deh." sahut Bryna dengan memutar bola matanya.


Aldy hanya mengulum senyum dengan terus memandangi gadis yang bertampang datar tapi sebenarnya baik itu.


Barnes yang tak sengaja menoleh dan menatap Aldy yang masih memasang senyum kekagumannya segera merubah ekspresi wajahnya, "Ngapain lo senyum-senyum liat kembaran gue?!"


Mendapatkan pertanyaan bernada ketus Aldy sedikit tersentak, ia segera mengalihkan pandangannya.


"Eh e... enggak kok, gue tadi mau ini, mau itu..." tergagap Aldy menyahuti pertanyaan Barnes.


"Awas ya kalau sampai lo macem-macem sama kembaran gue!" Barnes mencengkeram kerah baju Aldy.


"Bar! Lo apaan sih?! Acara masih lanjut ini! Malah bikin ribut!" gertak Bryna dengan mencubit pinggang kembarannya itu.


"Aduh!" Barnes mengeluh dengan mengelus pinggangnya, ia melepaskan kerah baju Aldy, kemudian ketiga murid pilihan dari SMA Nusa Bangsa itu kembali fokus dengan acara yang memang belum selesai.


Di tempat lain...


tepatnya di kantin sekolah, setelah pagi tadi Nessa menghindari Rifki, jujur saja ia tak mau terlihat berduaan dengan laki-laki lain disaat pacarnya tidak ada di area sekolah, takut gadis cantik itu jika sampai muncul gosip-gosip yang tidak baik untuk hubungan percintaannya.


Tapi walau pagi tadi menghindar, siang ini saat jam istirahat, Nessa yang tengah asik menikmati makan siangnya di kantin tiba-tiba di datangi Rifki dan dua temannya.


"Hay Nes?" sapa Rifki yang tanpa permisi langsung menduduki kursi kosong yang ada di depan Nessa.

__ADS_1


Tersentak gadis itu, terdiam tak menyahuti sapaan Rifki, Nessa menatap tak suka kepada ketiga laki-laki yang kini duduk di hadapannya.


Memang mereka terhalang oleh meja tapi Nessa tetap merasakan ketidak nyamanan, "Kok diem aja sih?" sekali lagi Rifki bersikap sok akrab dengan Nessa.


"Jangan sok akrab deh lo!" ketus Nessa.


"Heh, lo itu pacaran sama Barnes nggak nganggep temen Barnes, temen lo juga? Hah?!" ketus Aldo berucap.


Kembali terdiam Nessa, ia memilih untuk segera menghabiskan makan siangnya dan segera pergi dari kantin itu. Namun tidak selancar keinginan dan bayangannya.


Gadis itu baru saja berdiri dari tempat duduknya, tapi tangan Rifki dengan cepat meraih pergelangan tangan Nessa.


"Gue nggak main-main kali ini Ness, gue mau jujur sama lo, gue sebenarnya yang paling tersiksa saat mendengar lo jadian sama Barnes." ungkap Rifki.


Dheg...


Bagai tersambar petir disiang bolong, Nessa mencium adanya bau-bau kerikil dan duri tajam didalam hubungan asmaranya.


"Sorry bukannya gimana-gimana, gue cuma nggak mau temen gue jadi cowok tukang PHP." imbuh Rifki kala melihat Nessa terdiam, sepertinya ia berhasil mendapatkan atensi dari gadis cantik itu.


"PHP?" ulang Nessa.


"Gue nggak ngerti lo ngomong apa!" cetus Nessa.


"Kedekatan lo sama Barnes itu gara-gara ide konyol yang gue berikan kepada Barnes! Lo tau permainan Truth or dare? Nah waktu itu kita bermain, dan Barnes yang kena."


"Terpaksa dia milih Dare, dan yang gue tau Barnes itu anti banget dengan yang nama nya cewek, dia paling nggak suka, ribetnya cewek, lamanya cewek, rempongnya cewek." imbuh Rifki, sejenak ia menghela napas.


Baru mendengar itu saja Nessa sudah merasa dadanya sesak, "Sorry Ness, tapi gue nggak mau temen gue terjerumus kedalam lembah kebohongan."


"Menimbang dari kekurangan Barnes, gue tak sengaja liat lo yang mau latihan basket dan spontan gue nyuruh Barnes buat cium lo, dengan ancaman kalau dia nggak cium lo, maka akan ada kutukan yang selalu menghantuinya." jelas Rifki.


"Jadi dari sana dia mulai deketin lo."


Bergetar bibir Nessa, pandangan gadis itu memburam seketika, karena netra bulatnya dipenuhi oleh cairian bening yang siap meluncur.


"Sorry, gue harus pergi!" pamit Nessa dengan berlari meninggalkan ketiga bujang.

__ADS_1


Senyum semirik terlihat di ujung bibir Rifki, ia masih setia memandang punggung Nessa yang kian menjauh.


Didalam kamar mandi, Nessa mengunci diri, ia merasa hancur sehancur-hancurnya, duduk di atas toilet duduk, Nessa menangis sejadinya, "Nggak mungkinkan? Yang dibilang Rifki nggak beber, kan?"


Tersedu-sedu Nessa, kedua telapak tangan terus mengusap pipi yang basah karena air mata.


Waktu memang berlalu begitu cepat jika kita tak memantaunya, kini jarum jam sudah menunjukkan waktu sore hari, 15.05 WIB.


Terlihat sebuah mobil Van hitam berhenti tepat di depan parkiran sekolah.


Nessa yang baru saja keluar dari dalam kelas segera berhenti, sedikitpun ia tak mau menyatroni kekasihnya yang masih didalam.


Barnes melihat Nessa yang masih bergeming ditempatnya, kemudian tanpa pikir panjang Barnes segera keluar dari dalam mobil, remaja tampan itu setengah berlari dengan menggenggam piala Jura satu yang ia dapatkan.


Tapi ternyata tak sesuai ekspektasi...


Baru saja Barnes hendak memeluk Nessa, tapi kedua tangan Nessa lebih dulu mendorong dada bidang milik Barnes.


"Baby? Why?" tanya Barnes dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Kita putus!" cetus Nessa.


"No, no, no, no, no! Nggak bisa!" tolak Barnes dengan tegas.


"Terserah lo, pokoknya gue mau kita putus!" berteriak Nessa berucap.


"Gue yang duluan bilang suka sama lo! Jadi gue juga yang berhak memutuskan hubungan ini, dan gue nggak mau kita putus!" teriak Barnes tak kalah kerasnya.


"Terserah lo! Yang jelas gue mau kita putus!" kembali Nessa berteriak, setelahnya Nessa berlari meninggalkan Barnes yang masih terdiam berdiri ditempatnya.


Sesak dada remaja tampan itu, pandangan kosong menghiasi netra tajamnya, semangat yang semula berapi-api kini meredup menjadi mendung gelap yang bersiap meluncurkan hujan deras dari pelupuk mata.


"Sabar, mungkin Nessa lagi PMS." ucap Bryna dengan menepuk pelan pundak Barnes.


Kembaran Bryna itu perlahan menoleh dan menatap wajah datar Bryna, "Na, gue sakit!" ucap Barnes dengan menitikkan satu bulir bening dari pelupuk matanya.


Bryna baru kali ini melihat kembarannya sehancur ini, ditariknya kepala Barnes, Bryna menempatkan wajah tampan Barnes di pundaknya, berusaha menjadi kakak yang memenangkan sang adik, walau bertampang datar Bryna mempunyai empati yang tinggi.

__ADS_1


Barnes memeluk tubuh saudara kembarnya, meluapkan seluruh rasa sesak didalam dadanya...


__ADS_2