Si Bobrok Dan Si Brutal

Si Bobrok Dan Si Brutal
BAB 18 "Sesi Curhat Bunda Safira"


__ADS_3

Dari permukaan air bening yang berwarna kebiruan terlihat seorang pemuda tengah mengapungkan tubuhnya dengan posisi terlentang, dan mata yang terpejam.


Gerakan tangannya mendayung pelan, terlihat indah dengan permukaan kulit perut yang membentuk kotak-kotak samar berjumlah enam.


"Bar! Mau sampe kapan lo berenang? Bolak-balik kaya kapal nelayan gitu? Coba aja berenang lo di laut lepas Samudera Hindia sana, pasti udah nyampe benua Australia kali lo." mendengar suara Bryna mata tajam yang terpejam itu perlahan terbuka sipit.


"Iya Bar, bener kata Bryna, untung lo di kolam renang, lo kenapa coba sampe kek kehilangan semangat gitu? Padahal team kita menang, juara satu plus juara favorit juga." timpal Aldy yang saat itu duduk di sofa, di samping Bryna, kedua remaja itu sejak pulang dari sekolah tadi hanya duduk memperhatikan Barnes yang terlihat linglung dan berakhir berenang di kolam renang yang ada di taman belakang rumahnya.


"Na! Teman nya di ajak makan, bentar lagi adzan maghrib loh!" teriak Helen dari arah dapur.


"Iya Mom!" sahut Bryna.


"Bar! Momy udah teriak-teriak itu!" cetus Bryna, sungguh ia tak tega meninggalkan kembarannya yang tengah terpuruk itu.


"Dah kalian duluan aja!" sahut Barnes masih di posisi awalnya.


Di sisi lain...


Didalam sebuah hunian yang tak kalah mewah dari kediaman keluarga Barnes, Nessa tengah duduk bersama kedua orang tuanya, di meja bundar ruang makan gadis itu duduk dengan memainkan sendok juga garpu nya.


Sedikitpun tak ada niatan untuk memasukkan satu suapan nasi kedalam mulutnya, Safira sang ibunda yang peka akan perasaan yang tengah mengganggu putrinya menatap sang putri dengan terkaan-terkaan yang memenuhi otaknya.


"Dimakan sayang, jangan di buat sepakbola begitu nasinya!" ucap Safira lembut.


Nessa sejenak menatap ibundanya, "Kok sepakbola sih Bun?" tanya Safira, sejenak kegundahan hatinya teralihkan.


"Lah itu kamu cuma mengoper dari sendok ke garpu, dari garpu ke sendok begitu terus dari tadi." jelas Safira.


Tak ada tawa seperti biasanya, padahal Nessa terkenal dengan gadis yang mudah tertawa dengan candaan-candaan receh, tapi tidak untuk malam ini.


Safira menghela napas dalam, "Kamu ada masalah?" tanyanya lagi.


Nessa hanya menggeleng, Ferdi selaku kepala keluarga yang sedari tadi asik dengan hidangan dihadapannya, kini mulai menatap istri dan anaknya secara bergantian.


"Kalian kenapa?" tanya Ferdi yang menghentikan sejenak kegiatan makan malamnya.

__ADS_1


"Ini Yah, Nessa..."


"Nggak papa kok Yah, Nessa lagi banyak tugas aja! Nessa permisi mau belajar!" Nessa menyela ucapan Safira, kemudian gadis SMA itu meletakkan kedua sendok dan garpu nya di atas nasi yang sedari tadi dimainkannya.


Ferdi dan Safira hanya menatap kepergian anak gadisnya.


"Ada apa? Kenapa dia menjadi pendiam? Ada yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Ferdi yang sepertinya mencium aroma-aroma masalah.


Safira menggeleng pelan, "Entahlah, biar nanti Bunda yang bicara."


Ferdi hanya mengangguk, ia kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda.


Di dalam kamar...


Bukan nya membuka buku pelajaran seperti yang dikatakan saat di meja makan tadi, Nessa malah duduk di balkon kamarnya, ia melihat kolam renang yang terlihat dari kamarnya.


Sejenak air kolam yang membiru itu terlihat tenang dan biasa saja, tapi kemudian di sana terlihat senyum manis Barnes.


Tersentak Nessa kemudian ia mengedipkan matanya beberapa kali, bahkan dia usap-usap sepasang mata nya. Dan ketika kembali ia melihat kearah kolam, di sana ada mang Ujang, si sopir pribadi keluarganya yang sering mengantar dan menjemputnya.


"Eh Bunda, kaget aku." gumamnya dengan mengelus dadanya.


"Kamu nggak mau cerita apa gitu? Oh iya lombanya Barnes gimana? Pasti dia menang dong, barusan Bunda liat di IG, SMA Nusa Bangsa menang juara satu juga juara favorit loh." cecar Safira dengan berjalan mendekati putrinya yang masih stay di atas balkon.


Jantung Nessa terasa berdetak lebih cepat kala ia mendengar nama Barnes di telinganya, terdiam gadis itu masih berusaha menenangkan dirinya.


"Tumben anak Bunda diem aja pas diajak bahas Barnes, nggak kayak biasanya, kenapa? Kalian berantem? Atau Barnes banyak fans di tempat lombanya? hem? Kenapa sayang? Cerita dong!" Safira mengelus pucuk kepala Nessa, gadis itu malah menyandarkan kepalanya di pundak sang ibunda tercinta.


Tempat ternyaman seorang gadis dikala ia tengah dilanda masalah adalah pelukan hangat sang ibunda.


Benar saja, setelah lumayan lama Nessa berada di dalam dekapan Safira ia sedikit merasa lega dan nyaman.


"Siap cerita?" tanya Safira dengan memiringkan kepalanya demi melihat wajah cantik yang berubah sendu itu.


"Menurut Bunda, Barnes jahat nggak sih kalau jadiin Nessa bahan taruhan?" tanya Nessa akhirnya.

__ADS_1


Dheg!!!


Safira merasa dadanya di hantam batu besar kala mendengar pertanyaan sang putri, pertanyaan serta terkaan-terkaan yang tidak-tidak mulai bermunculan di dalam pikirannya.


Tapi mengingat Barnes yang selalu sopan dihadapannya, juga terlihat sangat menghargai Nessa, Safira sebisa mungkin menepis terkaan-terkaan negatif yang ada didalam otaknya.


"Bunda kok diam?" tanya Nessa mendongak melihat sang ibunda.


Safira terlihat menghela napas, "Memangnya kamu di bikin taruhan sama Barnes? Terus taruhan yang bagaimana?"


"Bukan Barnes sih, tapi temannya." sahut Nessa lirih.


"Loh, gimana sih? Maksudnya teman Barnes jadikan kamu taruhan, tapi Barnes nya setuju aja?" tanya Safira yang masih belum mengerti.


"Nggak juga sih Bun, jadi ceritanya tuh gini..." akhirnya Nessa menceritakan rentetan cerita yang Rifki sampaikan dari game truth or dare sampai dirinya dicium tanpa alasan saat di toilet setelah pertandingan basket.


"Ya ampun, jadi Barnes bela-belain bolos sekolah cuma mau jadi cheerleadernya team kamu?" bukan ciuman yang menjadi atensi Safira, ia lebih berpikir netral, berusaha untuk tidak memihak salah satu dari mereka.


"Sebenarnya Barnes salah, tapi tidak semua kesalahan terletak pada dia, kamu tau nggak biang permasalahannya?" tanya Safira masih dengan nada halusnya.


Nessa mengangguk, "Rifki kan Bun?"


"He'em, dia yang punya ide itu, kan?" Safira sedikitpun tidak memperlihatkan emosi kala tau anak gadisnya dijadikan bahan taruhan.


"Iya, tapi Nessa keburu putusin Barnes..." lirih Nessa.


"Ya bagus!" datar Safira berucap, kini Nessa menatap sang ibunda yang terlihat berbeda, ada sedikit nada yang tidak biasa Safira gunakan, "Kok bagus? Bunda nggak suka ya kalau Nessa pacaran sama Barnes?" gerutu Nessa.


"Loh kan udah putus, ya udah dong, kenapa masih mempermasalahkan jawaban Bunda?" tanya Safira.


Nessa terdiam, dia sendiri bingung dengan isi hatinya, "Kamu masih suka sama Barnes?" tanya Safira.


Tak ada jawaban, Safira menarik putrinya agar masuk kedalam dekap peluk hangatnya lagi, "Kalau masih suka, kenapa harus putus? Jadi orang jangan plin-plan, toh kamu belum mendengarkan penjelasan dari Barnes." ucap Safira dengan mengelus kepala Nessa.


"Terus gimana dong Bun?" tanya Nessa.

__ADS_1


"Ya terserah kamu, mau gimana, Nessa udah gede bentar lagi kelas XII, jadi jangan gegabah, mending rehat aja bentar." saran dari Safira membuat Nessa semakin gundah.


__ADS_2