
Setelah pembahasannya malam tadi dengan sang Ibunda, akhirnya pagi ini Nessa memutuskan untuk mengikuti kata hatinya.
"Hidup itu cuma sekali, jangan kau salah pilih jalan, lagi pula kalau sampai kamu dikeluarkan dari team, ya sudah biar mereka pusing cari pengganti, jangan takut, toh pak Andre sendiri yang nunjuk kamu jadi anggota basket." masih saja terngiang ucapan panjang lebar Safira sebelum Nessa hanyut dalam bahtera mimpinya semalam.
Pagi ini dengan semangat yang ia mantapkan, Nessa berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan si tampan yang sejak kemarin mengabaikan dirinya.
Senyum merekah membentuk lengkung indah dibibir pink nude milik Nessa, tatkala netra bulatnya menemukan orang yang dicarinya.
Barnes tengah berkumpul dengan teman-temannya, seperti biasa depan laboratorium biologi adalah tempat favorit anak-anak nakal itu, bersenda gurau mereka tapi seperti biasa raut wajah Barnes terlihat irit senyum dan bertampang garang.
"Barnes!" teriak Nessa dengan melambaikan tangan, gadis itu berlari kearah depan laboratorium biologi.
Mendengar namanya dipanggil sontak Barnes menoleh namun ketika ia melihat Nessa yang datang mendekat dia segera berdiri dari duduknya, "Eh gue duluan ya!" pamit Barnes dengan meninggalkan teman-temannya.
Sedikit rasa kecewa Nessa rasakan saat ia melihat Barnes yang sepertinya sengaja menghindari dirinya.
Terhenti langkah kaki Nessa tepat di samping Rifki, tatapan sendu ia arahkan kepada punggung bidang yang kini kian menjauh, sedikitpun Barnes tak menoleh kearahnya.
"Hay Nes? Gabung yok!" ajak Rifki.
"Nggak Rif sorry gue masih ada perlu!" Nessa membuang jauh-jauh egonya, ia segera berlari mengejar Barnes yang sudah hilang tertutup tembok pembatas kelas.
Rifki hanya menatap gadis itu berlari menjauh, "Kalian curiga nggak kalau mereka ada something?"
Mendengar pertanyaan Rifki Jody dan Aldo sontak menoleh bersamaan, "Loh, bukannya lo sendiri yang punya ide gila nyuruh Barnes cium Nessa? Kalau pun mereka marahan atau pun jadian pada akhirnya, ya udah lah los aja, toh itu ide gila datang dari lo kok!" cetus Aldo yang di angguki setuju oleh Jody yang tengah sibuk mengupas biji kuaci.
Di belakang gudang sekolah...
"Barnes tunggu!" teriak Nessa dengan berlari mengejar laki-laki tampan yang sejak kemarin sore mengabaikan dirinya.
Berhenti Barnes, sedikit ia menoleh kearah Nessa, "Haaahhh... haaahhh... Gila lo! Di panggil dari tadi nggak berhenti, kenapa sih?!" gerutu Nessa dengan membungkuk memegangi lututnya, bahkan nafasnya masih ngos-ngosan.
"Memangnya ada perlu apa? Ada yang bisa gue bantu?" datar nada yang Barnes gunakan, bahkan seketika hawa disekitar mendadak menjadi dingin mencekam, mungkin rasanya seperti ada gletser yang tiba-tiba nyasar dilingkungan sekitar mereka.
Gemas dengan sikap Barnes yang sok cuek Nessa menggeser posisinya hingga ia berdiri didepan Barnes.
Walau Nessa atlet basket, tapi tinggi Barnes tetap lebih tinggi satu jengkal darinya. Sedikit mendongak Nessa menatap netra yang selalu menghindari tatapan matanya.
"Bar lihat gue!" ucap Nessa dengan memegang pipi Barnes kanan dan kiri, tatapan dingin nan tajam kini menatap wajah cantik yang sedikit mendongak.
"Lo marah sama gue?" tanya Nessa.
"Memangnya siapa lo? Apa hak gue buat marah sama lo?" kembali Barnes bersuara dengan bumbu gletser yang begitu dingin.
"Kata lo kita pacaran." hampir bertaut kedua alis Nessa mengucap kata itu.
"Kita? Gue kali yang nganggep gitu!" Barnes menepis pelan kedua tangan Nessa yang masih bertengger diwajahnya, kemudian ia menyugar rambutnya keatas dan sejenak menghela napas berat.
__ADS_1
Kembali Barnes menatap Nessa yang masih berdiri didepannya, sedikit menunduk laki-laki itu mendekati wajah cantik Nessa, "Sorry udah curi you'r first kiss." ucap Barnes dengan suara yang hampir berbisik.
Sedikit rasa sesak menyelimuti hati Nessa, kenapa rasanya seperti ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya?
Memangnya sejak kapan rasa yang berlebihan ini tumbuh?
Terlihat Barnes melihat arloji hitam yang melingkar macho di pergelangan tangannya, "Udah mau bel masuk, balik ke kelas gih!" ucapnya.
Bukannya menurut, Nessa malah menatap Barnes dengan mata yang berkaca-kaca, melihat itu kembali napas berat dihembuskan Barnes.
"Jangan nangis! Gue nggak bully lo ya!" peringatan bernada dingin itu keluar dari mulut Barnes.
Mendengar itu bulir bening dari dalam pelupuk mata Nessa malah meluncur dengan deras, membasahi pipi putih yang mulus itu.
"Hais!!!" Barnes mengusap wajahnya frustasi, "Mau lo apa sih?" sedikit bernada lembut Barnes bertanya, jujur saja ia tak sampai hati melihat wajah cantik yang akhir-akhir ini mengusik hati dan pikirannya berderai air mata.
Nessa menatap balik wajah tampan yang terlihat dingin itu, "Gue...em... Lo..." mendadak Nessa kehilangan nyali untuk menyatakan perasaannya.
Pandangan gadis itu kembali meliar kemana-mana, "Ngomong yang bener!" tegur Barnes dengan mencubit dagu Nessa agar gadis itu kembali menatap kearahnya.
"Jangan cuekin gue! Jangan diemin gue kayak gini!" cetusnya dengan menatap wajah tampan di hadapannya.
"Terus? Gue harus gimana?" tanya Barnes.
Tak menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Barnes, Nessa malah berjinjit serta kedua tangan nya menarik tengkuk leher Barnes, dan...
Satu kecupan yang dimulai Nessa membuat hati Barnes berdesir, cuek juga dingin yang dilakukannya ternyata tidak mampu menutupi rasa aneh yang selalu hadir saat kedua bibir mereka saling beradu.
"Sorry, gue terlalu bodoh untuk mengakui perasaan, sebenarnya gue juga suka sama lo." ucap Nessa setelah ia melepaskan kecupan singkatnya.
Barnes terlihat memejamkan mata ia menarik napas panjang, lalu kemudian menarik lengan Nessa untuk dia ajak masuk kedalam gudang yang ada di samping mereka berdiri.
Brak!!!
Pintu gudang tertutup, Barnes memojokkan tubuh Nessa, tatapan dingin seketika berubah menjadi tatapan penuh damba, "Jujur semalam nggak ada kabar dari lo, gue kangen." bisiknya.
Nessa hanya tersenyum, "Sorry..."
"Ssshhhh..." Barnes menutup bibir yang selalu mengucap kata maaf itu dengan jari telunjuknya.
Nessa terdiam dengan menatap jari telunjuk yang bertengger di bibirnya, kemudian netra bulat itu perlahan menatap wajah tampan yang kini berjarak sangat dekat dengannya, entah kapan dimulainya kini kedua remaja itu sudah saling memagut.
Terpejam keduanya menikmati gelora asmara yang siap membakar gairah didalam jiwa.
Nessa mencengkeram kerah seragam Barnes, dengan nafsu yang sama besarnya, keduanya saling menyesap satu sama lain, hingga kedua tangan Barnes mulai meraba pinggang ramping yang kemudian sebelah tangannya merambat ke punggung, sedang tangan yang lain meraba bagian depan, dan semakin keatas sampai lah di gundukan kenyal yang bulat penuh.
"Hah... Bar!" terkejut Nessa dengan perlakuan liar Barnes, terpaksa ia melerai ciuman panasnya.
__ADS_1
Netra tajam yang berubah sayu itu menatap dengan sedikit sorot kecewa, "Sorry..."
"Ah, maksud gue..."
Grek!!
Klak-klak-klak...
Pintu gudang dibuka sari luar, seketika napas seperti tertahan, bagaimana jika kedua remaja itu terciduk tengah berduaan di dalam gudang sekolah?
Apakah harus mereka masuk kedalam ruang BK sedangkan baru kemarin mereka mendapatkan hukuman dari Vera sekalu guru BK.
Krieeeeeettt...
Kali ini pintu benar-benar terbuka, terlihat sepasang kekasih masuk ke dalam gudang, "Tasya?" gumam Nessa yang melihat kapten team basketnya berduaan dengan seorang laki-laki.
"Ssshhh... Diam lah dulu!" bisik Barnes dengan menempelkan jari telunjuknya dibibir Nessa.
"Tapi mereka..."
"Lo mau kita ketangkep?"
"Ya, nggak sih." keduanya bercakap dengan nada lirih, bahkan lebih ke saling berbisik.
"Ahhh..." melotot kedua netra Barnes dan Nessa kala mendengar suara laknat.
Keduanya kini beralih menatap kearah sumber suara, di sana mereka melihat Tasya berdiri menghadap ke dinding sedangkan pemuda dibelakangnya tengah bergerak maju mundur dengan sesekali menghentak.
Bersamaan Nessa dan Barnes mengalihkan pandangan, tapi tak sengaja wajah keduanya saling berhadapan.
Entah apa yang ada di pikiran kedua remaja itu, wajah keduanya memerah, keheningan didalam gudang dihiasi dengan suara lenguh des-ah, dari suara Tasya.
Gemetar lutut Nessa kedua tangan gadis itu berpegangan pada dada Barnes, "Lo kenapa?" bisik Barnes di samping telinga Nessa.
Gadis itu hanya menggeleng pelan kepalanya, "Sabar ya, bentar lagi kita keluar." bisik Barnes berusaha menenangkan gadis yang kini bersandar dibelahan dadanya.
"Ntar gue transfer!" terdengar suara pemuda yang bersama Tasya berucap sebelum pergi meninggalkan Tasya.
Brak!!!
Pintu gudang tertutup dengan kasar, Barnes dan Nessa melihat Tasya terduduk dengan suara rintih tangisan.
"Sya?" tidak tega dengan kondisi temannya, Nessa lebih dulu berjalan mendekati Tasya.
Tersentak Tasya mendapati kedatangan Nessa, "Ngapain lo disini?!" ketus Tasya.
"Dia sama gue!" tatapan tajam Barnes terlihat diraut tampan Barnes yang berjalan dibelakang Nessa.
__ADS_1
"Hah? Barnes? Kalian..."