
Sampai larut kedua insan yang mengklaim julukan pengantin baru itu masih bergelut mesra didalam ruangan yang berukuran 10x15 meter persegi itu.
Tidak hanya ranjang berukuran king size yang menjadi tempat perbuatan pergulatan manis kedua insan itu.
Apakah tidak sakit?
Apakah tidak lelah?
Sakit hanya Nessa yang merasakannya, tapi Barnes pandai dalam merayu kekasih hatinya itu hingga gadis yang sudah bukan lagi perawan itu mau melanjutkan aksi panas keduanya.
Teriakan melengking disertai dengan menancapnya kuku jari tangan Nessa juga sempat terdengar tadi, bahkan Barnes hampir saja menghentikan kegiatan panasnya karena melihat air mata yang menetes di sudut mata sang istri tercinta.
Tapi lagi-lagi rasa nikmat yang Nessa berikan, juga cengkeraman hangat didalam sana membuat Barnes memutar otak, mencari cara agar istrinya juga merasakan kenikmatan dibalik rasa perihnya.
Dan itu berhasil, bahkan Nessa sendiri yang meminta Barnes untuk melanjutkan gerakan erotisnya.
"Ahh... Baby... emh..." erangan demi erangan lembut suara Nessa membuat Barnes semakin bersemangat untuk bergerak.
Kini keduanya berada di sofa, mencoba gaya lain yang tidak itu-itu saja.
Apalagi ditambah dengan rasa rindu yang masih menggebu, Barnes sesekali menggigit cuping telinga Nessa demi mengalihkan rasa perih yang masih Nessa rasakan.
"Barneshhh... hah... hah... pelan sedikit sayang!" ucapnya ditengah desah yang melanda.
"Ough... kau sangat cantik honey," mengigit bibirnya bawah Barnes menikmati kecantikan alami yang terjaga, bangganya ia ketika mengingat bahwa hanya dirinyalah yang dapat melihat ciptaan Tuhan ini.
"Uuhh... jangan lihat! Aku malu!" ucap Nessa dengan menutupi wajahnya.
"Jangan malu sayang, ini semua..." Barnes memindahkan tangan Nessa yang menutupi wajah cantiknya, ia cengkeram kedua pergelangan tangan Nessa, dan ditahannya keatas kepala.
Sebelah tangannya yang lain, Barnes meraba wajah Nessa, kemudian turun keleher, dan menuju semakin kebawah, bahkan gundukan kenyal yang berukuran kembar itu tak lalai ia belai.
"Hak suami tampan mu ini," sambung Barnes setelah ia cukup meraba tubuh istrinya.
Semakin Nessa berteriak, makan semakin cepat pula pacuan Barnes, hingga menggoyangkan sofa persegi panjang, yang harusnya sofa duduk, kini telah berubah menjadi sofa goyang.
Bosan dengan posisi di sofa, Barnes menggendong istrinya dengan posisi kedua inti mereka masih menyatu.
"Baby jangan begini, aku berat!" celetuk Nessa yang khawatir jika suaminya kelelahan.
"Kau takut jatuh?" tanya Barnes yang hanya di anggukki kepala oleh Nessa.
"Kaitkan kedua kakimu di belakang pinggangku!" titahnya dengan berbisik, bahkan tak lupa Barnes memainkan benda tak bertulangnya diceruk leher sang istri.
Nessa patuh, ia melingkarkan kedua kaki jenjangnya di pinggang suaminya, kemudian kedua kaki Nessa saling mengait di belakang pinggang Barnes.
__ADS_1
^^^Diluar, kamar...^^^
Zidan dan Wahyu masih duduk didepan kamar yang masih tertutup rapi itu, keduanya sama-sama terdiam, sesekali wajah keduanya merah kala suara Nessa lolos dari ruangan pengantinnya.
"Dan? Gimana kalo kita balik kamar aja?" Wahyu sudah merasa ngantuk, lagi ia tau jika terlalu banyak mendengar suara-suara lucknut itu akan mengusik benda tidur dibalik celananya.
Zidan setuju dengan saran yang Wahyu berikan, setibanya mereka di kamar tamu, Zidan berbaring di ranjang yang masih kosong.
Sedangkan Wahyu masih sibuk menata barang, keduanya sama-sama terdiam, bagaimana tidak? Suara-suara desah manja dan erangan dari kamar pengantin masih saja mengganggu kesingkronan otak kedua bujang itu.
"Udah Yu taruh situ dulu aja, kita tidur, sudah hampir subuh ini!" cetus Zidan yang sudah lebih dulu berbaring.
"Iya, lagi pun besok kita pagi-pagi juga harus mengurus keperluan mereka," itulah percakapan terakhir sebelum kedua mata bujang itu terpejam dan mulai melarungi lautan mimpi.
^^^Di kamar pengantin...^^^
Ruangan ber ac sudah tak lagi terasa dingin, hawa panas dari kegiatan kedua insan itu bahkan memenuhi ruangan.
Kini Nessa berdiri di depan meja rias yang tersedia, dengan kedua tangan yang bertumpu pada permukaan meja yang terbuat dari kayu itu.
Dilihatnya dari pantulan kaca, tanda merah-merah hampir memenuhi dada dan lehernya, begitu ganas suami tampannya malam ini, bahkan rasa lelah belum juga menghampiri Barnes Frankins yang kini masih bergerak maju mundur di belakangnya.
Kedua tangan kekar mencengkeram pinggul yang terasa menggemaskan bagi Barnes, guncangan maha dahsyat itu bahkan menggerakkan semua anggota tubuh Nessa.
Menengadah Nessa memejamkan matanya dengan menggigit bibir bawahnya demi menahan suara desah yang sering lolos begitu saja.
Tanpa permisi Barnes dengan brutal mulai memagut benda kenyal yang saat ini sudah berwarna merah segar karena sedari tadi sering di sesapnya.
Lenguh panjang, bersamaan dengan Nessa yang mencengkram rambut Barnes, juga Barnes yang memperdalam miliknya didalam inti istrinya.
Perlahan penyatuan itu mereka sudahi bersamaan dengan terlepasnya ciuman panas yang menggairahkan.
"Thanks," bisik Barnes yang diakhir dengan kecupan di kening Nessa.
Hanya senyum tipis yang Nessa tunjukkan kepada suami tampannya, tak ada jawaban berupa suara dari mulut manisnya.
Kini keduanya beristirahat di atas ranjang yang sama, berpeluk mesra walau keringat menghiasi kulit halusnya.
Sinar lembut sang mentari mulai terlihat dari ufuk timur, bahkan embun masih setia melekat pada dedaunan hijau tempat singgahnya.
Tapi di dalam vila sudah sibuk, terutama di dalam dapur, mereka sibuk memasak menyiapkan sarapan pagi untuk tuan dan nyonya muda mereka.
"Jam berapa ini?" tanya Zidan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, yang membuatnya panik adalah ketika ia membuka mata dia tak melihat Wahyu di sampingnya.
Bergegas Zidan keluar dan berjalan menuju kearah sumber suara klontangan, mungkin dari arah dapur, begitu pikirnya.
__ADS_1
Dan benar saja kini ia melihat Wahyu turut sibuk bersama dengan pelayan yang lainnya di dapur.
^^^Didalam kamar pengantin... ^^^
Tak hanya di dapur saja yang sibuk, di dalam kamar pengantin pun juga ada kegiatan pagi ini, Barnes tak lalai dalam membangunkan istrinya untuk di ajaknya beribadah subuh tadi.
Setelah ibadah yang singatnya lima menit itu, kini Barnes kembali membelai wajah cantik Nessa, tak henti-hentinya ia mengagumi kecantikan istrinya.
"Jangan dilihat lagi, nanti kau akan bosan!" cetus Nessa dengan pipi merahnya.
"Tidak akan, jika semudah itu rasa bosan, bukankah aku sudah ada pasangan lain saat kau meninggalkan ku dua tahun yang lalu?" sahut Barnes yang kini merengkuh tubuh Nessa kedalam belahan dada bidangnya.
"Maaf," lirih Nessa.
"Tak apa," Barnes mengecup pucuk kepala istrinya yang masih menyeruak harum shampo yang terasa segar di indera penciumannya.
"Besok kita berangkat ke Britania Raya ya?" ajak Barnes.
Nessa menoleh dengan sedikit menengadah, ditatapnya wajah tampan Barnes, "Kenapa besok?"
"Karena jika sampai kita tidak segera menghiburnya, dia pasti akan marah," ucap Barnes dengan menyelipkan anak rambut Nessa kebelakang telinga istrinya.
"Maksud mu? Bryna?" tebak Nessa.
"Ya, dia kan tidak tau kalau kita menikah kemarin, kau tau sendirilah bagaimana sifat kembaran ku itu,"
"Maaf, karena keluarga ku yang terlalu mendesak," lirih Nessa dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Tak apa, lagipula kita tidak harus bersusah payah untuk menahan rasa rindu ini," kembali Barnes mencubit dagu Nessa, dan mendaratkan ciuman panas pada bibir istri cantiknya.
TOK-TOK-TOK!!
"Gus sarapan dulu Gus! Ini sudah pagi, jangan kau hajar terus istri mu, kasihan, dia juga butuh asupan nutrisi!" terdengar suara Zidan dari balik pintu kamar.
Barnes menyudahi ciuman yang mulai memanas itu, "Kita sarapan dulu!" ajaknya.
Nessa hanya menganggukkan kepala.
Mereka segera berjalan keluar dari kamar, Ceklek!! Pintu terbuka dan terlihat wajah masam Zidan di sana.
"Kenapa dengan wajah mu?" tanya Barnes.
"Kau pikir, aku tidak bisa tidur semalaman gara-gara siapa?" ketusnya bertanya.
Barnes paham kemana arah pembicaraan Zidan, "Oh kau terganggu? Makanya cepat menikah, biar kau tidak hanya mendengarkan tapi juga merasakannya!" cetus Barnes.
__ADS_1
Melotot Zidan mendapati jawaban itu.
Tapi Barnes dengan santainya merangkul pinggang Nessa dan mengajaknya segera berjalan menuju ruang makan...