
Sudah beberapa bulan lamanya Roma berada di kerajaan itu bergabung dengan guild yang dimiliki Tere.
Kehidupannya cukup tenang dan menurut Roma bahkan terlalu tenang, tetapi mau bagaimana lagi, ia harus menjalani itu semua.
Meskipun ia sebagai seorang pelarian yang diburu kerajaan karena membunuh raja yang miliki.
Kadang Roma bosan dengan hal itu, menjalani misi yang sangat mudah ia kalahkan, tetapi mau bagaimana lagi.
Demi mendapatkan poin dan kenaikan level sihir ketingkat yang hebat lagi, ia harus melakukan itu semua, tanpa harus peduli apa yang terjadi pada dirinya.
Walaupun begitu ia cukup senang, karena bisa bertemu dengan banyak orang dalam menjalani misinya selama ini. ia bisa bergabung dengan guild milik Tere dengan orang-orang hebat di dalamnya.
Selain itu para anggota guild juga adalah party yang menurutnya luar biasa, karena mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda, beberapa dari mereka bahkan memiliki sihir yang cukup hebat. Berada di peringkat S dan SS.
Beberapa anggota guild yang terbentuk dalam party itu mungkin sudah cukup senior, karena sudah melakukan banyak sekali misi dan dengan cepat menyelesaikannya.
“Kau tak menjalankan misi lagi? Ada banyak misi baru peringkat S,” ujar Tere kemudian saat melihat Roma hanya duduk di dalam gedung guild sambil menikmati minumannya.
“Untuk hari ini sepertinya tidak dulu Paman, karena aku harus mengistirahatkan diri,” kata Roma.
“Orang sehebat dirimu juga perlu istirahat ternyata.” Tere mendekati Roma sambil membawa minuman alkoholnya.
“Aku ini juga seorang manusia Paman, tubuhku juga seharusnya beristirahat, apalagi jika aku mengeluarkan banyak sekali mana, aku pasti akan lelah dan tertidur untuk waktu yang lama.”
“Kau sampai tertidur setelah menggunakan mana? Sejauh mana kau menggunakannya?” Tere bertanya hal itu dengan nada yang begitu penasaran.
“Beberapa tahun lalu ketika aku pergi dari kotaku, karena aku diselimuti rasa amarah dan hampir saja membakaranya,” jawab Roma. Sebenarnya ia lebih pada hampir meluluh lantahkan sebuah kerajaan.
“Kau hampir membakar kota? Luar biasa sekali. Memang apa yang membuatmu hampir melakukan hal itu?”
Ternyata ucapannya tadi membuat Tere begitu penasaran, jadi ia harus mengarang cerita kini supaya Tere tak banyak bertanya lagi.
Lalu Roma membuat sebuah cerita bohong bahwa dirinya saat itu masih berusia sepuluh tahun, anak tunggal dari seorang bangsawan bergelar baron, kehidupannya cukup menyenangkan.
Orang tuanya lengkap, ia hidup layaknya bangsawa pada umumnya yang tinggal di sebuah mansion mewah, tetapi kehidupan indahnya hancur seketika.
Saat mansionnya dirampok, kedua orang tuanya mati dibunuh, setelah diselidiki ternyata itu dendam yang dilakukan saingan kedua orang tuanya.
Saat itulah Roma begitu marah dan hampir membakar seluruh kota setelah menghancurkannya.
Namun, kemudian Roma sadar bahwa apa yang ia lakukan salah, karena ia bisa saja membunuh banyak orang yang tak berdosa di kota, itu yang bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi dari kota itu, berkelana dengan kucing yang ia miliki dan menjadi seorang gelandangan.
__ADS_1
“Kasihan sekali hidupmu, padahal kau saat itu masih begitu kecil dan muda,” kata Tere memotong cerita Roma.
“Semua sudah berlalu, Paman. Aku sudah tidak marah, meskipun aku masih terus mencari alasan mengapa mereka sampai membunuh kedua orang tua dan keluargaku, meskipun alasan itu belum ia temukan.”
“Mungkin suatu saat kau akan menemukannya,” ujar Tere.
Roma mengangguk dengan apa yang dikatakan Tere itu. kemudian mereka saling berbicara satu sama lain dengan hal yang lebih banyak, sebab hanya mereka berdua yang ada di tempat orang.
Para anggota party tengah menjalankan misi mereka, misi yang akan membuat misi semakin kaya, karena banyak sekali uang yang akan mereka dapatkan.
Saat keduanya tengah berbincang itulah, datang Leo dengan suara kucingnya dan mengelus kaki Roma.
Roma menyadari dan mengambil Leo.
“Ini bukan kucing yang diperebutkan para anggota party?” tanya Tere kemudian.
“Ya, karena kucing ini aku harus berurusan dengan mereka, padahal aku tak berniat untuk bertarung sama sekali.”
“Tetapi mereka menganggap bahwa kucingmu adalah sumber kekuatan yang kau miliki.”
“Sebenarnya memang begitu, tetapi kekuatan yang aku miliki bukan dari sihir, tetapi kekuatan dan tekad untuk aku bertahan, sebab selama ini hanya Leo yang menemaniku. Aku sudah memeliharanya sejak sebelum keluargaku tiada. Dia adalah dewa keberuntunganku.”
Tere tersenyum, lalu mengelus kepala Leo yang langsung merasa keenakan. Setelah itu Tere memang cincin bintang milik Leo yang dijadikan sebuah kalung.
“Orang tuaku yang memberikan cincin itu padaku, cincin ukiran dari baja dengan campuran batu teros.”
Tere menatap Roma setelah mengatakan tentang batu teros.
“Batu teros?” tanya Tere meyakinkan apa yang ia dengar dari Roma. Roma mengangguk.
“Ada apa?” tanya Roma balik.
“Batu teros adalah batu yang begitu mahal, kekuatannya hampir setara dengan berlian. Berarti kau cukup kaya, padahal kau bilang hanya keluarga bangsawan baron.”
“Benarkah? Aku tidak tahu jika selama ini batu teros itu begitu mahal. Sedangkan cincinku ini campuran berlian, zamrud, perak, dan tenteros.”
Tere mengerutkan kening dengan apa yang dikatakan Roma, semua campuran cincinnya itu adalah batu dengan nilai yang cukup tinggi.
“Kau tunggu di sini.” Setelah mengatakan hal itu, Tere berlalu pergi dari sana menuju mejanya dan mengambil sesuatu. “Ini adalah alat sihir yang mampu melihat keaslian sebuah batu mulia. Coba kau taruh tempat ini.”
Roma mengangguk dengan apa yang dikatakan Tere, setelah itu ia melepaskan cincin miliknya dan cincin yang ada di kalung Leo.
[Mana sihir dari cincin bintang dinonaktifkan, penambahan batu mulia yang dimaksud]
__ADS_1
Dengan bantuan sistem itu, semua orang akan menganggap bahwa cincin itu hanyalah cincin batu mulia biasa saja tanpa ada campuran mana sihir sedikit pun.
Setelah itu cincin itu bereaksi dan memperlihatkan dengan jelas kandungan batu mulia yang ada di dalamnya.
Tere yakin bahwa Roma tak berbohong dengan hal itu. padahal ia pikir itu hanya cincin perak biasa yang bahkan mungkin seperti sebuah imitasi, tetapi nyatanya tidak sama sekali.
“Kenapa kau tak menjual saja cincin itu, kau bisa kaya raya, memiliki rumah dan tanah yang cukup untuk beberapa keturunanmu, kau juga bisa membuka sebuah usaha untuk itu. Di negeri sihir ini kau pasti akan sangat beruntung.”
Tere mengatakan hal itu sembari mengembalikan cincin milik Roma dan Leo.
[Mana sihir dari cincin bintang diaktifkan, penghilangan batu mulia yang dimaksud]
“Aku tidak berniat sama sekali untuk menjual kedua cincin ini, Paman. Bukan aku tak butuh uang atau munafik, tetapi cincin inilah peninggalan kedua orang tuaku. Dengan cincin inilah aku memiliki alasan hidup selain bersama dengan Leo.”
Tere mengangguk dengan jawaban Roma meskipun ia tak habis pikir, padahal cincin itu cukup mahal.
Roma tak perlu lagi bersusah payah menjadi seorang anggota guild yang menjalankan banyak misi melelahkan.
Namun, bagaimanapun semua hal ada pada Roma, ia tak mungkin memaksa Roma untuk menjualnya apalagi sampai ia meminta bagian.
Kalau pun Roma mau memberikan untuknya itu pun tak masalah juga, karena ia siap menerima uang dalam bentuk apapun.
Uang adalah segalanya, mana mungkin ia menolak apalagi jika itu gratis.
“Paman, sepertinya aku sudah bosan disini, aku ingin menjalankan sebuah misi. Apa ada misi tingkat S yang cocok untukku?” tanya Roma kemudian pada Tere setelah pembicaraan tentang batu mulia itu.
Lalu Tere pun memperlihatkan beberapa misi dengan peringkat S, S+, hingga SS. Beberapa misi memang Tere sembunyikan dari anggota party lainnya, karena cukup berbahaya dan menakutkan.
Biasanya misi tu hanya diperuntukan bagi mereka yang memiliki peringkat S+ ataupun juga peringkat SS ke atas.
“Kau ingin mengambil yang mana?” tanya Tere setelah memperlihatkan formulir misi pada Roma.
Roma masih melihat-lihat misi itu, mungkin ia akan mengambil misi dengan tingkat SS, meskipun terkesan sulit, tetapi ia yakin bisa mengurus hal itu dengan mudah nantinya.
Apalagi kalau tidak dengan bantuan sistem maha kuasa yang ia miliki.
“Mungkin aku akan mengambil misi tingkat SS ini, Paman.”
“Baiklah, misi ini cukup berat dan mungkin berbahaya, tetapi jika kau berhasil kau akan naik peringkat S+ dan akan aku umumkan nanti setelah kau kembali dari misi. Namun, jika menurutmu kau tidak bisa kau harus kembali.”
Roma mengangguk mengerti dengan hal itu. Ia kemudian bergegas bangkit sambil membawa formulir tadi sebagai petunjuk untuk menjalankan misi, di sebuah desa yang entah itu di mana.
Roma tak lupa membawa Leo bersama dengannya, karena memang Leo hanyalah satu-satunya teman yang ia miliki. Ia belum berniat membentuk party hingga kini, sebab baginya itu merepotkan.
__ADS_1