
Roma mencoba untuk kabur dari penjara. Dia tak mau tertahan di sana. Bersama dengan yang lainnya, dia menyusun rencana agar bisa keluar dari penjara bawah tanah yang gelap dan pengap ini.
Roma pun mulai merencanakan agar membuat para penjaga dan algojo itu lengah, lalu membantai mereka.
“Milan, bagaimana jika kita kabur dari sini?” tanya Roma.
Milan dan Leo setuju untuk kabur dari penjara kaisar Saleno De Sanis.
Terlebih, ada banyak rakyat yang menunggunya. Namun, Milan bagaimana cara keluar dari ruang bawah tanah yang pengap ini.
Tentu, dia harus membuat rencana khusus agar bisa keluar dari sana.
“Aku setuju dengan pendapatmu, Roma. Namun, bagaimana cara kita kabur dari sini? Mereka begitu kuat dan hebat. Terlebih, kita sekarang tidak memiliki cincin bintang itu. Semua sudah diberikan pada kaisar Seleno De Santis. Kita pasti akan tertangkap dengan mudah bahkan mati di tangan mereka,” ujar Milan.
Roma paham benar bagaimana kekhawatiran Milan. Namun, bukan Roma namanya jika tidak bisa mengalahkan orang-orang yang berbuat kejahatan.
Terlebih, sebenarnya dia telah menukar cincin bintang itu dengan duplikatnya. Jadi, cincin yang ada di tangan kaisar sekarang merupakan cincin bintang palsu.
“Tenang saja. Aku sudah membuat rencana yang matang untuk membasmi mereka. Kalian ikuti saja instruksiku.” Roma berusaha menenangkan teman-temannya.
Kucing Leo yang tahu benar bagaimana tuannya angkat bicara.
“Kalian tenang saja, jika tuan Roma sudah mengatakan tenang saja, itu pasti akan ada rencana yang disusunnya. Jadi, kita bisa berdiam diri dan mengikuti instruksinya saja,” ujar Leo.
Roma tersenyum pada hewan peliharaannya itu. Terlebih, memang Leo begitu tahu benar bagaimana isi hati majikannya itu.
“Baiklah, kami akan mengikuti instruksimu. Lalu, apa yang harus kami lakukan? Maksudku, apa yang perlu kami bantu untuk menyusun rencanamu agar keluar dari sini?” Milan bertanya karena penasaran.
Sebenarnya, dia juga mempercayai Roma. Namun, ada ketakutan tersendiri saat rencana itu bisa saja gagal. Milan sangat takut kaisar Saleno De Santis membunuh Roma dan mereka semua karena telah berusaha kabur dari ruang bawah tanah.
“Aku akan katakan nanti saat waktu yang tepat. Sekarang, kalian jangan berisik dan nikmati saja momen ini,” ujar Roma.
Leo sang kucing tidak percaya bahwa majikannya akan mengatakan itu.
“Roma, kau ini bagaimana? Kau bilang akan melakukan rencana yang dahsyat agar bisa keluar dari sini. Namun, kenapa mendadak tak ada rencana sama sekali? Kau mencoba melakukan apa sebenarnya?” tanya Leo, Sang kucing hitam.
Dia benar-benar geram pada tuannya yang tak bisa membuat rencana. Padahal, sebelumnya mengatakan akan membebaskan mereka.
"Leo jangan berisik. Bisa-bisa para algojo dan penjaga akan datang ke sini! Jangan berbicara dengan keras! Apa kau mau mereka membunuhmu?” tanya Roma kesal.
Leo terdiam. Dia tak lagi memprotes majikannya.
Memang benar, dia takut jika akan mati di tangan kaisar Saleno De Santis. Berada di tengah ruang bawah tanah saja sudah membuatnya takut setengah mati, apalagi sampai harus meregang nyawa di sini. Tentu, dia tak mau itu sampai terjadi.
Roma tersenyum. Dia lalu mengatakan bahwa akan memberitahu mereka nanti. Hal ini karena dia tak mau gegabah. Benar kata Milan.
Para algojo dan penjaga penjara sangat kuat. Tidak mungkin jika Roma melawan mereka sendiri.
Tentu, dia harus memakai kekuatan cincin bintang. Namun, jika sekarang memberitahu para rekannya bahwa cincin bintang ada padanya, itu akan membuat suasana gaduh dan akan ketahuan.
Jelas, Roma tak menginginkan itu sampai terjadi.
“Aku akan memberitahu kalian saat waktu yang tepat. Tetap tenang dan jangan berisik. Milan, tolong alihkan perhatian para penjaga jika saatnya kuperintahkan.”
MIlan hanya setuju, meski dia tak tahu kapan waktu akan keluar dari penjara yang pengap itu.
***
Hari yang dinanti tiba. Roma melihat para penjaga berkurang dan seperti dalam keadaan lelah. Dia lalu membuat rencana untuk membantai mereka.
Roma mengatakan itu pada teman-temannya.
“Mereka sepertinya lelah. Aku akan mencoba membunuh mereka. Kalian, tetap alihkan fokus para algojo dan penjaga yang lain. Jangan sampai, ketahuan bahwa aku mencoba membunuh mereka,” ujar Roma.
Milan paham dan mengerti. Dia berusaha mengelabui para penjaga yang lain. Tak hanya Milan, Leo berusaha mengelabui para penjaga.
Dengan sihirnya, Roma berhasil membuka penjara dan melawan para penjaga tersebut dengan mudah.
__ADS_1
Tak ada perlawanan dari mereka. Hal ini karena tubuh para penjaga itu benar-benar lelah dan tak bisa melakukan perlawanan.
“Akhirnya, aku bisa melawan mereka.” Roma tersenyum puas saat melihat beberapa penjaga yang sudah tewas di tangannya.
***
Roma kemudian berpikir bagaimana melawan para algojo dan penjaga penjara yang lain. Dia harus keluar dari penjara bawah tanah ini dengan cepat.
Pria itu kembali ke sel penjara dan menemui Milan, juga Leo.
Mereka bertanya pada Roma apakah semua berjalan sesuai rencana atau tidak.
“Apa semua berjalan dengan lancar? Apa kau berhasil membunuh mereka?” tanya Milan.
Roma mengangguk. Tentu, gampang baginya melawan para penjaga utama karena saat itu mereka sedang kelelahan.
“Ya, aku sudah berhasil melawan mereka,” ujar Roma.
Milan, dan Leo merasa bersyukur. Hal ini karena mereka hanya butuh membereskan para algojo dan juga penjaga penjara yang lain.
“Syukurlah. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”
“Aku akan beritahu saat waktunya tepat.” Roma tersenyum sambil mengistirahatkan dirinya untuk tidur.
***
Hari yang diinginkan Roma tiba. Lagi-lagi, para penjaga yang ditugaskan menggantikan penjaga utama lengah.
Roma lalu menjalankan aksinya.
“Ini, kalian pakai cincin bintang ini. Para algojo itu lengah. Kita harus segera membantai mereka agar bisa keluar dari sini,” ujar Roma.
Roma kemudian membagikan Cincin Bintang yang asli pada Milan, Kucing Leo. Roma sendiri menggunakan kekuatan dari lainnya Cincin Bintang secara langsung, 1 Cincin Libra dan 3 Cincin lainnya dia dapatkan setelah membunuh para cecunguk Kaisar dulu (Lucca De Luca, Padova De Angelo, Ravenna De Ville). Selain itu ada juga cincin milik Raja Genoa
Milan tak percaya bisa kembali memakai cincin bintangnya pun bertanya pada Roma.
“Aku menukarnya diam-diam. Cincin bintang yang ada pada kaisar Saleno De Santis adalah cincin bintang palsu. Sekarang, kita harus menyatukan kekuatan untuk keluar dari sini. Sepertinya, mereka tengah tertidur. Artinya, kita tak perlu membunuh mereka,” ujar Roma.
Milan dan yang lain setuju. Jika pun harus membunuh para penjaga, itu demi keselamatan mereka.
Roma lalu membuka pintu sel penjara dengan cepat karena kemampuan sihirnya berada di atas rata-rata. Setelah berhasil terbuka, dia tersenyum penuh kemenangan.
Keempat orang itu langsung keluar dari penjara itu dengan tenang, para penjaga lemah yang bukan merupakan penjaga utama kemarin sudah dibunuh dengan mudah.
***
Keempat orang itu berjalan lenggang karena sudah bisa keluar dari ruang bawah tanah. Lebih tepatnya, penjara yang selama ini menyekap mereka.
Milan tertawa girang karena sudah bisa menghirup udara segar. Mereka hanya perlu melewati tangga agar bisa menuju ke permukaan.
Sebab, penjara ini begitu di dasar tanah dan harus melewati seribu anak tangga agar bisa sampai ke permukaan.
“Akhirnya, kita bisa bebas dari sini.” Milan tertawa karena tak lagi merasa pengap di ruang bawah tanah yang menyekapnya.
“Ya, tapi kau jangan senang dulu. Tujuan kita keluar dari penjara bawah tanah adalah untuk menyerang kaisar Salerno De Santis. Kita harus membuatnya musnah. Terlebih, mungkin saat ini duplikat cincin bintang sudah diserahkan pada setiap prajurit. Aku rasa, mereka akan membunuh kita jika tahu bahwa cincin yang kuberikan adalah palsu.”
Milan tertawa. Dia tentu tak percaya bahwa para prajurit bisa membunuh seorang Roma dan mereka. Terlebih, saat ini mereka adalah pemilik cincin bintang yang asli.
“Oh, ayolah Roma. Tak mungkin mereka bisa melawan kita. Kau harus percaya bahwa kita bisa melawan mereka semua. Terutama, kaisar Salerno yang begitu angkuh dan berkata akan menguasai dunia karena telah memiliki cincin bintang itu. Padahal, dia tak tahu bahwa kau telah menukarnya dengan yang palsu dan memiliki cincin yang asli.” Milan menyemangati Roma.
Milan benar-benar tak mau jika Roma putus asa dan pesimis dalam melawan kaisar Salerno yang telah berani menghukumnya.
Tak hanya itu, Leo juga mengingatkan Roma tentang apa yang telah dilakukan oleh kaisar pada anggota keluarga Roma dulu.
“Benar kata Milan. Kau tak boleh pesimis, Roma. Ingat, kaisar Salerno adalah orang yang bergerak dan melakukan pembantaian yang terjadi pada keluargamu. Kau harus membalas dendam padanya dan menyatakan perang. Tak boleh lengah sedikit pun." Leo mengingatkan Roma tentang apa yang pernah dilakukan oleh Kaisar padanya.
Roma terdiam. Memang benar, salah satu alasannya menerima misi dari raja Genoa adalah juga untuk mencari tahu soal kematian keluarganya. Setelah dia tahu bahwa kaisar Salerno terlibat dan ada di belakang asosiasi dagang, tekadnya sudah bulat sekarang.
__ADS_1
Namun, meski demikian, Roma tetap ragu bisa melawan kaisar Salerno, tetapi keraguan itu sudah sirna karena dukungan dari teman-temannya. Dia tak lagi pesimis dan begitu semangat untuk melawan dan menyatakan perang pada kaisar yang telah membunuh dan memporak porandakan keluarganya dulu.
“Baiklah, aku tak akan pesimis lagi, sekarang. Kita harus segera melawan ketidakadilan dan membasmi mereka,” ujar Roma.
***
Mereka pun berjalan menyusuri anak tangga. Sampai pada akhirnya, ketika keempat orang itu berjalan naik tangga, mereka melihat Palermo.
Roma terkejut saat melihat Palermo terbaring lemah. Dia pun ingin membantu orang itu karena ternyata Palermo masih hidup.
Alasan Roma ingin membantu Palermo adalah karena dulu dia mengenal pria itu dengan baik.
Sebelum bergabung dengan kaisar, Palermo sering membantu Roma. Sayangnya, entah ambisi atau apa yang membuat Palermo bergabung dengan kaisar Salerno De Santis.
“Palermo, kau terluka parah. Maafkan aku telah membuatmu seperti ini,” ujar Roma.
Palermo tersenyum begitu menyedihkan, terlebih saat ini kondisinya sangat menyedihkan dan tak bisa diungkap dengan kata.
Tak hanya Roma yang mendekat ke arah Palermo, Milan, Kucing Leo juga mendekati Palermo yang sudah sekarat itu.
“Kita harus membantunya, Roma.” Milan berkata dan meminta temannya itu menolong Palermo yang tengah sekarat.
“Ya, tanpa disuruh pun aku akan menolongnya. Bagaimanapun, dulu dia pernah bersikap baik padaku dan pernah kuanggap seperti orang tua sendiri,” ujar Roma.
Roma lalu membantunya mengangkat tubuh Palermo. Dia ingin menggunakan kekuatan sihirnya untuk menolong musuh yang dulu pernah berbuat baik padanya.
“Kami akan menolongmu, Palermo,” ujar Roma saat ingin membopong dan menggunakan kekuatan sihirnya agar Palermo sembuh.
Ketika hendak ditolong oleh Roma, Palermo menolaknya. “Jangan tolong aku, Roma. Aku memang ingin segera mati. Kau jangan pedulikan aku. Jika memang ingin menolong, bantulah bunuh aku. Jangan berikan kehidupan padaku.” Palermo menolak untuk ditolong dengan alasan dia ingin segera mati.
Roma dan yang lain mengernyitkan dahi. Mereka tak tahu apa yang membuat Palermo menginginkan kematian.
“Tidak, Palermo. Kau harus sembuh. Maaf telah menyakitimu seperti ini,” ujar Roma.
Roma menangis. Dia teringat bagaimana dulu Palermo menolongnya. Sebenarnya, Roma ingin membalas budi pada pria tua itu.
Namun, lagi dan lagi Palermo menolak permintaan Roma.
“Jangan sembuhkan aku. Tolong, akhiri hidupku segera. Gunakan kekuatan sihir dan kemampuan yang kau punya untuk membunuhku.”
“Aku tak mau, Palermo. Aku akan menolongmu!” tegas Roma.
Palermo pun akhirnya mengatakan selain ingin segera mati, dia tidak ingin lagi memperebutkan tahta yang hanya kesemuan semata itu. Jika dia hidup, hal yang selalu dikejarnya adalah ketamakan dan memperebutkan tahta yang semu.
“Jangan tolong aku. Jika aku hidup, aku akan memperebutkan tahta yang semu. Tentu, aku tak mau itu semua. Tolong, mengertilah Roma. Jika memang kau mau membalas budi, bunuh aku dengan kemampuanmu. Aku tahu kau adalah orang hebat!” ujar Palermo.
Roma terdiam. Dia sedang berperang dengan dirinya antara menolong Palermo atau membunuhnya sesuai keinginan orang itu.
“Cepat, bunuh aku! Aku tak mau sekarat begitu lama,” ujar Palermo lirih.
Roma pun mengangguk.
“Baiklah, aku akan membunuhmu. Sesuai permintaan yang kau ajukan. Tapi, adakah pesan terakhir yang ingin kau katakan?” tanya Roma.
Palermo lalu mengatakan untuk jangan serakah. Pria itu tahu bahwa saat ini Roma memakai cincin bintang yang asli.
“Jangan berambisi dan serakah, Roma. Hal yang membuat perang cincin bintang adalah keserakahan dan ambisi si pemakai. Aku tahu bagaimana kau, dan pasti kau tak akan bersikap seperti itu.
Jadi, tetap rendah hati dan jangan merebut dan berambisi untuk mendapatkan sesuatu. Jika tidak, perang antar cincin bintang akan terjadi. Sekarang, pandanganku telah berubah, ternyata selama ini yang menyebabkan perang bukanlah Cincin Bintang yang merupakan alat, tapi ambisi makhluk hidup itu sendiri.
Oleh karena itu aku minta untuk dibunuh oleh kamu dan tolong kabulkan, permintaan terakhirku ini.” Palermo mengatakan pesan terakhirnya yang begitu panjang lebar.
Roma tak lagi bertanya, dia langsung mengabulkan permintaan Palermo yang terlihat sangat kesakitan sekarang. Ya, memang benar bahwa perang cincin bintang itu sebenarnya tak ada. Yang ada hanya ambisi si pemegang cincin itu sendiri.
“Tolong, pergi lah dengan tenang dan surga adalah tempatmu, Palermo. Aku akan mengabulkan permintaanmu.” Dengan kemampuan dan kekuatan sihirnya, Roma mengakhiri penderitaan Palermo yang begitu menyiksa karena sekarat dan susah menghadap kematian.
Namun, Roma mengabulkan permintaan lelaki yang telah berjasa dalam hidupnya itu untuk mati. Roma meneteskan air mata saat melihat Palermo meregang nyawa. Dia benar-benar tak bisa menyaksikan kematian yang begitu menyedihkan dari seorang Palermo.
__ADS_1