SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
049 - TERJADI SEBUAH PERANG BESAR


__ADS_3

“Sudahlah, Roma. Ayo, kita temui kaisar Salerno De Santis. Aku takut, dia akan menyebar semua cincin bintang palsu itu pada prajuritnya. Bisa-bisa, kita akan mati di tangan mereka. Biarkan Palermo mati dengan tenang,” ujar Leo.


“Benar kata Leo, kita harus bergegas. Aku takut jika kaisar Salerno sudah menyebarkan cincin palsu itu,” ujar Milan.


Roma pun menghapus air matanya. Dia menatap Palermo dengan senyum. Sekarang, orang tua itu tak lagi merasa sakit karena kesekaratannya tadi.


“Aku akan mengingat pesanmu untuk tak serakah, Palermo. Selamat jalan dan semoga kau tenang di sana,” ujar Roma.


Setelah itu, keempat orang itu langsung menaiki tangga dan bergegas menuju ke istana, mereka semua tidak ingin cincin palsu yang dibuat sebelumnya akan disebarkan ke seluruh pasukan.


“Kita harus cepat. Aku yakin sekali, kaisar telah menyebarkan pada beberapa prajurit dan meminta mereka memakainya. Jika itu terjadi, maka mereka akan mampu menyakiti orang-orang yang memakainya.” Milan berkata pada Roma dan juga Leo.


Roma setuju. Memang, cincin palsu itu dibuat hampir mirip dengan cincin bintang yang asli, yang saat ini ada padanya.


Dia tak mau semua penjaga menyakiti orang-orang yang tak bersalah bahkan rakyat yang tak berdaya. Mereka yang memakai cincin bintang pasti akan memiliki aura yang berbeda.


Mereka akan mampu melawan seseorang yang tak mempunyai kekuatan yang dimiliki oleh pemilik cincin bintang.


“Ayo, kita harus bergegas,” ujar Milan.


Mereka mempercepat jalannya agar kaisar Salerno De Santis tak memberikan cincin itu kepada semua prajuritnya.


Jika itu sampai terjadi, maka akan ada perang dan mengakibatkan banyak nyawa yang hilang karena peperangan itu sendiri.


“Hei, tunggu aku!” Leo si kucing berusaha mengejar majikan dan teman majikannya itu.


Leo berlari mengejar Roma dan Milan. Sebab, jalan para manusia itu lebih cepat darinya.


Milan tertawa melihat Leo yang berlari ketakutan dan seperti binatang yang sedang kelelahan.


Padahal, harusnya para manusia lah yang lelah karena menaiki seribu anak tangga ini yang terhubung langsung ke singgasana kaisar Salerno De Santis.


“Oh, ayolah Leo. Kau itu bukan manusia tapi kucing. Jangan berlagak ngos-ngosan seperti itu. Harusnya, kami yang merasa lelah karena telah menaiki seribu anak tangga. Kenapa kau tampak lelah sekali? Ini bukan hal yang melelahkan, bukan?” tanya Milan.


“Berisik kau, Milan. Ini semua karna aku sudah mulai tua. Tidak muda seperti kalian!” gerutu Leo.


Milan tertawa. Tak hanya Milan, Roma pun tertawa melihat tingkah Leo, sang kucing hitam.

__ADS_1


“Sudahlah, kalian jangan berdebat. Leo, percepat jalanmu. Jangan malah bercanda seperti itu,” ujar Roma.


Leo menuruti permintaan tuannya. Pada akhirnya, mereka telah sampai di atas puncak, tempat di mana Kaisar Salerno De Santis berada.


***


Sesampainya disana, mereka bertiga langsung menyatakan perang.


"Apa kabar Kaisar Salerno. Semoga harimu kemarin menyenangkan! Kami ke sini karena ingin menyatakan perang! Kau telah melakukan kejahatan yang begitu sadis. Kau harus kalah dan jika kalah, kau akan diturunkan dari tahtamu, ini!” Roma menyatakan perang pada Kaisar Salerno.


Tak hanya Roma, Leo, dan Milan juga menyatakan perang.


“Kau tak hanya melawan Roma, kaisar Salerno. Kau juga akan melawanku dan Leo,” ujar Milan.


Pemuda itu selama ini menyimpan dendam pada Kaisar Salerno karena telah membunuh keluarganya.


“Bukan hanya Roma dan Milan, kau juga harus melawanku!” ujar Leo.


Milan memang begitu membenci Kaisar Salerno, terlebih saat orang itu memasukkan dirinya ke penjara bawah tanah. Tempat yang paling dibenci oleh Milan.


“Kau akan melawanku. Meski aku bukan manusia sepertimu dan ketiga temanku, aku juga memiliki kemampuan yang tak tertandingi seperti mereka,” ujar Leo lagi, kucing hitam milik Roma.


Terakhir, dia mendapat kabar bahwa mereka berempat sudah sekarat. Menurutnya itu adalah hal yang mustahil.


“Kenapa kalian ada di sini? Kalian sudah sekarat, kenapa malah ada di sini?” tanya Kaisar Salerno heran.


Ketiga orang itu tertawa.


“Kau memang benar-benar bodoh. Begitu percaya dengan bawahanmu. Asal kau tahu, merekalah yang sekarat. Seperti yang terlihat, kami baik-baik saja! Tak terluka sedikit pun bahkan bisa melawanmu dan membunuhmu kalau perlu!” ujar Roma.


Kaisar Salerno tak terima dengan ucapan Roma. Tak ada yang bisa mengalahkan dirinya. Dia adalah orang suci yang tak terkalahkan. Kaisar pun menerima tantangan dari ketiga orang itu untuk berperang.


“Lucu sekali! Kalian tak akan bisa melawanku! Aku adalah orang yang tak terkalahkan. Kalau memang mau perang, aku dengan senang hati menerima tantangan kalian! Saat ini, para prajuritku memiliki cincin bintang yang bisa membunuh kalian! Jadi, terima kekalahan kalian!” Kaisar Salerno tertawa puas. Dia masih berpikir bahwa cincin bintang yang dipakai para prajuritnya adalah cincin yang asli.


“Coba saja kalau kau bisa! Aku tak takut dengan ancamanmu! Terlebih, cincin yang dipakai mereka adalah palsu!” tegas Roma.


Kaisar Salerno tak percaya. Dia pun menyuruh para prajuritnya untuk menyerang Roma dan teman-temannya saat waktu yang ditentukan telah tiba.

__ADS_1


***


Membutuhkan waktu memang dan membutuhkan tenaga untuk melakukan penyerangan.


Sangat tidak etis jika para prajurit melawan Roma dan sekutunya yang hanya berjumlah tiga orang saja.


Dia memberi kesempatan pada Roma untuk melakukan dan mengumpulkan sebanyak mungkin orang karena percaya bahwa apa yang Roma katakan adalah kebohongan.


Lalu kemudian Raja Genoa datang ke kekaisaran bersama dengan para prajuritnya untuk melawan Kekaisaran.


Selain itu Tere juga mengirim para anggota guild seperti permintaan Roma.


Dan tak disangka ternyata para Organisasi penyihir dan Sekte juga ikut membantu dalam peperangan besar itu.


Sekarang, pasukan mereka sebanding. Setidaknya, ini adalah awal yang bagus dan sebanding ketika ingin membuat peperangan.


Pertarungan besar terjadi, pasukan Roma telah kehilangan banyak orang. Peperangan terjadi selama beberapa waktu. Roma berpikir bahwa ini tidak bisa dibiarkan secara terus menerus.


Jika mereka kalah, kaisar Salerno akan besar kepala dan merasa menang karena telah bisa menaklukan dirinya.


“Ini tak bisa dibiarkan. Kita harus membuat siasat yang nyata. Leo, kau dan seratus tentara lawan musuh dari arah barat.”


“Baik. Aku akan melawan mereka.”


“Milan, kau dan seratus orang yang lain akan melawan dari arah timur. Tolong, gunakan cincin kalian saat melawan. Mereka pasti akan memakai cincin bintang itu, besok.”


“Baiklah.”


“Sementara Raja Genoa, tolong lawan dari arah tenggara. Kita harus gunakan kemampuan kita dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan kaisar Salerno menang!”


“Baik, Roma. Aku akan melawan mereka sebisaku.”


“Sementara aku, akan melawan kaisar Salerno dan membunuhnya. Aku tak perlu pasukan. Aku bisa melakukannya sendiri.”


Ketiga rekannya percaya ucapan Roma, selain dia memiliki sihir yang hebat, Roma juga mempunyai empat cincin bintang yang menakjubkan.


Roma berusaha mendekat ke arah kaisar Salerno. Namun, para prajurit yang memakai cincin palsu itu berusaha menghalangi Roma.

__ADS_1


Kaisar Salerno terkejut saat melihat para prajuritnya musnah saat mendekat ke arah Roma. Tentu saja, para pemakai cincin bintang palsu itu akan musnah dan tak bisa melawan pemilik cincin yang asli.


Hingga akhirnya, saat ini Roma sedang berhadapan dengan Kasiar Salerno.


__ADS_2