
Ternyata teror yang didapatkan Roma dan Leo terus berlanjut, hingga entah sudah berapa banyak musuh yang sudah mereka hadapi.
Untung saja musuh-musuh itu bisa membuat Roma semakin bertambah kuat, karena ia bisa mengambil jiwa mereka.
Itu tak akan menyalahi apapun, karena Roma pikir mereka memang orang jahat yang harus dibunuh untuk selamanya.
Jika tidak mereka nantinya akan menyakiti orang lain lagi, meskipun itu suruhan langsung dari sang raja.
Namun, apa benar seorang raja bisa melakukan hal seperti itu. melegalkan berbagai macam cara demi mendapatkan apa yang ia mau.
Jika menurut Lucca De Luca dirinya itu baik, berarti ia menganggap bahwa Roma adalah orang jahat yang telah melakukan banyak kejahatan.
Padahal sama sekali ia tak pernah melakukan hal itu. orang tuanya jika benar melakukan kejahatan bukan berarti ia juga bagian dari mereka.
Ia pergi ke istana hanya untuk mencari tahu dan meyakinkan dirinya bahwa orang tuanya tak bersalah dengan tuduhan itu, karena selama ini yang ia tahu bahwa kedua orang tuanya orang baik.
Akhirnya selama perjalanan itu, Roma mendapat banyak sekali sergapan dari berbagai pasukan bayaran.
Mulai dari para bandit, orang yang berpura-pura sakit meskipun aslinya dia adalah seorang assassin, bahkan sampai pasukan khusus kerajaan diturunkan hanya untuk menghalau kedatangan Roma ke Pusat Kerajaan.
Namun, Roma bisa mengalahkan mereka.
Ada saat Leo yang berusaha membantu Roma dalam menghadapi musuh, terluka karena serangan dari seorang penyihir hitam.
Meskipun penyihir hitam itu akhirnya bisa dikalahkan Roma.
“Kau tak apa-apa?” Begitu tanya Roma.
“Aku hampir mati, tapi kau malah bertanya tidak apa-apa.” Leo mengatakan hal itu sambil menahan rasa sakit.
“Tenanglah aku akan mengobatimu.”
Setelah mengatakan hal itu Roma kemudian mencoba memulihkan Leo dengan sihir penyembuhnya ditambah dengan kekuatan sistem yang begitu hebat membuat Leo sembuh dengan mudah.
Saat Leo sudah sembuh tubuhnya sudah tak terlihat ada luka sedikit pun, yang berarti bahwa sistem juga menggunakan sihir regenerasi yang sebelumnya memang belum pernah Roma pelajari.
Roma belum sempat mempelajari sihir regenerasi atau memang dirinya tak pernah mempelajari sihir itu, selama ini yang ia pelajari hanya sihir penyembuhan.
Ia membuat sendiri mantra, gabungan dari beberapa mantra yang ia pelajari. Membuat poton miliknya sendiri dari tanaman yang ia dapatkan dari bibi Lux.
Meskipun kemudian semua barang-barang obatnya tak ia bawa lagi. Mungkin nanti jika ada waktu ia akan membuat obat lagi, karena ia sudah tahu bagaimana bentuk asli tanaman obat itu.
Roma juga sudah menyentuhnya, meskipun mirip tanaman liar, tetapi membedakannya bukanlah hal yang sulit dilakukan.
***
__ADS_1
Saat Roma dan Leo terus mendekati pusat kota, Lucca De Luca malah khawatir dengan hal itu.
Karena bagaimanapun Roma sudah berhasil mengalahkan banyak orang suruhannya, yang itu berarti Roma memiliki kekuatan yang cukup hebat dan ia juga sudah dipilih langsung oleh cincin bintang untuk menjaganya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang Yang Mulia,” tanya seorang petinggi kerajaan.
“Aku tak tahu. Meskipun aku yakin anak itu pasti sudah sangat dekat dengan pusat kota,” jawab Lucca De Luca.
Semua orang yang ada di kerajaan pasti tahu akan hal itu, karena hampir setiap hari prajurit mengatakan di mana Roma berada.
Dan di mana Roma berada di situlah mereka akan mengirim orang untuk menyerangnya, meskipun hal itu tetap tak membuahkan hasil apapun.
Setelah itu Lucca De Luca memanggil seorang prajurit dan menyuruhnya untuk mengirim seorang penyihir hitam dengan level S (201-400).
Mengingat penyihir itu memiliki level yang cukup tinggi, mungkin saja penyihir itu bisa mengimbangi Roma.
“Apa yakin Yang Mulia menyuruh penyihir hitam itu, bukankah ia meminta imbalan yang begitu besar?” tanya Caroll sang penasehat.
“Aku tak ada pilihan lain, jika untuk imbalan kita pikirkan nanti. Lagi pula kau sebagai seorang penasehat tak bisa melakukan apapun.”
Caroll yang mendengar hal itu hanya bisa diam saja, karena memang sejak apa yang terjadinya pembantaian keluarga Raffa ia hanya bisa diam saja.
Sementara itu saat ini prajurit yang diperintah Lucca De Luca sudah sampai di tempat tinggal penyihir hitam yang berada di pinggiran ibu kota.
“Raja menyuruhmu untuk menghabisi seseorang,” jawab prajurit itu.
“Raja menyuruhku? Tumben sekali. Apa ia sudah tahu bahwa memerintahku harus dengan imbalan yang besar?”
“Raja memberikan sekantong emas, jika kau berhasil nanti akan ditambah lagi.” Prajurit tadi memberikan sekantong emas penuh pada Coderl.
Coderl pun mengambil kantong emas itu. “Penawaran yang bagus. Sebutkan nama dan keluarganya.”
“Roma dari keluarga Raffa.”
Setelah prajurit itu menyebutkan nama Roma yang berasal dari keluarga Raffa, Coderl terkejut dan membulatkan matanya.
“Kalian gila! Kalian ingin aku membunuh pengguna sihir kuno, itu sama saja bunuh diri!” Coderl menyeru. Karena ia tahu betul siapa itu keluarga Raffa. “Meskipun mereka hanya keluarga bangsawan Baron, tetapi di kalangan penyihir mereka begitu terkenal.”
Kemudian prajurit itu mengatakan bahwa saat ini keluarga Raffa telah hancur dan tinggal Roma saja, jadi itu bisa jadi hal yang paling mudah, karena tak akan serepot itu.
Coderl lagi-lagi terkejut mengetahui bahwa keluarga Raffa telah tiada. Hal itu membuatnya akhirnya menerima tawaran untuk menyerang Roma.
***
Coderl Sang langsung mencari keberadaan Roma, berbekal nama dan keluarganya, ia bisa tahu lokasi seseorang dengan sangat mudah.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia mengetahui di mana Roma berada, ia pun langsung menuju ke arah sana. sebuah kota yang tak jauh dari ibu kota itu sendiri.
Coderl terbang sambil mencari keberadaan Roma, karena ia tak mungkin tiba-tiba menghancurkan kota itu untuk mendapatkan Roma.
Namun, tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia menemukan Roma, yang saat itu tengah terbang di atas kota
“Apa kau Roma dari keluarga Raffa?” Begitu tanya Coderl kemudian pada Roma.
“Apa kau orang suruhan Raja Lucca De Luca untuk membunuhku?” tanya balik Roma.
“Kau tahu ternyata.”
“Sudah puluhan orang suruhan Lucca De Luca yang kulawan, sampai aku tak ingat kau orang keberapa. Dan mereka semua telah mati.”
“Sombong sekali kau anak muda. Mungkin kau bisa mengalahkan mereka tetapi tidak denganku.” Coderl berusaha menggertak Roma.
“Berhati-hatilah Roma, sepertinya penyihir hitam ini jauh berbeda dengan para penyihir dan musuh sebelumnya, aura mana sihirnya begitu hebat.” Begitu kata Leo mengingatkan Roma.
Namun, bukannya Roma takut malah ia begitu tertantang dengan musuh barunya. Ia juga ingin mencoba kekuatan sistem yang ia miliki.
Roma ingin tahu seberapa hebat sistem itu bekerja dan membuatnya bertambah kuat.
Jika sampai ia bisa mengalahkan penyihir hitam itu, pastinya ia akan naik level lebih tinggi lagi.
Kemudian tanpa pikir panjang pertarungan keduanya pun dimulai. Pertarungan sengit mereka saling mengeluarkan sihir satu sama lain.
Dan ternyata benar, musuh yang saat ini dilawan Roma berbeda dengan musuh-musuh sebelumnya.
Coderl begitu kuat dan bisa mengimbangi Roma.
Pertarungan mereka seperti kilatan cahaya yang saling sahut menyahut, beberapa kali getarannya terasa sambil ke tanah.
Lalu Roma mengeluarkan kekuatan sistemnya, dan dengan telak memukul mundur Coderl.
Tubuh Coderl jatuh ke tanah yang langsung membuat lubang menganga, Coderl tak sadarkan diri.
Di saat seperti itulah Roma langsung menyerap jiwanya untuk mendapatkan level baru, dan ternyata benar levelnya sudah bertambah dengan cukup banyak.
Roma pun mendapatkan beberapa skill baru yang dimiliki Coderl, dari mulai pencarian lokasi sampai skill predator, meskipun Roma tak yakin bahwa skill itu akan berguna untuk dirinya nantinya.
Setelah pertarungan itu selesai, Roma kembali terbang bersama dengan Leo untuk melanjutkan perjalanan lagi.
Karena sebentar lagi ia akan sampai di tempat tujuan, dari tempatnya terbang pusat kota sudah terlihat yang dilindungi sebuah pagar yang tinggi dan menjulang.
Pagar itu nampak sekali begitu kokoh dan kuat.
__ADS_1