
Setelah Roma menyelidiki tempat Asosiasi Pedagang beberapa waktu lalu.
Kini hari sudah berbeda, dan mereka harus menjalankan misi selanjutnya.
Saat itulah, ketika Roma baru saja membuka matanya. Nyawanya bahkan belum genap terkumpul, tapi sistem sudah membuka harinya dengan misi baru.
Akhirnya, dengan berat hati Roma turun dari tempat tidur dan berjalan ke bawah. Padahal ia kira ia bisa istirahat hari ini dan tidur seharian di ranjang.
"Kukira kau akan bangun siang." Begitu kata Milan
Roma diam tak menjawab. Ketika ia turun Milan sudah berkutat dengan semangkuk sup dan segelas susu di meja makan.
Entah kenapa perasaan Roma saat itu sedang tidak baik. Roma langsung masuk ke kamar mandi dengan wajah kusut.
"Ada apa dengannya?" tanya Milan pada Leo yang sibuk dengan mangkuk berisi daging tuna yang dihaluskan.
Kucing itu hanya menggerung tidak jelas pertanda ia tidak peduli.
Milan mengangkat bahunya tidak peduli dan lanjut menyantap sarapannya dengan lahap.
Tidak berselang lama kemudian Roma keluar dari kamar mandi dan bergabung dengannya di ruang tengah.
"Ada apa denganmu?" tanya Milan saat mendapati wajah Roma yang lesu.
"Tidak ada, lebih baik kita bergegas," jawab Roma.
"Baiklah."
Milan melempar sendoknya ke mangkuk dengan kasar. Ia tidak ingin mendengar kalimat itu sekarang sebenarnya.
Milan ingin beristirahat barang sejenak setelah mengurus banyak hal, sesaat sesudah Roma menyusup di markas asosiasi dagang tempo hari.
Roma membuang napas panjangnya cukup panjang. "Kita harus mengambil alih Cincin Pisces."
"Cincin Pisces?" Milan mengerutkan keningnya.
"Bukankah itu milih Ravenna De Ville?" tanya si kucing Leo yang disambut anggukan kepala Roma.
Baru saja kemarin Roma menyusup ke markas asosiasi pedagang dan mempertaruhkan nyawa di sana.
Roma hampir saja ketahuan kalau saja tidak segera kabur.
Roma sungguh tidak ingin berurusan dengan iblis yang mengaku menjadi lelaki dengan nama Ravenna De Ville itu.
Namun, misi sudah diberikan oleh sistem. Roma tidak bisa mengelak begitu saja, ia harus menuntaskan misi ini atau tidak sama sekali.
"Kenapa kita harus mengambil alih Cincin milik iblis itu?" tanya Milan masih belum mengerti tujuan misi dari sistem.
"Apa kau bodoh? Tentu saja untuk menghancurkan asosiasi pedagang dan turunan usahanya!" seru si kucing Leo sinis.
Membuat Milan mengerucutkan bibirnya kesal. Baru kali ini Leo mengatakan itu.
Biasanya ia maki manusia, kini memakinya. Sialan sekali.
"Tidak perlu membentakku begitu! Aku juga sudah paham!" kesal Milan.
"Kalau kau paham kau tidak akan bertanya begitu!"
"Jangan berteriak begitu padaku!"
__ADS_1
"Tapi aku harus berteriak!"
"Bisakah kalian diam?!" seru Roma membuat perseteruan Milan dan si kucing Leo berhenti.
Kepalanya sedang pusing memikirkan apa rencana yang harus mereka buat untuk mengambil alih Cincin Pisces dari Ravenna De Ville.
Jika mereka salah menyusun rencana bisa-bisa nyawa mereka yang dihabisi oleh iblis itu dan antek-anteknya.
"Jadi, apa kau memiliki rencana, Roma?" tanya Milan.
"Sedang kupikirkan."
"Apa kita harus menyusup lagi ke dalam markasnya?" tanya si kucing Leo.
"Kau gila? Roma memang berhasil menyusup ke dalam markas asosiasi pedagang waktu itu, tapi bukan berarti kita bisa menyusup ke dalam kamar iblis itu!" Milan memekik.
Milan tidak ingin bunuh diri dengan menyusup ke dalam kediaman Ravenna De Ville.
"Tapi, tidak ada cara lain selain menyusup." Roma menengahi.
Tidak ada cara yang terpikirkan oleh Roma selain menyusup ke dalam ruangan Ravenna De Ville untuk mengambil cincin itu.
Roma tidak mungkin menyerang secara terang-terangan ke dalam markas sang iblis. Mereka tidak memiliki pasukan sebanyak itu.
Jika diibaratkan satu lawan seribu. Roma hanya bisa mengandalkan Milan dan seekor kucing bernama Leo. Itu saja. Mereka tidak memiliki apapun lagi.
Milan dan Leo saling berpandangan. Mereka tidak bisa menyanggah ucapan Roma. Memang tidak ada cara lain selain menyusup diam-diam.
Mereka tidak punya pasukan untuk menyerang secara terang-terangan.
"Kau memiliki ide yang bagus?" tanya Milan pada Roma.
Namun, Roma tidak ingin terlalu bertele-tele. Roma ingin rencana yang langsung menghabiskan antek-antek milik Ravenna De Ville.
"Apa aku harus menyusup dalam kamarnya?" ujar Leo sembari menjilati tangan dan kukunya.
"Aku memiliki rencana lain yang lebih bagus." Roma menarik sudut bibirnya penuh kelicikan, membuat Milan dan Leo sontak penasaran.
"Apa itu?"
"Kita akan menyusup ke markas asosiasi dan menghabisi mereka semua."
"Kau ingin langsung menghabisi petinggi-petingginya?" tanya Milan tidak percaya. Ia sungguh salut dengan rencana Roma yang brilian.
"Ya."
"Hebat sekali! Rencana ini sungguh hebat!" seru Leo sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
Tanpa menunggu waktu lagi. Mereka bertiga kemudian mempersiapkan diri untuk menyusup ke dalam markas para petinggi asosiasi.
Dengan dibantu oleh Leo, mereka mengetahui di mana saja letak markas asosiasi tersebut.
Ketika tengah malam, Roma dan yang lain mulai menjalankan misi tersebut.
Roma sengaja mempersiapkan mana-nya untuk penyerangan malam ini. Ia juga mempersiapkan segala senjata yang diperlukan dan pakaian serba hitam.
"Kalian sudah siap?" tanya Roma pada Milan yang berdiri di belakangnya yang juga mengenakan pakaian serba hitam. "Di mana Leo?"
"Dia sudah pergi lebih dulu tadi. Dia terlalu bersemangat," sahut Milan.
__ADS_1
Roma hanya mendesah pendek, kucing itu memang sulit sekali diatur.
Leo senang sekali bertindak sesukanya. Meski hasilnya tidak pernah mengecewakan.
"Kalau begitu tinggal kita berdua sekarang, kau masuk dari pintu belakang, sementara aku dari pintu samping. Paham?"
Milan mengangguk cepat, ia langsung melompat menuju bangunan yang ada di depannya.
Sesuai perintah dari Roma, ia masuk melalui pintu belakang, lalu menghabisi tergetnya dengan senyap.
Sementara itu Roma juga melakukan tugasnya sendiri. Ia menghabisi para petinggi asosiasi tanpa memberi sedikit ampunan.
Roma melompat dari rumah petinggi yang satu ke rumah petinggi yang lain. Tugas menghabisi musuh ia pecah menjadi tiga. Milan ke arah utara, Leo ke selatan, sementara Roma di barat.
Dalam waktu kurang dari 4 bulan, Roma dan teman-temannya berhasil menghabisi kurang lebih 100 petinggi asosiasi.
Petinggi-petinggi itu ditemukan tewas secara misterius esok harinya. Roma dan yang lain sebisa mungkin tidak meninggalkan jejak untuk mempersulit proses penyelidikan.
Tindakan Roma yang berhasil membunuh para petinggi asosiasi dengan brutal itu kemudian langsung jadi buah bibir masyarakat.
"Kau sama sekali tidak menahan diri," ucap Milan tiba-tiba membuat Roma mengangkat alisnya bingung.
"Apa maksudmu?"
"Lihat ini." Milan melempar selembaran yang sedang ia baca keatas meja makan. "Pembunuh berantai paling kejam, eh?"
Roma membaca tulisan judul yang tertera di selembaran tersebut yang sedang memberitakan kematian ratusan petinggi asosiasi secara brutal dan mengenaskan.
Sebagian isi berita itu dilebih-lebihkan dan Roma hanya tertawa-tawa kecil membacanya.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Milan.
Roma mengatakan hanya tertawa geli saja dengan isi dari selebaran itu.
"Lalu? Hanya ini saja rencanamu?" tanya Leo pada Roma yang hanya tersenyum ketika melihat selembaran tadi.
"Tentu saja tidak. Kalian lihat saja nanti, ini hanya permulaan."
"Kau bilang membantai ratusan petinggi itu hanya permulaan?" ucap Milan tidak percaya.
Terkadang Roma memiliki pola pikir yang mengerikan yang membuat Milan bergidik.
"Ya. Semua ini hanyalah permulaan. Aku belum benar-benar memulai rencanaku."
"Aku kira kita sudah selesai," sambar Leo. "Aku tidak ingin menyusup melalui lubang udara lagi! Buluku jadi kotor!"
"Tidak. Kita hanya menunggu di sini."
"Menunggu saja?"
"Ya. Kalian percayalah pada rencanaku. Ini akan berakhir sempurna."
Milan dan Leo hanya saling berpandangan. Ia tidak tahu apa yang akan direncanakan oleh Roma.
Sepertinya Roma mulai menikmati sesi permainannya yang dibalut dengan sebuah balas dendam.
Apalagi ia tahu bahwa semua ini mengarah pada sang kaisar yang ada hubungannya dengan kematian keluarganya.
Roma harus membalaskan dendamnya, dari bagian terkecil mereka sampai sang kaisar yang menanggung itu semua nantinya.
__ADS_1
Roma sudah menemukan jalan untuk membalas dendam, maka tak akan ia sia-siakan sama sekali.