SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
042 - ORDO CINCIN SUCI


__ADS_3

Ordo Cincin Suci merupakan pasukan terkuat yang pernah ada. Pasukan itu dibentuk oleh Palermo Mancini, seorang kaki tangan kaisar Salerno De Santis.


Palermo Mancini merupakan salah satu kaki tangan Salerno De Santis yang paling ia percayai.


Namun, ada beberapa hal yang Salerno De Santis tidak ketahui. Yaitu perihal rencana balas dendam milik Palermo Mancini yang ia pendam selama beberapa tahun.


Palermo membentuk sebuah Ordo yang memegang empat cincin bintang, yaitu Cincin Aries, CIncin Gemini, Cincin Capricorn, dan Cincin Virgo.


Sebuah pasukan terkuat yang pernah dibentuk sepanjang masa karena anggotanya memegang empat cincin sekaligus.


Masing-masing cincin dipegang oleh petinggi yang memiliki tujuan dan visi yang sama dengan Palermo Mancini.


Bukan perkara mudah bagi Palermo Mancini untuk mendapatkan kepercayaan dari kaisar Salerno De Santis.


Butuh waktu bertahun-tahun untuk Palermo Mancini memendam rasa dendamnya dalam-dalam. Hingga sang kaisar akhirnya percaya padanya dan memberikannya izin untuk membentuk sebuah pasukan terkuat.


Kaisar Salerno De Santis bahkan memberikannya empat buah Cincin Bintang untuk menunjang pasukan yang dibentuk oleh Palermo Mancini.


"Cari tahu keberadaan Roma," perintah Palermo Mancini pada orang pilihannya yang memegang Cincin Aries.


Palermo harus menemukan Roma dulu sebelum menjalankan semua aksinya.


"Kenapa kita harus mencari keberadaannya?" tanya pemegang Cincin Virgo. "Kita tidak harus tahu keberadaannya, bukan?"


"Tidak. Roma adalah bagian dari sekutu kita, jadi kita harus menemukannya dahulu sebelum yang lain atau rencana kita gagal."


Para pemegang Cincin Bintang itu pun segera melaksanakan perintah Palermo Mancini.


Pencarian dipecah menjadi ke arah empat mata angin agar lebih cepat ditemukan.


Beruntungnya hutan belantara di negeri ini bukanlah hal yang sulit bali Palermo Mancini, ia hafal betul seluk beluk hutan di daerah ini jadi ia hanya butuh sedikit waktu saja untuk menemukan dimana Roma bersembunyi.


Tak disangka Roma cukup lihai dalam menyembunyikan dirinya. Entah bagaimana tapi Palermo Mancini merasa kesulitan menemukan keberadaan Roma dan antek-anteknya.


Jelas saja, di dalam party Roma terdapat seekor kucing hitam yang memiliki indra lebih tajam dibanding manusia.


Jadi, setiap ada manusia mendekat, Leo akan langsung memberitahu Roma dan Milan agar mereka bisa kabur. Sementara Leo akan memastikan ke mana rombongan manusia yang bergerak mendekat itu pergi.


Setelah dirasa cukup aman mereka akan berkumpul lagi menjadi satu.


"Mereka pintar sekali bersembunyi, apa Roma memiliki anggota yang tahu seluk beluk hutan?" tanya Palemo Mancini sembari mengelus-elus dagunya.


Lelaki itu berpikir dengan keras, jika Roma memiliki anggota yang tahu seluk beluk hutan maka pencarian ini tidaklah mudah.

__ADS_1


Ia pasti memerlukan waktu lebih lama untuk menemukan keberadaan Roma dan teman-temannya.


Sementara itu di sisi lain, Milan mengarahkan anggota Partynya ke arah sisi hutan bagian dalam.


"Nah, itu dia pondoknya!" seru Milan sembari menunjuk sebuah bangunan tua yang berdiri di kelilingi pepohonan.


"Apa kau yakin di sana aman?" tanya Roma tak yakin, ia tidak ingin seseorang menemukan mereka bersembunyi di sana.


"Jarang ada yang sampai ke tempat ini, Roma. Mereka pasti tersesat duluan sebelum mencapai tempat ini," ucap Milan yakin.


Akhirnya mereka berempat kemudian memutuskan untuk tinggal sementara di pondok tua itu. Mereka tidak memiliki banyak pilihan saat ini selain pondok tua yang reyot itu.


"Aku harap mereka memiliki setidaknya perapian," ucap si kucing Leo.


"Sepertinya ada, kita lihat ada apa saja di dalam."


Roma kemudian membuka paksa pintu yang tertutup rapat. Pintu kayu tersebut sulit sekali dibuka karena engselnya sudah berkarat dan rapuh.


Setelah beberapa kali didobrak akhirnya pintu menjeblak terbuka dan Roma akhirnya bisa masuk ke dalam.


Kondisi di dalam tidak cukup baik namun tidak cukup buruk. Perabotannya tua daan dipenuhi oleh debu setebal sepuluh senti barangkali.


Namun, Roma tidak banyak protes. Menemukan tempat untuk bermalam malam ini saja sudah sangat bagus untuk mereka.


"Tidak buruk." Milan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Meski pondok ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan rumah penginapan mereka sebelumnya, tetapi Milan tidak banyak menyanggah.


Ia sangat senang tidak perlu tidur beralaskan akar pohon yang mencuat ke atas. Punggungnya terasa pegal-pegal tiap ia bangun tidur.


Sementara itu di sisi yang lain, Palermo Mancini merasa pusing tujuh keliling lantaran sudah masuk hari ketiga pencarian dan Roma belum juga ditemukan.


Palermo sudah mengutus anak buahnya untuk masuk ke hutan bagian dalam, tetapi nihil. Roma tidak ditemukan di manapun. Tidak ada jejak tertinggal. Kelompok Roma sungguh pandai dalam menyembunyikan diri.


Namun, satu hal yang pasti, Palermo Mancini yakin sekali Roma dan antek-anteknya masih berada di dalam hutan.


"Kita lanjut besok lagi, kali ini aku akan turun tangan."


Keesokannya, Palermo Mancini benar-benar turun tangan.


Ia tidak ingin banyak waktu terbuang hanya untuk mencari keberadaan Roma. Ia ingin segera menuntaskan dendamnya pada kaisar Salerno De Santis.


Palermo Mancini tidak bisa menunggu lebih lama lagi dari ini.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu motifnya di dalam istana. PAlermo Mancini menyaru menjadi orang kepercayaan kaisar nomor satu yang dapat diandalkan.


Tidak ada yang tahu mengenai dendam yang terkubur dalam-dalam di hati Palermo Mancini.


Palermo Mancini menyimpan dendam karena dahulu kaisar Salerno De Santis bisa duduk di atas singgasananya saat ini adalah karena merebut tahta dari keluarganya.


Seharusnya yang duduk di atas singgasana itu adalah Palermo dan bukan Salerno De Santis.


Salerno De Santis datang entah dari mana dan merebut kursi tahta dari keluarganya.


Saat itu Palermo Mancini baru berusia tujuh tahun dan belum mengerti apa-apa. Sampai pertumpahan darah terjadi. Kobaran api di mana-mana.


Dan Palermo harus merelakan ayah dan ibunya tewas akibat perebutan tahta itu. Palermo tidak terima.


Setiap ia mengingat kejadian itu api amarah di dalam hatinya seketika membara dan api dendam di benaknya menuntut dituntaskan.


Semenjak insiden itu yang hampir menewaskan seluruh keluarganya, Palermo berniat untuk balas dendam.


Ia bahkan rela menjadi budak dari kaisar Salerno De Santis dan menjadi anjing kesayangannya yang akan menuruti perintah apapun. Termasuk perintah kali ini.


Namun, Palermo Mancini tidak ingin lama tertidur. Ia tidak ingin dendam yang dikubur tidur terlalu lama.


Jadi, ia membangunkan dendamnya dan berniat untuk membalaskannya malam ini.


Namun, sebelum itu ia harus menemukan keberadaan Roma.


"Di mana lelaki itu berada?! Kenapa susah sekali menemukannya?!" gerutu Palermo ketika tidak bisa menemukan Roma di manapun lelaki itu berada.


"Apa dia sudah pergi dari ibu kota, Tuan Palermo?" jawab salah seorang anak buahnya.


"Tidak mungkin, aku yakin sekali mereka masih di ibukota. Atau mereka berada di hutan perbatasan? Bisa saja, bukan?"


"Mungkin mereka di sana, Tuan."


"Kalau begitu kita harus ke sana secepatnya!"


Palermo Mancini beserta puluhan anak buahnya dan beberapa ekor serigala untuk melacak keberadaan Roma kemudian pergi menuju ke hutan perbatasan.


Hanya itu satu-satunya harapan bagi Palermo Mancini. Jika Roma tidak ada di sana maka ia harus menyusun strategi yang baru.


"Bagaimana kabar pasukan yang ada di selatan?" tanya Palemor pada anak buahnya.


"Kosong. Tidak ada jejak yang ditinggalkan. Mereka menduga Roma dan teman-temannya sudah meninggalkan hutan."

__ADS_1


Namun, firasat Palermo Mancini berkata kalau mereka belum meninggalkan hutan meski sudah tidak berada di ibukota.


__ADS_2