
Milan yang kesal dengan sikap temannya itu langsung meneriaki pria itu.
“Roma, tunggu! Jangan pergi begitu saja, kamu!” Leo hanya menggoyangkan ekornya sebagai tanda bahwa dia sudah biasa melihat pemandangan Roma dan Milan yang seperti itu.
Sejak melawan Asosiasi Perdagang banyak hal sudah terjadi ternyata.
Bahkan sekarang Milan sudah tahu bahwa Leo bisa berbicara dan mengerti bahasa manusia.
Sejak saat itu mereka sering terlihat obrolan menyebalkan.
“Aku sudah tak heran melihat kalian berdua bertingkah seperti anak kecil akhir-akhir ini, ” ujar Leo.
Milan menatap ke arah Leo dan membentaknya.
“Diam kau, kucing! Ini urusanku dan tuanmu! Jangan ikut campur!” Milan kembali mengejar Roma yang sudah lebih dulu pergi menuju portal kota.
“Baiklah, aku akan diam saja. Kalian para manusia memang sangat aneh dan bertingkah lucu. Apalah aku yang hanya kucing peliharaan Roma,” ujar Leo berlagak sedih.
Dengan lunglai, Leo berjalan mengejar tuannya dan Milan.
Semenjak apa yang terjadi, Roma sudah mempelajari sihir perpindahan, jadi dalam waktu-waktu tertentu ia bisa pindah dengan cepat.
Namun, itu menggunakan mana yang cukup besar, jadi tak sering ia gunakan.
***
Roma sudah lebih dulu tiba di Ibu kota Kekaisaran. Tak berselang lama, Milan mengikutinya dan disusul oleh Leo, si kucing hitam yang kata orang lucu.
Mereka bertiga mengamati situasi Ibu kota yang lebih padat dan ramai dari tempat sebelumnya.
“Di sini ramai sekali penduduknya,” ujar Milan takjub. Dia bahkan bisa menghitung berapa banyak kendaraan yang terbang dan berapa banyak orang yang berlalu lalang.
“Tentu. Ini adalah Ibu kota Kekaisaran. Wajar saja jika situasinya ramai seperti ini. Jika tak ramai, namanya perkampungan,” ujar Roma.
Milan bersungut. Dia membenci perkataan Roma. Leo yang melihat kedua orang itu tampak tak akur pun berusaha mencairkan suasana.
“Sudahlah, kau jangan bersungut-sungut seperti itu, Milan. Roma, aku lapar! Sebagai tuan yang baik, harusnya kau siapkan makanan untukku! Cepat, belikan sesuatu yang bisa dimakan. Aku benar-benar lapar, sekarang.”
Roma menatap kucing hitamnya dengan tatapan tajam. Leo tak peduli, perutnya memang saat ini membutuhkan asupan. Tatapan seperti itu sudah biasa dia terima dari majikannya.
Kucing itu malah berjalan menuju kedai makanan yang di mana terdapat ikan segar dan daging-daging yang aromanya menggugah selera.
“Roma, aku mau makan itu! Karena ini adalah misimu, kau harus mentraktir aku dan Milan makan di sana sepuasnya! Setelah itu, kita baru membahas rencana selanjutnya!” Tanpa merasa berdosa, si kucing Leo berjalan melewati Milan dan Roma.
__ADS_1
Roma hanya bisa menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, lalu mengikuti binatang peliharaannya itu.
“Dasar kucing! Awas aja kamu, Leo!” gerutu Roma.
Mereka bertiga sudah tiba di warung makan yang ditunjuk Leo. Roma memesan makanan dan memberikannya pada Milan dan Leo.
“Kalian makanlah,” ujar Roma.
Milan menatap Roma dengan seksama. Dia melihat bahwa hanya ada dua piring yang dipesan pria itu. Milan pun bertanya kenapa Roma tak ikut memesan makanan.
“Kau tak ikut makan? Kenapa? Pesanlah, makanan itu,” ujar Milan.
Roma menolak. Dia beralasan masih kenyang.
“Tak usah. Kalian makanlah. Aku belum lapar.”
Leo menyantap makanannya begitu lahap. Kucing hitam itu benar-benar merasa lapar.
Ikan yang dibakar setengah matang, adalah makanan yang disukai Leo.
***
Setelah pergi dari kedai makan itu, Roma merasa ada yang sedang mengikuti mereka. Roma sedang menyiapkan diri jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Milan yang merasa tingkah Roma aneh pun bertanya.
“Sepertinya ada yang mengikuti kita.”
“Itu hanya perasaanmu saja. Sudahlah, kita baru sampai terlebih, tak ada yang mengenal kita, pasti.”
“Jangan meremehkan orang lain, Milan. Bisa jadi, selama ini para suruhan kaisar sedang mengawasi gerak-gerik kita. Kita harus waspada!” tegas Roma.
“Baiklah. Terserah saja. Yang jelas, aku ingin kita menginap sekarang. Raja Genoa telah menyiapkan penginapan untuk kita.”
Roma menatap Milan tak percaya. Padahal, dia sudah mengatakan untuk tidak memerlukan bantuan apapun dari Raja Genoa.
“Kau, kau menerima tawaran raja Genoa? Maksudku, kau meminta bantuannya? Kenapa?” tanya Roma.
“Karena kita butuh istirahat. Aku tak mau mencari tempat tinggal lagi dan membuat itu lelah. Jika ada yang menawarimu kebaikan, lebih baik terima,” ujar Milan.
Roma pasrah. Dia pun mengikuti temannya ke tempat tinggal yang sudah disediakan oleh raja Genoa untuk mereka selama berada di Ibu kota.
***
Benar saja firasat Roma sejak tadi. Ada yang mengawasi gerak-gerik mereka. Dari kejauhan, terlihat segerombolan orang sedang mengawasi aktivitas Roma.
__ADS_1
“Ternyata, di sini tempat tinggal mereka. Awasi terus mereka, jangan sampai kedua anak itu dan kucingnya melakukan hal-hal yang mengacaukan kita. Tolong, pastikan dia tak bisa melakukan apapun!” tegas seseorang.
“Baik, Tuan. Kami akan melakukan tugas sebaik mungkin,” ujar yang lain.
Orang yang dipanggil tuan itu mengangguk. Lalu, pria itu juga memberi instruksi untuk melakukan teror pada ketiganya agar Roma dan kawan-kawannya bisa segera meninggalkan Ibu kota.
“Oh iya, kalian juga perlu memberikan teror pada anak itu. Pastikan dia segera meninggalkan ibu kota Kekaisaran tanpa melakukan sesuatu yang buruk. Aku tak ingin, kaisar murka karna tahu anak itu ada di ibu kota,” ujar orang misterius itu.
“Baik, tuan.”
Sesuai perintah, mereka semua hanya meneror Roma dan teman-temannya. Orang-orang itu meneror dengan menuliskan surat yang isinya berdarah-darah.
Pada malam harinya. Roma dan Milan sedang menikmati makan malam.
Tiba-tiba, seseorang melempar sebuah batu ke arah penginapan mereka. Roma lalu membuka pintu dan menemukan sebuah surat.
Tak menunggu waktu lama, pria itu lalu membuka suratnya dan membacanya. Surat itu berlumuran darah merah.
Milan sampai jijik saat mencium bau anyir yang terdapat di sana.
“Cepat tinggalkan ibu kota Kekaisaran! Jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Jika kalian macam-macam di sini, maka aku akan menghancurkan kerajaan Raja Genoa dan membunuh kalian! Jangan anggap ancaman ini angin lalu!” Roma membaca isi surat yang berdarah-darah itu dengan nyaring.
Pria itu lalu membuang surat itu asal dan kembali masuk ke penginapan.
“Siapa sih yang iseng mengirim surat dengan darah yang begitu anyir?” tanya Milan.
“Entahlah. Bisa jadi ini sebuah peringatan dari Asosiasi pedagang. Kita harus berhati-hati mulai sekarang,” ujar Roma.
***
Di tempat lain, Palermo Mancini sedang berpidato pada anak buahnya.
“Kita sudah memiliki beberapa cincin bintang. Kalian semua harus mendapatkan sisanya bagaimana pun caranya! Seperti sebelumnya, kita bisa mencuri cincin itu atau membunuh pemiliknya.
Tujuan kita satu, yaitu membuka gerbang dunia lain. Jika aku dan Kaisar memiliki dua belas cincin bintang, maka kekuasaan dunia ada di genggaman kami." Palermo Mancini mengatakan hal itu dengan tertawa di akhir pidatonya
Perkumpulan rahasia pemegang cincin bintang bertujuan untuk membuka gerbang dunia lain. Palermo tidak sendiri, orang yang berada di baliknya adalah sang Kaisar, Salerno De Santis.
Kaisarlah yang selama ini mendukung perkumpulan tersembunyi yang dipimpin oleh Palermo.
Dia yang dianggap suci tak bisa melakukannya sendiri. Itu sebabnya, Kaisar Salerno De Santis menyuruh Palermo untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki cincin bintang.
Bahkan, jika pemilik cincin itu tak mau bergabung bersama mereka, Kaisar Salerno meminta bawahannya itu untuk membunuh mereka.
__ADS_1
Saat ini, mereka baru mengumpulkan tujuh cincin bintang. Mereka membutuhkan lima cincin bintang lagi yang ada pada Leo, Milan, dan Roma untuk membuka gerbang dunia lain. Entah apa yang ada di sana, Palermo dan Kaisar Salerno sendiri belum mengetahuinya.