SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
043 - PERTARUNGAN SENGIT ANTAR PENGGUNA CINCIN BINTANG


__ADS_3

"Apa perapiannya bisa berfungsi?" tanya Milan pada Roma yang sedang membersihkan ruang tengah.


"Tidak tahu, kenapa tidak kau coba saja?"


Milan berdecak, ia sesungguhnya sedang malas mencari kayu bakar di hutan. Tubuhnya terasa pegal-pegal dan butuh istirahat.


"Aku tahu kau lelah, Tidak usah mencari kayu bakar, aku menemukan tumpukan kayu di ruang bawah tanah," ucap Roma yang langsung membuat kedua mata Milan berbinar.


Milan kemudian langsung menuju ke ruang bawah tanah, dan benar saja di sana terdapat tumpukan kayu bakar yang sudah dipotong dan siap untuk digunakan.


"Wah! Siapapun pemilik rumah ini sebelumnya semoga kau dilindungi! Aku berterima kasih karena berkat kau, aku tidak perlu mencari kayu bakar di hutan!" Milan kemudian langsung membawa kayu-kayu itu ke atas dan membakarnya di perapian.


Hawa hangat langsung merambat di dalam rumah, membuat Roma yang mulanya tegang kini bisa sedikit lebih rileks.


Pemuda itu sejak tadi khawatir ada yang menemukan jejaknya di hutan, meski sudah berulang kali Leo menutupi jejak mereka, tetapi Roma masih tetap cemas.


"Tenang saja, aku sudah menutupi jejak kita. Jadi, tidak akan ada orang yang menduga kita akan ke tempat ini," ucap Leo ketika mendapati wajah ROma tak henti-hentinya mengernyit cemas.


"Aku tahu, hanya saja perasaanku sejak tadi tidak enak. Aku merasa seseorang sedang menuju ke sini."


Roma memandangi pepohonan yang rapat di depannya. Pondok tua ini sulit sekali ditemukan karena terletak di hutan dalam dan medan yang terjal untuk mencapai tempat ini.


Bahkan Roma yakin sekali ia tersesat jika bukan karena Tere.


Berkat Milan lah mereka bisa berteduh di dalam pondok kayu yang tersembunyi di dalam hutan lebat.


"Bagaimana kau tahu kalau ada pondok tua di sini?" tanya Roma pada Milan yang sedang membersihkan lantai agar tidak berdebu.


Milan mengatakan bahwa itu hanyalah instingnya saja, tidak lebih.


"Aku akan memeriksa situasi di luar," ucap Leo. Kucing itu melompat dari bahu Roma dan berjalan melenggak-lenggok keluar.


"Tidak perlu, aku bisa jamin lingkungan di sini aman," cegah Milan. Ia ingin membuat anggota party-nya beristirahat saja malam ini dan tidak perlu berjaga.


"Leo benar, kita harus memeriksa situasi di luar, Milan. Perasaanku merasa tidak enak sejak tadi."


"Nah, kau dengar itu, kan? Jadi, aku akan pergi keluar." Leo melanjutkan langkahnya.


"Kau bukannya ingin mencari betina, Leo?" goda Milan yang membuat Leo mendengus kesal.


"Urus saja urusanmu sendiri!"


Milan terkekeh geli. Ia tahu betul Leo hanya beralasan saja ingin menjaga situasi di luar, padahal kucing jantan itu pasti ingin mencari kucing betina lain.


"Dasar kucing!"


Hari semakin gelap. Mereka memutuskan untuk tidur di satu tempat yang sama untuk malam ini karena Roma bersikeras kalau tempat ini belum aman sepenuhnya.


Leo juga belum kembali dari pengintaiannya, mereka bertiga tidak khawatir dengan kucing itu karena berpikir Leo pasti sedang mencari betina.


Namun, semua suasana damai itu seketika berakhir ketika ada sesuatu yang menghantam pintu dengan keras dan Leo menyeruak masuk ke dalam dengan nafas tersengal-sengal.


"Astaga! Bisakah kau tidak menimbulkan keributan?! Kau membuatku jantungan!" gerutu Milan pada Leo.

__ADS_1


Jantungnya nyaris saja jatuh ke lantai mengira ada penyusup yang masuk.


"Ada apa?!" tanya Roma begitu mendapati raut wajah Leo yang panik.


"A-Ada yang datang ke sini!" pekik Leo dengan suara tercekat.


Roma, dan Milan langsung melompat berdiri dan bersiap dengan senjatanya masing-masing.


"Siapa yang sedang menuju ke sini?!" tanya Milan panik. Ia langsung mengacungkan senjatanya ke depan dada.


"Aku tidak tahu, mereka banyak sekali dan membawa serigala. Kalau ada makhluk besar itu tak lama lagi mereka pasti akan menemukan kita! Kita harus segera pergi dari sini!"


Namun sudah terlambat. Kawanan serigala milik Palermo Mancini lebih dulu menemukan gubuk tua itu.


Serigala-serigala itu mengaum keras, mengundang para pasukan Palermo Mancini untuk mendekat.


"Di sana!" seru Palermo Mancini pada anggota pasukannya. "Serang mereka yang ada di dalam gubuk! Tapi, jangan lukai mereka!"


Anggota pasukan Palermo Mancini langsung mengepung pondok tua itu. Roma dan anggota timnya sontak panik. Roma memaki dalam hati karena sempat menurunkan rasa waspadanya barang sejenak.


Kini, mereka sudah dikepung dan mereka tidak memiliki sebuah strategi untuk menghambat pasukan itu atau melarikan dari ini.


"Apa ada jalan keluar selain pintu depan?" tanya Roma pada Milan yang hanya dijawab gelengan. "Sial!"


Roma benar-benar sudah terkepung. Tidak ada pilihan lain selain bertahan dan menyerang balik.


Roma berusaha memejamkan matanya, memperkirakan seberapa tangguh musuh yang ada di depan.


Roma mengarahkan timnya untuk bersembunyi di ruang bawah tanah. Kawanan serigala mulai menerobos masuk melalui jendela.


Serpihan kayu bertebaran di mana-mana membuat Roma semakin panik.


Roma berusaha menahan serangan kawanan serigala dan anggota pasukan. Dibantu oleh Milan yang tidak sekuat dirinya.


Sementara Leo sudah tak terlihat di mana batang hidungnya. Mungkin kucing itu bersembunyi untuk mengumpulkan lebih banyak informasi.


Roma berhasil membuat serigala dan anggota pasukan itu terpental keluar.


Melihat anggotanya dikalahkan cukup mudah oleh Roma membuat Palermo Mancini tersenyum.


Ia sungguh tertarik dengan kelebihan milik Roma yang memegang CIncin Bintang lebih dari satu sepertinya.


Hanya saja Roma menyimpannya sendiri sementara Palermo Mancini memberikan tiga yang ia punya untuk anggota pilihan di dalam Ordi Cincin Suci.


"Tangkap dia," titah Palermo pada anggota pasukannya untuk menyerbu pondok tua itu.


Pertarungan tidak dapat terhindarkan. Merekaa bertarung tidak mengingat waktu.


Roma melawan Palermo Mancini, sementara anggotanya yang lain berusaha sekuat tenaga untuk memukul mundur anggota Ordo Cincin Suci meski kewalahan.


Entah sudah berapa lama pertarungan itu berlangsung. Roma mulai merasa dadanya sesak dan terhimpit batu, sementara kondisi Milan dan yang lain tidak terlihat cukup baik.


Jika pertarungan ini dilanjutkan maka Milan dan Leo akan terancam bahaya.

__ADS_1


Namun, Roma tidak bisa kabur begitu saja. Pasukan Ordi Cincin Suci ini tidak membiarkannya untuk memalingkan wajah barang sejenak.


Hingga akhirnya Roma yang memang kondisi mana-nya tidak sepenuh biasanya, kalah tipis dari Palermo Mancini.


Pemuda itu tergeletak di tanah dengan tangan dan kaki dikunci oleh Palermo Mancini.


"Bagaimana? Apa aku sudah menyerah sekarang?" Palermo Mancini tersenyum miring, membuat Roma kesal dan berontak.


Namun, usahanya sia-sia, tenaga Roma seakan sudah habis terkuras. "Kau akan kulepaskan, tapi kau harus dengarkan aku dulu."


"Kenapa aku harus mendengar ucapan sampahmu?"


"Karena kau akan menyesalinya kalau kau tidak mendengarku."


"Baiklah, baiklah."


Palermo Mancini kemudian melepaskan Roma. "Aku tidak ingin membunuhmu, setidaknya untuk saat ini."


Roma dan Milan sontak saling berpandangan.


"Apa maksudmu? Bukankah kau mencariku untuk membunuhku?"


"Ya, memang. Kaisar sendiri yang memerintahkanku untuk membunuhmu. Tapi, aku memiliki rencana yang lebih baik."


"Apa itu?"


"Bergabunglah denganku."


"Apa?" Roma sungguh tidak mengerti, kenapa Palermo tiba-tiba memintanya untuk bergabung dengan nya. "Kenapa kau ingin aku bergabung?"


"Karena tujuan kita sama. Kau ingin melenyapkan Kaisar, bukan? Kalau begitu tujuan kita berarti sama."


"Jadi, kau memiliki dendam pribadi pada kaisar dan memintaku untuk bergabung denganmu?" Roma mendengkus. "Apa untungnya untukku jika bergabung denganmu?"


"Salah satu tujuanmu akan tercapai, bukan? Kau ingin melenyapkan kaisar, dan aku juga. Jadi, kenapa kau dan teman-temanmu tidak bergabung saja denganku?"


"Apa alasanmu hanya untuk melenyapkan kaisar?"


"Tidak juga."


"Lalu?"


"Kau pengguna Cincin Bintang, kan? Aku tidak ingin pengguna cincin bintang berkeliaran bebas dan membuat onar. Yah, meski kau bukan orang yang seperti itu tetap saja Cincin Bintang itu berbahaya.


Banyak orang yang menginginkan Cincin Bintang dan membuat banyak negara berperang hanya untuk mendapatkannya. Jadi, aku ingin menyimpannya sendiri untuk kuhancurkan agar peperangan konyol ini segera berhenti."


Apa yang dikatakan Palermo itu membuat Roma bingung, tetapi ia harus mengikutinya.


Sebenarnya dengan kekuatan sistem, ia tidak benar-benar kalah. Bahkan ia masih sanggup mengalahkan mereka dengan mudahnya.


Hanya saja sistem mengatakan mungkin dengan begitu ia bisa mendapatkan informasi yang lebih dan mengalahkan mereka dari dalam.


Hal itu sepertinya akan cukup mudah, daripada mencari informasi sampai ke tempat yang tidak seharusnya.

__ADS_1


__ADS_2