SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
045 - SEBUAH RENCANA LAINNYA


__ADS_3

Palermo Mancini membawa anggota barunya ke markas menggunakan kereta kuda agar Roma dan teman-temannya bisa bersembunyi.


Mustahil mereka pergi berjalan kaki. Roma pasti akan langsung ditangkap dan diadili oleh sang kaisar.


Palermo tidak sebodoh itu untuk melakukan bom bunuh diri dan menghancurkan rencana yang sudah ia susun bertahun-tahun.


Akhirnya setelah berjam-jam bersembunyi di dalam kereta kuda, mereka akhirnya sampai di markas pasukan Ordo Cincin Suci.


"Kalian boleh keluar," ujar Palermo Mancini.


Roma mengintip keadaan sekitar sebelum melompat turun dari kereta kuda.


Kemudian disusul oleh Milan. Sementara Leo melompat turun dari salah satu pangkuan anggota Cincin Suci yang memegang Cincin Bintang Virgo.


Kucing hitam itu tidak perlu repot-repot bersembunyi karena dia adalah seekor kucing.


"Kau yakin markasmu aman dari prajurit istana?" tanya Roma memastikan.


Biasanya karena Palermo Mancini adalah anggota kepercayaan sang kaisar, akan banyak prajurit yang hilir mudik di dalam markas.


"Tenang saja, markasku steril. Tidak ada seorang pun dari istana yang kuizinkan masuk ke dalam. Yah, kecuali sang kaisar tu sendiri. Bagaimanapun aku hanyalah seorang budak, bukan?"


Palermo Mancini mengangkat bahunya ringan seolah itu bukan masalah yang perlu dicemaskan. "Akan ada yang berjaga di luar, kalian tenang saja. Mereka pasti akan memberitahu kalau ada seseorang yang datang."


"Markasmu terletak di tengah kota. Akan sulit bagi kami untuk bergerak," ucap Milan.


Benar juga. Roma tidak terpikirkan sampai ke sana karena terlalu fokus mengamati sekitar dan memastikan teman-temannya aman dan tidak ketahuan oleh prajurit istana.


"Ah, untuk masalah itu sudah kuatasi. Lebih baik kalian masuk dulu."


Mereka semua kemudian masuk ke dalam markas Ordo Cincin Suci yang  lumayan luas.


Jelas saja, mereka adalah pasukan resmi milik kaisar dan juga salah satu pasukan terkuat sepanjang masa. Palermo Mancini mengepalai pasukan yang memegang Cincin Bintang secara langsung, ditambah dia juga memegang Cincin Bintang itu sendiri.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya. Kalau kita ada misi di luar, kalian harus menyamar. Aku sudah mempersiapkan pakaian untuk kalian. Ah, kecuali Leo. Dia yang paling bebas untuk pergi ke luar."


Leo yang disebut hanya menjilati tangannya tanpa peduli sedikit pun. "Yah, setidaknya aku bisa mencari betina disini. Kucing betina di ibu kota adalah yang terbaik!"


Palermo Mancini dan anggota ordo lain tertawa mendengar Leo berbicara. Menurut mereka Leo sangat menggemaskan ketika berbicara, wajar saja kucing yang bisa berbicara terhitung jarang atau bahkan langka. Palermo bahkan baru kali ini bertemu dengan kucing yang bisa berbicara.


"Dia sangat menggemaskan," ucap Palermo yang langsung disahut lirikan tajam dari Leo.


"Aku tidak menggemaskan!"

__ADS_1


"Maaf, dia memang sedikit sensitif jika ada yang menyebutnya imut atau lucu. Padahal dia memang imut," sambar Milan yang langsung disahut geraman lucu dari Leo.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Kau ingin melaporkan apa pada kaisar?" tanya Roma bertanya tentang rencana milik Palermo Mancini.


 Ia tidak ingin berada di markas ini terlalu lama dan menunggu tanpa kepastian.


"Tentu saja aku akan ke markas kaisar dan melaporkan kalian. Tapi, aku akan menunda laporan kematian kalian dahulu"


"Mengapa?"


"Karena aku ingin kaisar lebih mempercayaiku lagi. Aku akan melaporkan kau dan anggotamu sua meninggalkan ibukota dan aku butuh beberapa waktu untuk mencarimu. Nah, kita akan gunakan waktu tersebut untuk menyusun strategi untuk menggulingkan kaisar. Bagaimana?"


"Terdengar bagus. Jadi, kami hanya menunggu saja di sini? Sementara kalian menjadi budaknya kaisar?" tanya Roma yang membuat Palermo Mancini terkekeh.


"Kalimatmu kasar sekali, tapi aku memanglah hanya seorang budak yang tidak bisa menolak perintah kaisar Salerno De Santis."


"Baiklah, kami akan mengikuti semua rencanamu. Tapi, ingat, aku tidak ingin terlalu lama berada di sini. Pertama, aku tidak suka membuang waktuku. Dan yang kedua, kami bisa saja ketahuan kalau berdiam di satu tempat. Kau paham ini bukan?"


Palermo Mancini tentu saja paham. Dia juga tidak sebodoh itu, ia akan pastikan anggota barunya aman demi rencananya agar mulus berjalan.


"Tenang saja. Aku akan pastikan rencana ini berjalan sempurna dan kalian bisa mencapai tujuan. Begitupun denganku. Jadi, silakan beristirahat. Anggotaku akan mengantar kalian ke kamar masing-masing."


Anggota ordo yang memegang Cincin Virgo kemudian mengantar Roma dan teman-temannya ke lantai atas.


"Kau serius mempercayainya?" tanya Leo ketika sudah tidak ada orang di dalam kamar. Ia masih sulit menerima kalau Roma kini mempercayai orang lain.


"Untuk saat ini iya. Dia memberiku alasan yang masuk akal untuk mempercayainya."


"Kau tahu ini bisa saja hanya jebakan, kan?" tanya Leo lagi.


Roma jelas tahu. Persentasenya adalah 50:50. Bisa saja Palermo Mancini memang berniat menjebaknya dan semua perkataannya adalah dusta, tetapi tidak menutup kemungkinan ucapan yang ia katakan adalah benar sepenuhnya.


Bisa saja lelaki itu ingin membalaskan dendam keluarganya.


Tapi, Roma tidak memiliki banyak pilihan saat ini selain mempercayai Palermo Mancini.


 Lagi pula, jika lelaki itu berniat berkhianat, Roma sudah mempersiapkan segala macam cara untuk mengalahkan lelaki itu.


Pertarungan dengan Palermo beberapa waktu lalu membuat Roma mengerti tiap gerakan dan serangan yang dilancarkan oleh lelaki itu.


Sementara itu, Palermo Mancini tertawa keras di dalam ruangannya yang kedap suara. Pelayan pribadinya kemudian menyuguhkan segelas anggur merah kesukaan Palermo ketika lelaki itu kembali ke kamar.


"Ya ampun, tak kusangka mereka semua gampang dibodohi!" Palermo tertawa lagi.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar ketukan keras pada pintu. Palermo sontak terkejut dan menyuruh pelayan pribadinya untuk membukakan pintu. Rupanya anggota ordo pemegang Cincin Virgo yang datang ke kamarnya.


"Ah, kau ternyata. Kukira Roma yang datang." Palermo membuang napas lega.


"Ini rencanamu, bukan?"


"Tentu saja bukan!" Palermo Mancini tertawa lagi.


Sayangnya, menggulingkan kekaisaran bukanlah rencana utamanya. Palermo Mancini mengelabui dua orang sekaligus.


Ia mengelabui kaisar dan juga Roma. Palermo Mancini hanya ingin menyimpan ke dua belas Cincin Bintang itu sendirian.


"Jadi, kapan kita akan ke ibukota untuk melapor pada Kaisar?" tanya anggota ordo yang memegang Cincin Virgo itu.


"Malam ini kita semua akan pergi ke ibukota untuk melapor."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Pemegang Cincin Virgo itu kemudian membungkuk hormat lalu melenggang keluar dari ruangan pribadi Palermo Mancini.


Sesuai dengan janji Palermo Mancini pada Roma dan teman-temannya. Mereka semua kemudian bersiap untuk pergi ke ibu kota.


"Kalian semua sudah siap?" tanya Roma memastikan Milan dan Leo sudah tertutup sempurna dengan penyamarannya menggunakan jubah panjang.


Palermo Mancini memberikan mereka penyamaran lengkap agar tidak tertangkap prajurit di ibu kota.


"Sudah siap. Aku merasa iri dengan Leo karena dia tidak perlu menyamar seperti ini," gerutu Milan. Ia melirik ke arah Leo yang sejak tadi sibuk menjilati bulunya.


"Maka jadilah kucing, kau tidak perlu berurusan dengan manusia yang merepotkan."


"Kau juga berurusan dengan manusia, bodoh!" seru Milan menepuk punggung Leo.


"Hei, jangan sentuh buluku! Aku sudah membersihkannya tadi!" geram Leo. Kucing hitam itu kembali menjilati bulunya yang baru saja disentuh oleh Milan.


"Apa yang akan kita lakukan kalau salah satu dari kita ketahuan?" tanya Milan yang membuat semuanya terdiam.


Roma melempar senyum tipis. "Kalian akan aman jika bersamaku, jadi jangan berpencar. Aku akan pastikan kita semua aman."


Roma tidak akan membiarkan satu pun dari teman-temannya tertangkap oleh prajurit kerajaan.


Ditangkap artinya mati. Roma tidak bisa membiarkan salah seorang dari temannya mati sia-sia. Tidak sebelum tujuan mereka semuanya tercapai.


"Baguslah, kami semua percaya padamu, Roma."


Roma menyisir satu persatu manik mata anggota timnya. Ia sudah diberi kepercayaan oleh mereka semua, jadi Roma tidak boleh mengecewakan anggotanya.Tidak akan.

__ADS_1


Roma memikirkan keputusannya mempercayai Palermo Mancini bukanlah keputusan yang salah. Dalam diam, Roma juga memikirkan rencana seandainya Palermo hanya menjebak mereka semua.


__ADS_2