
"Apa-apaan ini!" Ravenna De Ville melempar selembaran yang ia terima pagi ini ke sembarang arah.
Paginya rusak setelah seorang pelayan memberitahunya tentang kabar yang tersebar di kota.
Para petinggi asosiasi dangangnya dibantai oleh pembantai kejam yang tidak memiliki hati.
Ravenna De Ville memang tidak menyanggah berita itu. Hanya saja ia tidak suka jika berita itu sampai di publik dan jadi konsumsi masyarakat.
Ravenna De Ville menganggap kematian itu sebagai aib dan ingin menutupinya sebisa mungkin, ia tidak ingin ada orang yang menganggap akan ada kejatuhan seorang Ravenna De Ville dari kematian misterius para petinggi asosiasi.
Pembunuh berantai kejam?
Ravenna De Ville mendengus, tanpa perlu mencari tahu ia tahu betul siapa pelakunya.
Ia tahu betul siapa yang sudah menghabisi ratusan anak buahnya dalam waktu beberapa terakhir ini.
"Siapa lagi kalau bukan dia!" desis Ravenna De Ville marah. Kuku-kuku tajamnya mencengkeram kursi singgasananya erat-erat.
"Kumpulkan semua pasukan malam ini," perintah Ravenna De Ville pada asisten pribadinya. "Dan cari di mana Roma bersembunyi!"
"Baik, Tuan Ravenna De Ville."
Ravenna tidak ingin mengulur-ulur banyak waktu. Ia ingin menuntaskan semuanya dalam waktu dekat.
Jadi, ia memerintahkan orang untuk melacak keberadaan Roma dan kawanannya.
Pemuda itu tidak mungkin bekerja sendiri, ia pasti memiliki pasukan. Setidaknya itulah yang ada di kepala Ravenna.
Keesokan harinya keberadaan Roma masih belum ditemukan.
Ravenna De Ville murka sekali dengan para bawahannya yang dinilai tidak becus untuk mencari seseorang.
"Bagaimana kalian tidak bisa menemukan satu orang di kota ini, hah?!" seru Ravenna De Ville murka.
"M-Maafkan kami, Tuan, tapi pembunuh itu tidak meninggalkan jejak sama sekali. Kami kesulitan mencarinya. Daan bisa dipastikan merek tidak kerja sendiri. Ada beberapa petinggi yang kematiannya berbeda."
"Aku tidak peduli! Yang aku inginkan sekarang adalah di mana Roma tinggal!" pekik Ravenna De Ville lagi, membuat para bawahannya mengerut takut di tempat.
Tiba-tiba pintu aula yang tengah digunakan untuk mengumpulkan para pasukan Ravenna De Ville menjeblak terbuka.
Sang pelayan pribadi Ravenna De Ville berlari masuk dengan tergesa-gesa.
"Tuan! Ada surat untuk, Anda!"
"Aku sedang tidak ingin membaca surat dari siapapun! Buang saja!" pekik Ravenna De Ville marah, perasaannya sedang buruk saat ini dan asisten pribadinya menyuruhnya untuk membaca surat yang entah dari siapa.
"Surat ini penting, Tuan. Anda harus membacanya."
"Surat dari siapa?!"
"Dari Roma."
__ADS_1
Mendengar jawaban dari sang asisten pribadi membuat Ravenna De Ville terdiam dan langsung merebut surat itu dengan kasar.
Sang asisten pribadi benar, surat itu memang dari Roma, dan di dalamnya terdapat sebuah alamat tempat lelaki itu tinggal.
"Dia memberikan alamatnya padaku?" bisik Ravenna De Ville tidak percaya.
"Anda akan ke sana?" tanya sang asisten.
Ravenna De Ville mendengus lagi. "Kau pikir aku bodoh?! Aku yakin sekali ini hanya jebakan! Roma pasti sedang bersembunyi di suatu tempat sementara dia mengarahkanku ke sini. Dia pasti tahu aku akan menyerangnya."
"Lalu apa yang akan anda lakukan?"
Ravenna De Ville menimbang-nimbang sejenak. "Aku akan mengikuti permainannya. Aku akan membawa pasukanku ke sana. Sementara kau terus selidiki di mana dia berada."
"Baik, Tuan."
Ravenna De Ville menahan pasukannya agar tidak langsung menyerang ke markas Roma.
Ia tidak ingin terjebak dalam jebakan musuh. Ravenna De Ville yakin sekali Roma tidak benar-benar ada di rumah itu, jadi ia mengutus beberapa orang untuk memeriksa alamat yang diberikan oleh Roma.
Sehari kemudian, orang suruhan Ravenna De Ville untuk mengawasi rumah itu kemudian datang melapor. Orang suruhannya melaporkan bahwa Roma memang tinggal di sana.
"Apa?! Jadi, dia tidak menipuku?! Itu benar-benar alamat rumahnya?!" pekik Ravenna De Ville tidak percaya.
"Ya. Lalu apa yang akan Tuan lakukan sekarang. Roma memang tinggal di rumah itu, berarti surat ini adalah tantangan terbuka."
Ucapan sang asisten pribadi membuat Ravenna De Ville memikirkan ulang strateginya.
Namun, nampaknya Roma lebih menyukai pertarungan terbuka. Kalau begitu Ravenna De Ville akan menerima tantangan itu dengan senang hati.
"Aku akan terima tantangannya. Kerahkan seluruh pasukan, kita akan menyerbu malam ini."
***
Sementara itu Roma menunggu kedatangan pasukan Ravenna De Ville dengan secangkir teh hangat dan kudapan biskuit.
Sejak kemarin ia sengaja menunggu di teras depan. Roma juga tahu perihal mata-mata yang dikirim Ravenna De Ville untuk mengawasi rumahnya.
Roma memang sengaja menampakkan dirinya agar Ravenna tidak curiga dan berpikir kalau surat yang ia kirim adalah jebakan.
"Sebenarnya sejak kemarin kau sedang menunggu siapa?" tanya Leo ketika ia melihat Roma tengah menikmati tehnya di teras.
"Nanti kau akan tahu."
Si kucing Leo hanya berdecak pelan, kucing itu kemudian melompat ke atas meja. "Kau harus tanggung jawab karena tanganku pegal setelah kau menyuruhku memasang banyak jebakan."
"Jangan manja. Kau tidak memasangnya sendirian."
"Memang, tapi yang menanam bom-bom itu di tanah adalah aku, apa kau lupa?" Leo mengernyit kesal. Kucing itu terlihat semakin menggemaskan ketika sedang marah alih-alih menyeramkan. "Sebenarnya untuk siapa jebakan itu dipasang?"
"Nanti kau akan tahu, sepertinya malam ini mereka akan datang. Leo, kita bersiap malam ini."
__ADS_1
"Bersiap untuk apa?"
"Untuk penyerangan."
Roma kemudian masuk ke dalam dengan menggendong Leo di pundak.
Lalu, menyuruh Milan untuk segera bersiap. Roma memang sudah memasang banyak jebakan di luar maupun di dalam rumah.
Namun, ia tetap harus berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk. Bagaimanapun juga pasukan itu tetaplah dipimpin oleh seorang iblis.
Prediksi Roma tepat sasaran. Leo memberitahu kalau pasukan Ravenna De Ville sudah mulai bergerak memasuki wilayahnya.
Leo ditugaskan oleh Roma untuk memantau pergerakan musuh karena Leo bisa melarikan diri dengan mudah apabila ketahuan.
"Bagaimana kau bisa mengetahui mereka akan menyerang malam ini?" tanya Milan tidak percaya.
"Karena dia pasti tidak akan tinggal diam begitu mata-matanya memberitahu kalau aku memang berada di sini."
Ucapan Roma tepat. Ravenna De Ville memang tidak akan membuang banyak waktu dan mengutus pasukannya untuk menyerbu rumah Roma.
Satu hal yang ia tidak tahu, Roma sudah memasang puluhan jebakan di luar dan di dalam rumahnya. Lalu, ketika pasukan Ravenna De Ville menginjakkan kaki di pekarangan rumah Roma, pasukan itu terpental beserta bom yang meledak.
Pasukan Ravenna De Ville langsung berguguran karena termakan jebakan Roma.
Termasuk ketua asosiasi yang juga turut dalam penyerangan. Tubuh ketua itu terbakar akibat terkena ledakan dan mati mengenaskan.
Malam itu, Roma, Milan, dan Leo meninggalkan rumah yang dilalap api beserta puluhan pasukan dari Ravenna De Ville yang mati mengenaskan.
***
"Kaisar menetapkan kita sebagai buron." Tere melempar selembaran pagi ini pada Roma.
"Lalu? Apa yang akan kita lakukan sekarang? Tidak mungkin aku tidur di atas pohon terus setelah ini," gerutu Milan.
Mereka memang bersembunyi di dalam hutan setelah penyerangan malam itu. Pasukan Ravenna De Ville kalah telah. Semua pasukan dihabisi oleh Roma dalam satu malam.
"Bagaimana, Roma?" desak si kucing Leo. "Aku tidak ingin tinggal di sini, betina di tempat ini mengerikan. Tidak seperti yang ada di Kota."
"Milan, apa kau tahu tempat yang bisa kita tinggali?" tanya Roma pada Tere.
"Kukira kau sudah merencanakan semuanya karena kau membuat rumah penginapan itu terbakar." Milan mendengus.
Roma mengangkat bahunya enteng. "Untuk urusan tempat tinggal hanya kau yang bisa kuandalkan."
Milan berdecak, "baiklah-baiklah. Kita akan pergi ke selatan. Aku memiliki kenalan di sana, siapa tahu kita bisa tinggal di kebun miliknya atau di kandang kudanya."
"Apa?! Kandang kuda?! Apa kau bercanda?! Aku tidak ingin tidur dengan makhluk besar itu!" pekik Leo tidak terima.
Namun, tidak ada yang mendengarnya. Semua sepakat untuk pergi ke selatan dengan arahan dari Milan. Sedangkan Leo hanya menggerutu sepanjang perjalanan.
Kini Roma sudah mendapatkan cincin bintang Pisces, cincin dengan elemen sihir air itu harusnya memiliki kekuatan luar biasa.
__ADS_1
Namun, sepertinya Ravenna de Ville belum mahir menguasainya.