
Ketika pasukan Ravenna De Ville kalah telak, berita itu langsung terdengar oleh bawahan sang kaisar.
Ketika pagi menjelang, kaisar Salerno De Santis yang tengah menikmati secangkir teh paginya dikejutkan oleh kedatangan asisten pribadinya yang menghambur masuk sampai lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa kau lupa bagaimana etika menemuiku?!" sentak Salerno De Santis pada kaki tangannya itu.
"Maafkan saya, Yang Mulia, tapi saya harus segera menyampaikan kabar ini pada anda."
"Kabar apa?"
"Para bawahan Ravenna De Ville semuanya telah tewas."
Kaisar Salerno De Santis yang terkejut otomatis langsung menyemburkan tehnya dan mendelik tajam. "Apa?! Kenapa bawahanku bisa tewas semua?! Siapa yang membantai anak buahku!"
Salerno De Santis jelas tidak terima kalau ada seseorang yang tidak menghormatinya dengan membantai seluruh anak buahnya. Membunuh bawahan Salerno De Santis sama saja sedang menantangnya terang-terangan.
"Ini semua perbuatan Roma, kata Ravenna De Ville."
"Kurang ajar! Jadi, si Roma yang sudah menantangku seperti ini! Berani-beraninya dia menghabisi semua anak buahku!" seru kaisar Salerno De Santis murka.
Jelas saja, semua anak buahnya mati di tangan satu orang dan dalam waktu yang berdekatan.
Hanya dalam waktu empat bulan Roma membantai para petinggi asosiasi, dan sekarang lelaki itu menghabisi seluruh pasukan Ravenna De Ville tanpa terkecuali.
Kaisar Salerno De Santis jelas marah, karena dalam waktu kurang dari setengah tahun seluruh bawahannya habis di tangan Roma.
"Suruh Palermo Mancini untuk menghadapku segera!" perintah kaisar Salerno De Santis pada pengawalnya.
Pengawal itu pun langsung membungkuk hormat dan pergi dari hadapan sang kaisar. Lalu pergi menuju ke Palermo Mancini dan memintanya untuk menghadap ke kaisar segera.
"Kaisar ingin aku menghadap segera?" tanya Palermo Mancini begitu pengawal pribadi kaisar tiba di tempatnya.
"Ya, Tuan, kaisar Salerno De Santis ingin Anda menghadapnya sekarang."
Palermo Mancini yang tengah bersantai di ruangannya itu pun langsung pergi menghadap sang kaisar dengan diantar oleh sang pengawal pribadi.
Tak lama kemudian pintu ruangan singgasana sang kaisar mengayun terbuka dan Palermo Mancini masuk ke dalam.
"Salam untuk sang Kaisar Salerno De Santis. Palermo Mancini menghadap Anda." Palermo Mancini membungkuk hormat di depan sang kaisar.
"Aku memiliki tugas penting untukmu," ucap sang kaisar yang membuat benak Palermo Mancini bertanya-tanya.
"Tugas apa itu, Yang Mulia?"
"Aku ingin kau menangkap Roma dan membawanya hidup-hidup padaku," perintah Salerno De Santis.
"Roma? Ah, si pembuat onar itu?"
"Ya, kau tau dia rupanya."
Palermo Mancini tersenyum tipis. "Siapa yang tidak mengenalnya, Yang Mulia. Meski di selembaran tidak disebutkan siapa yang membantai petinggi asosiasi, tapi saya tahu dia pelakunya."
__ADS_1
Kaisar Salerno De Santis mengelus-elus dagunya. "Aku kagum kau rupanya cukup cakap, Palermo. Tidak sia-sia aku menjadikanmu kaki tanganku."
Palermo Mancini melempar senyum penuh rasa terima kasih karena mendengar pujian dari sang kaisar. "Saya tersanjung dipuji oleh anda, kaisar Salerno De Santis."
"Yang jelas jangan kecewakan aku di misi kali ini."
"Dengan senang hati, Yang Mulia, saya tidak pernah mengecewakan anda."
Ucapan Palermo Mancini memang tidak salah sama sekali. Lelaki itu tidak pernah sekalipun gagal dalam misi yang ia berikan.
Makanya, sang kaisar jadi mengangkat Palermo Mancini menjadi kaki tangan yang dapat ia andalkan.
Selain menjabat sebagai bawahan langsung dari kaisar Salerno De Santis, Palermo Mancini merupakan pemimpin Ordo Cincin Suci. Ia memiliki banyak pasukan yang lebih cakap ketimbang milik Ravenna De Ville.
Jadi, sang kaisar merasa kalau Palermo Mancini bisa menangkap Roma dengan mudah, dan kaisar juga percaya kalau pasukan Palermo Mancini tidak mudah dikalahkan.
"Roma dan antek-anteknya sepertinya bersembunyi di belantara hutan setelah menghabisi anak-anak buahku," lanjut sang kaisar memberi informasi yang ia dengar dari anak buahnya yang lain.
"Belantara hutan? Itu berarti mereka tidak jauh dari sini, Yang Mulia. Saya hafal betul hutan di negeri ini, tidak mungkin ada yang luput dari pengetahuan saya."
"Kalau begitu baguslah. Kau ku beri kebebasan untuk mencarinya di seluruh negeri. Bahkan kalau kau perlu menggeledah seluruh rumah warga sekalipun. Aku ingin kau menemukannya, Palermo."
"Baik, Yang Mulia."
"Dan ingat satu hal, jangan membunuhnya. Apapun yang dia lakukan jangan membunuhnya. Lukai saja sampai dia tidak bisa bergerak, biar aku sendiri yang mengirimnya ke neraka," titah sang kaisar Salerno De Santis.
"Baik, Yang Mula. Saya mengerti."
Palermo Mancini berbalik pergi dengan senyum tersungging licik. Ia memang menerima perintah dari sang kaisar tanpa menyanggah sama sekali.
Ia juga menerima seluruh rencana yang sang kaisar buat. Tapi, tidak ada yang tahu kalau ia memiliki rencana yang lain.
Palermo kemudian kembali ke ruangannya yang terpisah dari bangunan istana milik sang kaisar. Lelaki itu merebahkan punggungnya di kursi, kemudian tertawa terbahak-bahak karena kepalanya mulai menyusun berbagai macam rencana untuk membalas dendam.
"Arthur, bawakan aku sebotol alkohol!" perintah Palermo Mancini pada pelayan pribadinya.
"Baik, Tuan." Pengawal itu pun segera mengambil botol alkohol dari ruangan penyimpanan pribadi milik Palermo mancini.
"Ya ampun, lelaki tua itu bodoh sekali!" Palermo Mancini tertawa lagi.
Suara tawanya memantul-mantul di langit-langit. Ia sungguh tidak habis pikir Salerno De Santis mempercayainya begitu saja tanpa merasa curiga sama sekali.
Hal bagus untuknya karena ia bisa melancarkan aksi balas dendam dengan mudah.
"Sepertinya Anda sedang senang hari ini, Tuan," ucap sang pengawal pribadi ketika mendapati wajah Palermo Mancini yang nampak rileks tidak seperti biasanya.
Bahkan lelaki itu sempat tertawa terbahak-bahak.
"Sebentar lag tujuanku akan tercapai, Arthur."
"Kalau begitu saya turut senang kalau tujuan Anda sebentar lagi akan tercapai." Pengawal lelaki itu kemudian menuang wine ke dalam gelas tinggi dan memberikannya pada Palermo Mancini.
__ADS_1
"Tentu saja, kau harus senang karena sebentar lagi kau akan kuberi pangkat yang lebih tinggi!"
"Benarkah?"
"Tentu saja!"
Palermo kembali tertawa-tawa. Lelaki itu bangkit berdiri dan melangkah ke dekat jendela kaca besar.
Kebun anggur miliknya membentang dari ujung sampai ujung, terbingkai apik di jendela ruangan pribadinya.
Palermo Mancini memiliki rencana yang lain, ia tidak akan menuruti rencana milik sang kaisar Salerno De Santis.
"Arthur, kumpulkan pasukanku malam ini."
"Baik, Tuan."
***
"Kenapa kau mengumpulkan kami semua malam ini? Apa ada berita penting?" salah seorang petinggi yang memegang Cincin bintang Aries itu buka suara.
Palermo Mancini hanya tersenyum misterius.
Mengundang rasa penasaran anggota yang lain. Palermo Mancini sengaja mengumpulkan pasukan untuk menyampaikan rencana balas dendamnya.
"Tentu saja, aku akan menyampaikan sebuah berita penting untuk kita semua."
Empat petinggi Ordo Cincin Suci itu memasang wajah serius dan menyimak ucapan yang akan Palermo Mancini utarakan.
"Kita akan membalaskan dendam sebentar lagi."
"Maksudmu, tujuan kita sudah tercapai?" tanya petinggi Ordo Cincin Suci yang memegang Cincin Capricorn.
"Ya. Aku sudah bisa membuat sang kaisar percaya padaku dan mengelabuhinya." Palermo Mancini tertawa keras, disusul oleh tawa yang lain.
Ini adalah malam paling penting dalam hidupnya. Perjalanannya baru saja dimulai. Selama ini ia sengaja mengelabui sang kaisar untuk mendapat kepercayaannya lalu mengkhianatinya. Itulah tujuan asli dari seorang Palermo Mancini.
"Kita akan membalaskan dendam!" seru Palermo Mancini yang di sahut seruan pasukannya dengan semangat.
Bersama empat pemegang Cincin Bintang, Palermo Mancini kemudian menyusun strategi untuk membalas dendamnya.
Mereka berdiskusi semalam suntuk, demi rencana yang sukses berhasil. Mereka tidak boleh asal menyusun strategi dan membahayakan nyawa sendiri.
Palermo Mancini tidak ingin kehilangan pasukannya meski satu orang pun, terlebih kehilangan salah satu petinggi ordo.
Jadi, Palermo Mancini dan empat pemegang Cincin Bintang berdiskusi bagaimana mereka akan membalaskan dendamnya pada sang Kaisar Salerno De Santis.
"Kau yakin rencana ini akan berhasil, Palermo?" tanya seorang yang memegang Cincin Virgo.
"Aku yakin kita akan berhasil dengan rencana ini. Kalian tidak perlu cemas. Kaisar itu sudah sepenuhnya percaya padaku. Jadi, kalian tidak perlu ragu dan jalankan saja semua rencana ini."
Ucapan Palermo itu menjadi awal balas dendam mereka.
__ADS_1