SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
038 - DUA SISI YANG BERBEDA


__ADS_3

“Sudahlah, dia adalah teman kita. Tak mungkin anak ini berbohong. Dia pasti tak bisa menolak perintah Tuan Ravena. Terlebih, memang beberapa hari yang lalu aku diminta untuk memusnahkan dokumen rahasia yang berkaitan dengan Kaisar Salerno De Salantis. Aku percaya padanya,” ujar salah satu dari tiga orang yang menangkap keberadaan Roma.


“Benar. Aku tak bisa menolak permintaan Tuan Ravena. Bisa-bisa, aku akan dibunuh olehnya. Apa kalian  tega melihat aku mati karena melanggar permintaan?” Begitu tanya Roma bersikap seperti teman mereka sesungguhnya.


“Baiklah, jika kau sudah selesai, cepat pergi dari sini. Kita diminta bergabung ke aula utama. Jangan lupa, bawa juga dokumen yang harus dimusnahkan itu!” ujar yang lain.


“Tentu. Terima kasih karena sudah mengerti posisiku,” ujar Roma.


“Ya, tentu kami paham. Kau tak akan mungkin mati secepat itu. Cukup sudah banyak manusia yang mati di tangan Tuan. Sekarang, bukan giliranmu yang mati, tapi giliran Roma. Anak kurang ajar yang tega melumpuhkan asosiasi dagang di kerajaan Raja Genoa.”


Mereka semua pergi setelah mengatakan itu. Roma sedikit merasa lega karena dengan sedikit sentuhan drama dan kebohongan yang dia lakukan, dia bisa lepas dari tangkapan para penjaga itu.


“Huh, hampir saja aku tertangkap. Aku harus buru-buru keluar dari sini dan membawa semua dokumen yang dia butuhkan!”


Roma tak hanya bebas dari tangkapan para penjaga markas asosiasi, tetapi dia juga mendapatkan informasi lengkap mengenai keterlibatan kekaisaran dan asosiasi dagang ini.


Sehingga, dia bisa memiliki bukti dan dapat menemukan kebenaran yang diperlukannya.


***


Roma mendapati sesuatu yang jauh di luar dugaannya. Sebenarnya, dalam hati Roma tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Kepergiannya menuju ke markas asosiasi dagang membuahkan hasil yang buruk.


Dia terlihat begitu kecewa. Sebenarnya bukan untuk kecewa lebih jauh, tetapi kepergiannya ke sana berfungsi baik mendapati sebuah kebenaran tentang fakta manusia dan iblis.


Mereka yang hidup berdampingan dan seolah saling berperan mengabadikan keberadaannya di dunia, seakan-akan berperan menguasai dunia.


Mereka saling bersaing, satu sama lain, bahkan bertengkar untuk hal-hal yang bersifat kesombongan.


“Ternyata ini yang akan aku dapat setelah sampai kemari? Sial!” ucap Roma. Dia menarik napas dalam-dalam ketika melihat dua pandang sisi iblis dan manusia yang saling berdampingan.


“Seharusnya aku tidak perlu datang kemari, ah....”


Setiap detik per detik sekali, Roma berdecak kesal. Dia menghela napas panjang dan tidak henti terdiam. Pikirannya masih berpihak ke sana kemari.

__ADS_1


Tatapannya begitu sayu. Senyuman yang kian melemah, kini menjadi hilang dan tidak ditemukan lagi.


Roma tidak tahu harus ke mana. Sejak awal saat kedatangannya kemari, dia tidak tahu harus apa di markas asosiasi dagang tersebut.


“Siapa kau? Aku tidak pernah membayangkan ada manusia sepertimu,” ucap seseorang. Roma melihat sisi iblis di hadapannya.


Namun, dia tahu jika di hadapan adalah manusia. Itu artinya, manusia tersebut memiliki sisi iblis dalam jiwanya.


“Maaf, aku tidak bisa menjelaskan kepadamu aku ini siapa.”


Roma menghindar dari hadapan sosok manusia itu. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, semua tatapan tertuju padanya.


Ujaran kebencian terhadap Roma dia terima, membuatnya sakit hati. Tidak ada yang tahu mengapa Roma harus menerima semua itu.


Perjalanan dari huniannya menuju ke markas asosiasi dagang membuahkan hasil yang tidak sesuai.


Dia berpikir akan banyak pengetahuan di sana, tetapi ternyata yang didatangi tidak membuahkan sesuatu sesuai harapannya.


Setiap jiwa yang menjadi penghuni dunia ini adalah manusia dan iblis. Dua jiwa yang hidup secara berdampingan, membuat Roma sulit menerima.


“Maaf, aku harus pergi. Aku tidak bisa banyak melayanimu bicara.”


Manusia dihadapan Roma mencekal kepergiannya. Dia terlihat tidak benar-benar setuju dengan semua itu. Roma langsung diam, dia tidak tahu harus apa. Rasa bingung melanda batinnya dan membuat Roma tidak tahu harus apa.


Entakkan Roma membuat manusia di depannya langsung luruh. Roma melihat jiwa iblis di manik matanya. Tatapan itu sungguh membuat sang empu khawatir. Dia tidak tahu harus apa dengan kenyataan seperti ini.


***


Beberapa waktu setelahnya, Roma sudah tiba di tempat lain. Dia berhasil menghindari manusia yang tadi sempat mencegah langkah kakinya.


Kali ini dia berdiri di depan pohon. Sebuah jurang terlihat ada di depannya dan membuat Roma bingung.


“Jurang apa ini? Aku mencium aroma yang tidak baik,” ucapnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Roma bertemu dengan sosok makhluk menyeramkan di pohon. Bergelantungan dan membuat beliau langsung berteriak histeris. Tatapan mata Roma tampak sayu, ia menghindar dari seseorang yang di hadapan.


“Si-siapa kau?”


Suara Roma sudah terdengar berbeda. Sepertinya ada iblis yang terlihat di hadapannya. Dia sedang menatap tajam ke arah Roma dengan ekspresi tidak suka.


Dalam hitungan detik, Roma menghindar lagi. Dia meninggalkan tempat dan tidak mau bertatapan dengan iblis di depannya.


Raut wajah tak suka membuat Roma langsung pergi. Tidak ada yang diketahui oleh Roma mengapa ada yang menatap seperti itu kepadanya.


Senyumannya perlahan renggang. Roma melangkah kencang meninggalkan tempat tersebut.


Angin semilir seperti menusuk telinga. Di tengah pelarian Roma, dia berniat kembali ke huniannya. Markas tempat tinggal sendirinya lebih nyaman daripada markas asosiasi dagang itu. Napasnya bahkan sesak tidak karuan melihat senyum yang ada di depannya. Senyuman penuh dengan ekspresi tidak suka dan kelicikan.


Setelah beberapa waktu lalu, Roma kembali membuka mata. Dia merasa jika keberadaannya sudah ada di tempat hunian. Kembali ke asalnya.


Perjalanan jauh yang ditempuhnya untuk menuju ke asosiasi dagang membuat Roma kecewa. Dia tidak mau ke sana lagi.


“Aku kecewa, tapi aku dapat ilmu yang baik dari kejadian itu,” ucapnya.


Dua sisi manusiawi dan iblis terlihat. Roma mempelajari semuanya dari sana. Dia terbiasa dengan hal-hal tersebut, kemudian merasa sedikit mendapat pengetahuan. Senyumannya terulas, Roma menghela napas dan yakin jika semua yang dihadapinya akhirnya usai dengan begitu saja.


Bukan harta yang didapat, tetapi pengetahuan. Dunia manusia ternyata seperti ini. Sejak kapan dia baru tahu jika manusia dan iblis saling beradu kekuatan untuk merasa paling kuat?


Setelah mendapatkan itu semua, Roma pun langsung mengatakan pada Milan tentang apa yang ia dapatkan.


Karena dengan hal itu mereka bisa membicarakan apa yang harus mereka lakukan nantinya.


Leo kini yang sudah mulai menyesuaikan diri dengan para majikannya itu ikut bergabung dengan mereka.


Kehidupannya sebagai kucing perlahan berubah dengan sendirinya.


Namun, ia mulai menikmatinya juga. Tak ada masalah untuk hal itu.

__ADS_1


__ADS_2