SISTEM DUA BELAS CINCIN

SISTEM DUA BELAS CINCIN
044 - MENJADI SEKUTU PALERMO MANCINI


__ADS_3

"Jadi, bagaimana? Kau ingin bergabung dengan kami?" tanya Palermo Mancini sambil mengulurkan tangannya pada Roma yang terduduk di tanah dengan senyum meyakinkan.


Palermo Mancini yakin sekali Roma tidak memiliki alasan untuk menolak tawarannya.


Lantaran mereka memiliki tujuan yang sama yaitu sama-sama ingin melenyapkan kaisar Salerno De Santis.


Palermo Mancini yakin sekali Roma tidak akan melewatkan kesempatan emas semacam ini. Lagipula mereka sudah kalah telak dan tidak bisa menyerang lagi.


Jadi, Palermo Mancini semakin yakin kalau Roma pasti memutuskan untuk bergabung bersama Ordo Cincin Suci.


Roma terlihat menimbang-nimbang. Lelaki itu melirik ke arah Milan dan Tere yang sedang terduduk di lantai.


Kondisi mereka tidak jauh berbeda darinya. Wajah Milan babak belur, sementara Tere ada darah mengalir keluar dari sudut bibirnya.


Roma membuang napas panjang. Ia tidak tahu ada apa di balik hubungan Palermo Mancini dengan seorang kaisar Salerno De Santis.


"Kenapa kau ingin balas dendam?" tanya Roma karena ia sudah sangat penasaran.


Ia harus memastikan alasan musuh masuk akal atau tidak untuk bisa dipercaya.


Bagaimanapun juga Palermo Mancini berada di sisi yang berlawanan dari Roma dan yang lainnya.


Roma tidak boleh mempercayai ucapan seorang musuh begitu saja. Karena siapa tahu itu hanyalah sebuah jebakan yang sengaja dipasang. Roma tidak sebodoh itu.


Palermo Mancini mengangkat bahunya singkat. "Akan aku ceritakan kalau kau mau menerima tawaranku."


"Kau kira aku akan percaya padamu begitu saja? Bisa saja kau hanya mengarang untuk menjebakku!" sinis Roma.


Palermo Mancini tergelak geli. "Lihatlah, anak buahku bisa saja langsung menghabisimu detik ini juga, tapi kami memilih diam di tempat.


Jadi, apalagi yang harus kau ragukan? Aku bisa mengirim berita palsu tentangmu ke kaisar. Mengatakan kalau kau dan teman-temanmu sudah tewas dimakan serigala atau jatuh ke jurang. Lalu, kau bisa melancarkan rencanamu dan teman-temanmu."


Roma terdiam. Ia masih menimbang-nimbang tawaran dari Palermo Mancini.


Roma melirik ke arah Milan yang terdiam, perempuan itu terlihat sama bimbangnya dengannya. Roma lalu melirik ke arah tere yang menggeleng samar.


Rupanya perempuan itu tidak mempercayai ucapan Palermo Mancini begitu saja.


"Kenapa aku harus percaya pada ceritamu?" tanya Roma ingin menggali lagi. Ia ingin Palermo Mancini memberikan alasan logis yang membuat Roma percaya kalau ia memang tidak bermaksud jahat.

__ADS_1


Di situasi seperti ini Roma tidak bisa mempercayai siapapun selain anggota timnya sendiri.


Jadi, Roma harus berhati-hati dengan jebakan yang bisa saja sudah disusun oleh musuh. Termasuk jebakan seperti ini.


"Sudah kukatakan padamu kalau tujuan kita sama. Kalau kau menuntut bukti kau bisa pergi ke markasku. Di sana banyak sekali bukti-bukti ketika aku mengendap-endap masuk ke dalam istana dan membuat kaisar mempercayaiku.


Makanya aku memintamu untuk menjadi anggota pasukanku agar kau juga percaya Sayangnya, aku tidak membawa bukti bersamaku saat ini."


"Kau harus memberitahu kami apa alasanmu ingin membunuh kaisar," tambah Milan. Perempuan itu akhirnya buka suara setelah sekian lama terdiam.


"Ah, jadi kalian ingin aku cerita di sini? Baiklah, baiklah." Palermo kemudian mendudukkan tubuhnya di lantai. "Kalian duduklah dulu, sepertinya ceritaku sedikit panjang."


Anggota Ordo Cincin Suci yang lain kemudian duduk menutupi perintah dari Palermo Mancini.


Sementara itu Roma, Milan, dan Leo yang berlagak menjadi kucing tak tahu menahu merapat ke arah Palermo untuk mendengar ceritanya.


Palermo Mancini kemudian bercerita tentang keluarganya yang dulu adalah seorang bangsawan dan memiliki kuasa.


Lalu tiba-tiba datanglah Salerno De Santis dari antah berantah dan menghancurkan keluarganya lalu merebut tahta.


Jadi, yang seharusnya duduk di tahta saat ini adalah Palermo Mancini dan bukan Salerno De Santis.


"Ya. Aku hanya ingin apa yang seharusnya jadi milikku kembali padaku. Aku sudah muak bertahun-tahun menjadi budaknya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor untuk pria busuk itu."


"Sepertinya kau pria yang baik," sahut Milan.


"Terima kasih, Nona. Ah, dan maaf sekali soal wajahmu. Anak buahku pasti keterlaluan sudah memukulmu terlalu keras.


Padahal aku sudah memperingatkan. Ah, tapi memang ini yang kuinginkan. Aku terpaksa menghajar kalian dulu agar bisa memberi jejak pertempuran untuk memberi bukti pada kaisar.


Aku sudah menduga kalau kalian setuju bergabung bersama kami. Bagaimana?"


Roma merasa lelaki di depannya ini berkata jujur. Jadi, tanpa berpikir lebih lama lagi ia pun mengangguk menyetujui.


"Benarkah? Wah! Kalau begitu selamat datang di Ordi Cincin Suci, Roma!" Palermo Mancini mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Roma.


Keduanya pun bersalaman sebagai tanda kalau Roma dan teman-temannya resmi bergabung dengan Ordi CIncin Suci.


Leo melompat ke arah wajah Palermo Mancini dan mencakar-cakar wajah lelaki itu. Palermo berseru terkejut lalu menghempaskan Leo hingga menghantam dinding pondok tua.

__ADS_1


"Apa itu tadi?!"


Roma terkekeh geli. "Ucapan salam perkenalan dari anggotaku yang lain. Leo, seekor kucing pemegang Cincin Bintang Leo."


"Astaga, dia sungguh seekor kucing?" seloroh Palermo Mancini yang membuat Leo menggeram marah.


"Aku dengar itu, dasar musuh!" Leo bersiap melompat lagi ke wajah Palermo Mancini, tapi ditahan oleh Roma.


"Tahan seranganmu, Leo. Sekarang dia sekutu kita."


"Sekutu? Sejak kapan kau mempercayai orang lain?!" seru Leo tidak percaya.


Sepanjang yang ia tahu, Roma bukan tipikal seseorang yang akan percaya pada orang lain begitu saja.


Roma tidak mudah dibujuk setersudut apapun posisinya. Jadi, wajar saja jika Leo merasa heran karena Roma tiba-tiba mempercayai orang lain di luar anggota guild. "Apa Milan dan Tere juga percaya?! Astaga! Kalian sulit kupercaya! Bisa-bisanya kalian percaya pada musuh!"


"Tenanglah, Leo. Dia memiliki tujuan yang sama seperti kita. Yaitu untuk melenyapkan kaisar Salerno De Santis."


"Benarkah itu?" Leo mulai mengendur. Dahi kucing hitam itu mengernyit karena tidak menyangka musuh yang datang bukan untuk menyerang mereka melainkan melakukan diskusi.


"Ya, aku sudah memastikan dia berkata jujur. Jadi, kau tidak perlu cemas."


Ucapan Roma kemudian membuat leo sedikit lega. Kucing hitam itu percaya pada apapun yang Roma putuskan, karena hanya Roma lah yang mereka bisa percaya dan hanya Roma yang bisa memimpin mereka bertiga.


"Jadi, kalian sudah percaya padaku, bukan? Apa ada anggota kalian yang lain yang belum datang atau sedang tidak ada di sini?"


"Sudah terkumpul semua. Anggotaku hanya tiga orang."


"Tiga orang dan kau membantai seluruh pasukan milik Ravenna De Ville dan para petinggi asosiasi? Sungguh luar biasa!" Palermo Mancini memberi tepuk tangan kagum karena ia tidak mengira kalau anggota Roma berjumlah tidak lebih dari lima orang.


"Aku mengira kau memiliki pasukan, tapi ternyata hanya berisi empat anggota yang hebat seperti kalian. Aku sungguh beruntung kalian berada dipihakku," sambung Palermo.


Palermo Mancini kemudian membawa Roma dan teman-temannya ke dalam markas. Dengan dikawal oleh anggota Cincin Suci yang lain, Palermo Mancini berusaha menyembunyikan keberadaan Roma.


Pertarungannya dengan ROma di hutan menjadi buah bibir di masyarakat. Jelas saja, pertarungan itu membuat lenyap hutan dalam dan meratakan seluruh pepohonannya, dan yang tersisa hanyalah tanah lapang tanpa pepohonan sedikit pun.


Maka dari itu, Palermo Mancini tidak bisa membiarkan Roma dan teman-temannya terlihat di ibu kota. Di dalam ibukota juga banyak prajurit yang berpatroli. Jika prajurit itu melihat Roma di ibukota maka tamat sudah riwayat nya. Rencana balas dendam milik Palermo Mancini juga akan gagal terlaksana.


Kini, anggota Ordo Cincin Suci bertambah empat orang. Pasukan yang semula berjumlah empat orang kini bertambah jadi delapan, semakin banyak orang yang terlibat rencana untuk melenyapkan kaisar Salerno De Santis tidak terdengar mustahil.

__ADS_1


Terlebih dengan kehadiran Roma dan kawan-kawannya di sisinya. Palermo sungguh beruntung karena memiliki anggota baru sehebat itu di sampingnya. Tanpa butuh waktu lama mereka berdelapan kemudian cepat akrab.


__ADS_2