
Ada perasaan tidak enak menggelayuti hati Roma ketika mereka sampai di Ibu Kota.
Roma berulang kali menyisir pandangan ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mengintai mereka.
"Kau terlihat sangat cemas," tanya Milan begitu menangkap gurat wajah cemas milik Roma yang tak dapat ditutupi.
"Entahlah, aku merasa ada seseorang yang mengawasi kita."
Entah ini hanya perasaan Roma saja atau memang ada yang mengawas mereka, yang jelas Roma merasa tidak tenang sepanjang perjalanan.
"Tenang saja, tidak ada yang perlu dicemaskan. Kita sudah menyamar, bukan? Mereka pasti tidak bisa mengetahui identitas kita," ucap Milan menenangkan.
"Semoga saja begitu." Begitu kata Roma.
Roma sungguh berharap ini hanya perasaan tidak berdasar saja. Kalau Roma memang hanya berkhayal ada yang mengawasi mereka.
Roma menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran negatif di kepalanya.
"Kalian tunggu di sini, aku akan masuk ke dalam istana," perintah Palermo Mancini.
Lelaki itu memerintahkan Roma dan yang lain untuk menunggunya di sebuah sudut di tengah-tengah pasar di sebuah gang sempit.
Lelaki itu memerintahkan anak buahnya yang memegang Cincin bintang Virgo untuk bersama Roma dan teman-temannya, sementara yang lain pergi bersama Palermo ke dalam istana untuk melapor.
"Kenapa kau sangat gelisah?" tanya si kucing Leo ketika melihat Roma yang lagi-lagi terlihat tidak tenang.
"Entahlah, firasatku mengatakan kalau semakin banyak orang yang mengawasi kita."
Roma tidak sedang berdusta. Ia memang merasakan belasan pasang mata tengah menusuk punggungnya dari berbagai macam arah, dan Roma tidak tahu siapa mereka.
Hal tersebut membuat Roma ingin pergi dari tempat itu secepatnya.
"Lebih baik kita pergi dari sini. Dan kau." Roma menunjuk anak buah Palermo yang memegang Cincin bintang Virgo, "bilang pada Palermo kalau kami pulang ke markas. Aku merasa tidak aman di tempat ini."
"Tidak bisa, kita harus menunggu di sini," tahan sang pemegang Cincin bintang Virgo lagi.
"Aku tidak peduli! Aku akan meninggalkan tempat ini!" pekik Roma mulai panik.
"Hei-hei! Tenang. Kita aman disini, tidak ada yang mengawasi kita," sahut Milan berusaha menahan Roma yang ingin pergi.
"Tidak," sahut si kucing Leo. "Roma benar, kita memang sedang diawasi."
Milan langsung menegakkan punggungnya begitu mendengar ucapan si kucing Leo.
Indra milik Leo memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kucing itu memiliki indra yang lebih pekaa dari mereka bertiga.
"Kau ... " Roma menuding anak buah Palermo Mancini yang memegang Cincin bintang Virgo dengan mata mendelik.
Kini, Roma tahu alasannya mengapa ia merasakan banyak sekali mata yang mengawasi mereka sejak tadi.
Anak buah Palermo yang memegang Cincin bintang Virgo itu menyunggingkan senyum licik.
"Tangkap mereka!" seru pemegang Cincin bintang Virgo itu.
Tiba-tiba belasan prajurit datang dari atap dan ujung lorong mengepung Roma dan teman-temannya.
__ADS_1
Roma memberontak, ia berteriak dan berusaha melepaskan diri dengan kekuatannya.
Namun, semua sia-sia. Usahanya untuk melarikan diri sia-sia karena prajurit itu langsung memborgol tangan Roma agar tidak bisa menggunakan mantra.
Hal yang sama juga terjadi pada Milan, begitu juga dengan Leo.
"Kau! Kau pengkhianat!" seru Roma murka. Ia sungguh sudah terlalu mengendurkan pengawasannya sampai tidak mendeteksi kalau ada pengkhianat di antara mereka.
"Memang, dan bukan hanya aku saja," ucap anak buah Palermo Mancini itu.
Tiba-tiba dua anak buah Palermo yang lain juga datang dan menyuruh para prajurit untuk menyeret Roma dan teman-temannya ke istana.
Roma memberontak, sementara Milan dan Tere berteriak-teriak.
Namun, tak ada satupun yang menggubris mereka. Pakaian samaran mereka dilepas, dan Roma serta teman-temannya diseret masuk ke dalam istana dengan kaisar Salerno De Santis yang melihat dari balkon istana.
"Para pemberontak sudah ditangkap, Yang Mulia."
"Kumpulkan mereka jadi satu!" perintah sang kaisar.
Para prajurit kemudian mengumpulkan mereka menjadi satu termasuk Palermo Mancini yang juga ditangkap.
Mereka dibariskan satu per satu di hadapan sang kaisar lalu kaki mereka ditendang dan dipaksa untuk berlutut.
Roma melirik ke arah Palermo Mancini yang babak belur. Wajahnya lebam dan darah mengucur keluar dari pelipis, hidung, dan juga bibirnya.
Nasib pria itu bahkan lebih mengenaskan dibanding Roma. Sepertinya Palermo Mancini tidak tahu kalau semua anak buahnya sudah berkhianat.
Lalu, Roma melirik ke arah tiga anak buah Palermo yang masing-masing memegang Cincin Bintang, mereka berdiri bersisian di sisi sang kaisar.
[Kekuatan sedang berada di puncak. Akan dengan mudah menghancurkan mereka, Tuan]
Roma menggeleng mendengar ucapan sistem itu.
Roma ingin berakting dan melihat sejauh mana orang-orang itu melakukan semua ini.
"Kalian! Kalian mengkhianatiku!" seru Palermo Mancini tidak terima.
Selama ini ia sudah ditipu habis-habisan.
Tiga anak buah Palermo Mancini terdiam seribu bahasa, mereka tidak diizinkan berbicara oleh sang kaisar.
"Jadi, apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" tanya kaisar Salerno De Santis mengintimidasi.
"Untuk melenyapkanmu!" seru Palermo Mancini tidak takut.
Salah seorang prajurit yang menahan tangannya kemudian menendang perut Palermo sampai lelaki itu terbatuk-batuk memuntahkan segumpal darah.
"Jaga ucapanmu di depan Yang Mulia!" sentak sang prajurit.
"Hentikan. Kalian bisa menyiksanya nanti di sel. Jangan di depanku. Aku muak melihat wajahnya," ucap sang kaisar. "Dan kau ... Jadi pembunuh berantai itu kalian? Sayang sekali padahal kalian masih muda."
Roma terdiam. Ia tidak menjawab dan hanya menatap sang kaisar dengan tajam.
Roma sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh sang kaisar. Sebaliknya, justru Roma memberikan tatapan penuh perlawanan.
__ADS_1
"Masukkan mereka ke dalam sel!"
Satu perintah dari kaisar untuk menggerakkan prajuritnya.
Roma dan teman-temannya langsung dibawa ke sebuah sel khusus yang tidak bisa ditembus oleh pengguna Cincin Bintang sekalipun.
Sel tersebut dilapisi mantra khusus untuk menyegel kekuatan sang pemegang Cincin Bintang.
Roma dan teman-temannya diletakkan dalam sebuah sel yang berbeda.
Sementara Palermo Mancini dimasukkan ke dalam sel khusus di bawah tanah.
Tanpa perlu mencari tahu Roma sudah bisa menebak kalau sel tersebut hanya ditujukan oleh orang yang sudah melakukan kesalahan fatal. Seperti Palermo Mancini.
Roma membuang napas panjang. Ia hanya nanar menatap lantai semen yang kotor dan melirik Milan yang selnya berada tepat di depannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Roma pada Milan yang wajahnya sembab karena terus menangis.
Milan hanya mengangguk singkat tanpa menjawab.
ROma tidak tahu sampai kapan mereka akan dikurung. Apakah akan selamanya mereka ada di sini? Roma tidak tahu.
Yang jelas ketika keesokan harinya, mereka satu per satu di bawa ke ruang bawah tanah untuk disiksa.
Kaisar Salerno De Santis memerintahkan para prajurit untuk memisahkan kekuatan Cincin Bintang dari tubuh Roma dan teman-temannya.
Namun, semua itu tidak berhasil karena kekuatan cincin itu sudah menyatu dalam darah mereka.
Roma berteriak-teriak ketika para algojo itu terus memaksa tubuhnya untuk melepaskan kekuatan Cincin Bintang.
Namun, sekeras apapun mereka berusaha, kekuatan itu sudah menjadi bagian dari diri mereka.
Napas Roma terengah-engah. Dengan kesadarannya yang menipis, ia melirik ke arah Milan yang sudah pingsan dan Leo yang kejang-kejang karena terus dipaksa mengeluarkan kekuatan Cincin Bintang.
Roma ingin berteriak untuk meminta mereka berhenti, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Hanya ada suara rintihan tidak jelas yang keluar dari bibir Roma dan air mata yang mengalir dalam senyap.
"Hentikan...," lirih Roma.
Roma sungguh tidak ingin melihat teman-temannya berakhir mengenaskan seperti ini.
Karena algojo tidak berhasil mengeluarkan kekuatan Cincin Bintang itu, kemudian para algojo menyerah untuk hari ini dan berniat untuk meneruskannya esok hari.
Roma yang sudah lemas kemudian diseret kembali menuju selnya.
Di dalam sel, Roma bisa mendengar jeritan suara Palermo Mancini yang lebih keras dari miliknya.
Entah apa yang para algojo itu lakukan pada lelaki itu, Roma tidak ingin membayangkannya.
Yang jelas mereka pasti melakukan hal yang sangat mengerikan dan Roma tidak ingin itu terjadi pada teman-temannya.
Dalam diam, Roma hanya menatap nanar Milan yang terkapar tak berdaya di lantai. Dan Leo yang tidak bergerak sejak tadi.
Sepertinya sandiwaranya sudah cukup berlebihan.
__ADS_1